Jodoh yang KAU kirim

Jodoh yang KAU kirim
Chapter 2 Menghilang.


__ADS_3

Tepat jam dua siang aku sampai di rumah sakit. Segera ku mengganti bajuku dengan seragam perawat rumah sakit ini. "Tak cari'in dari tadi kamu kok baru nyampek?", suara tak asing di belakangku berhasil membuatku meloncat kaget.


"Sial kowe Lan, ngagetin ae! Sampek dredeg dadaku.", jawabku sambil masih memegangi dada.


"Haha...sory..sory..kamu se nglamun ae, jare abis ketemu Mas Damar kok sek manyun wae. Gak dikasih jatah yooo?", ledek Lani sambil menaik turunkan kedua alisnya.


"Mas Damar ngilang, nggak tau kemana. Sebel aku!", tiba-tiba ada perasaan aneh dalam hatiku. Setelah kata-kata itu keluar dari mulutku seperti ada batu yang sangat besar menghantam dadaku.


"Yowes..yowes..yok kerjo dulu, mengko pas jam istirahat kamu crito yo.", ajak Lani dengan menyeret ku keluar dari kamar ganti di ruang perawat.


Ku mulai sift sore ini dengan perasaan enggan. Setelah tugas pertama mengecek beberapa pasien aku berniat untuk ke kantin mencari camilan. Masih jam empat sore tapi aku sudah merasa lapar. Saat tiba di lobi, bisa ku lihat ada mobil ambulance puskesmas datang. Sepertinya mengirim pasien kritis. Karena terlihat dari kepanikan para tenaga medis yang menyambutnya. Sekilas ku dengar ada yang mengatakan korban kecelakaan. Yah bukan wewenangku. Sebaliknya, aku harus bergegas mengingat ini bukan jam istirahat tapi aku malah menyelinap pergi ke kantin.


Jam besar di dinding meja resepsionis menunjukan pukul tujuh malam, belum ada kabar dari Mas Damar. Segala sekenario berputar di otakku. Tidak biasanya Mas Damar seperti ini. Tiga jam adalah waktu paling lama dia tidak menghubungi ku.


Mengapa menyusuri lorong ini terasa sangat jauh. Padahal setiap hari ada seratus kali aku melewati lorong ini dan hanya butuh lima menit untuk sampai di bangsal pelangi. Mungkin suasana hati ini mempengaruhi pekerjaanku. Aku menjadi lamban dan tidak cekatan.


Untungnya hari ini anak-anak sangat patuh. Tidak ada yang merengek karena harus minum obat atau hanya sekedar pemeriksaan rutin.


Kembali keruang perawat dan istirahat sejenak. Menyelonjorkan kaki barang sebentar tidak ada salahnya kan, pikirku dalam hati.

__ADS_1


Cklek.


"Lhoh Mbak Ita masih disini toh, bukane sift pagi kan Mbak?", tanyaku pada sosok yang sedang berkutat di rak arsip.


"Iyo Tan, tadi sift pagi tapi balik lagi ono berkas seng ketuker mau. Duh mumet aku.". Jawab Mbak Ita dengan raut wajah kusut dan terus memeriksa berkas-berkas.


"Kok biso toh Mbak? Ono seng ngerti gak? Gak cobak tanyak anak-anak lain mbak sopo weroh ono seng ngerti?"(kok bisa sih Mbak? Ada yang tau tidak? Tidak coba tanya pada anak-anak lain mungkin ada yang tahu?", tanyaku bertubi-tubi dan molai ikut panik.


"Wes takon-takon malah ono Yudi karo Zizah seng bantuin nyari tapi dorong ketemu ki."(sudah tanya-tanya malah ada Yudi dan Zizah yang bantu mencari tapi belom ketemu juga.), sahut Mbak Ita dengan suara bergetar.


Aku tidak tega melihatnya. Berkas pasien tertukar bukanlah hal sepele. Ada rekam medis pasien dan informasi pribadi di dalamnya. Ini termasuk keteledoran yang tidak bisa ditoleransi. Kami harus segera menemukannya sebelum berita ini terdengar ke para petinggi rumah sakit. Ku hampiri Mbak Ita dan ku usap lembut pundaknya. "Tenang Mbak kita semua bakal melu nggolek'i kok, iki kan bukan masalahe mbak Ita tok tapi sak divisi perawat anak yo terlibat."(tenang Mbak, kita semua bakal ikut mencari, inikan bukan cuma masalah Mbak Ita tapi juga masalah satu divisi perawat anak.", sebisa mungkin ku menenangkannya.


Drrrtt...drrtt..


Ponsel disaku ku bergetar. Aku memang tidak pernah memberi ringtone pada ponselku. Selalu aku set dalam mode silent. "Mama Sekar" nama yang tertera pada layar ponsel. Ku geser gambar telepon warna hijau.


"ya ma?", sapa ku.


"Tan kowe isek masih sama Damar gak? Bocah iku ono meeting jam pitu mau sampek saiki g' dateng.", suara mama Sekar agak meninggi di seberang sana.

__ADS_1


Deg. Hatiku seperti dihantam dengan palu tak kasat mata. Mas Damar kemana?


"Mboten niku Ma. Wau emang janjian tapi Mas Damar mboten rawuh, kulo pikir wonten kerjaan engkang mendesak. Kulo telpon nggeh mboten ngangkat-ngangkat niku."(Tidak Ma, Tadi memang janji mau ketemu tapi Mas Damar tidak datang, saya pikir ada pekerjaan yang mendesak. Saya telepon juga tidak diangkat.", jawabku dengan hati gelisah.


"Tadi pamit mau ketemu kowe, lha kemana yo bocah iku. Aku karo papae yo nelpon sampek kesel. Lita yo sibuk nghubungi yo g' ada respon.", suara Mama Sekar mulai terdengar khawatir. Begitupun dengan ku. Kamu dimana sih Mas? Jangan bikin aku khawatir.


"Mama tenang dulu nggeh, menawi Mas Damar wonten keadaan engkang mendesak lan mboten sempet maringi kabar. Mengke misale Mas Damar maringi kabar ten kula rumiyen. Bakal kulo sanjangi dipadosi kale Mama. ngapunten nggeh Ma ini jam istirahat kulo sampun telas. Saling maringi kabar nggeh Ma. Kulo bade nglanjut tugas."(mama tenang dulu ya, mungkin Mas Damar dalam keadaan mendesak dan tidak sempat memberi kabar. Nanti misalkan Mas Damar memberi saya kabar terlebih dahulu akan saya sampaikan kalau Mama sedang mencarinya. Maaf ya Ma jam istirahat saya sudah selesai. Saling memberi kabar ya. Saya mau kembali bekerja.), sambungku bermaksud mengakhiri panggilan ini. Aku berusaha terdengar kuat dan berharap benar-benar kuat untuk segala kemungkinan.


"Yowes nak, kowe kerjoe ati-ati yo. Ntar pulang kerjo ben dijemput pak Narto wae. Ojo naik taxi online. Wes malem, bahaya." Dan panggilan teleponpun berakhir.


Sisa jam kerjaku terasa sangat lama. Pikiranku terus berputar tentang Mas Damar. Hatiku benar-benar gelisah. Segela prasangka datang silih berganti. Sedikit pengalihan datang dari masalah tertukarnya berkas tapi itu tidak ber-langsung lama. Segera pikiran tentang Mas Damar kembali menguasaiku.


Jam sebelas malam aku keluar dari rumah sakit dan kulihat pk. Narto sudah siap di samping pos satpam.


"Monggo mbak Tania.", pk. Narto mempersilahkan aku untuk masuk ke mobil.


"Suwon nggeh Pak, ngapunten ngrepotin."(terima kasih Pak, maaf sudah merepotkan). Sahut ku ketika sudah di dalam mobil.


Tak ada satupun diantara kami yang bicara sampai mobil berhenti di depan tempat aku kos. Perjalanan hanya memakan waktu lima belas menit karena jalanan sangat lenggang dimalam hari. Setelah berbasa-basi sebentar aku segera masuk kerumah kos dan langsung menuju kamar. Sebelum lelah benar-benar mengambil alih tubuhku ku sempatkan untuk bersih-bersih sembentar.

__ADS_1


Baru lima menit rebahan dan aku sudah tertidur dengan bayangan Mas Damar yang menghilang bersama datangnya mimpi.


__ADS_2