Jodoh yang KAU kirim

Jodoh yang KAU kirim
Chapter 12 Coba mengenal


__ADS_3

Setelah hampir satu jam menemani ibuk berbincang dengan Mas Zaky, sampai harus pindah ke teras karena panas matahari semakin menyengat. Kami akhirnya berpamitan setelah Mas Zaky mendapat sebuah panggilan di ponselnya. Kami berjalan menuju mobil miliknya yang terparkir di luar pagar. Dia beralasan agar tidak repot keluar masuk halaman, maka dari itu dia parkir di tepi jalan saja.


Saat tiba di mobil, dia membuka pintu penumpang belakang dan mempersilahkanku masuk. Aku mengernyit bingung, tapi tidak membantah dan langsung duduk dengan tenang. Sesaat kemudian dia sudah duduk di balik kemudi dan mulai menjalankan mobilnya. Mungkinkah akan ada yang ikut dengan kami? Kenapa aku harus duduk di jok belakang? Jadi terlihat seperti supir dan penumpang. Aku hanya diam dengan pikiranku, tidak berani mengutarakan.


Tapi setelah hampir tiga puluh menit tidak ada tanda-tanda akan ada penumpang lain, dan kami saling diam tanpa ada yg bicara. Akhirnya aku buka suara. "Kita mau kemana mas?"


"Kamu temenin aku ke usahaku dulu yo, maeng ono telepon, ada sedikit masalah di kantor. Baru setelah iku kita jalan.", katanya sambil sesekali menoleh padaku.


"Boleh. Emang Mas Zaky usaha opo?


"Aku buka konveksi, belum lama sih isek sekitar tiga bulan, isek skala kecil. Kan aku baru balik tekan Kairo.", terangnya.


"Wah hebat mas, wes nduwe usaha sendiri. Terus usaha orang tua mas, gak ono seng rewangi?"(wah hebat mas, sudah punya usaha sendiri. Terus usaha orang tua mas, tidak ada yang membantu?), kataku sambil mengamati sekeliling. Oh, aku tahu daerah sini.


"Ono masku seng bantu."(ada mas saya yang membantu.), jawabnya sambil menoleh kebelang, ke arah ku.


"Mas Zaky berapa bersaudara emange?", tanya ku tertarik.


"Aku tiga bersaudara. Ono masku namae Khaidar, terus aku nomer dua, yang bungsu perempuan, namae Hafizah.", jawabnya dan sekali lagi menoleh ke arah ku. Aku gemas melihatnya!


"Mas kok aku duduk'e di belakang se?, jadi berasa mas sopir aku lo.", akhirnya kutanyakan juga kan. Habisnya aku gemas melihatnya sering tengok ke belakang, sekaligus penasaran dengan alasannya menaruhku di jok belakang.


"Gak po-po kok kalo di anggep supir, gak keberatan orang yang dianter cantik.", jawabnya sambil nyengir.


Deg.


Bahkan saat nyengir pun dia terlihat sangat tampan. Aku merasa pipiku memanas. Apa sih yang ku pikirkan? Ku menggeleng dengan kuat untuk menjernihkan pikiranku.


"Eh nek opo? kamu sakit? Opo mual? Arep mandek disek?"(eh kenapa? kamu sakit? apa mual? mau berhenti dulu?), tanyanya terlihat khawatir saat melihat ku menggelengkan kepala. Bahkan dia memelankan laju mobilnya.


"nggak kok, aku gak po-po.", jawabku cepat. ku sunggingkan senyum untuk meyakinkannya.

__ADS_1


Setelah yakin aku baik-baik saja, Mas Zaky mulai menambah kecepatan mobilnya.


Aku kembali ke pertanyaanku sebelumnya. "Yang bener sih mas, kenapa aku duduk'e di belakang? Mas Zaky kan jadie tengok-tengok kebelang terus kalau ngomong. Bahaya kan kalau lagi nyetir tengok belakang terus."


"Kamu beneran pingin tau?", dia balik tanya dengan nada lebih serius. Ku anggukan kepalaku sebagai jawaban.


"Jadi gini, aku diajarkan kalau perempuan sama lelaki yang bukan makhrom tidak boleh berduaan dalam jarak kurang dari tiga meter, apalagi berdekatan. Berhubung sekarang kita berada di mobil dan tidak mungkin untuk mengambil jarak tiga meter maka aku menyuruhmu duduk di jok belakang." Terangnya dengan serius.


Aku diam menyerna apa yg dia katakan. Hmm, kalau begitu buat apa jalan berdua? Ada rasa aneh dalam hatiku. Tapi apa? aku tidak tahu. Aku hanya memandang keluar cendela setelah itu. Suasana berubah jadi canggung karena aku tidak memberi respon apapun. Padahal tadi, obrolan kami sudah mengalir lancar. Mungkin ini sebabnya dia tidak mau menjelaskan dari awal. Karena tahu suasana akan jadi canggung.


"Kamu tersinggung. Nia?", setelah lebih dari lima menit Mas Damar memecah kesunyian.


Deg.


Aq langsung berpaling dari cendela dan memandang ke arahnya tidak suka. Tidak, jangan panggil aq Nia, aku tidak suka. panggilan itu hanya Mas Damar yang boleh memanggilnya.


"Panggil Tania aja mas, aku gak suka dipanggil Nia.", terdengar jelas ketidak sukaan dari nada bicaraku.


"Gak kok, gak suka ae.", aku kembali memandang keluar cendela.


Karena panggilan tadi, sekarang pikiranku kembali berputar pada Mas Damar. Apa sih sebenarnya yang ku lakukan? Pacar sedang hilang, bukannya mencari malah jalan sama pria lain. Apa keputusanku sudah benar? Kenapa sekarang jadi ragu lagi?.


Aku terlalu larut dalam pikiranku sendiri, hingga tidak menyadari mobil mulai melambat dan akhirnya berhenti. Panggilan darinya menyadarkanku dari lamunan. "Tania, yok mudun."(Tania, ayo turun), katanya lembut seperti tidak pernah ada ketegangan yang baru terjadi diantara kami.


"Oh, aku melu mudun tah?"(oh, aku ikut turun?), tanyaku saat dia mulai melangkah keluar mobil.


"Aku gak weroh bakal suwe gak urusane neng njero. Daripada kamu ngenteni suwe neng mobil, ikut turun ae ayo."(aku tidak tahu akan lama atau tidak urusannya di dalam. Daripada kamu menunggu lama di mobil, ayo ikut turun saja), jawabnya saat membuka pintu mobil jok belakang untukku.


Kami masuk di kawasan ruko-ruko. Berjalan melewati beberapa ruko sebelum akhirnya tiba di tempat usahanya beroperasi. Empat unit ruko dijadikan satu. Ruangannya cukup luas. Ku lihat setiap ruang ada sepuluh mesin jahit yang sedang diroperasi oleh para karyawan. "Wah, ini sih duduk cilik-cilikan mas, besar nih sampek pake' petang unit." (wah, ini sih bukan kecil-kecilan mas, besar nih sampai pakai empat unit.), responku kagum saat melihat tempat tersebut.


"Hehe..bisae nyewa ruko ini, dorong iso nyewa gedung seng lebih besar."(he..he..bisanya menyewa ruko ini, belom bisa menyewa gedung yang lebih besar), dia menanggapi sambil tersenyum. Terlihat jelas ada kebanggan dalam tatapannya kepada para karyawannya. "Kamu kalau mau lihat-lihat boleh kok, aku isek onok urusan. Atau arep nunggu aku? Mengko lihat-lihat bareng.", tanyanya saat kami mulai melangkah masuk.

__ADS_1


"Aku tunggu sini ae mas, nanti ae baru lihat-lihat.". Kulihat ada deretan bangku stanles, aku melangkah ke arah sana.


"Hmm ok, aku ngecek masalah dulu yo.", dia berlalu pergi.


Sudah hampir tiga puluh menit, Mas Zaky tak terlihat sekalipun. Waktu hanya ku habiskan untuk mengamati para pekerja konveksi yang tidak henti-henti berkutat dengan mesin jahit, atau hanya sekedar memainkan ponsel. Ini jadi ta'aruf tidak sih? Aku menengok ke kanan dn kiri, mulai bosan. Kebelet pipis juga. Toiletnya dimana ya? Setelah melihat sekeliling dan tak terlihat ruang yang seperti toilet, ku putuskan untuk bertanya pada salah satu karyawan. Aku berjalan ke seorang perempuan memakai hijab dan kacamata bulat. Sepertinya tidak begitu tua dari umurku.


"Ngapunten mbak, toilet ten pundi nggeh?" (maaf mbak, toilet dimana ya?), tanyaku saat sampai di depan meja kerjanya.


Setelah mendapat penjelasan dimana toilet berada, aku segera berlalu ke arah toilet. Ternyata toilet berada di lantai dua. Toilet khusus wanita. Hmm ternyata Mas Zaky juga memprioritaskan privasi ya. Aku salut padanya. Saat keluar dari area toilet aku melihat sekilas sosok Mas Zaky di ruangan paling ujung lantai dua. Yah terlalu bosan kalau harus turun dan menunggunya lagi. Mungkin tidak masalah jika aku menghampirinya. Toh aku hanya akan melihat, tidak mungkin sampai mengganggu kan?


Belum sempat aku masuk ruang tersebut, terdengar suara Mas Zaky yang seperti menerangkan sesuatu. "Gini loh mas, kan wes tak jelaskan lek lingkar pinggang, lingkar dada, lingkar panggul iku setiap ukuran ditambah empat senti. Bukane ukuran paten'e wes tak serahkan ke masnya toh? Masak masih biso salah toh?", suaranya masih terdengar kalem namun dari ketegasannya terdengar kalau dia sedang marah.


Mungkin bukan waktu yang tepat untuk menghampirinya. Saat aku hendak berbalik menjauhi pintu ruangan tersebut, suara yang sekarang tak asing lagi buatku terdengar memanggil. "Tan? Tania. Kok neng kene? nggolek'i aku?"(Tania. kok disini? mencari ku?), tanyanya saat mendekat ke arahku berdiri.


"Hehe..nggak kok. Bar teko toilet terus liat Mas Zaky. Rencana mau tak samperin tapi ku dengar lek mas Zaky lagi marah-marah.", jawabku sambil nyengir untuk menghilangkan kecanggungan karena tidak sengaja menguping.


"Haha...gak marah kok, cuma yah...gitu lah. Mlebu kene, tungguin neng kene ae bentar lagi rampung."(masuk sini, tungguin di sini saja sebentar lagi selesai), tak terdengar amarah lagi dalam nada suaranya.


Aku masuk mengikutinya, dan duduk di salah satu kursi yang berada di dekat cendela. Tak selama saat aku menunggunya di bawah. Mas Zaky menghampiriku dengan senyum khasnya. Senyum yang menampilkan deretan gigi putih dan menampilkan satu lesung pipi di pipi kirinya. Glek. Suara aku menelan saliva ku terdengar sangat keras, atau hanya perasaanku.


"Yok aku wes rampung, mau lihat-lihat atau langsung jalan?", tanyanya saat sudah sampai di depanku. Kulihat jam didinding sudah pukul sebelas lebih. Mungkin akan ada kesempatan lain kali untuk lihat-lihat disini.


"Jalan ae yuk mas, aku wes laper. Tadi sarapane setor ke westafel soalnya.", kataku. Dengan tersenyum malu aku berdiri dari kursi dan melangkah meninggalkan ruangan tersebut.


"Umure Mas Zaky berapa se?", tanyaku saat kami sudah di mobil dan mulai melaju dijalanan.


"Seumuran karo Yayan koyok'e."


"Oh, dua sembilan dong.", aku terkejut mendengarnya. Kukira seumuran Mas Damar. Yah cuma lebih tua dua tahun, makanya tidak kelihatan. Tapi Mas Yayan kok kelihatan lebih tua. Haha.


Kami berbincang dengan santai sepanjang jalan. Obrolan kami mengalir seperti air. Padahal aku tipe orang yang tidak bisa ngobrol dengan orang lain yang baru beberapa kali ditemui.

__ADS_1


__ADS_2