Jodoh yang KAU kirim

Jodoh yang KAU kirim
Chapter 23 Mas Damar


__ADS_3

Aku terkejut melihat sosok yang berdiri di teras rumah, meski dari jauh dan dalam gelapnya malam aku sangat hafal dengan postur tubuh itu. Seseorang yang tak ingin ku temui di sisa hidupku. Apa yang dia inginkan disini? Aku benar-benar tidak mau berurusan lagi dengannya. Mas Zaky menyadari ketidak nyamananku.


"Mau puter balik ae? Kayak'e kamu tahu iku siapa. Opo aku turun dewe ae, kamu diem disini.", kata Mas Zaky tenang. Namun aku bisa merasakan ada ketegangan dalam suaranya.


"G' usah mas, kita terus ae. Iku rumah kita, buat opo kita seng harus pergi. Biar aku turun dan ngadepin, aku yo penasaran dia mau opo lagi kesini.", jawabku menahan emosi.


Mobil kami berhenti di halaman rumah. Sosok itu berdiri gagah tanpa ragu dan menghalangi pintu masuk. Saat aku sudah turun dari mobil senyum hangatnya menyambutku tanpa malu, senyum yang sama setiap dia melihatku selama lima tahun kebelakang.


"Mas Damar?!", Tanyaku memastikan meski sudah sangat jelas itu dia.


Selanjutnya yang dia lakukan adalah hal yang lebih mengejutkan dari keberadaannya disini.


Bersamaan dengan tertutupnya mulutku dia berlari maju ke arahku dan dengan sangat cepat aku sudah berada dalam pelukannya, tanpa bisa mengelak. Mataku membulat sempurna terkejut oleh tindakannya. Pelukannya sangat kuat membuatku sulit bernapas. Sedetik kemudian aku sudah terlepas dari pelukannya dan yang aku tahu aku telah berada di balik punggung Mas Zaky.


"Apa yang kamu lakuin?!", tanya Mas Zaky dingin. Aku bisa merasakan aura kemarahan yang sangat panas dalam dingin dan beratnya suaranya.


"Iki bukan urusanmu. Minggir! Aku punya urusan karo Nia.", jawab Mas Damar tak kalah dingin.


Dulu aku selalu senang saat dia memamggilku Nia. Panggilan kesayangan yang diberikan khusus oleh Mas Damar. Tapi saat ini ketika dia memanggilku dengan nama itu terasa seperti segenggam garam yang ditaburkan di atas luka. Apa yang dia inginkan? Aku sudah bilang padanya kalau aku tak ingin berurusan lagi dengannya. Menarik lengan Mas Zaky lembut, aku melangkah ke sampingnya.


"Opo seng kamu mau? Aku g' ono urusan lagi sama kamu?", kataku berusaha tenang.


Saat di hadapannya seperti ini ingatan saat dia kesini bersama mama dan adiknya kembali menyerangku. Kata-kata mereka yang menusuk hatiku seperti baru kemarin mereka lontarkan. Akibat atas kedatangan mereka adalah aku kehilangan bayiku. Aku benar-benar benci orang ini. Aku tak mau bertemu dengan mereka lagi meski apapun yang terjadi.


"Nia, kamu kemana ae? aku nungguin kamu dari siang lo.", kata Mas Damar dengan senyum tanpa memperdulikan nada tak senang dari pertanyaanku sebelumnya.


Aku mengernyit bingung pada sikapnya. Aneh. Terakhir kali dia marah dan menghinaku. Kali ini dia menyambutku dengan pelukan dan sikap manis. Menggelikan.


"Kamu lagi mainin opo se mas?, aku g' ngerti. G' usah muter-muter, kamu ngapain kesini!", hardikku jengah dengan tingkahnya.

__ADS_1


"Aku tahu kamu marah ke aku. Aku kesini mau minta maaf ke kamu. Nia, iso kita ngomong berdua?". Kali ini raut Mas Damar lebih serius namun dengan nada yang lembut.


Kurasakan jari Mas Zaky menyelip diantara jari-jariku, menjalinnya dengan genggaman kuat namun lembut. Aku tahu ini artinya dia tidak setuju dengan permintaan Mas Damar yang ingin bicara berdua dengan ku. Sebagai istri aku harus menjaga perasaan suamiku. Lagi pula aku juga enggan hanya berdua saja dengan Mas Damar.


"Kalo mau ngomong yo ngomong ae, Mas Zaky tetep disini karo aku!", jawabku dingin.


Aku bisa melihat ketidak nyamanan dari sorot mata Mas Damar, tapi aku mengabaikannya. Aku sedang tidak ingin berbaik hati sekarang. Luka yang dia toreh sanggup menghapus semua kenangan indah kami selama bertahun-tahun bersama.


"Oke, aku bakal ngomong tanpa sungkan-sungkan ndek depane dia. Aku g' jamin yo dia g' bakal sakit hati denger obrolan kita.", kata Mas Damar berusaha terlihat santai dan tidak terganggu dengan sikapku.


"Kita omonge ndek dalam ae. Malu sama tetangga.", kata Mas Zaky sambil menuntunku ke pintu yang masih terkunci.


Saat di dalam aku duduk bersebelahan dengan Mas Zaky, dia tak pernah melepas genggamannya dari tanganku. Aku bersyukur akan itu. Jujur, saat ini aku butuh dukungan darinya. Mas Damar duduk berseberangan dengan kami. Terlihat raut tidak senang saat menatap tangan kami yang terjalin.


"Nia! Kamu bisa lepasin tanganmu dari dia? Aku g' suka lihate.", kata Mas Damar sinis, mengawali pembicaraan ini.


"Huuuuf, oke. Aku bisa tahan.", katanya kemudian setelah membuang napas panjang.


"Nia, aku minta maaf ke kamu atas sikap aku tempo lalu. Aku bener-bener wes keterlaluan ke kamu. Waktu iku aku bingung Nia, aku baru sadar dari koma dan langsung dapet kabar kalo kamu wes nikah sama pria lain. Coba kamu pikir piye reaksiku waktu iku. Aku kaget, bingung, marah, g' percoyo. Apa lagi pas kesini aku lihat perutmu wes kelihatan membesar, aku sakit hati Nia. Aku..."


"Iku anakmu mas!!", potongku dengan suara sedikit keras.


"Aku tahu. Aku minta maaf waktu iku aku g' percoyo sama kamu. Waktu iku aku dibutakan roso cemburu seng amat besar.", terdengar ketulusan dalam suaranya.


"Kamu tahu?", tanyaku curiga.


"Yo, aku tahu. Lebih tepat'e aku baru tahu tadi siang. Aku g' sengaja ketemu Lani ndek restoran pas makan siang. Setelah sedikit pertengkaran akhirnya dia cerita tentang kamu saat aku g' ada. Cerita tentang kehamilanmu termasuk musibah seng terjadi sama bayi kita. Aku bener-bener menyesal Nia, kamu yo tahu kalo aku bener-bener mengharapno anak dari kamu. Aku..."


"Kalo kamu berharap punya anak sama Tania, haruse kamu nikahin dia disek. G' gentel banget kamu dadi laki!", kali ini Mas Zaky yang memotong perkataan Mas Damar dengan nada sedingin es.

__ADS_1


"Kamu g' ngerti opo-opo, sebaik'e kamu diem ae!", sanggah Mas Damar ketus.


"Kamu kemana ae selama iki? Opo maksud kamu kalo kamu baru sadar dari koma?", tanyaku penasaran sekaligus mengalihkan perhatian mereka yang mulai menegang.


"Ndek hari kita janjian ketemu, pagi'e aku mendadak harus ketemu klien ndek salah satu hotel ndek Kepanjen. Setelah meeting selesai aku bergegas pergi buat nemuin kamu. Tapi pas ndek daerah Pakisaji aku terlibat kecelakan seng cukup parah, dari seng tak dengar aku sempet di bawa ke puskesmas terdekat tapi penanganan disana g' iso ngehentekno pendarahan ndek kepalaku. Aku seng g' sadarkan diri dan dalam kondisi kritis dirujuk ke RS tempat kamu kerja. Selama hampir dua bulan aku koma dan g' ono seng eroh keberadaanku termasuk keluargaku. Dompet, hp dan beberapa barang laine ilang pas kecelakasn. Aku denger dari Lani kamu sama Dito nemuin hp aku. Aku tahu kamu g' bakal diem ae, aku tahu kamu bakal nyari aku. Kamu kan cinta banget ke aku.", jelas Mas Damar dan diakhiri dengan kalimat yang membuatku tak nyaman.


Aku tersentak kaget mendengar ceritanya. Jadi pasien yang waktu itu aku lihat datang bersama ambulans puskesmas adalah Mas Damar? Pasien Mr.X yang tidak diketahui identitasnya dan membuat heboh serumah sakit itu adalah dirinya? Jadi selama ini dia begitu dekat denganku dan aku tidak menyadarinya. Bagaimana ini bisa terjadi? Harusnya hari itu aku ikut saran Lani untuk melihat si pasien. Pasti keadaannya tidak akan seperti sekarang ini. Aku tak bisa bayangkan bagaimana dia bisa mengalami hal naas seperti ini. Menjadi pasien lakalantas tanpa didampingi orang-orang terdekatnya. Itu sangat menyedihkan.


"Ya Allah mas, kamu pasti menderita banget. Terus piye orang rumah bisa nemuin kamu?", tanyaku lagi.


"Mereka bilang orang-orang seng mereka suruh buat nyari aku akhirnya tahu aku dalam kondisi koma berada di rumah sakit. Setelah mengetahui kondisiku seng g' ono perkembangan mereka sepakat bawa aku ke Singapure. Mereka bilang saat mereka menemukanku di RS kamu sedang dalam kondisi cuti karena kesehatan dari RS. Mereka juga sulit ngehubungin kamu. Setelah sebulan lebih ono ndek RS di Singapure akhire aku sadar dan tepat seminggu setelahe aku dapet kabar kalo kamu wes nikah sama orang ini. Bahkan ono beberapa foto seng mereka dapat dari hasil ngikuti kamu. Salah satue kamu lagi ndek klinik untuk periksa kandungan. Setelah tahu dan lihat fotomu tekadku buat cepet pulih semakin besar. Aku belajar jalan lebih lama dari anjuran dokter. Aku pingin cepet-cepet ketemu kamu buat mastiin opo seng tak denger dan foto iku g' bener. Aku g' percoyo kamu bakal ngekhianati aku. Sampai akhire aku kesini sama mama karo Lita, dan lihat kalo kamu bener-bener lagi hamil.", lanjutnya panjang lebar. Air mukanya menjadi sendu.


"Kamu haruse hubungi aku dulu mas, aku bisa jelasin semuanya ke kamu. Mungkin kalo waktu iku kamu mau dengerin penjelasan aku, kita g' mungkin sampek kayak gini. Akhire kita saling nyakitin.", kataku merasa menyesal dengan keadaan yang sudah terjadi.


Aku merasakan jalinan jari Mas Zaky mulai meregang, tapi aku meremasnya lembut dan memperkuat lagi jalinan jari kami. Aku tidak mau tangan kami terpusah. Genggamannya memberiku kekuatan untuk mendengarkan kisah Mas Damar. Aku menoleh ke arahnya untuk melihat reaksinya. Bisa kulihat ke khawatiran dan rasa takut di matanya. Apa yang dia khawatirkan dan takutkan?


"Aku tahu aku gegabah, aku bodoh g' mau dengerin kamu waktu itu. Emosiku ngebuat kita kehilangan bayi kita. Aku nyesel banget Nia. Kamu mau maafin aku kan? Aku mohon kamu ngertiin posisi aku waktu iku. Kamu tahu aku cinta banget ke kamu, aku sayang banget sama kamu. Aku yakin kamu tahu gimana perasaan aku waktu tahu kamu nikah sama orang lain. Aku hancur Nia, aku hancur. Aku marah banget ke kamu. Aku g' bermaksud buat kamu terluka dengan kata-kata ku. Aku memang brengsek waktu iku. Aku mohon Nia, kamu mau ya maafin aku.", pintanya dan memohon minta maaf.


Matanya terlihat berkaca-kaca. Ini adalah ketiga kalinya aku melihat air mata di matanya. Dan semuanya berhubungan denganku. Hatiku terenyuh melihat air matanya. Ternyata hatiku masih terasa sakit saat melihatnya terluka seperti ini. Kulihat kegelisahan dalam tatapannya.


"Pliisss Nia, maafin aku. Aku tahu kamu masih cinta sama aku. Kita kembali dari awal. Aku bakal nebus semua kesalahan aku. Aku akan jadi lebih baik lagi dari sebelum-sebelum'e. Aku janji g' akan nyakitin kamu. Aku yo bakal minta mama sama Lita minta maaf ke kamu. Pliiiiss Nia, pliiiss...maafin aku.", mohonnya lagi saat aku tak memberinya jawaban.


Aku mengerti apa yang dia rasakan. Perasaan dia saat itu pasti juga akan aku rasakan jika aku berada di posisinya. Aku juga akan hancur jika Mas Damar meninggalkanku dan menikah dengan orang lain. Tapi saat ini aku ada pria lain yang genggaman tangannya tak ingin ku lepas. Aku mulai nyaman ada disisinya. Aku mulai menikmati berada dipeluknya. Aku mulai terbiasa akan kehadirannya. Tapi tak ku pungkiri perasaan hangat yang kurasaakan saat ini ketika Mas Damar memohon dan mengungkapkan rasa cintanya. Mungkin Mas Zaky tahu kebimbanganku. Kali ini tangannya benar-benar terlepas dari genggamanku. Aku menoleh dengan segera begitu jalinan jari kami terpisah. "Mas?", tanyaku sambil menatap matanya.


"Bentar, aku haus. Aku ambil minum dulu buat kita.", kata Mas Zaky menghindari tatapan mataku dan beranjak pergi.


"Nia, pliiiss kita balik kayak dulu lagi ya? Aku janji bakal bikin kamu bahagia. Aku g' akan ninggalin kamu lagi. Aku janji.", mohon Mas Damar sambil meraih dan menggemgam tanganku.


Ku tarik tanganku dari genggamannya. Aku menoleh ke arah hilangnya Mas Zaky berharap dia segera kembali. Aku tak ingin dia meninggalkanku berdua saja bersama Mas Damar tapi sampai hampir lima belas menit dia tak kunjung kembali. Harusnya dia tak membiarkan istrinya berdua saja dengan pria lain, terlebih lagi pria itu telah mengutarakan rasa cintanya terhadap istrinya. Apa memang Mas Zaky tidak punya perasan cinta terhadapku? Hatiku berdenyut nyeri saat pikiran itu terlintas. Sikap mas Zaky membuatku yakin atas pilihan yang akan kubuat. Aku mengambil napas panjang sebelum akhirnya mengatakan keputusan yang ku ambil ke pada Mas Damar.

__ADS_1


__ADS_2