
Setelah semua drama yang terjadi. Kemarahan Mas Yayan, kekecawaannya, tangis penyesalanku. Dan semua kegundahan dalam hati yang akhirnya aku utarakan pada Mas yayan. Aku merasa sangat lelah namun ada perasaan lega karena sekarang aku tidak sendiri memikirkan nasib bayi ini. Mas Yayan akan membantuku untuk memberitahu ayah dan ibuk. Mataku mulai enggan terbuka. Semilir angin pantai membuatnnya bertambah berat, ingin segera menutup. Jam sudah menunjukkan pukul setengah satu siang. Mas Yayan pergi untuk mencari makan siang dan aku lebih memilih menunggu di mobil. Selain karena merasa lelah, aku takut menarik perhatian orang-orang yang tadi sempat melihat insiden saat Mas Yayan menyeretku ke mobil. Ku benamkan tubuhku di jok mobil dan mengatur posisi senyaman mungkin. menyalakan aplikasi pemutar lagu dari ponselku, aku memilih lagu lawas dari westlife yang berjudul "more than words". Sambil mendengarkan lagu tersebut aku mulai memejamkan mata. Dan yang terakhir ku ingat adalah Mas Damar datang menghampiriku.
*****
Langit sore ini terlihat indah, berwarna jingga tanpa sedikit pun mendung menghalangi. Terlihat bulan sabit mengintip di arah barat.
Bahkan saat matahari belum terbenam sepenuhnya. Sunset terindah yang pernah ku lihat. Hari ini semua terasa sangat indah. Mulai dari awan tipis yang berjejer terbentuk seperti anyaman bulu pada sayap burung yang sangat besar. Juga guratan-guratan warna jingga dari sinar matahari yang akan tenggelam. Dan yang menjadi pemeran utama dari keindahan ini yaitu sang matahari. Terbenam dengan anggun memancarkan sinar jingga keemasan. Atau ini hanya perasaanku saja karena aku menghabiskan moment ini bersama Mas Damar.
Senyum tak pernah hilang dari bibirku. Enggan tuk pergi walau hanya untuk memberi kesempatan bibir ini untuk mengucap beberapa kata. Haha.. Aku benar-benar seperti ABG yang sedang kasmaran. Padahal kami sudah bersama selama lebih dari lima tahun. Ku tolehkan kepala ke arah Mas Damar yang ada di sampingku. Ternyata bukan aku saja yang seperti orang bodoh. Mas Damar juga sedang tersenyum sambil menatapku.
"Apa sih senyum-senyum?", kataku tersipu sambil mencubit pinggang Mas Damar.
"Kamu lucu ya, dah bertahun-tahun pacaran masih bisa tersipu, hahaha."ujar Mas Damar diakhiri dengan tawa.
"habise kamu lihatine gitu amat.", kataku salah tingkah. Kalau sedang bersama Mas Damar kami berbicara dengan bahasa campur-campur. Antara bahasa Indonesia campur dengan bahasa jawa malang'an. Itu karena Mas Damar lebih sering dinas kerja di jakarta dan bandung, jadi lebih sering menggunakan bahasa Indonesia. Jadi kebawa-bawa kalau lagi ngomong sama orang disini.
"Ke sini kan mo ndelok sunset toh, kok malah lihatin aku terus."(ke sini kan mau lihat sunset kan, kok malah melihat ke aku terus.), aku kembali berkata.
"Habise lebih indah kamu buat dilihat, lebih enak dipandang, kalo lihat kamu tuh bikin hati tenang.", kata Mas Damar sambil nyengir. Berbicara seperti itu dengan sangat santai, sementara aku yang mendengarnya sudah salah tingkah dan tersipu. Padahal Mas Damar dari dulu dari mulai pacaran memang suka bicara gombal seperti ini tapi aku tidak pernah merasa terbiasa. Itu selalu berhasil membuatku tersipu malu dan salah tingkah.
"Kamu makin hari gombale tambah g' karo-karoan yo, haha."(kamu semakin hari kalau gombal semakin menjadi-jadi ya, haha.), kataku sambil tertawa salah tingkah.
__ADS_1
Ku rasakan tangan mas Damar merangkul bahuku mesra dan bibirnya hanya satu senti dari telingaku, "Kamu lek pas kayak gini tuh ngegemesin tau, jadi pingin manja-manja."
Kata-katanya berhasil menggiring gelenyar dari tengkuk ke tulang belakang ku. Aku bergidik oleh sensani tersebut. "Apaan sih Mas, akeh wong iku loh, malu tau pada ngliatin."(Apa sih Mas, banyak orang, malu banyak yang lihat.), kataku dengan pipi merah padam sambil sedikit menjauh dari pelukkannya.
"Hahaha...., godain kamu tuh nyenengin yo, lihaten, muka mu wes merah kek tomat. Dari ket pacaran dulu ini nih seng bikin aku kangen kamu terus."(hahaha..., menggoda kamu itu menyenangkan ya, lihat, muka kamu sudah merah seperti tomat. Dari mulai pacaran dulu ini yang membuat aku kangen terus sama kamu), goda Mas Damar sambil mencubit pipiku.
"Nyebelin tau'!", kataku manyun sambil menjauh darinya. Senyumnya semakin lebar saat tahu aku mulai merajuk. Dia tahu benar kalau aku tidak bener-benar bisa marah padanya saat dia tampilkan senyum lebar yang memperlihatkan dua lesung pipit di pipinya. Duuuuh, cakepnya!. Dia benar-benar curang. Selalu menggunakan pesona wajahnya untuk menggodaku.
"Balik nang tenda yok."(kembali ke tenda yuk), ajak ku sambil masih pura-pura merajuk.
"Mosok baru digoda gitu doang wes mo ngajak manja-manja neng tenda?"(masak baru digoda begitu sudah mau mengajak bermanja-manja di tenda?), godanya lagi. Cengirannya semakin lebar saat melihat ku mulai melangkah ke arahnya sambil mengangkat sendal untuk ku lempar ke arahnya.
"Seneng banget sih godain aku!. Angine banter ki, adem tau!"(suka sekali sih menggoda ku!. Anginnya kencang nih. Dingin tahu!), teriakku sambil memakai kembali sendal yang tadi ingin ku lempar ke arahnya.
Sampai di dekatku Mas Damar memakaikan jaketnya padaku. "Jaketmu terlalu tipis, Pakai punyaku wae.",katanya saat sadar aku memandang jaketnya sambil mengernyit.
"Terus kamu pakai opo?, cuman bawa jaket ini kan?", kataku saat dia memasang resleting jaketnya.
"Aku kuat kok, arek cowok kui luweh kuat ketimbang cewek."(aku kuat kok, anak cowok itu lebih kuat daripada anak cewek.), jawabnya sambil mencubit hidungku.
Sikap manisnya selalu membuat hatiku hangat. Aku tidak pernah bisa berhenti tersenyum saat bersama dia. Hal-hal kecil yang dia lakukan, perhatian-perhatian kecil yang dia berikan tidak pernah terlihat lebay namun semakin membuatku jatuh cinta padanya.
__ADS_1
Aku tersenyum dan berjinjit untuk mengecup cepat pipinya. "Makasih.", ucapku tulus. "Balik nang tenda wae yok. Lagian lek sampek kamu masuk angin mama Sekar bakal marah nang aku."(kembali ke tenda saja yuk. Lagi pula kalau kamu sampai masuk angin mama Sekar nanti marah padaku.), ajakku sambil menggandeng tangan mulai menjauh dari bibir pantai.
"Bukane kamu arep lihatin bintang?"(bukannya kamu mau melihat bintang?), tanya Mas Damar tapi tidak menahan langkah kami.
"ndeleng tekan tenda yo iso kan. Luwih anget." (lihat dari tenda juga bisa kan. Lebih hangat), jawabku sambil mengeratkan genggamanku. Kami berjalan dalam diam. Menikmati keheningan yang terasa indah bagi kami.
Tenda kami tidak terlalu jauh dari bibir pantai.
Tidak banyak yang berkemah di pantai malam ini. Tapi cukup untuk membuat suasana tidak sepi. Saat tiba di tenda, kami langsung masuk untuk menghangatkan diri. Tapi kami tidak lantas menutup pintu tenda. Aku mengambil selimut dalam ransel yang kami bawa. "Nih Mas, pakek selimut wae. Gak usah gaya-gaya ngempet adem. Sama aku gini kok sek arep pencitraan."(nih Mas, pakai selimut saja. Tidak perlu bergaya menahan dingin. Sama aku saja kok masih mau pencitraan.), kataku dengan bercanda sambil menyelimuti bahunya. Ku kalungkan kedua tanganku dari belakang ke sekitar lehernya. Cukup lama kami berada diposisi seperti ini, sampai akhinya Mas Damar yang pertama memecah kesunyian.
"Ayah dan ibuk apa kabar?, isek marah lek weroh aku ngajak kamu dolan?"(masih marah kalau tahu aku mengajak kamu pergi main?), tanyanya sambil menarik tanganku untuk mengubah posisi kami. Sekarang aku duduk di depan Mas Damar diantara kedua kakinya, dan dia memelukku dari belakang.
"Yo kamu tahu lah. Aku juga wes capek berdebat terus sama mereka.", aku bersandar di dada bidangnya. Sambil mendongak menatapnya aku bertanya, "Kamu wes nemu solusi ben ayah lan ibuk mau merestui kita?" (kamu sudah punya solusi agar ayah dan ibuk mau merestui kita?).
Mas Damar menunduk menatap balik ke arahku. Mengecup lembut keningku lalu kembali menatap ke arah pantai. Lama sebelum dia mulai menjawab pertanyaanku. "Aku nduwe rencana tapi gak tahu kamu bakal setuju atau gak.", jawabnya ragu. Aku diam untuk menunggu dia mengemukakan rencananya. Kuremas lembut jemarinya untuk meyakinkan kalau aku mendengarkan. "Aku bikin kamu hamil ae piye?, aku yakin mereka gelem gak gelem bakal ngrestui lek weroh kamu hamil anakku."(bagaimana kalau aku buat kamu hamil?,aku yakin mereka mau tidak mau akan merestui kita kalau tahu kamu hamil anakku), katanya kemudian.
Aku benar-benar kaget mendengarnya. Jantungku berdegub sangat cepat dan keras sampai terasa bergema di telingaku. Aku tak tahu harus menjawab apa. Pastinya aku takut untuk melakukan hal seperti itu. Tapi aku tidak mau berpisah dengan Mas Damar.
Saat aku akan menjawab usul Mas Damar, aku mendengar suara seseorang memanggilku. Awalnya suara itu terdengar sangat jauh namu semakin lama semakin terdengar jelas. Bersamaan dengan itu aku merasa Mas Damar meremas bahuku lembut.
"Tan...Tania...Tania.", suara itu terdengar sangat dekat. Tapi bukan suara Mas Damar. Aku mengerjapkan mata perlahan. Setelah beberapa saat akhirnya aku sadar itu memang bukan suara Mas Damar, melainkan Mas Yayan yang berusaha mem bangunkan ku dari tidur indah pertamaku setelah menghilangnya Mas Damar.
__ADS_1
Air mata kembali menetes saat aku sadar ternyata itu semua hanya ingatanku yang muncul sebagai mimpi. Oh tuhan.., aku benar-benar merindukannya.
Maaf, typo bertebaran😁, mohon like dan komennya ya. Dan jangan lupa untuk klik favorite😊