
Mas Yayan menyentak lenganku dengan kuat agar aku menatap wajahnya. Tatapannya seperti bisa menguliti diriku. Tak kuasa menatap matanya air mata mulai membasahi pipiku. "Napo kowe nangis?"(kenapa kamu menangis?), tanyanya lagi. Kali ini suaranya benar-benar sedingin es. Membuat air mataku makin deras mengalir. Bibir ini seperti terkunci, tak ada satu kata pun yang bisa keluar.
Tanpa memperdulikan pandangan ingin tahu beberapa orang, Mas Yayan mulai menyeret ku pergi. Aku tak tahu dia mau membawa ku kemana. Aku tidak berani bartanya. Yang jelas kami berjalan kembali ke daratan utama. Mas Yayan terus berjalan tanpa melapas cengke-raman tangannya dari lenganku. Lenganku terasa sakit. Langkahnya lebar dan mantap, sangat cepat hingga aku harus setengah berlari untuk mengimbangi kecepatannya. Semakin banyak orang yang melihat ke arah kami. Aku berjalan sambil menunduk untuk menyembunyikan wajah basahku.
Aku baru menyadari kalau kami berjalan ke arah mobil kami diparkirkan. Saat tiba di mobil Mas Yayan langsung membuka pintu penumpang tanpa melepas cengkeraman tangannya. Dia mendorongku masuk namun tidak dengan kasar. Hanya saja suaranya masih sangat dingin. "Mlebu!"(masuk!). Aku mendudukkan diriku dan mengatur posisi senyaman mungkin. Dengan segera Mas Yayan sudah duduk di sampingku dan menghadap ke arah ku.
Aku tak berani menatap balik ke arahnya. Aku hanya bisa menundukkan kepalaku. Bahkan untuk bernapas pun aku takut terlaku keras.
Rasanya saat membayangkan reaksi orang tuaku yanh tahu tentang kehamilanku dengan Mas Damar tidak semenakutkan ini. Sekarang aku benar-benar takut untuk memberitahu Mas Yayan yang sebenarnya.
Sebuah tangan besar mencengkeram sedikit kuat daguku. Mas Yayan mengangkat kepalaku agar aku menatap matanya. Ada sesuatu disana. Tatapannya menyiratkan kemarahan, kebingungan, keingintahuan tapi lebih besar dari itu semua adalah kekecewaan.
"Kowe seng ngomong opo aku seng ngomong?!"(kamu yang bicara apa aku yang bicara), suara Mas Yayan adalah sebuah geraman tertahan yang bisa membuat merinding orang yang mendengarnya. Mas Yayan adalah orang yang jarang sekali marah. Tapi saat dia marah itu akan sangat menakutkan. Bahkan ayah dan ibuk selalu menghindari membuat Mas Yayan marah.
Aku tidak tahu harus mulai dari mana. Apa yang harus aku katakan lebih dulu. pikiranku benar-benar blank sekarang. Hening beberapa saat karena Mas Yayan menungguku untuk mulai bicara. Keheningan yang mencengkam.
__ADS_1
Seperti waktu berhenti berabad-abad. Ku putuskan untuk mulai bicara. Tapi sepertinya Mas Yayan mulai hilang kesadaran. Saat aku mulai membuka mulutku bersama dengan itu sebuah teriakan datang dari Mas Yayan.
"ISOMU MONG MENENG WAE!!, LAMBEMU GAWE OPO?!"(bisamu hanya diam saja!!, mulutmu buat apa?, raung Mas Yayan. Aku tersentak oleh teriakannya. "Hiks...", sebuah isakan lolos dari bibirku.
"Ojok ngomong lek iki koyok seng tak pikirno?"(jangan bilang kalau ini seperti yang aku pikirkan?), kali ini suara Mas Yayan adalah sebuah bisikan. "Kowe meteng yo?!" (kamu hamil ya?!), bersama dengan keluarnya kata itu kulihat air mata menetes di pipi mulus Mas Yayan. Hancur sudah hatiku melihat Mas Yayan. Tak pernah kubayangkan sebelumnya akan sesakit ini melihatnya kecewa padaku. Sambil ku tutup wajahku dengan kedua tangan, aku mulai sesenggukan.
" Maaf mas, maaf.", ucap ku tidak jelas karena tangisku lebih keras. "Maaf...maaf...maaf...", racau masih sambil menangis dan menutupi wajahku.
Ku rasakan tangan Mas Yayan memegang kedua pergelangan tanganku dan berusaha membuatnya menjauh dari wajahku. "Wasno aku!, napo nyingit?!"(lihat aku!, kenapa sembunyi?!), ujarnya lagi namun kali ini suaranya sedikit melembut. Ku arahkan pandanganku padanya. Namun saat pandangan kami bertemu aku masih hanya bisa terdiam. Kenapa begitu sulit untuk mengucap beberapa kata. "Kowe meteng karo sopo?"(kamu hamil sama siapa), Mas Yayan mulai bertanya lagi. Saat aku tak kunjung bicara dia kembali mengajukan pertanyaan,"Karo Damar?"(sama Damar?). Kali ini aku mengangguk sebagai jawaban.
Aku hanya bisa menggeleng sambil berucap tidak tahu. "Aku gak weroh Mas Damar nandi." sambungku pelan.
"Kok iso gak weroh Damar nandi!, Kowe karo Damar iku wes koyok kembar gancet. Pirang-pirang taun iki nandi ae wong loro. Saiki wes kedadean koyok ngene malah gak weroh bajingan iki minggat nandi?!"(kok bisa tidak tahu Damar kemana!, Kamu sama Damar itu sudah seperti kembar siam. Bertahun-tahun ini kemana-mana selalu berdua. Sekarang sudah sampai terjadi seperti ini malah tidak tahu bajingan itu kabur kemana?!), Mas Yayan kembali meraung. Emosinya kembali memanas. "Kowe kok iso goblok toh!, Gelem-gelem ae sampek kedadean koyok ngene., Wes mbok parani nang omahe?"(kamu bodoh sekali sih!, Mau-maunya sampai terjadi seperti ini. Sudah kamu cari kerumahnya?", cecar Mas Yayan, kali ini dengan nada lebih rendah namun menuntut.
Pada akhirnya semua mengalir begitu saja dari bibirku. Mulai dari rencana membuatku hamil agar mendapat restu dari ayah dan ibuk, lalu tentang hari dimana seharusnya aku memberitahu tentang kehamilanku namun Mas Damar malah tidak datang. Sampai pada akhirnya tidak adanya kabar dari Mas Damar hingga saat ini, bahkan keluarganya tidak tahu dimana keberadaanya. Mas Yayan mendengarkan dengan seksama tanpa menyela satu kali pun. Baru setelah aku berhenti bicara dia mulai membuka mulutnya kembali.
__ADS_1
"Kowe yakin keluargae ra nyingitno Damar?", (kamu yakin kelurganya tidak menyembunyikan Damar?), ketus Mas Yayan.
"Gak mungkin mas, keluargae gak ngerti lek aku meteng. Kabeh yo khawatir, podo golek'i Mas Damar. Ambek'an keluargae nang aku sayang kok. Mereka welcome nang aku." (tidak mungkin mas, keluaeganya tidak tahu kalau aku hamil. Semuanya khawatir, dan sedang mencari Mas Damar. Lagi pula keluarganya sayang sama aku. Mereka welcome padaku.), jawabku sedikit sengit karena tidak terima Mas Yayan menjelek-jelekkan Mas Damar dan keluarganya.
Tapi sepertinya jawabanku membuat Mas Yayan kembali marah.
"Sek iso yo kowe mbelani bajingan iku!. Wes kedadean koyok ngene arek'e nyingit ra onok kabare. Kowe ra mikir yok opo perasaane ayah karo ibuk lek weroh kowe meteng?!" (Masih bisa ya kamu membela bajingan itu!. Sudah kejadian seperti ini dia sembunyi tidak ada kabar. Kamu tidak berpikir bagaimana perasaan ayah dan ibuk kalau tahu kamu hamil?!), suara Mas Yayan semakin meninggi.
Beruntung pantai sedang tidak begitu ramai pengunjung. hanya ada tiga mobil yang terparkir di sekitar mobil kami, itu pun dengan jarak lebih dari dua meter antara mobil satu dengan mobil lainnya. Dan sepertinya pemiliknya tidak sedang berada di dalam mobil, jadi tidak ada yang memerhatikan teriakan-teriakan dari dalam mobil kami.
Sekali lagi aku hanya bisa berucap maaf dan maaf seperti sebuah zikir.
"Aku ngersulo tenan nang kowe tapi aku ra iso mbayangne sak piro gedene roso ngersuloe ayah lan ibuk mengko nang kowe. Kowe sadar gak? kelakuanmu iki nglarani ayah lan ibuk. Kowe iku anak wedok seng dijogo ati-ati. Saiki kowe ngaku wes gede ngaku wes dewasa tapi kelakuan ra iso pikir akibate. Ra bedo adoh karo ABG."(aku benar-benar kecewa sama kamu tapi aku tidak bisa membayangkan seberapa besarnya rasa kecewa ayah dan ibuk nanti sma. Kamu sadar tidak? perbuatanmy ini menyakiti ayah dan ibuk. Kamu ini anak perempuan yang dijaga hati-hati. Sekarang kamu mengaku sudah besar sudah dewasa tapi perbuatanridak bisa berpikir bagaimana akibatnya. Tidak bernbeda dengan ABG), marahnya panjang lebar.
Untuk pertama kali sejak rencana kehamilan ini dibuat aku merasa takut dan menyesal. Benar. Aku tidak berpikir panjang. Tidak memikirkan perasaan kedua orang tuaku. Aku telah menyakiti hati mereka. Telah mengkhianati kepercayaan mereka. Telah mempermalukan martabat mereka. Setelah semua, aku adalah anak perempuan yang selama ini mereka jaga layaknya mutiara. Disembunyikan di balik ganasnya ombak, dalamnys lautan dan tajamnys karang. Namun sekarang dengan angkuhnya malah keluar menunjukkan keindahan dan dengan bodohnya menggampangkan orang untuk mengambilnya. Itulah aku. Si bodoh yang angkuh. Sekarang, hanya tangis penyesalan yang memelukku dengan erat.
__ADS_1