
Sebulan lebih aku berada disini, jauh dari Mas Zaky dan jauh dari rumah. Dan rasanya seperti sulit bernapas. Aku seperti melihat sosok Mas Zaky dimana-mana. Rasanya setiap pria berbadan tinggi tegap dengan rambut cepak dan kulit sedikit gelap terlihat mirip dirinya. Begitu pula setiap Amara atau rekan relawan lainnya mengajak sholat berjamaah, pasti mengingatkanku akan Mas Zaky yang selalu mengingatkanku saat waktu sholat tiba. Yah kalau rindu, tinggal telepon dong. Pasti kalian berpikir seperti itu. Tapi aku memang sengaja membatasi hubunganku dengannya. Selama sebulan ini aku hanya meneleponnya tiga kali. Bukan karena disini susah sinyal, tapi memang aku benar-benar ingin menelaah perasaanku padanya.
Untungnya banyaknya kesibukan disini bisa sedikit mengalihkanku atas kerinduan pada Mas Zaky. Apalagi saat ini aku mengurus seorang bayi secara intensif mulai dari tiga hari yang lalu. Bayi laki-laki yang sehat dengan berat badan tiga kilogram dan panjang lima puluh tiga sentimeter yang di lahirkan di tempat pengungsian ini oleh seorang ibu tunggal. Ayahnya meninggal saat terjadi bencana dan malangnya, sang ibu juga meninggal beberapa jam setelah melahirkan karena mengalami sepsi, yaitu keracunan darah akibat terinfeksi bakteri Streptococcus B. Untungnya sang bayi tidak tertular. Tak ada keluarga dari kedua orang tuanya disini karena mereka adalah pendatang. Bayi ini yatim piatu. Jadi kami para medis yang memberikan nama untuknya. Akmal itulah namanya, yang artinya sempurna. Seperti tahu bahwa kini dia sendiri, dia sangat mandiri. Akmal tidak rewel seperti kebanyakan bayi. Begitupun saat minum susu, dia sangat kuat minum. Baru tiga hari merawatnya aku sudah jatuh cinta. Semua lelahku terbayar saat melihat Akmal.
Hari ini adalah jadwalku dan Amara ke kota. Kami perlu membeli beberapa barang yang tak bisa menunggu kiriman dari pusat. Bersama dengan beberapa orang dari bagian lain yang juga perlu berbelanja. Sebenarnya aku tak ingin meninggalkan Akmal, tapi aku juga perlu membeli beberapa barang yang bersifat pribadi. Dan rencananya aku juga ingin membeli beberapa barang untuk anak-anak di tempat pengungsian ini. Aku ingin mengajarkan mereka tentang pentingnya cuci tangan dan juga beberapa alat tulis untuk sebagian anak. Aku menitipkan pengawasan Akmal kepada salah satu perawat yang ada disini.
"Tan, wes siap? Yuk berangkat, lain'e wes nunggu.", kata Amara menyusulku ke tenda.
"Siap, yok.", kataku sambil menyelempang tasku di pundak aku berjalan mengekor di belakang Amara.
Ku lihat ada lima orang yang sudah menunggu di dalam mobil. Mobil segera melaju begitu kami berada di dalam. Perjalanan kami tempuh dalam satu setengah jam dari tempat pengungsian ke pusat kota. Setelah kami mendapat semua yang kami butuhkan dan menaruhnya di mobil, kami semua sepakat untuk sholat dhuhur terlebih dahulu di masjid samping pasar. Usai sholat aku, Amara dan Mbak Tanti orang dari bagian konsumsi berbenah dulu di toilet wanita. Dari dua orang ini hanya aku yang tidak berhijab. Aku mengamati Amara yang sibuk dengan hijabnya. Sering kali aku memerhatikannya saat memasang hijab, dia terlihat cantik dan anggun. Berbeda sekali dengan saat dia di kampus dulu.
"Mara, kamu molae kapan pake' hijab?", tanyaku akhirnya.
"Belom lama, sekitar dua tahunan. Suamiku seng nyuruh, tapi aku suka sih. Lebih tenang ndek hati rasa'e.", jawabnya sambil tersenyum.
"Wah, aku g' ngiro lo kalo hijab iso ngerubah orang. Bedo banget yo sama jaman neng kampus. Haha.", candaku pada Amara.
"Haha... Iso ae kamu iki.", tanggapnya.
"Oh, kalian satu kampus?", tanya Mbak Tanti ikut bergabung.
"Kami g' hanya sekampus mbak, tapi sejurusan, sekosan, sekamar pula.", jawabku.
Saat perjalanan kembali ke mobil aku menghentikan langkah Amara. "Mar, ajarin pake' hijab dong.", kataku tiba-tiba yang sontak membuat Amara menghentikan langkahnya.
"Kamu serius?", tanyanya sumringah.
"Insha Allah, aku wes lama juga mikirine cuma baru sekarang ae siap'e.", jawabku mantap.
Aku memang sudah lama memikirkan akan mengenakan hijab, tapi waktu itu aku tak mau mengenekan hijab hanya karena menghindari hujatan-hujatan dari lingkungan Mas Zaky. Aku ingin ini benar-benar dari hatiku. Sebelum kembali ke pengungsian aku sempat membeli beberapa hijab dan pakaian yang sesuai. Kesibukan menyambut begitu kami tiba di cam pengungsian. Hingga akhirnya malam tiba. Setelah sekali lagi memastikan keadaan Akmal aku baru bisa beristirahat. Saat semua kesibukan terhenti, pikiranku kembali terpusat pada satu orang. Semua penat ini tak terasa begitu rindu menguasai hati. 'Mas Zaky gi napo yo?' batinku bertanya. Kalau sudah seperti ini, ingin rasanya aku pulang dan memeluk erat dirinya. Biasanya jam segini dia baru selesai merekap laporan dari konveksi. 'Opo sebaik'e aku telepon dia' tanyaku dalam hati. Menimbang-nimbang akhirnya aku putuskan untuk menghubunginya.
"Tut..tut..Assalamualaikum Tania, kok baru telepon? Aku telepon kamu yo g' ngangkat.", jawab Mas Zaky pada deringan kedua.
__ADS_1
"Waalaikumussalam mas. Sabar dong, g' usah marah-marah. Tanya kabar dulu kek, baba-basi apa kek.", godaku.
"Habise kamu susah banget dihubungi. Aku suruh kamu sering-sering telepon lan kirim kabar, tapi g' kamu lakuin. Aku iku khawatir ke kamu.", jawabnya dengan nada kesal.
"Oo mas khawatir ke aku, kangen ke aku g'? Soale aku kangen ke kamu.", timpalku santai.
"Hukk..uhuk..uhuk," terdengar suaru batuk dari seberang sana.
"Mas kamu g' po-po? Lagi sakit tah?", tanyaku khawatir.
"Eh g', g' po-po. Aku sehat kok", jawabnya dengan segera. "Kamu iku kesana jadi relawan opo belajar ngegombal se.", lanjutnya.
"Hahaha...kok gombal. Aku iku kangen ke kamu, makane aku telpon.", jawabku dengan tersipu. "Hmm...mas g' kangen yo ke aku.", godaku lagi.
Tiba-tiba telepin terputus. Belum sampai lima detik ada panggilan video call di WA dari Mas Zaky. Jantungku berdegub kencang. Pasalnya, ini kali pertama kami melakukan panggilan vc sejak kami menikah. Rasanya seperti saat akan kencan pertama dengan pacar baru. Aku bahkan membaca basmalah sebelum mengangkat sambungan video call.
"Ya kangen lah. Makane aku sering-sering telpon, kamu ae seng g' pernah mau jawab.", kata Mas Zaky begitu panggilannya tersambung.
Senyum merekah di bibirku mendengar pengakuannya.
"Wah parah, kamu belajar ngegombal teko sopo toh?", tanyanya dengan wajah tersipu.
"Hahaha..g' usah belajar kali, iku namae naluri. Kamu piye kabare? Sehatkan? Lukae wes nutup sempurna kan? wes sebulan lebih haruse wes g' cenut-cenut."
"Alhamdulillah, wes g' kerasa cenut-cenut. Jahitane yo bagus, g' ono keloid. Nih lihat.", jawabnya sambil menyisingkan lengan kaosnya untuk memperlihatkan bekas lukanya.
Setiap melihat luka itu rasa bersalah kembali menyeruak di dadaku. Aku malu atas tindakanku waktu itu. Mas Zaky menyadari perubahan raut wahahku. Dia lantas mengalihkan topik pembicaraan.
"Kamu sek betah ndek situ? Ono kegiatan seng menarik g'?", tanyanya.
"Betah g' betah se mas, aku kangen kamu terus soale.", kataku sok manis dan ku akhiri dengan menjebikan bibir bawahku.
"Jujur, aku baru tahu lo sisi kamu seng koyok gini. Ternyata kamu centil juga yo. Hahaha.", katanya menanggapi jawabanku.
__ADS_1
"Ih, terserah deh."
"Hehe..., g' oleh ngambek ntar ayu'e ilang lo." godanya balik.
"G' ah, aku orange berjiwa besar, g' ngambekan kok. Hehe."
Kami terus saling menggoda bak anak ABG yang baru pacaran, sampai akhirnya aku teringat tentang Akmal.
"Oh ya mas, aku lupa mau cerito kalo aku sekarang lagi oleh tugas buat ngerawat bayi seng baru tiga hari lahir ndek sini. Ibuk'e si bayi meninggal pas lahiran gara-gara kenek sepsi, terus ayahe yowes meninggal pas ono bencana. Karena ndek tempat pengungsian iku rawan penyakit menular mangkane bayie perlu penanganan ekstra. Bayie lucu banget mas,...", aku terus bercerita dan bisa kulihat dia menikmati ceritaku dan sesekali menanggapi disaat yang tepat.
Waktu terus berlalu, tak terasa sudah sangat larut saat kami menyadari bahwa kantuk telah melanda. Tepat pada pukul satu kami sepakat mengakhiri sambungan vc. Memeriksa Akmal untuk yang terakhir kali dan semua baik-baik saja, aku merebahkan diri di drakbar yang berada tepat di samping box bayi. Saat mata terpejam wajah Mas Zaky menyambut dengan senyum manisnya. Pukul setengah tiga pagi aku dikejutkan oleh tangisan Akmal. Sepertinya dia lapar. Setelah minum dan habis satu botol Akmal kembali terlelap. Tapi aku tak bisa kembali menutup mata. Bayangan saat kami melakukan video call tadi terus terbayang. Senyum Mas Zaky, tawanya dan setiap gerik-geriknya tadi berputar terus di otak. Aku tak ingat apa dulu aku juga seperti ini saat kasmaran pada Mas Damar. Yang jelas ini benar-benar menyiksa.
Bukankah jalan hidup adalah suatu rahasia. Allah maha membolak-balik hati manusia. Siapa yang mengira aku yang beberapa bulan lalu setiap malam menangis meraung atas kerinduanku pada Mas Damar, dan malam ini hatiku sendu karena rinduku pada Mas Zaky. Aku beranjak dari tempatku berbaring, ku putuskan untuk pergi berwudlu dan menunaikan sholat sunnah dua rokaat untuk menenangkan hatiku. Itu yang selalu dilakukan Mas Zaky setiap hatinya diliputi emosi-emosi yang tak tertahan. Semoga ini juga berhasil padaku. Saat kantuk tak kunjung kembali datang. Akhirnya aku teruskan dengan sholat tahajud dan berzikir sambil menunggu waktu sholat subuh tiba.
Saat berzikir aku terpikirkan tentang Mas Zaky. Sepertinya Allah begitu sayang padaku. Allah mengirim Mas Zaky untuk menuntunku ke jalan yang tak pernah terpikirkan akan ku tapaki selama hidupku. Mas Zaky yang membuatku sholat tanpa rasa terpaksa, hal yang dulu tak terpikirkan akan aku kerjakan jika bukan karena praktek di sekolah. Dia yang mengajariku rasa sabar. Rasa tenang yang ku rasakan saat bersamanya, berbeda dengan selama aku bersama Mas Damar. Aku juga jadi kembali dekat dengan anggota keluargaku, yang dulu kami jauh karena mereka menentang hubunganku dengan Mas Damar. Dan mengajariku tentang malu. Malu atas yang kulakukan bersama Mas Damar selama ini. Dia, yang statusnya adalah suamiku yang sah tak mau menyentuhku karena larangan Allah. Tapi aku? Aku dan Mas Damar malah melakukannya di saat kami hanya sebatas pacar. Benar kata Hafizah dan Mbak Zizah bahwa aku menjijikan. 'Ya Allah, ternyata begitu banyak pihak yang ku buat kecewa.' batinku dalam hati. 'Begitu aku malu padaMu Ya Allah. Begitu banyak keburukan yang kulakukan selama ini.' sambil ku seka air mata yang tanpa sadar sudah membasahi pipi. 'Dan terima kasih karena Engkau telah mengirimkan rasa rindu ini, hingga aku sadar siapa yang mengisi hati ini dan yang bisa menuntunku ke surgaMu kelak.' suara hatiku begitu selaras dengan pikiranku. Hanya Mas Zaky, hanya dia yang ada di hatiku. Tak ada lagi Mas Damar. Tak terpikirkan sekalipun tentangnya saat aku disini. Aku tersenyum bahagia atas kemantapan hatiku. Lega rasanya bisa mengakui apa yang aku rasakan.
Ini kah yang dinamakan takdir? Mungkin perginya bayiku juga takdir sehingga aku bisa berada disini untuk merawat Akmal. Mungkin ini yang terbaik, agar bayiku tidak sampai menanggung malu saat dia besar atas perbuatan yang dilakukan kedua orangtua biologisnya. Benar-benar Allah maha tahu apa yang baik dan buruk buat kita. Allah memberi tahu kita dengan cara yang kita tidak akan sadar jika kita jauh dariNya. Ya Allah begitu indah caraMu menuntunku ke jalanmu dengan mengirim Mas Zaky kepadaku.
Saat aktifitas pagi mulai bergeliat diiringi suara adzan shubuh, aku segera menunaikan sholat. Ku sempatkan untuk sedikit berolahraga sebelum memulai aktivitas yang sebenarnya. Sekitar pukul sembilan ponselku bergetar, tertera nama "Ibuk" pada layarnya.
"Halo Assalamualaikum buk.", jawabku saat menerima sambungan.
"Waalaikumussalam, piye kabarmu nduk? Sehat?", tanya beliau.
Setelah kami berbasa-basi saling menanyakan kabar dan sebagainya, akhirnya ibuk mengungkapkan tujuannya menghubungiku.
"Kamu sek betah ndek sana? Kapan pulang? Taaan, g' baik ninggal suami lama-lama. Mungkin Zaky diam ae, tapi ibuk yakin dia pingin kamu ono ndek rumah nemenin dia. Istri iku tempate di samping suami Tan.", kata ibuk kemudian.
"Iyo buk, Tania paham. Tapi Tania g' iso pulang mendadak. Ndek sini butuh banyak relawan. Kalo Tania mau pulang kudu ono pengganti'e. Opo lagi sekarang Tania punya tanggung jawab ngurus bayi Akmal. Tania omongno disek sama penanggung jawab disini yo.", jawabku hati-hati. Aku tak mau menyulut pertengkaran verbsl lagi dengan beliau.
Akhirnya setelah percakapan yang panjang kami memutuskan sambungan telepon. Perkataan ibuk terus terngiang di telinga. Semua yang dikatakannya benar. Aku juga berjanji jika aku sudah yakin akan lerasaanku padanya, aku akan segera kembali. Tapi bagaimana dengan Akmal? Bukannya aku meragukan kemampuan relawan lain, tapi aku sendiri yang tak rela jika harus segera berpisah dengannya. Haaah, aku dilanda dilema baru. Mungkin aku coba bicara dulu dengan Amara.
*Mohon maaf atas update yang sangat terlambat😞. Sebenarnya saya sudah selesai menulis skrip beberapa hari yang lalu tapi sebagian skrip tidak tersimpan dan harus menulis ulang. Belum sampai selesai menulis, debay saya tiba-tiba sakit😢.
__ADS_1
Terima kasih telah bersedia menunggu updatenya chapter-chapter novel ini. Mohon untuk terus setia menantikan sampai akhir ya.
Jangan lupa share, komen dan likenya ya😉. Terima kasih😊😊****