Jodoh yang KAU kirim

Jodoh yang KAU kirim
Chapter 20 Kehilangan


__ADS_3

Sudah tiga jam sejak keributan dengan Mas Damar terjadi. Aku hanya diam meringkuk di ranjang tak berniat melakukan apapun. lima belas menit yang lalu Mas Zaky telepon untuk memeriksa keadaanku. Tentu saja aku tidak mengatakan kejadian tadi kepada Mas Zaky. Aku tak mau membuatnya khawatir dan membuatnya repot dengan bolak-balik ke rumah dan konveksi.


Semua hinaan mereka tak mau pergi dari kepalaku. Terngiang terus di telingaku. Air mata tak mau kering di wajahku. Aku masih tak habis pikir, bagaimana bisa Mas Damar mengatakan semua itu padaku. Meski aku bilang sudah berniat membuang semua perasaanku padanya, tetap saja semua yang dia katakan membuat hatiku sakit. Seolah kebersamaan kita selama ini tak berharga. Bahkan dia tak mau mendengar penjelasanku.


Badanku terasa lemas, aku lapar tapi bahkan enggan hanya untuk pesan online seporsi makanan. Mungkin segelas susu hangat bisa menahan laparku juga bisa membuatku sedikit lebih tenang. Aku beranjak perlahan dari ranjang. Melangkah tertatih dan berpegangan pada tembok, berusaha untuk sampai di dapur. Saat segelas susu hangat telah siap untuk ku minum, terdengar bel berbunyi sekali lagi. Tidak mungkin mereka lagi kan? Juga jelas bukan Mas Zaky, karena mas Zaky membawa kunci sendiri. Mungkin itu ummi. Ku tunda meminum susunya untuk membuka pintu. Ternyata Hafizah yang datang. 'Oh jangan lagi, tidak hari ini. Aku tak sanggup lagi menghadapi bahkan hanya sedikit hinaan' pikirku dalam hati.


"Masuk Zah."


"G' usah, aku cuma nganter iki disuruh ummi.", jawab Hafizah ketus.


"G' mau minum disek?", tawarku.


"G' usah sok apik deh mbak, g' bakal mempan ke aku. Liaten ae ya mbak, aku bakal bikin Mas Zaky tau aslie mbak. Aku ae sesama perempuan jijik ke mbak. Apalagi Mas Zaky.", cercanya panjang lebar. Dan langsung pergi setelah meletakkan satu set rantang ke lantai.


Sebegitu sialnya aku hari ini. Semoga saja Hafizah yang terakhir mengujiku hari ini. Aku hanya menaruh rantangnya di meja dapur tanpa sedikitpun berniat membukanya. Perutku memberontak tapi aku mengabaikannya. Susunya pun sudah dingin dan tak ada minat lagi untuk meminumnya. Kembali meringkuk di ranjang merasakan perutku makin lama makin terasa sakit hingga akhirnya aku tertidur.


Aku merasa ada yang membelai pipiku dan sesekali mengusap kepalaku. Namaku juga di panggil-panggil. Mataku perlahan mengerjap dan menyesuaikan cahaya lampu yang masuk ke retina. Apa ini sudah malam? Berapa lama aku tidur? Ku lihat Mas Zaky duduk di tepi ranjang tepat di sisiku.


"Kamu kenapa? Sakit?", tanyanya lembut sambil mengelus pipiku.


"G' kok mas, cuma ngerasa capek ae."


"Kamu g' makan? Tak liat makanan dari ummi utuh di meja. Kasian dedek bayinya kan Tan. Yok tak temenin makan.", ajaknya.


"Ntar ae mas.", kataku dan meraih tangannya yang mengelus pipiku.

__ADS_1


Saat tatapan kami bertemu tiba-tiba saja semua kejadian tadi siang berkelebat kembali membuat mataku memanas dan kembali siap menumpahkan air mata. Ku genggam erat tangannya dan menariknya menuju bibirku. Kucium tangan itu lama dan saat aku mulai membuka mulut untuk bicara air mata tak bisa ku bendung lagi, saling berebutan untuk mengalir.


" Makasih yo mas, udah mau nungguin dan nikahin aku.", kataku lemah dalam tangisan.


"Tan, kamu kenapa sih? Crita dong. Ada yang gangguin kamu? Hafizah lagi?.", tanyanya khawatir.


Aku hanya menggeleng dan menariknya agar aku bisa memelukkanya. Dia terlihat sangat kaget dan mendorongku lembut untuk menjauh. Namun aku memeluknya semakin erat. Ini pertama kali bagi kami berpelukan. Aku hanya ingin bersandar, hanya dia sekarang yang bisa ku buat bersandar. Suamiku.


"Aku mohon biarin gini dulu sebentar lagi.", kataku di dadanya dengan suara teredam.


Setelah merasa tenang aku melonggarkan pelukanku tapi tidak melepaskannya. Kami hanya diam cukup lama sampai akhirnya Mas Zaky memecah keheningan.


"Kamu kenapa? G' mau crito? Aku selalu ndek sisi kamu. Jadi kalo ono opo-opo kamu crito yo.", katanya lembut sambil mengelus rambutku.


Aku mendongak untuk mengatakan sesuatu saat tatapan kami terkunci. Manik mata hitam pekat yang selalu menghipnotisku setiap tatapannya terkunci dengan manik coklatku.


"Maaf Tan, jangan kek gini. Aku g' bisa."


Kata-katanya dan penolakannya mengingatkan ku pada kata-kata Hafizah tadi siang 'jijik'. Air mata kembali lolos menuruni pipiku. Aku sudah tak bisa menghitung berapa kali aku menangis hari ini.


"Kamu kenapa sih mas? Aku kan istri kamu. Kamu jijik sama aku? Kayak seng dibilang Mbak Zizah sama Hafizah? Terus buat apa kamu nikahin aku?", raungku.


Hatiku sakit. Hari ini benar-benar sempurna. Tak ada jeda bagi hatiku untuk memulihkan. Aku benar-benar terlihat seperti pengemis yang haus sentuhan. Aku hanya ingin pelukan penenang, hanya satu ciuman penawar. Aku juga tidak ingin berbuat lebih. Dan dia mendorongku seperti aku seorang pengidap HIV. Ku pejamkan mataku untuk menenangkan diri karena perutku mulai melilit. Aku tahu aku tidak boleh stres seperti ini. Tak baik untuk bayiku.


Melangkah ke depan dia berjongkok agar tatapan kami sejajar jarena posisiku yang duduk di ranjang. Meraih tanganku dan menggenggamnya lembut.

__ADS_1


"G' Tan, g' ngono. Aku g' pernah jijik ke kamu. Aku tulus nikahin kamu. Hanya, situasi kamu g' ngebolehin aku buat nyentuh kamu. Kamu g' tau gimana ke siksa'e aku nahan diri buat g' nyentuh kamu.", katanya lembut menengkan.


Apa maksudnya dengan situasi ku? Karena aku hamil? Jadi benar dia tak mau menyentuhku karena aku hamil. Jadi benar dia jijik karena aku hamil anak pria lain? Hatiku panas, begitu juga wajahku. Ku sentakan tangannya dan berdiri dengan cepat. Namun aku kehilangan keseimbangan karena terlalu cepat berdiri dengan kondisiku yang lemah. Karena lapar dan lemas, dan di tambah semua tekanan ini aku merasa perutku sangat sakit. Amat sangat sakit hingga aku tak sanggup menahannya. Saat kakiku tak sanggup lagi menopang tubuhku tangan Mas Zaki sudah melingkar di pinggangku.


"Kamu kenapa Tan? Perut kamu sakit? wajah kamu pucet banget. Ayo rebahan ae.", kata Mas Zaky sangat cepat dan terdengar amat khawatir.


Saat Mas Zaky akan merebahkanku ke ranjang aku merasakan sakit yang amat luar biasa. Bersamaan dengan itu aku merasa ada sesuatu yang mengalir menuruni pahaku. Berusaha menahan rasa sakitnya ku gerakan kepalaku untuk melihat apa yang ada di pahaku.


"Ma..mas, darah. Da..da.. darah mas.", kataku lemas dan panik. Air mata mengalir deras tak henti-hentinya. 'Tidak, aku mohon. Jangan ada apa-apa dengan bayiku. Aku hanya punya dia. Tidak, aku mohon.'


"Tenang Tan, kita ke rumah sakit sekarang. Ayok.", kata Mas Zaky berusaha menyembunyikan ke panikannya.


Dia lantas menggendongku menuju mobil. Aku sempat melirik jam di dashboard mobil menunjukkan pukul sebelas malam. Selama perjalan aku tak henti-hentinya berdoa agar tak terjadi apa-apa dengan bayiku. Begitu juga Mas Zaky. Dia terus mengingatkan agar aku tak putus berdoa. Sesekali dia akan menggemgam lembut tanganku untuk memberiku kekuatan. Membisikkan kata-kata yang bisa menguatkanku.


Tiba di rumah sakit aku langsung dibawa ke IGD karena Darah yang keluar sangat banyak dan tak kunjung berhenti. Mas Zaky tak pernah beranjak dari sisiku. Tercetak jelas kekhawatiran di wajahnya. Aku juga bisa melihat raut ketakutan di sana. Dorongan hatiku sangat kuat untuk mengangkat tangan dan membelai lembut pipinya, tepat di lesung pipitnya terlihat tiap kali dia tersenyum atau tertawa. Dia menyandarkan pipinya pada tanganku dan matanya mulai berkaca-kaca.


"Kamu harus kuat. Kamu harus ingat kalo aku nungguin kamu di sini.", katanya sendu dan lalu mencium keningku dan punggung tanganku.


Aku sudah tak punya daya bahkan hanya untuk berucap sepatah dua patah kata. Mas Zaky hanya bisa menemani ku sampai tenaga medis datang. Dia diharuskan menunggu di luar. Bisa ku lihat ke engganan dalam langkahnya. Sesekali dia menoleh sebelum pintu memisahkan kami. Para medis dengan cekatan memeriksa kondisiku. Sebelum mereka sempat memberiku penanganan aku sudah kehilangan kesadaran.


Suara bip..bip..bip yang terdengar samar semakin lama semakin jelas. Kepalaku terasa amat berat hingga mataku enggan terbuka. Kurasakan pegal-pegal di sekujur tubuh. Dan perutku terasa aneh, antara ngilu, geli dan keram menjadi satu. Tunggu. Perutku! Aku langsung memaksa mataku untuk terbuka. Gelap, itu yang pertama kali kulihat, hanya ada cahaya redup dari layar monitor jantung di samping ranjang. Dapat kulihat ada cahaya lain dari luar di ujung ruangan. Ku edarkan pandanganku dan akhirnya aku tahu di mana aku berada sekarang. Pergelangan tangan kiriku tersambung dengan selang infus dan siku bagian dalam tangan kananku tersambung dengan selang kantong darah.


Kenapa aku ada di rumah sakit? Apa ada masalah dengan bayiku? Ingatanku kembali ke saat di mana aku merasa perutku sakit dan darah mengalir dari selangkanganku. Dengan susah payah ku gerakan tanganku untuk meraba perutku. Aku bisa merasakan ada lapisan kain sedikit keras dan tebal, seperti korset? Perasaanku semakin tak karuan. Semoga tak terjadi apa-apa dengan bayiku. Aku menggapai tombol pasien dengan susah payah dan berhasil menekannya. Tak berselang lama dokter dan para medis datang untuk memeriksaku. Dokter menyatakan aku sudah bisa di pindahkan ke ruang opname. Saat aku bertanya apa yang terjadi, dokter hanya bilang 'tidak apa-apa, sebentar lagi keluarga anda sudah bisa menjenguk' dan langsung melenggang keluar.


Saat aku tiba di kamar opname, ku lihat Mas Zaky, ayah, ibuk, ummi, abah bahkan ada Mas Yayan, Hafizah dan Lani sudah menunggu di dalam. Mas Zaky membantu para medis memindahkanku ke ranjang di kamar opname. Saat para suster sudah pergi aku bisa merasakan suasana canggung nan suram mulai terbentuk. Hatiku semakin berdenyut. Tidak, aku mohon tidak terjadi seperti yang aku pikirkan. Saat mereka menyadari aku melihat mereka satu persatu, beragam reaksi mereka tunjukkan. Ibuk yang sesengguk dan sembunyi di pelukan ayah, begitu juga dengan ummi yang di peluk abah. Lani dan Mas Yayan yang memandangku dengan iba. Dan Mas Zaky yang matanya terlihat sembab dan merah berjalan mendekat ke arahku. Berdiri di samping kananku dan menggemgam tanganku lembut, dia menunduk dan mencium keningku, mataku, hidungku, pipiku, dan terakhir bibirku meski hanya sebuah kecupan. Ada jejak basah di setiap kecupan yang dia tinggalkan.

__ADS_1


"Ma..maaf, maafin mas, Tan.", katanya lemah hampir seperti bisikan. "Aku g' bisa jagain kamu dan bayinya. Bayinya..bayinya...", Mas Zaky berhenti bicara dan mengambil napas panjang. "Bayinya g' selamat Tan.",katanya akhirnya.


"NGGAK, NGAK MUNGKIN!!", tangisku pecah sejadi-jadinya.


__ADS_2