
Acara resepsi berakhir pukul empat. Aku bersyukur akhirnya aku bisa merebahkan tubuhku. Ku pandang sekeliling kamar ini. Apa ini kamar Mas Zaky? Entahlah, yang jelas ini adalah kamar pengantin. Cukup luas dan nyaman, dengan nuansa putih mendominasi hampir semua perabotnya. Dipadukan dengan warna hijau muda hampir seperti putih, terlihat segar. Jam digital di atas nakas menunjukkan angka 5.pm itu berarti sudah satu jam aku hanya rebahan di ranjang. Begitu acara usai aku langsung ke sini. Hanya mengurai kepangan rambutku dan menghapus make up ku tanpa mengganti gaunku, aku langsung berbaring. Aku sangat capek. Aku juga merasa sedikit aneh dengan perutku. Seperti mulas tapi samar-samar. Dari tadi aku ingat-ingat apa aku tadi mengonsumsi makanan pedas terlalu banyak? Tapi sepertinya tidak, mengingat setelah hamil ini aku mendadak tak suka makanan pedas.
Mas Zaky juga beberapa kali datang menengokku. Apakah aku butuh sesuatu? Apa aku lapar? Mau di temani? Dan masih banyak pertanyaan lainnya yang dia ajukan saat datang ke kamar ini. Aku hanya ingin istirahat saja, itu yang ku katakan padanya setiap kali dia menawarkan sesuatu. Dia tidak bisa menemaniku di sini karena masih banyak teman-temannya yang datang untuk mengucapkan selamat atas pernikahan kami. Aku tak keberatan, karena aku akan merasa canggung dan gugup kalau harus berduaan dengannya saat ini.
Tapi sejujurnya, memang ada alasan lain yang membuatku enggan keluar dari kamar ini. Aku tak tahu berita apa tentang ku yang tersebar diantara keluarga Mas Zaky, tapi yang pasti itu bukan berita baik. Tak hanya beberapa tamu undangan yang mempertanyakan keputusan Mas Zaky menikahiku, terlebih karena caraku berpakaian dan tak mengenakan hijab. Tapi juga beberapa kerabat dan anggota keluarga Mas Zaky juga memandangku dengan tatapan mengejek dan tak suka. Bahkan beberapa diantaranya terlihat sangat marah setiap kali tatapan kami bertemu. Mungkinkah mereka tahu kalau aku sedang hamil? Apa lagi jelas tidak mungkin aku hamil anak Mas Zaky. Entahlah. Bukannya aku merasa takut. Tapi itu sangat tak nyaman. Aku yakin kalian bisa membayangkannya. Itu sebabnya aku memilih sembunyi di sini. Aku tak mau menimbulkan suasana canggung dan tak nyaman di keluarga baruku ini. Karena aku yakin sebagian dari mereka pasti masih ada di sini.
Lebih baik aku segera mandi saja, badanku sudah sangat lengket. Jelas saja, aku hanya mandi sekali tadi pagi sebelum berias untuk acara proses ijab qobul. Aku beranjak menuju kamar mandi. Setelah susah payah meraih dan membuka resleting gaun ini akhirnya aku terlepas dan siap untuk mandi. Hmm sayang sekali aku takkan bisa mengenakan gaun itu lagi. Sebentar lagi perutku akan membesar. Aneh bukan?, di perut datar ini ada sesuatu yang mungil dan hidup sedang bersembunyi. Aku meraba perutku dan mengelusnya perlahan. Senyum mengembang di bibirku setiap kali aku memikirkan bayiku. Aku sedang tak ingin berlama-lama di kamar mandi. Setelah merasa tubuhku sudah bersih dan segar aku segera akan keluar saat ku sadari ada yang aneh. Dimana handuknya?
Aku menoleh ke kanan dan ke kiri dan tak menemukannya. Di lemari bawah westafel juga tidak ada. Hanya ada beberapa stok shampo, sabun dan handuk kecil untuk muka. Apa aku nekat saja? Toh Mas Zaky juga tidak ada di kamar. Perlahan ku buka pintu kamar mandi dan ku longokkan kepalaku yang hanya untuk membuatku terkejut dan tersentak hinggang kepalaku terbentur pintu. "Duuuh.", ringisku.
"Kamu ngapain sih Tan?", terdengar nada geli dalam suara Mas Zaky.
"Kamu sih mas, ngagetin.", jawabku sambil sembunyi dibalik pintu kamar mandi.
"Ada yang luka g'? Sini tak lihat'e.", kata Mas Zaky sambil akan meraih gagang pintu.
"STOOOOP.", teriakku. "Aku lagi g' pake' baju. Tak cari-cari anduknya g' ada.". Bisa ku dengar Mas Zaky menahan tawa. Iiih sebal. Harusnya kan Mas Zaky membantu dengan mengambilkan handuk.
"Terus kamu mau di situ terus? Aku mau istirahat di sini loooh.", kata Mas Zaky kemudian. Aku tahu dia sedang menggodaku.
"Iiiih ya g' lah mas! Bantuin ambilin anduk kek.", jawabku sebal.
Sampai akhirnya aku tak mendengar ada jawaban ataupun suara lain yang menandakan adanya keberadaannya. Ku longokkan lagi kepalaku dan ku dapati Mas Zaky berdiri menghadap pintu kamar mandi dengan jarak satu meter. Tangan bersendekap di dada dan ada handuk terselip di lengannya. Dengan senyum menggoda yang belum hilang dari sudut bibirnya.
__ADS_1
"Nih, ambil handuk'e.", katanya menggoda.
"Ya sini'in, masa aku ke situ.", sewot ku.
"Emang kenapa? Kan udah halal sekarang.", jawabnya dengan santai dan melangkah menjauh.
"Udah ah mas, g' usah main-main. Adem nih.", rengekku.
"Hhhh... Yowes..yowes, nih.". Akhirnya Mas Zaky menyerahkan handuknya dan menungguku di depan pintu.
Ternyata yang di serahkan handuk mantel, hhmmm ini jauh lebih nyaman. Menutupi tubuhku dengan sempurna. Aku mengenakannya dengan tersenyum. Tapi rambutku masih basah. Ku raih handuk kecil di lemari bawah westafel dan membawanya keluar kamar mandi berniat untuk mengeringkan rambutku. Tapi saat aku sudah di kamar, Mas Zaky meraih tanganku dan mendudukanku di kursi meja rias. Meraih handuk kecil yang ku pegang dia mulai menggosokan lembut ke rambutku.
"Biar aku ae mas.", kataku berusaha menghentikannya. Aku merasa tidak nyaman dengan perlakuannya yang mendadak. Ini terlalu intens.
Apa ini? Kok aku diam saja. Aku selalu bisa mengutarakan pendapatku kalau dengan Mas Damar. Tapi aku selalu begini jika dengan Mas Zaky. Ini benar-benar membuatku tidak nyaman. Beberapa menit kemudian Mas Zaky pergi dan menungguku di tempat sholat. Rasanya aneh. Aku hampir tak pernah benar-benar sholat selama aku hidup 23 tahun. Aku berdiri dan mengenakan blouse longgar berbahan denim selutut. Melangkah ke arah ranjang berniat untuk tidur. Berusaha melawan hatiku untuk pergi ke tempat sholat. Pikiranku mengatakan aku harus jadi diriku sendiri. Sebenarnya aku juga merasa sangat lapar tapi aku enggan ke luar kamar.
Aku merasa ada getaran, dan guncangan kecil. Apa ada gempa? mengerjapkan mata perlahan dan yang terlihat hanya gelap. Setelah mataku mulai terbiasa, aku bangun dan duduk. Kulihat sudah pukul sepuluh malam. Oh! aku sudah tidur selama empat jam. Ku edarkan pandanganku dan ku temukan sumber guncangan yang membuatku terbangun. Ternyata Mas Zaky sedang tidur di sisi lain ranjang. Sejak kapan dia tidur? Aku bangun dengan perlahan, takut membuatnya juga terbangun. Dan pergi ke toilet. Saat kembali dari toilet aku melihat lampu sudah menyala dan Mas Zaky duduk di tepi ranjang.
"Bahaya tau buat ibu hamil jalan gelap-gelapan.", kata-katanya menyambutku.
"Hehe... Takut bangunin kamu tadi.", jawabku.
"Mas tadi tungguin kamu, tapi kamu g' dateng-dateng. Pas mas samperin ternyata kamu wes tidur, pules banget malah. Jadi g' tego mau bangunin.", terangnya. "Kamu g' laper? Dari tadi siang belom makan loh."
__ADS_1
"Iyo, laper banget.", jawabku sambil nyengir.
"Ayo, aku temenin."
Dia bangkit dan menggandeng tanganku, berjalan ke dapur. Mendudukanku di kursi dia lantas meninggalkanku untuk memanaskan lauk di microwave. Aku ingin bilang 'biar aku saja mas' tapi suaraku tertahan. Entah kenapa aku menikmati melihat dia bergerak kesana kemari di dapur, dan dia melakukan itu untukku. Sudut biburku sedikit terangat namun dengan cepat aku menghapusnya. Aku memang berniat menjalani pernikahan ini sungguh-sungguh tapi aku tidak ingin membuka hatiku terlalu cepat.
Makananku habis dengan cepat, terlihat sekali aku benar-benar lapar. Mas Zaky masih setia menemaniku. Tak banyak yang kami obrolkan. Tapi ada satu hal yang ingin ku tanyakan. Satu hal yang selama ini mengusikku. 'Apa sebenarnya yang membuat Mas Zaky mau menikah denganku?' Namun setiap aku ingin bertanya kata-kata tak pernah keluar dari mulutku, karena sebenarnya ada rasa takut akan jawaban yang nanti diberikan oleh Mas Zaky.
"Yang laen wes podo tidur yo mas?", tanyaku. Karena merasa rumah sangat sepi padahal baru jam sepuluh. Atau karena semua merasa capek setelah acara resepsi jadi mereka tidur lebih awal.
"Yang lain sopo? Kitakan cuma berdua.", jawab Mas Zaky mengernyit.
Lho kok berdua? Bukannya ini rumah keluarganya Mas Zaky. Berarti abah dan umi juga tinggal disini dong? "Lho, terus abah dan umi kemana? kok kita cuman berdua?"
"Abah sama umi yo pulang ke rumahe mereka. Yang lain juga. Lagian ndek sini cuma ono tiga kamar'e g' cukup lah buat semua keluarga kita kalo mau nginep."
Jawaban Mas Zaky semakin membuatku bingung. Terus ini rumah siapa? Aku nikah sama orang dan aku sama sekali tidak tahu tentangnya kecuali namanya. Ya tuhan semoga keputusanku memang tepat. Seperti tahu apa yang aku pikirkan Mas Zaky menjelaskan kalau ini rumah miliknya. Dia sudah tinggal di sini hampir enam bulan. Tanpa sadar kami terus mengobrol sampai pukul dua belas. Akhirnya aku merasa rileks setelah seharian ini. Bicara dengan Mas Zaky selalu membuatku tenang.
Kami kembali ke kamar dan melanjutkan obrolan kami. Sampai pada suatu kata yang akhirnya membuat kami bercanda dan tertawa. Setiap kali Mas Zaky tertawa itu selalu berhasil menghipnotisku. Tawanya yang membuat Mas Zaky terlihat semakin tampan. Entah karena terbawa suasana atau karena hatiku yang galau, atau karena rasa penasaran, aku tak tahu. Yang aku tahu aku sedah mendekatkan diriku ke arah Mas Zaky. Tanganku meraba lembut pipinya dan saat wajahku mulai mendekat, Mas Zaky mencium keningku. Lama, sampai aku menutup mata merasakan deguban jantungku yang semakin keras. Saat aku ingin mendorong tubuhku lebih dekat lagi, Mas Zaky melepas ciumannya dari keningku. Dia menjauh dan berdiri.
"Wes larut kamu tidur duluan yo, aku mau sholat tahujud sama witir dulu. Ntar aku nyusul.", katanya dengan senyum lembut. Dia lalu melenggang keluar meninggalkanku sendiri dengan perasaan campur aduk.
Apa ini? apa aku baru saja di tolak? Perasaanku tak karuan, malu, bingung, marah? Entahlah, dilihat dari sikapnya selama ini ku pikir Mas Zaky suka padaku. Tapi kenapa dia menolakku? Semua pemikiran itu mengantarku ke alam mimpi. Saat adzan subuh terdengar aku terbangun. Dan hingga pagi datang ternyata Mas Zaky tak pernah kembali.
__ADS_1