
"Taaan? Tania.., ayo bangun. Wes jam dua belas, ayo sholat dhuhur disek.", suara Mas Zaky membangunkan ku.
"Iyo mas, bentar lagi.", jawabku parau.
"Ayo, cepet bangun. Wes tak siapin makan juga.", katanya lagi.
Akhirnya aku bangun dan segera ke kamar mandi untuk bersiap. Butuh waktu lebih dari setengah jam aku bersiap di kamar mandi. Sudah lengkap berbalut pakaian dan sedikit berdandan, aku siap keluar.
"Mas, kok pakean, make up, sama barang2 aku ono ndek sini semua?", tanyaku begitu keluar kamar mandi.
Tadi saat mengambil handuk di lemari bawah westafel aku menemukan koperku berisi semua barang-barangku berada di samping lemari tersebut. Tentu saja itu membuatku bingung.
"Iyo, semalem aku nyuruh Lani rapiin barang-barangmu. Tadi ada relawan seng nganter sekalian mau belanja stok barang-barang buat kamp.", katanya santai.
Aku masih mengerjap bingung. Jawabannya tak menjawab rasa ingin tahuku.
"Em...buat opo kamu nyuruh barangku dirapiin? Aku kan wes iso balik ke kamp. Cuma tinggal pegel-pegel dikit doang, luka ndek kepalaku yo g' parah.", desakku.
"Tania, kamu pikir aku bakal ijinin kamu balik nang kamp setelah opo seng kejadian ke kamu kemaren?", tanggapnya tentang kata-kataku.
"Maaaas..., kan kemaren aku wes cerito kalo aku kecelakaan, bocah-bocah iku juga g' sengaja. Mereka yo g' tau opo seng mereka lakuin iku bahaya.", rengekku.
"Aku g' bahas soal kecelakaanmu. Tapi opo seng Damar lakuin ke kamu. Setelah iki aku g' bakal biarin kamu selokasi sama Damar. Eiits...kamu g' usah protes. Kita semalam wes sepakat mau buat keluarga seng bahagia. Iku berawal dari bikin hati aku tenang dengan cara Damar g' deket-deket kamu lagi.", kata Mas Zaky yang tak membiarkan aku memotong kata-katanya.
Huuuff, apa boleh buat kalau dengan aku pulang sekarang bersamanya bisa membuat hatinya tenang. Sebenarnya aku merasa berat jika harus pulang tanpa mampir ke kamp terlebih dahulu. Tentu saja bukan karena disana ada Mas Damar, tapi karena aku ingin bertemu Akmal lebih dulu. Aku kangen. Aku ingin memastikan kalau dia baik-baik saja. Apa Mas Zaky akan bersedia jika aku bilang aku ingin menengok Akmal sekali saja sebelum kami pulang ke Malang? Mungkin aku harus memohon padanya.
"Eemm... Mas? Kita tengok Akmal dulu yo sebelum balik nang Malang. Sekaliiiii ae. G' bakal lama-lama. Sekalian pamit mas. Kan g' sopan kalo aku tiba-tiba pulang g' kasih kabar gini. Pliiiiissss?", mohonku dengan wajah paliiiiing melas.
"Haha...g' usak kayak gitu lah. Emang aku wes ono rencana mau ngajak kamu kesono abis kita makan iki. Kamu lucu deh. Dulu tak pikir kamu itu jaim. Hahaha."
"Ih. Yowes aku sholat disek.", kataku sebal dengan godaannya dan berbalik ingin menunaikan sholat dhuhur.
"Eeeeittts,, bareng dong. Kan aku dari tadi nungguin kamu biar iso sholat berjamaah, kita.", katanya mencegah langkahku.
Kami lantas sholat dhuhur berjamaah. Dan dilanjutkan santap siang atau lebih tepatnya sarapan karena aku baru bangun siang hari. Seusai makan kami langsung pergi menuju kamp pengungsi. Butuh waktu sekitar satu setengah jam sebelum kami tiba disana. Dalam perjalanan kami sempat singgah untuk membeli cukup banyak buah-buahan agar bisa dibagikan untuk para pengungsi mengingat saat di pengungsian mereka hampir tidak pernah makan buah. Meskipun demikian tim konsumsi selalu memberi mereka makanan dengan kandungan gizi yang baik. Perjalanan terasa cukup singkat karena banyak hal yang kami obrolkan. Memang mulai dari pertama kami jalan bareng obrolan kami selalu nyambung, tapi obrolan kami kini lebih menyenangkan karena rasa canggung dan sungkan sudah hilang. Terlebih lagi setelah kami sering melakukan panggilan video.
Begitu tiba di area kamp pengungsian kami langsung menuju ke dapur umum yang digunakan tim konsumsi untuk menyerahkan buah-buahan yang kami beli. Dari sana aku langsung menyeret Mas Zaky ke tenda medis tempat Akmal berada. Betapa terkejutnya aku saat kutemukan tenda dalam keadaan kosong, hanya meja dan beberapa alat medis. Bahkan box bayi milik puskesmas yang digunakan Akmal pun tak ada. Aku diserang kepanikan teramat sangat. Entah kenapa aku merasa ada yang tak seperti keinginanku.
"Lho kok Akmal g' ono yo mas? Box bayie yo g' ono. Opo sama Ika yo? Tapi g' mungkin Ika bawa Akmal jalan-jalan pake' box bayi.", kecemasan terdengar jelas dari getar suaraku.
"Mungkin pindah ke tenda lain?", kata Mas Damar tenang.
"G' mungkin. Tenda seng paling aman posisie buat Akmal iku cuma ndek sini. Ah aku mau cari Ika ae.", kataku menggebu-gebu.
"Tan, tenang disek. Sabar. Kita cari Akmal, tapi kamu tenang disek. Kondisimu juga belom pulih bener kan.", katanya lembut, menenangkanku.
Tapi itu tak lantas membuatku tenang. Segala pikiran terburuk muncul di otakku. Aku tak bisa diam saja, harus segera mencari tahu apa yang terjadi. Aku merasa sangat yakin kalau terjadi sesuatu dengan Akmal.
"Ayo mas, cepetan! Kita cari tau.", kataku langsung bergegas setengah berlari tanpa menunggu Mas Zaky.
"Tan, pelan-pelan. Nanti kamu jatuh!", Mas Zaky mengingatkan begitu dia berhasil menyusulku.
Menarik tanganku agar aku berhenti berlari. Dan kemudian menggenggam tanganku lembut sebelum akhirnya kami kembali berjalan dengan tangan yang masih terjalin.
"Kamu iku belum pulih, masih sering pusing. Kok malah lari-lari, iso nyungsep iku idung pesekmu.", katanya dengan canda saat kami masih berjalan menuju tenda medis utama.
Sesampainya disana aku bertemu dr.Taufan dan Lani, tak ada Ika apalagi Akmal. dr.Taufan melihatku dengan alis yang terangkat. Mungkin dia tidak mengira kalau aku akan kembali kesini secepat ini.
"Kamu wes pulih? Mukamu sek pucet gitu, ngapain kesini?", tanyanya.
"Iyo Tan, istirahat disek sampek pulih lah baru balik kesini.", kali ini Lani yang bicara.
"Mana Akmal? Aku liat tendanya kosong, box bayie yo g' ono.", tanyaku langsung pada hal yang ingin aku cari tahu.
dr.Taufan dan Lani saling bertukar pandang. Mereka terlihat gelisah. Tak ada satupun dari mereka yang menjawab lertanyaanku. Ini semakin membuatku curiga, ada apa sebenarnya.
"Kok diem ae? Ika mana?", tuntutku.
"Tan, sabar.", kata Mas Zaky yang sedari tadi hanya diam.
__ADS_1
"Eem..anu Tan, Akmal...dia...dia ono seng ngadopsi. Kemaren malam wes ono seng ngambil.", akhirnya Lani menjawab dengan suara pelan.
Hatiku terasa diremas begitu kuat. Sakit. Sangat sakit. Seperti kehilangan anak untuk yang kedua kali. Aku sudah menyayanginya seperti anakku dan sudah merencanakan pengapdosiannya. Selama ini aku tak pernah dengar jika ada orang lain yang ingin mengapdosinya tapi kenapa tiba-tiba ada yang datang mengambilnya. Kenapa mereka menyerahkannya? Mereka kan tahu kalau aku menginginkan Akmal. Aku tak sadar jika tubuhku menjadi lemas sampai akhirnya aku tahu kalau aku sudah bersandar pada dada bidang Mas Zaky dan kedua tangannya menopangku.
"Kok iso Akmal dibawa, emang surat-surate lengkap?", tanyaku lemah, bergetar.
"Lenkap Tan, semua lengkap. Surat adopsinya juga wes berkukatan hukum.", kali ini dr.Taufan yang menjawab.
Aku berbalik, menangis dalam pelukan Mas Zaky. Hilang, benar-benar sudah hilang harapanku untuk menjadi keluarganya Akmal. Aku menangis cukup lama dalam pelukan Mas Zaky dan elusan lembut tangannya di punggungku. Sampai akhirnya aku tenang sekitar satu jam setelah berita itu ku terima. Aku dan Mas Zaky lantas mengatakan perihal rencana kepulanganku esok hari, dan kami kesini untuk berpamitan. Kami berempat berjalan bersama menuju tenda utama tempat para penanggung jawab berkumpul. Sedikit basa-basi dan candaan kami akhiri dengan berpamitan. Beberapa relawan wanita yang dekat denganku mulai memelukku dengan haru. Kami sempat mengambil beberapa foto. Dan berkeliling sebentar sebelum akhirnya kami kembali ke hotel.
"Wes lah Tan, g' usah murung gitu. Iku tandae kita belom berjodoh sama Akmal. Allah iku maha tau opo seng baik buat umat'e, mungkin ono rencana Allah seng lebih indah buat kita.", kata Mas Zaky sambil mengelus puncak kepalaku.
Jalanan terlihat sepi, mungkin kami bisa lebih cepat sampai ke hotel. Aku lebih banyak diam dalam perjalanan ini. Perasaan sedih masih enggan pergi dari hatiku. Beberapa kali Mas Zaky menawariku menu yang ku inginkan untuk makan malam, tapi aku tidak berselera makan. Tiba-tiba saja aku ingin segera kembali ke Malang. Dengan tak adanya Akmal aku merasa terhempas dari kota ini.
"Oh ya Tan, aku seneng deh.", ujar Mas Zaky tiba-tiba.
"Opo?", tanyaku sambil mengernyit bingung.
"Aku seneng sekarang cara berpakeanmu jadi lebih tertutup. Aku perhatiin pas kita video call cuma aku ragu mau bilang. Tapi saat liat langsung gini kamu keliatan udah nyaman pake'e, aku jadi seneng.", jawabnya antusias.
Aku hanya membalasnya dengan senyum sekilas. Aku senang ternyata selama ini dia meperhatikan tapi saat ini aku merasa tidak tepat membahas soal caraku berpakaian. Mungkin dia hanya ingin meringankan suasana hatiku, hanya saja aku masih sangat sedih untuk menanggapi lebih jauh. Setengah jam kemudian kami sudah berada di hotel. Tak perlu waktu lama bagiku untuk berberes dan sholat isya agar aku bisa segera berbaring. Aku ingin cepat tidur dan segera bangun untuk pergi kembali ke Malang.
Suara adzan subuh dari ponsel Mas Zaky membangunkanku. Kulihat jam di dinding kamar menunjukkan pukul 4.30 pagi. Mas Damar sedang duduk di sofa sambil memegang alquran, membacanya dengan suara lembut dan pelan. Aku meregangkan tubuhku sebelum akhirnya beranjak menuju kamat mandi. Karena waktu untuk sholat subuh masih cukup panjang, aku putuskan untuk sekalian mandi mengingat kami memiliki jadwal penerbangan pagi menuju Malang. Lima belas menit waktuku di kamar mandi dan akhirnya bergegas keluar untuk segera menunaikan sholat subuh.
"Kamu wes sholat opo nungguin aku dulu?", tanyaku saat mengenakan mukenah.
"Aku nungguin kamu, wes siap? ayo.", jawabnya sambil memposisikan dirinya satu baris di depanku.
Seusai sholat kami bersama-sama membereskan semua barang bawaan kami. Memeriksa sekali lagi agar tak ada yang tertinggal. Pukul enam kami bersiap turun untuk check out dari hotel dan langsung berangkat ke bandara. Saat bell boys datang ke kamar untuk membantu membawakan koper-koper kami, aku permisi untuk menggunakan toilet sebelum mengikuti mereka turun.
"Kamu turun dulu deh mas, aku mau ke toilet bentar.", kataku menyuruh Mas Zaky untuk turun lebih dulu dan segera menuju toilet tanpa menunggu jawabannya.
Untungnya dia mengikuti kata-kataku. Saat aku keluar dari toilet dia sudah tidak ada. Aku segera menyusulnya turun dan kulihat dia berdiri di depan meja resepsionis sedang berbicara dengan si empunya meja. Aku berjalan mendekat tanpa suara dan berdiri di belakang Mas Zaky. Sambil berjinjit aku membisikkan sebuah kata di telinganya.
"Surpriiiiiiise.", bisikku pelan namun berhasil mengejutkannya.
Setelah tersentak karena terkejut, dia berbalik untuk menghadapku. Dan dari ekspresinya saat melihatku sekarang aku yakin dia lebih terkejut daripada bisikanku sebelum dia berbalik. Aku terseyum melihat tatapannya padaku, dan berubah menjadi tawa saat dia tetap diam terperangah.
"Eh..ng..ngak kamu cantik kok, cantik banget malah.", ujarnya, masih dengan terperangah.
"Kamu wes beres check outnya?, kita langsung berangkat ae yuk.", ajakku, saat ku lihat urusannya di resepsionis selesai.
Dalam perjalanan melewati lobi hingga kami di dalam taksi, Mas Zaky terus memandangiku. Itu membuatku risih, sepertinya yang kulakukan benar-benar berhasil membuatnya terkejut.
"Opo sih mas, ngliatinnya gitu amat. Kamu g' suka? Yowes biar kulepas wae.", kataku akhirnya, sambil mengangkat kedua tanganku bermaksud melepas lilitan kain yang menutupi kepalaku.
"Eh, g'-g'. G' boleh dilepas. Bukannya aku g' suka. Aku suka banget-banget. Haha. Aku hanya...terkejut aja tiba-tiba kamu pake' hijab. Kamu cantik banget.", katanya buru-buru untuk menghentikanku melepas hijab yang ku gunakan.
"Kirain kamu g' suka. Syukur deh kalo kamu suka. Lagian aku g' tiba-tiba pake' kok. Aku wes lama mau pake' hijab, sampe' belajar dari Amara. Hehe."
"Tapi kamu pake' ini g' cuma buat main-main kan?", tanyanya ragu.
"Insha Allah aku g' main-main. Aku wes mantap kok buat pake' hijab.", jawabku mantap dan tegas.
"Alhamdulillah, aku seneng banget denger'e.", katanya, sambil merangkul pundakku.
Perjalanan ke bandara tak membutuhkan waktu lama karena lalulintas masih lenggang. Sesampainya di bandara kami langsung melakukan check in dan menunggu setengah jam sebelum akhirnya pesawat lepas landas. Pukul sembilan lebih kami sudah keluar dari bandara Abdurrahman Saleh dan naik taksi menuju rumah. Satu jam kemudian kami sudah bersantai di teras sambil meminum secangkir kopi untuk Mas Zaky dan secangkir teh untukku ditemani berbagai macam bunga anggrek yang sedang bermekaran.
"Aku seneng deh kamu wes g' murung ae kayak kemaren.", katanya lembut disela seruputannya pada kopi di cangkirnya.
"Iyo mas, Alhamdulillah aku wes tenang. Yo masih sedih se tapi kayak seng kamu bilang, Allah punya rencana lain seng luweh baik buat kita. Mungkin aku kudu lebih bersabar.", kataku menanggapi kata-katanya.
"Mau main kerumah ayah, ibuk g'?, ntar kita mampir jenguk abah sama ummi sekalian.", ajaknya.
"Boleh se, tapi ntar ae agak siangan. Aku masih capek."
"Yowes, masuk yok. Aku yo mau rebahan.", ajak Mas Zaky berdiri sambil mengulurkan tangannya padaku.
Aku menyambut uluran tangannya sebagai ganti menjawab ajakannya. Kami masuk dan menuju kamar tidur. Mas Zaky yang setengah berbaring dengan bersandar pada kepala ranjang terus memperhatikanku yang sedang mengurai lilitan kain hijab dari kepalaku.
__ADS_1
"Jadi piye kok tiba-tiba pingin pake' hijab?", tanyanya.
"G' tau, mungkin karena aku suka liatin Amara pas bongkar pasang pake' hijab, jadi aku tertarik. Amara jadi keliatan cantik banget pake' hijab. Yo sebagai cewek, aku yo pingin keliatan cantik juga. Tapi makin kesini aku jadi ngerasa nyaman. Hati aku jadi tenang, ngerasa aman.", jawabku sambil berjalan ke arah ranjang dan berbaring di sampingnya.
"Aku seneng deh liat kamu wes mau nutup aurat gini.", katanya lembut sambil mengelus rambutku.
"Kenapa? karena seng iso liat "aku", cuma mas?", tanyaku sambil mengisyaratkan kata aku dengan tanda kutip dengan jari-jari tanganku.
"Hahaha...g', g' gitu. Karena kamu wes mau ngejalani tuntunan agama. Karena kamu mau ngenunaiin perintah Allah, dengan nutup aurat. Tanpa ono seng maksa lagi. Lagian kok iso kepikiran kesitu?, lihat "kamu" ae aku belum pernah.", jawabnya setelah tawanya mereda dan mengakhiri dengan menggodaku sambil menirukan gerakan tanganku saat mengatakan kata kamu.
"Ya kan biasae cowok suka ngomong gitu biar keliatan sok romantis.", kilahku dengan pipi memerah karena malu akan kata-kataku sebelumnya.
Benar kata Mas Zaky, dia belum pernah melihatku dalam situasi 'terbuka'. Bahkan hanya sekali dia melihatku mengenakan handuk mantel, itupun saat hari pertama kami menikah. Dan setelah itu tak pernah lagi. Karena beberapa kali dia menolakku saat aku mencoba mendekatinya, aku jadi ragu berpikir kearah seksual. Lagipula aku juga masih ingin memastikan perasaannya padaku dengan jelas. Dosakah aku jika menundanya lebih lama lagi? Sedangkan aku tahu dia menahan diri demi perasaanku.
"Lagi mikirin opo se? Alise sampek dempet gitu.", katanya sambil mengelus-elus diantara kedua alisku, menyeretku kembali dari pikiranku.
"Eh? G', g' ono. Mas kamu kemaren ono urusan opo neng kota tempatku jadi relawan?", tanyaku mengalihkan pembicaraan.
"Biasa lah, urusan konveksi sama bahan baku. Aku yo sekalian mau jenguk kamu.", jawabnya santai.
Aku sudah menguap beberapa kali, dan jarak antar kuapan semakin tipis. Tapi sekarang aku enggan untuk tidur. Aku sangat nyaman dengan situasi sekarang. Hanya berbaring dan bercengkrama, membahasa topik acak yang ringan. Sebelumnya kami hampir tidak pernah seperti ini. Tentu saja. Karena kami masih baru membuka diri masing-masing.
"Kamu mau aku bacaain satu surat buat pengantar tidur?", katanya saat menyadari kantukku semakin dalam.
"He'em, boleh. Aku seneng denger kamu ngaji. Suara kamu merdu, bikin hati adem.", jawabku antusias.
"Hhh, bisa ae kamu. Yowes, sambi tutup mata dengeri yo. Bismillaahirrohmaanirrohiim.
Sabbiḥisma rabbikal-a'lā.
Allażī khalaqa fa sawwā.
Wallażī qaddara fa hadā.
Wallażī akhrajal-mar'ā."
Aku tahu surat ini. Ini surat Al A'la, surat yang dia bajakan sebagai pendamping mahar saat kami menikah. Yang membuatku langsung tersentuh saat pertama kali mendengarnya.
"*F*a ja'alahụ guṡā`an aḥwā.
Sanuqriuka fa lā tansā. I*llā mā syāallāh, innahụ ya'lamul-jahra wa mā yakhfā.
Wa nuyassiruka lil-yusrā.
Fa żakkir in nafa'atiż-żikrā*****."
Aku terhanyut dalam buaian merdu suaranya. Entah apa arti dari surat ini, tapi aku menyuakai pelafalan setiap katanya. Mataku mulai sayu menikmati pelantunan pengantar ridur yang indah.
"Sayażżakkaru may yakhsyā.
Wa yatajannabuhal-asyqā.
Allażī yaṣlan-nāral-kubrā.
Summa lā yamụtu fīhā wa lā yaḥyā.
Qad aflaḥa man tazakkā."
Suaranya mulai terdengar sayup-sayup. Tapi aku masih bisa merasakan belaian lembut pada puncak kepalaku. Seperti satu paket, suara lantunan ayat suci yang merdu dan belaian lembut pada rambutku terbukti ambuh membuaiku dalam tidur.
"Wa żakarasma rabbihī fa ṣallā.
Bal tu`ṡirụnal-ḥayātad-dun-yā.
Wal-ākhiratu khairuw wa abqā.
Inna hāżā lafiṣ-ṣuḥufil-ụlā.
Suḥufi ibrāhīma wa mụsā."
__ADS_1
Dengan berakhirnya ayat terakhir, tertutup pula mata ini. Menyambut mimpi baru yang menghampiri. Namun sebelum aku terlarut jauh dalam tidur, aku samar mendengar suara Mas zaky dan sebuah kecupan di keningku.
"Aku sayang kamu."