Jodoh yang KAU kirim

Jodoh yang KAU kirim
Chapter 27 Marah


__ADS_3

Aku terbangun dari tidur yang terasa sangat lama. Berapa jam aku tidur, aku tak ingat. Tenggorokkanku terasa kering. Bermaksud duduk untuk mengambil minum yang kudapati adalah sulitnya tubuhku untuk bergerak. Rasa sakit dan pegal yang menjalar di sekujur tubuhku membuatku mengernyit. Terlebih lagi rasa sakit yang berdenyut di kepala belakang. Tanganku terangkat merabanya dan kudapati sebuah perban telah melingkar di kepalaku. 'Apasih iki?', batinku bingung. Ku perhatikan sekeliling dan ini bukan tenda medis, melainkan sebuah kamar serba putih dengan beberapa alat medis di dalamnya. Aku juga terbaring di ranjang medis dengan selang infus tersambung di bagian dalam lenganku. 'Rumah sakit?' tanyaku dalam hati. Sekelebat ingatan muncul di kepalaku disusul ingatan-ingatan lainnya. 'Ah benar, karena itu ternyata' batinku mengiyakan ingatan penyebab aku berada disini.


"Cklek, kriiiieet.", bunyi derit pintu terbuka dan beberapa orang masuk setelahnya.


Dr. Taufan, Amara, Lani, Mas Damar dan Mas Zaky? Aku terkejut oleh sosok yang terakhir masuk. Terlihat jelas kekhawatir yang tergambar di wajahnya. Hal yamg sama kulihat di raut wajah Mas Damar.


"Piye Tan? Ono keluhan?", tanya dr.Taufan saat tiba di samping ranjang.


"Banyak dok, badanku pegel-pegel sulit banget mau gerak. Terus kepalaku sakit, nyut-nyut rasane. Tengkorakku g' pecah kan dok? Aku g' gegar otak kan? Aku..."


"Mana ono orang gegar otak nyerocos koyok kamu.", potong Lani sambil membungkam bibirku dengan tangannya.


Aku menepis tanggannya dan mengelap mulutku. Dr.Taufan dan Amara tertawa melihat tingkah kami berdua.


"Kalian iki yo, sama aja dari jaman kuliah sampek wes tante gini.", kata Amara saat tawanya reda.


"Eh sopo seng kamu sebut tante-tante. Enak ae, aku iki masih muda koyok ABG tahu.", sembur Lani.


"Wes..wes.., ojo guyon ae. Kamu g' po-po kok Tan, cuma memar-memar sama kepalamu cuma luka luar doang. Ya syukur sih tengkorakmu cukup tebal yo jadi g' sampek retak.", kata dr.Taufan di akhiri dengan candaan.


Hampir semua orang di ruangan ini tertawa, bahkan Mas Damar pun terlihat berusaha keras menahan tawanya kecuali Mas Zaky yang dari tadi berdiri diam menatapku sambil bersendekap dari balik punggung dr.Taufan. Aku tak bisa mengartikan tatapannya. Tapi setiap kali aku menatapnya kengerian semakin muncul di hatiku. 'Dia marah kah?' tanya batinku.


"Sebener'e piye se kejadiane? Kok kamu iso ketimpa rangka tenda.", tanya Amara yang mendapat anggukan dari yang lain.


"Oh. piye bocah seng sama aku? Dia g' po-po?", tanyaku yang tiba-tiba ingat kalau waktu itu ada bocah yang ku peluk agar tidak tertimpa rangka tenda.


"G', dia g' po-po. Cuma nangis terus, seperti'e dia syok liat kamu pingsan dengan kepala berdarah.", kali ini Mas Damar yang bicara.


Menatapnya membuatku ingat kejadian terakhir sebelum kecelakaan ini terjadi. Aku mengalihkan pandanganku pada yang lain.


"Jadi piye? opo seng terjadi?", Suara berat seksi punya orang yang sedari tadi diam itu terdengar.


Aku menoleh menatap Mas Zaky lama sebelum akhirnya aku membuka mulutku memulai cerita yang ku ingat terakhir kali sebelum aku pingsan. Yang kuingat saat itu adalah aku berjalan menjauh dari tenda medis tempatku bicara berdua dengan Mas Damar sambil mengelus pergelangan tanganku yang sakit. Tak jauh dari situ kulihat ada lebih dari tujuh anak-anak yang sedang berlari saling mengejar mengitari sebuah tenda kosong. Aku tahu tenda itu baru dibangun yang akan digunakan untuk menyimpan stok makanan instan dan obat-obatan umum. Terlihat olehku beberapa kali kaki-kaki dari anak-anak ini tersandung pasak-pasak tenda itu. Itu sangat berbahaya. Jadi aku mendekat untuk memperingati mereka. Kulihat ada beberapa anak yang berlari masuk ke dalam tenda.


"Adek-adek g' boleh lari-lari di sekitar tenda ya, bahaya sayang. Mainnya di tanah lapang di sebelah sana saja.", kataku sambil mendekat ke arah mereka.


Mendengar kata-kataku mereka keluar dari tenda meninggalkan satu anak kecil berumur sekitar tiga-empat tahun, tapi mereka tidak berhenti untuk tetap berlarian mengitari tenda. Saat aku akan menyuruh mereka untuk berhenti, kulihat satu anak tersandung pasak tenda hingga tali dan pasaknya terpental. Anak itu terjatuh cukup keras. Aku ingin membantunya berdiri saat kulihat satu tali dan pasaknya terlepas kembali. Teringat anak kecil yang masih di dalam tenda aku meloncat masuk dan meraihnya kepelukanku bertepatnya dengan ambruknya tenda dengan bunyi yang cukup keras. Bersama dengan rasa sakit yang menjalar dari kepalaku aku mendengar suara bising mendenging di telingaku. Aku masih bisa mendengar suara tangisan dari anak-anak di luar tenda sebelum pandanganku menjadi kabur dan gelap. Dan akhirnya aku terbangun disini


"Jadi berapa lama aku pingsan?", tanyaku setelah usai bercerita.


"Sekitar tiga jam.", kata dr.Taufan sambil melepas selang infus di lenganku. "Wes g' ono masalah, kamu iso balik ke kamp bareng kami.", lanjutnya.


"Maaf dok, aku mau Tania istirahat dulu di hotel sama aku.", kata Mas Zaky tenang namun sangat berwibawa.


Sama sepertiku, sepertinya yang lain juga menyadari kalau tak ingin ada penolakan dari nada bicaranya. Suasana sedikit tegang saat ini.

__ADS_1


"Ehm iyo dok, aku mau kangen-kangen dulu sama mas bojo. Bolehkan?", candaku berusaha mencairkan suasana.


"G' masalah. Kamu sehat kok tapi opo kamu yakin fisikmu kuat? Lagi memar-memar gitu. Ojo dipaksano yo." dr.Taufan membalas candaanku.


"Ih apaan sih dok.", tanggapku malu-malu.


Amara dan Lani terbahak melihat mukaku yang memerah. Tapi bisa kulihat raut tidak suka dari Mas Damar tapi syukurlah dia hanya diam. Aku juga masih tidak menyangka kalau dia kesini bersama yang lain.


"Kamu siap-siap ae. Kalo wes beres boleh langsung cabut. Kalo gitu tak tinggal yo. Lan, Mar kamu bareng aku opo sama Mas Damar?", kata dr.Taufan.


"Lani biar bareng aku dok.", kata Mas Damar tenang.


"Ok, kalo gitu Mar kamu ikut aku. Ayo."


Setelah dr.Taufan dan Amara pergi, Mas Damar melangkah maju tapi tak cukup dekat dengan ranjang yang ku duduki. Aku menegang, ternyata tubuhku masih merespon akan rasa takut atas sikapnya tadi.


"Nia, syukur deh kamu g' ono seng parah. Aku khawatir banget tadi. Maaf. Aku minta maaf soal tadi. Aku khilaf. Aku g' maksud nyakitin kamu kayak tadi. Entah setan opo seng ngerasukiku. Aku bener-bener minta maaf Nia. Aku bener-bener bodoh! Aku nyusul kamu kesini buat bikin kamu balik sama aku, tapi seng ku lakuin malah bikin kamu lari. Maaf Nia. Aku bener-bener malu sama diriku. Pliss maafin aku yo.", kata Mas Damar meminta maaf dengan menunduk meski sesekali menatap mataku.


Bisa kurasakan ketulusan dan penyesalan dalam suaranya. Kesedihan terpancar jelas dari matanya. Wajah yang dulu selalu tersenyum itu kini terlihat sendu. Gurat-gurat lelah terlihat disana. Akankah ku bisa melihat senyum hangatnya yang selalu dia tujukan padaku lagi? Aku benar-benar sedih melihatnya terluka. Tapi aku tak bisa mengenyahkan rasa takut ini. Mulutku seakan terkunci, begitu juga tubuhku yang membeku. Aku ingin memaafkannya tapi kejadian tadi benar-benar melekat kuat di ingatanku. Aku ingin menangis tapi sekuat tenaga aku menahannya. Menyadari Akan reaksiku Mas Zaky lantas berdiri di depanku menghalangi pandangan Mas Damar. Sambil menoleh ke belakang dia menanggapi perkataan Mas Damar.


"Maaf, koyok'e Tania masih syok dan perlu istirahat. Apapun urususan kalian, iso diomongno lain waktu.", katanya dingin, tak hanya nadanya tapi juga sorot matanya.


Meski Mas Zaky berdiri menghalangi pandanganku aku masih bisa melihat ketidak senangan di wajah Mas Damar. Rahangnya yang mengeras dan kening yang mengerut juga tatapannya yang tajam menunjukkan dia siap menyerang. Lani yang juga menyadari ketegangan ini segera mengajak Mas Damar pergi.


"Wes lah mas, kita balik ae disek. Klo Tania wes beneran pulih kamu coba ngomong lagi sama dia.", kata Lani sambil memegang lengan Mas Damar.


"Aku capek, kita balik ke hotel sekarang yo.", kataku sangat pelan namun masih bisa di dengar semua orang di ruangan ini.


Mas Zaky tak langsung berbalik tapi dia mengangguk. Dan akhirnya aku mendengar suara Mas Damar memecah keheningan.


"Yowes Nia, kamu istirahat disek. Aku bakal temuin kamu lagi buat minta maaf. Sampek kamu maafin aku, aku bakal terus nemuin kamu. Aku pergi.", kata Mas Damar sebelum berbalik dan keluar dari ruangan ini.


"Tan, kamu istirahat yo. G' usah khawatirin si Damar. Wes ada Mas Zaky ndek sini. Aku bakal jaga Akmal sampek kamu sehat. Aku balik disek yo, ntar tak vc kalo aku lagi sama Akmal.", kata Lani saat mendekat padaku. Dia memelukku sekilas sebelum pergi menyusul Mas Damar.


Sekarang tinggal aku dan Mas Zaky di ruangan ini. Dia masih berdiri menempel ranjang sambil membelakangiku. Sekarang aku yakin kalau Mas Zaky sedang marah padaku. Tapi aku tak tahu yang mana yang membuatnya marah. Apa karena tak memberitahunya akan kedatangan Mas Damar ke kamp pengungsiang? Atau karena dia mendengar Mas Damar menyinggung tentang pertemuan kami tadi siang? Mungkin keduanya. Auranya sangat mengintimidasi. 'Ya Allah opo seng harus aku lakukan?' batinku meratap.


"Mas? kamu...marah?", aku mencoba membuka obrolan.


"Tunggu ndek sini! Aku urus kepulanganmu ndek resepsionis disek. Kamu capek, kita ngobrol ndek hotel wae!", katanya dingin dan melangkah keluar dari pintu tanpa berbalik.


Deg!


Hatiku seperti terhantam godam yang besar. Seberapa besar kesalahanku hingga dia semarah itu? Mas Zaky tak pernah sedingin itu padaku sebelumnya. Hatiku gelisah menantinya kembali. Aku mencoba turun dari ranjang karena ingin ke kamar mandi. Memar-memar di badanku menjerit setiap kali aku bergerak. 'Ayo Tania, bentar lagi nyampek' batinku memberi semangat saat tubuhku bersusah payah menggapai gagang pintu kamar mandi. Saat aku susah payah berjalan kembali keranjang pintu kamar terbuka. Mas Zaky masuk membawa kursi roda dengan kening berkerut.


"Kamu iku emang susah dibilangin yo. Aku kan nyuruh kamu diem. Kok...."

__ADS_1


"Aku habis pipis, malu sama suster kalo ngompol ndek ranjang.", potongku dengan bercanda, siapa tahu dia jadi tidak marah lagi.


"Ayo pulang.", katanya singkat tanpa menanggapi leluconku.


Perjalanan ke hotel terasa sangat panjang, padahal hanya tiga puluh menit dari rumah sakit. Itu karena sikap Mas Zaky yang dingin. Dia terus mendiamkanku. Apa saja yang ku tanyakan dan ku katatakan tak ada satupun yang dia jawab. Dia hanya bicara dua kali, itupun pada supir taksi saat memberi tahu tujuan dan saat memberikan uang. Begitupun saat dia memapahku menuju kamar hotel, dia hanya diam sambil menatap lurus kedepan. Begitu ada di dalam kamar aku sudah tak tahan lagi. Aku tak mau dia mendiamkan ku seperti ini. Usai mendudukkanku di ranjang dia langsung berdiri dan berbalik, bersiap tuk pergi. Aku segera meraih tangannya meski yang bisa kupegang hanya lengan kemejanya.


"Mas? jangan marah.", kataku parau dan lemah.


Dia hanya diam tak bergerak dan tak bersuara.


"Mas? Aku...", belum sempat aku menyelesaikan kata-kataku saat dia berbalik dan otomatis pegangan tanganku pada lengan kemejanya terlepas.


"Bandel, aku kan nyuruh kamu ati-ati. Kenapa malah masuk rumah sakit?" katanya akhirnya sambil menyentil dahiku main-main.


Aku mendongak menatapnya wajahnya. Tak ada lagi wajah dingin yang sedari tadi dia tunjukkan. Hanya tersisa kekhawatiran disana.


"Maaf.", kataku pelan, tenggorokan tiba-tiba tercekat.


"Dasar."


Dia lalu menarikku dalam pelukkannya. Entah mengapa tangisku langsung pecah begitu wajahku menyentuh dadanya. Aku benar-benar menangis tersedu seperti anak kecil, hanya saja aku tidak meraung-raung. Dia hanya diam mengelus kepala belakangku. Sesekali mencium puncak kepalaku.


"Hei, wes..wes. Aku wes g' marah, kamu diem dong.", katanya menenangkanku.


Tapi tangisku tak mau berhenti. Semua kilatan kejadian tadi siang bersama Mas Damar kembali terputar di otakku. Rasa takut tak bisa bertemu lagi dengan Mas Zaky yang kurasakan saat rangka tenda menimpaku. Dan keterkejutanku saat melihatnya pertama kali di rumah sakit, juga rasa rinduku yang membuncah padanya bercampur menjadi satu. Seperti bom waktu yang meledak, aku tak bisa mengendalikannya. Kurasakan tangan Mas Zaky melepas pelukannya dan berpindah memegang kedua pipiku. Dia mengankat wajahku agar menatapnya.


"Tan? Hei.., wes lah. Wes, diem yo. Aku beneran wes g' marah. Aku cuma khawatir banget tadi. Untunge aku wes nyampek hotel iki pas Lani ngabari tadi.", katanya lembut sambil menyeka air mataku dan mencium lembut masing-masing satu kali kedua mataku.


Setelah beberapa menit akhirnya tangisku mereda. Mas Zaky tak pernah beranjak dari sisiku. Posisi kami sekarang setengah berbaring bersandar pada kepala ranjang dengan kepalaku berada diantara leher dan bahunya. Dia terus mengelus lembut puncak kepalaku. Saat aku terbuai akan lembut elusannya dan mata ini mulai terpejam, Mas Zaky bertanya apa maksud permintaan maaf Mas Damar tadi siang. Sontak itu membuat mataku kembali terbuka lebar. Pertanyaan itu lebih ampuh dari sepanci kopi untuk menangkal kantuk. Bagaimana ini, apa yang harus aku katakan? Aku tak mau berbohong, itu akan membuatnya lebih marah lagi saat suatu saat dia mengetauinya. Tapi jika aku bercerita aku takut itu akan memicu pertengkaran. Diamku mengusik keingin tahuannya lebih besar. Dia merubah posisinya agar wajah kami jadi sejajar.


"Ono seng terjadi. Ayo cerito!", dia langsung menebak dan mendesak agar aku bercerita.


Setelah terdiam cukup lama akhirnya kuputuskan untuk menceritakan yang sebenarnya. Mulai dari datangnya Lani dan Mas Damar sebagai relawan yang akan menggantikanku karena aku akan pulang. Aku juga mengatakan niatku membuat kepulanganku sebagai kejutan telah gagal karena kedatangannya kesini. Lalu aku menceritakan perdebatanku dengan Mas Damar yang berujung pelecehan yang dia lakukan namun akhirnya Mas Damar menyuruhku pergi setelah melihatku menangis. Mas Zaky hanya diam tanpa menyela saat aku bercerita, tapi semakin jauh aku bercerita raut marah semakin terlihat jelas di wajahnya. Dan dia tak bisa membendungnya lagi saat menyadari memar biru di kedua pergelangan tanganku.


"Subhanallah, Astaghfirullah. Bisa-bisae Damar kayak gitu ke kamu.", katanya menggebu-gebu. Beberapa kali dia mengambil napas panjang dan menghembuskannya kasar. "Aku g' iso diam ae tahu istriku dilecehkan. Aku mau ambil tindakan. Astaghfirullah, Astaghfirullah.", lanjutnya sambil menahan amarahnya dengan beristighfar.


"G' mas, g' usah. Aku g' mau iki jadi panjang. Dia kayak gitu karena g' iso ngontrol hatie seng terluka. Toh dia sadar kalo seng dia lakuin salah. Buktie dia mau ngelepasin aku.", kataku mencegahnya.


"Kamu juga! Iso-isoe kamu ngajak ngomong lelaki dewasa cuma berdua. G' waspada banget se kamu! Ceroboh! Kemaren kamu seng ngingetin aku gara-gara aku ninggalin kamu cuma berdua sama Damar. Padahal aku cuma ndek ruang sebelah. Iki, malah kamu lakuin ndek tenda seng jauh dari keramaian. Kamu iku sama ae jilad ludah sendiri!", bentaknya padaku tanpa jeda.


Aku terkejut. Benar-benar terkejut. Pasalnya ini pertama kalinya Mas Zaky sangat marah hingga membentak-bentak padaku. Saking terkejutnya mulutku terkunci, tak bisa mengatakan satu katapun. Tatapannya sangat tajam mampu menembus mataku. Rahangnya mengeras dan Alisnya menyatu. Ketampanannya tetap terlihat meski amarahnya sangat menakutkan.


"Maaf mas, aku tahu aku salah. Haruse dari awal dia datang aku langsung kasih tahu kamu. Maaf, aku g' iso jogo kepercayaane kamu dengan ngajak Mas Damar ngomong cuma berdua. Aku.."


"Ya Allah Taniaaaa! Kamu pikir aku seremeh iku? Kamu pikir aku marah cuma gara-gara Damar datengin kamu! G' Tan! Aku g' peduli mau Damar temuin kamu! Aku marah iku karena kamu g' iso jogo diri kamu. Aku marah karena kamu nempatin diri kamu dalam bahaya. Untung Damar isek iso sadar. Piye kalo dia g' sadar diselimuti amarah dan nafsu? Kamu kok sebodoh iku se Tan?!", amuknya padaku.

__ADS_1


Dia lantas berbalik melangkah keluar, meninggalkanku sendirian di kamar hotel ini. Aku hanya bisa tertunduk lesu meresapi semua perkataannya. Semoga saat dia kembali amarahnya sudah reda.


__ADS_2