
"Kamu mau langsung balik opo mau jalan disek?", tanya Mas Zaky.
"Pulang ae mas, aku capek. Untung mau kita wes sholat isya ndek rumahe abah yo mas, jadi sampek rumah iso langsung tidur." jawabku.
Kami sedang dalam perjalanan pulang dari rumah orangtua-orangtua kami. Tadi siang sehabis sholat dzuhur kami pergi kerumah ayah dan ibuk, lalu kami melanjutkan mengunjungi ummi dan abah.
"Tadi tak perhatiin kamu canggung banget sama Hafizah dan Mbak Zizah. Kamu isek marah nang mereka?"
"Aneh ae mas rasae, tiba-tiba ramah dan baik."
"Yo bagus dong, mereka g' gangguin kamu lagi."
Aku hanya menanggapinya dengan menggedikkan bahu. Mas Zaky tahu aku enggan membicarakan tentang mereka. Dia mulai bertanya random, mengubah topik pembicaraan kami. Sampai di rumah aku langsung berberes bersiap untuk tidur atau sekedar tiduran sambil memainkan ponsel atau membaca buku. Mas Zaky berada di ruang kerjanya, banyak harus dia kerjakan. Baru beberapa menit aku tiduran suara bel berbunyi, lagi dan lagi. Aku menyambar hijab instan yang bisa langsung aku gunakan dan berjalan keluar kamar, bermaksud akan membuka pintu saat Mas Zaky juga keluar dari ruang kerjanya dengan maksud yang sama.
"Sopo?", tanyaku.
"G' tau. Dibuka ae.", jawabnya, mendekati pintu dan membukanya.
"Halo Tania, piye kabare sayang? Mama boleh masuk?", sapa ramah sosok wanita paruh baya begitu pintu terbuka dan pandangan kami bertemu.
"........", tak ada kata yang keluar dari mulutku, mungkin aku terlalu terkejut.
Dua sosok yang aku enggan untuk bertemu. Apalagi saat ini. Berdiri tegak di depan pintu. Menyadari sikap diamku, Mas Zaky lantas berbicara mewakili diriku.
"Permisi, ada keperluan nopo nggeh bu? Istri saya perlu istirahat karena kondisie masih belum pulih.", kata Mas Zaky tegas namun sopan.
"Kita g' lama kok Tan. Izinin mama masuk yo?", kata wanita tersebut, masih dengan nada yang ramah.
Aneh, sungguh aneh. Terakhir dia kesini, dia mengamuk bahkan sampai menamparku tapi kenapa sekarang ramah begini? Aku melihat sikap Mas Damar yang hanya berdiri diam di belakang mamanya. Ada apa sebenarnya? Karena terdorong rasa penasaran akhirnya aku mempersilahkan mereka masuk. Toh ada Mas Zaky disini, mereka tidak akan bisa berbuat yang aneh-aneh.
"Mari masuk.", kataku sambil mendahului mereka duduk di kursi bagian dalam di ruang tamu.
Begitu duduk mamanya Mas Damar langsung berbicara.
"Kamu cantik banget Tan pake' hijab.", kayanya.
"..........."
"Jadi gini lo Tan, mama kesini mau minta maaf. Damar wes cerita semuanya, opo seng sebenere terjadi sampek kamu nikah sama suamimu iki. Mama minta maaf yo waktu iku mama sampek ngomong buruk nang kamu. Mama sampek nampar kamu. Mama juga minta maaf gara-gara iku cucu mama sampek g' selamat. Mama bener-bener sedih Tan, meski kamu g' jadi nikah karo Damar tapi bayi iku kan tetep cucuku. Aku..."
"Bukan! Bayi iku bukan cucue nyonya. Meski aku sedih dan menyesal anakku pergi tapi aku lega, karena aku jadi g' ono urusan lagi dengan keluarga Hartadi.", kataku memotong kata-kata beliau.
"Sayang g' oleh ngomong gitu. Kenapa manggil mama nyonya? Bagaimanapun bayi iku tetep anak'e Damar. Mama tau kamu marah karo sikap kami tempo hari, mangkane mama kesini buat minta maaf. Lita juga mau minta maaf tapi dia sedang ada di Malaysia, katae dia coba hubungi kamu tapi g' bisa. Kami..."
"G', aku ngomong gitu bukan masalah aku marah. Tapi emang anakku bukan anak'e Mas Damar. Anak dari perzinahan g' dinasabkan pada ayah biologise, anak iku ikut nasab sang ibu. Ikut nasabku. Jadi misale dulu aku tetep nikah sama Mas Damar pun, anak iku tetep binti Tania Wibisono. Bukan bin Damar Hartadi.", jelasku berusaha terlihat kuat.
Mas Zaky terus menggenggam tanganku lembut namun menguatkan. Membicarakan tentang bayiku seperti merobek kembali luka yang belum sepenuhnya mengering. Hatiku berdenyut sakit. Kutatap dua orang yang sekarang duduk di depanku. Mengambil napas panjang dan dalam dan menghembuskannya, sebelum akhirnya aku berkata kembali.
"Jika kalian kesini cuma mau mbahas bayiku seng wes g' ada, sebaiknya kalian pulang. Aku..."
"G' Tan, mama belum selesai. Mama yo mau minta maaf atas sikap kasar mama ke kamu. Mama nuduh kamu seng jelek-jelek. Haruse mama dengerin penjelasan kamu disek, tapi waktu iku mama merasa terluka karena berpikir kamu ngekhianati anak mama.", kali ini beliau yang memotong perkataanku.
"G' perlu minta maaf. Nyonya Sekar tau? Pepatah bilang 'cara orang berbicara menunjukkan jati diri orang tersebut' dan aku berterima kasih berkat sikap kalian tempo hari aku jadi tau akan seperti opo kehidupanku kalo aku jadi anggota keluarga kalian dan jika aku tak sengaja membuat kesalahan. Makanya sekarang aku bersyukur aku tak sampai nikah karo Mas Damar.", aku berusaha mengatakannya dengan ekspresi tenang dan santai, meski aku harus bersusah payah.
"Taaan....", suara lembut Mas Zaky menarik perhatianku.
Aku menoleh kearahnya dan dia menggeleng dengan tatapan memperingatkan. Astaghfirullah, mungkinkah bicaraku sudah kelewatan?
"Maaf jika aku nyinggung perasaan kalian.", kataku tulus.
"G' Tan, kamu bener. Emang kami seng brengsek dan g' tau diri. Aku bener-bener nyesel Tan, aku minta maaf. Sikap kami emang keterlaluan ke kamu. Aku yo mau minta maaf seng layak soal kejadian ndek kamp kemaren iku. Aku..."
"Bagus deh lek kamu sadar opo seng kamu lakuin iku salah. Mana ono orang ngomong cinta tapi kelakuan koyok bajingan kek gitu.", kali ini Mas Zaky yang memotong kata-kata Mas Damar Dengan tegas.
Suaranya dingin dan berat, menebar aura mengancam. Aku tau dia marah soal ini. Tapi dia masih bisa mengontrol emosinya dengan baik. Dia tak mungkin memulai perkelahian hanya karena ini, terlebih Mas Damar datang untuk minta maaf.
"Iyo Tan, mas. Aku atas namae Damar yo minta maaf. Si Damar wes tak ajar ndek rumah kemaren habis dia cerita. Mama yo g' habis pikir iso-isoe dia berbuat koyok gitu nang kamu.", kata mamanya Mas Damar dengan raut wajah menyesal.
__ADS_1
"Kamu bener, aku emang bajingan. Maafin aku yo Tan. Maaf Zak, aku g' bakal ganggu Tania lagi. Aku janji iki seng terakhir. Aku liat Tania nyaman sama kamu. Tolong kedepane terus jagain Tania yo Zak. Semoga kalian iso bahagia. Aku g' mau jadi pecundang lagi. Aku yo mau iso bahagia seperti kamu Tan. Aku bakal ngerubah coro hidupku jadi lebih baik. Kalian terima permintaan maafku kan?", kata Mas Damar pada kami berdua.
Aku diam cukup lama sebelum akhirnya aku memutuskan menerima permintaan maafnya. Menoleh pada Mas Zaky aku mengangguk, memberi tanda menerima permintaan maaf Mas Damar. Dia menanggapinya dengan senyuman.
"Aku terima maafmu mas, semoga kamu yo iso bahagia sama jodohmu kelak."
"Kamu g' usah khawatir, aku bakal jagain Tania sepenuh hati sesuai tuntunan syariat.", sambung Mas Zaky.
"Makasih yo Tan, Zak.", kata Mas Damar dan mamanya.
"Alhamdulillah, jadi wes g' ono masalah lagi yo. Silahturrohim'e g' sampek berakhir jelek. Semoga Allah ngeberkahi kita semua dari kejadian iki.", kata Mas Zaky dengan senyuman.
"Aaaamiin", kami serempak mengaminkan.
Sekitar jam sembilan mereka pamit pulang. Aku yang tadinya merasa lelah dan ingin segera tidur kehilangan minat. Hanya duduk bersandar di kepala ranjang sambil membaca buku berjudul "wanita penghuni surga" hadiah dari Amara.
"G' jadi tidur'e?", tanya Mas Zaky saat masuk ke kamar.
Dia tadi bilang mau membereskan nota-nota yang masih berserakan di meja ruang kerjanya. Setelah beberapa menit di kamar mandi Mas Zaky lantas naik keranjang bergabung denganku. Membaringkan diri dan meletakkan kepalanya di pangkuanku. Sontak kedua alisku terangkat. Ini benar-benar membuatku terkejut karena dia tidak pernah seperti ini sebelumnya. Kami memang sudah beberapa kali berpelukan bahkan saat kami tidur tapi....ini...membuatku merasa berdebar. Kuperhatikan dia memejamkan matanya. Berbaring tenang tak bergerak, mungkinkah dia sudah tidur? Tanpa sadar tanganku terangkat menulusuri alis tebalnya dari sisi kanan ke kiri. Kenapa bulu matanya selentik ini? Lebih lentik dari punyaku, membuatku iri saja. Jariku menuruni tulang hidungnya, menelusuri garis rahanganya dan berakhir dengan membelai bibirnya. Sempurna. Hanya itu yang bisa kukatakan saat memandangi dirinya. Wajahnya, postur tubuhnya, terlebih sikapnya. Senyum mengembang di bibirku. Saat aku mengangkat tanganku Mas Zaky mencegahnya. Menahan tanganku di pipinya. Dan membuka matanya perlahan.
"Aku suka caramu menyentuh wajahku.", katanya dengan tersenyum.
Pipiku memerah malu. Ini bukan pertama kali aku menyentuh pipinya tapi debar jantungku tak mau memelan malah bertambah kencang. Bahkan aku tak bisa mengeluarkan sepatah kata pun untuk menanggapi kata-katanya. Memandang tepat ke mataku, Mas Zaky mulai mengurai kata.
"Tan, kamu tahu opo makna aku baca surat Al A'la sebagai mahar pendamping buat kamu? Al A'la iku artie 'Yang Paling Tinggi', ayat-ayat ndek surat iku menjabarkan Allah seng maha tinggi, seng maha tahu meski kita wes sembunyi-sembunyi, peringatan buat orang-orang mana seng mau bertaubat dan enggak, balasan bagi mereka dan kekalnya kehidupan akhirat. Dengan surat iki aku ingin bawa kamu ke islam. Dengan izin Allah ngerubah kamu jadi pribadi seng bener. Mengingat Allah ndek setiap tarikan napasmu. Ngelakuin perintah Allah atas kehendakmu sendiri. Masa lalumu emang salah, tapi aku mau jadi masa depan seng bener buat kamu. Aku menikahimu dengan niat seng tulus, sebagai imam seng iso mimpin kamu selamat dunia akhirat. Semoga kita iso bersama sampek ndek surga. Cuma kamu.", katanya tanpa memutus tatapan mata kami.
Aku tak merasa jika air mataku sudah menetes sampai jatuh kewajahnya, hingga Mas Zaky menyeka pipiku dengan jemarinya. Mendengarnya membuatku tahu bahwa dia selalu memikirkan diriku. Setelah sejenak dia berhenti, dia kembali melanjutkan.
"Kamu inget pertama kita ketemu? Ndek rumahmu sebelum aku ambil S2 ndek Kairo. Aku pikir abah bakal kenalin aku ke perempuan-perempuan seng sering tak lihat ndek pondok, kampus, forum. Perempuan berjubah dengan hijab, tak jarang lengkap karo cadar. Aku kaget pas liat kamu masuk dari pulang sekolah, pake' seragam putih abu-abu dengan rok selutut dan rambut kuncir kuda. Pikirku waktu iku adalah abah g' salah iki mau jodohin kamu sama aku? Bukan, bukan karena aku g' suka sama kamu tapi karena lingkungan kita g' sama. Waktu iku aku langsung suka sama kamu, opo lagi pas kamu tersenyum dan ketawa pas bercanda sama Yayan. Saking sukae aku kekamu aku sampe' bersyukur kamu cuek ke aku."
"Kok gitu?", tanyaku penasaran oleh kata-kata yang terdengar tak sinkron itu.
"Iyo, soale aku harus nahan diri biar g' keluar dari syariat. Biar aku g' sampe' maksiat. Dengan kamu cuek ke aku, aku jadi iso nahan diri ben g' ngedekati kamu dengan jalan seng dibenci Allah. Kamu tahu setiap kali aku inget wajah tersenyummu opo seng tak lakuin? Aku wudlu terus sholat sunnah dua rakaat atau aku ngaji baca alquran, biar ilang setan seng nyerupai kamu buat ngegoyahin hatiku. Saat ndek Kairo pun aku masih kayak gitu. Aku sampe' berusaha g' nanyain kamu sama sekali nang abah atau ummi. Sampe' akhire sebulan sebelum aku balik nang Indo, ayah kamu seng langsung telpon ke aku nanyain opo aku masih mau dijodohin sama kamu. Roso senenge aku pas iku ngebehi tesisku diterima tanpa penolakan, tapi aku tetep sholat istikharah lebih dari dua bulan sampe' aku mantap nerima perjodohan iki. Iku salah satu pertimbangan aku tetep mertahanin perjodohan iki meski tahu statusmu seng hamil karo Damar. Dengan niat baru buat bawa kamu dekat dengan Allah, kembali ke islam seng benar. Alhamdulillah sama Allah kita isek dikasih jodoh sampe' sekarang.", katanya berakhir dengan senyum yang lebar.
Aku menjernihkan tenggorokanku yang tercekat oleh tangis haru dengan semua kata-katanya sebelum akhirnya berhasil bersuara.
"Hhhh, dasar. G' cuma suka Tan, Tapi aku cinta sama kamu. Insha Allah cinta seng diridhoi sama Allah."
Hatiku membuncah mendengarnya. Aku menunggunya berkata seperti ini selama ini. Seperti berjuta kilogram beban terangkat dari hatiku. Aku tak bisa menahan kegembiraan ini. Aku benar-benar bahagia mendengarnya.
"Masya Allah mas.", hanya itu kata yang sanggup keluar dari mulutku.
Sedetik kemudian aku sudah membungkuk mencium bibirnya lembut. Menutup mataku menuangkan kerinduan yang selama ini kupendam. Ciuman lembut perlahan tanpa takut terburu oleh waktu. Lama bibir kami bertaut hingga akhirnya kami melepas dengan napas terengah. Ku jauhkan wajahku darinya dan menatap matanya lekat.
"Aku yo cinta sama kamu. Bener-bener cinta.", kataku dengan mata berkaca-kaca.
Aku kembali menunduk dan kami kembali berciuman. Saling menumpahkan rasa cinta yang tercurah. Semakin lama semakin dalam hingga tanpa sadar aku sudah terbaring di ranjang. Aku tahu ini mengarah kemana. Sudah tak ada yang perlu kutahan, aku sudah tahu perasaannya padaku dan akupun tahu selama ini dia telah sangat menahan diri. Kubiarkan dia menuntunku membaca sebuah doa, sebelum akhirnya untuk pertama kali kami melakukannya. Dengan mata yang saling menatap penuh cinta. Hubungan suami istri yang halal.
Kurasakan ciuman bertubi-tubi diwajahku, dengan enggan membuatku membuka mata.
"Assalamualaikum.", salamnya lembut saat mata kami bertemu.
"Waalaikumussalam. Kamu ngapain?", tanyaku dengan suara parau.
"Wes mau jam tiga, ayo mandi. Kita masih sempet sholat tahajud sebelum adzan subuh.", katanya sambil menarik tanganku dan mengangkat punggungku sehingga aku berada dalam posisi duduk.
Dengan reflek tanganku memegang selimut yang menutupi tubuhku agar tidak melorot. Mas Zaky terkekeh melihatnya. Dia sudah mengenakan celana meski masih bertelanjang dada. Pipiku memerah teringat apa yang baru kami lakukan. Tak bermaksud mengingat keburukan yang aku lakukan dulu tapi perasaan saat aku melakukannya dengannya melebihi semua perasaan yang pernah kurasakan dulu. Aku merasa menjadi orang yang baru.
"Keliatane aku bakal lebih sering liat pipimu seng memerah gitu kedepane.", godanya lalu menciumku di pipi. "Ayo.", ajakku sambil menuntunku ke kamar mandi.
Dengan selimut yang melilit tubuhku aku mengikutinya ke kamar mandi. Ini juga pertama kali kami mandi bersama. Berbagi kamar mandi. Sekarang aku merasa kami sudah benar-benar menjadi suami istri, berbagi semua. Handukpun kami berbagi. Hihi.
Setelah semua aktifitas, kami memutuskan untuk sarapan di luar. Jam di dashboard mobil menunjukan pukul tujuh kurang sepuluh. Mas Zaky juga mengatakan akan membawaku ke suatu tempat. Dia tak bilang akan kemana. Kami berhenti di penjual bubur ayam langganan kami untuk sarapan. Usai sarapan mobil langsur menyusuri jalanan kota malang yang sudah padat di jam segini. Butuh waktu lebih dari tiga puluh menit untuk kami sampai di salah satu rumah sakit ibu dan anak. Aku mengernyit bingung. Apa ada orang yang akan kami jenguk? Tapi Mas Zaky tak ada bercerita tentang saudara atau siapalah yang dirawat di RS, apa lagi ibu dan anak. Tanpa bertanya pada resepsionis Mas Zaky langsung menyusuri lorong-lorong RS.
"Mas ono seng mau kita jenguk yo? Sopo? Kita g' bawa oleh-oleh?", tanyaku penasaran.
"G', nanti kita seng bakal dapat oleh-oleh.", katanya sambil tersenyum menampilkan lesung pipitnya.
__ADS_1
"Kok?", aku tambah bingung.
Dia hanya diam dan terus berjalan tanpa menjelaskan lebih jauh. Sampai akhirnya kami tiba di depan sebuah kamar. Mas Zaky mengetuknya beberapa kali sebelum memegang handle pintu dan membukanya. Menampilkan sosok Amara yang menggendong seorang bayi.
"Surprise.", kata Amara dan Mas Zaky bersamaan.
Aku masih tidak mengerti apa yang terjadi. Kenapa Amara ada disini? Tapi memang saat aku pamitan tempo hari dia tidak ada di kamp. Siapa bayi yang dia gendong? Apa maksud kata surprise yang mereka ucapkan? Semua itu berputar di otakku.
"Tan kamu g' seneng?", Tanya Mas Zaky yang terlihat khawatir.
Aku masih mengernyit bingung. Belum mengerti dengan situasi ini.
"Ehmmm...iki ono opo sih? Kok kamu ndek sini Mar?", tanyaku pada akhirnya.
"Hadeeeeh, lemot banget seeeee. Aku ndek sini iku gara-gara nyiapin surprise'e Mas Zaky buat kamu. Kok reaksimh g' muasin gitu.", katanya sebal.
"Surprise opo se?"
"Mangkane kamu ojo diem ndek depan pintu gitu, sini masuk. Cek sendiri opo surprisemu.", sahut Amara.
"Ayo.", kata Mas Zaky sambil menggandeng tanganku masuk ke dalam ruangan yang menyerupai kamar bayi.
Dia baru melepas tanganku saat kami sudah berdiri tepat di depan Amara dan bayi yang digendong. Saat aku melihat sosok mungil digendongan Amarah ini memang benar-benar sebuah kejutan besar untukku.
"Akmal.", suaraku sebuah bisikan, karena tenggorokanku yang mendadak tercekat.
"Surprise.", kali ini Mas Zaky mengatakannya dengan berbisik lembut di telingaku.
Tak ada kata yang keluar dari mulutku. Aku hanya berbalik dan memeluknya erat sambil menangis. Tangis bahagia karena aku bisa melihat Akmal lagi.
"Kamu g' mau nggendong Akmal?", tanya Amara.
Aku melepas pelukan kami dan mengambil Akmal dari Amara. Kuciumi pipi lembutnya dan puncak kepalanya. Menghirup aroma khas bayi. Aroma segar dan wangi lembut. Air mata tak mau berhenti menetes.
"Jadi seng ngadopsi Akmal orang Malang? Mana orangtua asuhe? Kok cuma ono kamu ndek sini?", tanyaku bertubi-tubi.
Sebagai jawaban atas pertanyaanku Amarah menyerahkan amplop coklat besar yang tebal padaku yang mengharuskanku mengoper Akmal pada Mas Zaky. Setelah kubuka dan kubaca semua surat-surat itu tangisku semakin pecah. Rasa haru yang tak terbayangkan.
"Masya Allah, jadi Akmal wes sah jadi anak asuh kita?"
Mas Zaky mengangguk dengan senyum lebar. Rasa khawatir di wajahnya tadi hilang terganti dengan rasa kelegaan. Akhirnya mereka bercerita mulai dari pengajuan adopsi sampai Mas Zaky ke kota tempatku jadi relawan untuk mengurus proses pengapdosian. Amara bekerja sama dalam mengrahasiakan ini. Sampai bertepatan dengan aku mengalami kecelakan surat pengapdosian diterbitkan, Amara bersedia kembali ke Malang lebih dulu dengan membawa Akmal untuk pemeriksaan sebelum dia diserahkan pada kami sebagai orangtua asuhnya.
"Masya Allah, mas. Makasih banget. Aku bener-bener seneng. Aku bahagia banget.", kataku masih dengan tangis haru.
"Alhamdulillah kalo kamu seneng. Kita mulai dari awal, bareng sama-sama Akmal yo. Semoga kita jadi keluarga seng bahagia dunia dan akhirat. Aaamiin.", katanya sambil memelukku dari belakang dengan Akmal dalam gendonganku.
Aaamiin. Semoga Allah senantiasa memberi kebahagiaan dan lindungannya untuk keluarga kecil kami.
The End.
**Pengumuman
Sebagai author saya ucapkan banyak terima kasih atas dukungan dari para readers. Berhasilnya karya ini sampai akhir berkat semangat yang kalian berikan. Semoga ini cukup memuaskan. Saya masih awal dalam dunia penulisan. Belum bisa mencurahkan semua emosi yang ingin saya tuangkan dalam setiap karakter. Mohon maaf jika belum sesuai dengan ekspektasi kalian para readers. Mohon maaf jika banyak typo dalam setiap chapter. Mohon dukungannya untuk kedepannya.
Novel ini memang berakhir pada chapter 30 tapi saya akan membuat epilog dan beberapa chapter bonus sebagai pelengkap.
Terima kasih telah setia menanti setiap update yang menguras kesabaran😅🙏
Insha Allah ini cover untuk Next Novel
Mohon doanya agar lancar dalam penulisan dan bisa update teratur.
Wasalammualaikum
Penamerah😊**
__ADS_1