Jodoh yang KAU kirim

Jodoh yang KAU kirim
Chapter 11 Awal


__ADS_3

Sudah tiga hari berlalu sejak insiden makan malam terjadi. Aku kembali melakukan aktivitas seperti biasa. Hanya saja, sekarang aku tinggal di rumah. Orang tuaku melarang untuk kembali ke tempat kos.


Para orang tua sepakat untuk menyerahkan urusan perjodohan ini pada ku dan Mas Zaky. Mereka memberi kami waktu untuk ta'aruf. Meskipun orang tua Mas Zaky menyetujui dengan rasa berat hati. Aku tahu mereka merasa tersinggung dengan sikapku. Juga dengan kondisiku sekarang. Siapa orang tua yang mau menikahkan anaknya dengan perempuan yang sedang hamil anak pria lain?, tentu saja mereka merasa keberatan.


Aku memutuskan untuk mengikuti masa ta'aruf ini. Bukan, bukan karena aku menyerah atas cintaku pada Mas Damar. Tapi karena aku menghormati Mas Zaky, keputusannya lah yang membuat kedua keluarga tidak sampai terputus silaturrakhim. Aku juga tidak harus menikah dengannya. Aku masih bisa menolak. Benar-benar tidak ada paksaan. Keputusanku juga membuat tenang kedua orang tuaku. Meski mereka belum memaafkan ku sepenuhnya atas tindakanku.


Pagi hari setelah acara makan malam, aku menghadapi situasi yang lebih mencekam dari sidang skripsi, haha..., itu yang aku rasakan waktu itu. Mereka memberondongku dengan berbagai macam pertanyaan. Ku jelaskan semua situasi yang ku alami bersama Mas Damar. Meski terjadi perdebatan kami akhirnya saling mengerti. Mereka merasa sangat kecewa padaku, itu jelas. Tapi mereka bersedia memaafkanku. Itu adalah salah satu pertimbanganku bersedia menjalani masa ta'aruf ini. Karena orang tuaku mau memaafkanku, kenapa tidak aku sedikit mengalah untuk mereka.


Untuk Mas Damar, aku tidak pernah menyerah. Tiga hari ini aku lebih aktif mencarinya. Aku pergi menemui beberapa temannya sebelum sift sore ku dimulai. Atau hanya sekedar melalui telepon dan medsos saat aku terlalu lelah setelah menjalani sift malam. Tapi masih belum ada kemajuan, bahkan petunjuk baru pun tak ada.


Dan untuk hari ini, aku tidak bisa pergi mencari informasi. Meski hari ini aku giliran sift sore, tapi pagi ini adalah pertemuan pertama masa ta'arufku di mulai. Mas Zaky meminta ku meluangkan waktu pagi ini hingga sebelum sift sore ku dimulai.


Karena sudah berjanji untuk bersungguh-sungguh dalam menjalani ta'aruf ini, aku akan melakukannya dengan sepenuh hati. Tapi aku tidak berniat untuk memikat dia dengan penampilanku, itu sebabnya aga berpenampilan sesimpel mungkin.


Aku hanya mengenakan dress sedikit dibawah lutut berwana hijau pastel tanpa lengan dengan karet full melingkari pinggang. berbahan sifon dengan sedikit aksen lipatan-lipatan kecil memanjang di bagian dada. dan pita kecil menjuntai di bagian kerah sanghainya. Karena cuaca cukup cerah dan panas, aku sengaja tidak mengenakan cardigan. Ku sesuaikan dengan sepatu flat berwarna putih. Setelah memutuskan mengepang rambutku menjadi satu untaian dari puncak kepala hingga ke ujung, aku siap untuk berangkat. Mengambil tas slempang kecil berwarna senada dengan sepatu ku, aku segera melangkah meninggalkan kamar.

__ADS_1


"Wah..wes cantik, sido arep metu karo Zaky?" (wah..sudah cantik, jadi mau keluar dengan Zaky?), suara Mas Yayan menyambutku di meja makan.


Sarapan sudah tersaji rapi, mulai dari nasi goreng, roti beserta beberapa selai dan berbagai buah-buahan. Sambil mengambil satu buah pisang ambon, aku menggeser kursi dan duduk di sebelah Mas Yayan.


"Hemm", jawabku singkat. Aku lebih memilih diam, memakan pisangku dengan tenang. Masih merasa canggung untuk berinteraksi dengan mereka setelah pertengkaran kemaren.


"Zaky arep njemput, opo arep ketemuan neng njobo?"(Zaky mau menjemput, atau mau ketemuan di luar), kali ini ayah yang bertanya.


"katae arep njemput.", jawabku masih tidak memandang ke mereka. Aku lebih memilih mulai memakan apel sambil memainkan ponselku untuk menghindari mereka.


"Kamu gak po-po kan?, maaf yo, Gara-gara ibuk kamu jadi mual-mual lagi.", kata ibuk sambil membantuku berjalan kembali ke ruang tengah. Sudah tak terlihat piring beserta isinya yg membuatku mual. Mungkin ibuk atau yang lain sudah menyingkirkannya. Ayahpun sudah tidak ada di meja makan. Beliau selalu menghindar atau menampilkan ekspresi keras saat aku menunjukkan tanda-tanda kehamilanku seperti yang baru saja terjadi. "Purun tak buatno teh daun mint?, iku efektif gawe ngilangno mual pas hamil muda."(mau dibuatkan teh daun mint?, itu efektif menghilangkan mual waktu hamil muda), suara ibuk kembali terdengar. Aku hanya mengangguk sebagai jawaban.


Beberapa saat setelah minum teh daun mint dan menenangkan diri sebentar, ku dengar suara ibuk berbincang dengan seseorang di halaman depan. Mungkin itu Mas Zaky.


Aku beranjak dari sofa ruang santai dan menuju halaman depan. Benar saja Mas Zaky sedang duduk di kursi taman bersama ibuk yang terlihat tersenyum sumringah. Aku berdiri cukup lama di teras rumah.

__ADS_1


Pandanganku terpaku pada sosok yang ku temui beberapa kali itu. Baru kali ini aku bisa mengamati sosok Mas Zaky. Hemm.., dia tak kalah tampan dari Mas Damar, hanya kulitnya sedikit lebih gelap. Wajahnya tegas, dengan hidung pancung dengan tulang hidung yang agak tinggi. mata yang tajam dengan bola mata hitam sempurna. Sedikit jenggot di dagunya. Namun tidak membuat wajahnya tampak lusuh, malah membuatnya terlihat menly berwibawa. Badannya tegap. Tidak kurus juga tidak berisi. Dan ini yang membuatku minder jika akan berjalan di sampingnya. Tingginya melebehi rata-rata. Aku teringat saat bertabrakkan dengannya di lobi rumah sakit. Saat ku berdiri tegak tinggi ku hanya sampai sedikit di bawah bahunya. Dengan postur tubuh seperti itu, aku bisa sembunyi di baliknya dan tidak akan ada orang yang melihatku. Bibirku tertarik ke samping saat membayangkan hal konyol itu. Ku lihat dia mengenakan kemeja berlengan pendek berwarna putih, berkerah sanghai dengan empat kancing. Sedikit kombinasi warna coklat pada lengan, kerah dan saku dada pada kemejanya. Celana bahan warna coklat sepanjang mata kaki dan sepatu slip on warna putih. Terlihat cocok padanya. Tidak, bukan cocok. Tapi sempurna. Aku mengerjap beberapa kali. Apa sih yang aku pikirkan? Tidak, tentu saja bukan karena aku tertarik padanya. Aku hanya menyampaikan apa yang aku lihat. Tidak ada perasaan apapun dalam penjabaran tadi. Aku sangat yakin. Ku tekankan kata-kata itu dalam hatiku. Aku berjalan mendekati mereka.


"Wes lama mas?", tanyaku saat sampai di samping ibuk.


"Baru kok, aku liat ibuk lagi siram-siram kembang. Jadi ngobrol bentar. Lagian aku yo suka tanaman.", jawabnya dengan senyum mengembang. Pandangannya tidak pernah lepas dariku saat bicara. Pandangan intens tapi bukan tipe yang akan membuatmu risih. Sulit di jelaskan. Sesaat aku terpaku oleh manik hitam matanya. Namun segera tersadar saat suara ibuk menanggapi apa yang dikatakan Mas Zaky.


"Oh, wes pernah nyoba nanam opo?", tanya ibuk antusias.


"Pernah nyoba menanam sayur sih buk dulu, pas wonten Kairo. Lumayan buk, buat ngirit pengeluaran.", suaranya kalem namun tetap menly.


"Wah, hebat sampeyan. Neng negoroe uwong emang kudu pinter ngator keuangan. Ben gak sampek ketlarak-tlarak."(wah, hebat kamu. Di negeri orang memang harus pandai mengatur keuangan, biar tidak sampai sengsara.), suara ibu terdengar akrab saat mengatakannya.


Obrolan mereka berlanjut dengan sangat akrab. Bahkan ibuk sudah seperti berbicara dengan Mas Yayan saja. Aku hanya sesekali menimpali. Ibuk terlihat sumringah. Terlihat menikmati berbincang dengan Mas Zaky.


Sudah lebih dari tiga puluh menit kami mengobrol di taman rumah. Matahari mulai tinggi, dan menyorot kami dengan semangat. Tapi tak kunjung terlihat berkurangnya antusiasme ibuk mengobrol dengan Mas Zaky. Aku tak pernah sekalipun melihat ekspresi-ekspresi yang ibuk tunjukan untuk Mas Zaky saat ibuk bertemu dengan Mas Damar. Itu membuatku sedih. Tapi aku segera menepisnya, agar ibuk tidak melihatnya.

__ADS_1


Aku harap ini benar-benar keputusan yang tepat untuk semua orang. Agar tidak lebih banyak orang lagi yang terluka. Terutama Mas Damar.


__ADS_2