Jodoh yang KAU kirim

Jodoh yang KAU kirim
Chapter 3 Gosip.


__ADS_3

Sudah tiga hari sejak hilangnya Mas Damar, tidak ada titik cerah dimana keberadaan Mas Damar sekarang. Aku seperti bahtera yang ditinggal nahkodanya. Hilang arah. Bingung. Takut. Khawatir. Semua rasa saling berebut masuk ke dalam hatiku kecuali rasa bahagia.


Hari ini aku sift pagi. Saat masuk rumah sakit pagi ini aku mendengar desas-desus para perawat dari divisi lain. Tentang pasien korban kecelakaan tiga hari yang lalu. Entah hal apa dari pasien itu yang mereka gosipkan. Aku tidak tertarik. Apalagi hari ini aku akan sangat sibuk dengan dua pasien anak yang aku rawat akan menjalani opersai besar. Tekad yang kuat coba kutanamkan dalam hati. Aku harus fokus dalam bekerja. Tidak boleh ada kesalahan sedikitpun hari ini. Terutama dalam menyiapkan keperluan kedua anak itu.


"Tan umak krungu gak gosip tentang pasien lakalantas seng lagi hot?"(Tan kamu dengar tidak gosip tentang pasien lakalantas yang lagi hot?), tanya Lani yang sedang menyiapkan beberapa obat dan jarum untuk jadwal pemberian obat pada pasien.


"Hemm.", jawabku tidak tertarik.


"Jarene wonge guuuuaaaaanttteeeeng loooo.",(katanya orangnya ganteng lo.), lanjut Lani dan tak ada sedikitpun niatku untuk merespon.


"Tapi sayang orange gak sadar, wes telong dino dorong sadar blas, gak keruhan identitase maneh. Koyok'e dompete ono seng nggasak pas kejadian lakalantas."(tapi sayang orangnya belum sadar. Sudah tiga hari belum sadar sama sekali, juga tidak diketahui identitasnya. Sepertinya dompetnya ada yang mengambil waktu terjadinya kecelakan itu.), Lani terus bicara meski tak ada tanggapan dariku. Tapi kali ini ada yang mengusik keingintahuan ku.


"Kowe mari nengok si pasien?"(kamu sudah lihat si pasien?), tanyaku penasaran.


"Lha napo? Kurang kerjaan. Lagi sibuk-sibuk'e neng kene kok arep blarah nang bangsal liyo."(mau apa? Kurang kerjaan. Lagi sibuk-sibuknya disini kok mau keluyuran ke bangsal yang lain.), jawabnya sambil nyengir.


"Ooo iku mau berita oleh teko ngegosip toh.", paham ku.


"Hehe...umak se seng kurang sosialisasi, sekali-kali mbok yo melu nimbrung.", sanggah Lani.


Sempat terlintas wajah Mas Damar namun segera ku tepis. Aku tidak mau berpikir yang terburuk terjadi pada Mas Damar. Segera ku selesaikan pekerjaan ku agar bisa beralih ke tugas selanjut-nya.

__ADS_1


*******


Satu operasi berjalan dengan lancar. Kondisi pasien berangsur stabil. Aku mulai bisa sedikit rileks. Tinggal satu pasien lagi yang akan menjalani operasi. Anak-anak itu sangat hebat. Mereka begitu kuat. Tetap tersenyum untuk menguatkan orangtua mereka. Tanpa sadar tangan ini sudah mengelus lembut si calon anak dalam perut ku.


Aku juga harus kuat demi anak ini. Seandainya hal terburuk terjadi pada Mas Damar dan dia tidak kembali. Aku akan tetap berjuang dengan anak ini.


Ku langkahkan kakiku kearah kantin rumah sakit. Rupanya sudah ramai perawat lain yang juga ingin makan siang. Banyak perawat lain yang aku kurang kenal hanya sekedar tahu nama dan di bangsal apa mereka bertugas. Kulihat Zizah, Ratna dan Samuel sudah duduk disalah satu meja. Ada bangku yang masih kosong di meja mereka, segera ku langkahkan kakiku kesana.


"Aku gabung yo.", kataku sambil duduk di kursi kosong tersebut.


"Kok dewe Lani endi?"(kok sendiri Lani mana?), tanya Ratna sambil menambahkan banyak sambal ke bakso dimangkoknya.


"Wes merat kro pacare."(sudah pergi dengan pacarnya.), jawabku singkat.


"Wong-wong podo rame ngomongno pasien X, opoe toh seng diomongno?"(orng-orang sibuk membicarakan pasien X, apanya sih yang dibicakan?), tanya Samuel tidak niat.


"Mungkin krono gak tau ono kejadian koyok ngene mangkane dadi heboh." (munkin karena tidak ada kejadian seperti ini sebelumnya makanya jadi heboh.), sahut Zizah. Mungkin benar kata Zizah. Karena sebelumnya tidak pernah ada kejadian ada pasien tanpa identitas, makanya jadi heboh. Ditambah dengan fisik yang katanya ganteng dan gagah jadi bantah perawat wanita yang membicarakannya.


"Kok meneng ae toh Tan?"(kok diam saja sih Tan), tegur Zizah pada ku.


Ku jawab sambil tersenyum, "Gak popo, lagi males ae. Rodok g' enak awak." (tidak apa-apa, lagi malas saja. Agak tidak enak badan.

__ADS_1


Obrolan terus berlanjut tanpa ada usaha sedikitpun untukku menyimak. Perasaanku terus tidak enak dengan tidak adanya kabar dari Mas Damar.


Tepat kurang lima belas menit waktu istirahat makan siang habis. Aku beranjak dari kursi berniat untuk kembali ke ruang perawat. "Rek aku mbalek disek yo."(teman-teman aku kembali lebih dulu ya.), pamitku pada mereke bertiga.


"Iyo Tan, gawe ngasoh disek lah sek ono waktu limo las menit. Ben gak tambah ambrok awak'e."(iya Tan, buat istarahat saja dulu masih ada waktu lima belas menit. Biar tubuhnya tidak sampai ambruk.), timpal Samuel yang diiyakan oleh Ratna dan Zizah.


Baru setengah jalan terlihat siluet sosok yang tidak asing membelakangiku. Segera ku hampiri sosok tersebut dan benar saja. Pelita Hartadi atau Lita, adik Mas Damar sedang berdiri gelisah sambil sesekali melihat layar ponsenya.


"Nyari mbak, Lit?", sapa ku saat tiba di sampingnya.


Dia menoleh dengan kaget, sepertinya dia sedang tidak fokus dengan sekitarnya. "Iya Mbak. Piye iki Mbak? Mas Damar masih belom ada kabar. Aku wes nanyak-nanyak ke temenku seng neng Jakarta ma Bandung sopo ngerti Mas lagi neng cabang kono tapi gak da yang tahu lo Mbak.",


"Temen-temene seng neng kene piye Lit? Kamu dah coba hubungi?"


Terlihat jelas mata Lita sangat letih, sembab karena terlalu banyak menangis. Wajah yang biasanya selalu ceria dan menularkan suasana riang ke sekitarnya kini menghilang, terganti dengan raut kusut dengan lingkar hitam pada matanya. Tersirat kekhawatiran dan ketakutan di mata cantiknya. Saat mengamati wajahnya air mata mulai menggenang di mataku. Wajah Mas Damar hanya lebih muda tercermin diwajahnya. Mereka berdua begitu mirip.


"Lit papa udah lapor polisi? Iki wes tiga hari tekan hilange Mas Damar loh.", sekuat mungkin ku tegarkan hati untuk bertanya.


"Papa gak iso lapor Mbak, takut beritae nyebar yang gak-gak.", katanya sambil tertunduk.


"Yowes aku tak balek kerjo sek, mengko bar moleh kerjo kita ngobrol maneh yo. Kamu mo tunggu opo piye?, rong jam ngkas aku mantok."(ya sudah aku kembali kerja dulu, nanti sehabis aku pulang kerja kita ngobrol lagi. Kamu mau nunggu atau gimana?, dua jam lagi saya pulang kerja.)

__ADS_1


"Aku ke rumah temenku ae Mbak, nanti tak tetepon.", sambil memelukku sebentar dan dia berlalu.


__ADS_2