
Esok harinya setelah dari kota Batu aku mengalami demam hingga beberapa hari. Aku juga tidak bisa menghubungi Mas Dito untuk bertanya apakah dia sudah pergi ke tempat orang yang mengaku menemukan ponsel Mas Damar atau belom, karena ponselku tiba-tiba macet dan akhirnya mati. Sudah hampir seminggu sejak aku demam dan cuti sakit. Ada banyak pikiran yang membuatku tak tenang. Aku tahu ini tak baik untuk janinku. Tapi aku tak bisa mengesampingkan pikiran-pikran ini. Salah satunya adalah keputusan tentang Mas Zaky. Aku tidak boleh membuatnya menunggu lagi. Harus segera memberinya keputusan agar dia juga bisa melangkah maju. Awalnya aku ingin langsung menolaknya setelah masa ta'aruf usai, tapi jadi terlihat jelas kalau aku tidak pernah mencoba mempertimbangkan keberadaanya. Aku yakin itu akan menyakiti hatinya. Dan aku tidak mau melukai hati orang yang baik seperti Mas Zaky.
Belum waktunya makan siang dan aku sudah akan makan yang ketiga kalinya. Si dedek bayi mulai doyan makan nih. Aku melangkah menuju dapur. Tapi sebelum aku sampai, aku mendengar suara ayah dan ibuk di ruang santai. Hhmm jadi hari ini ayah libur. Aku mendengar namaku di sela-sela pembicaraan mereka. Berjalan mendekat, aku berniat untuk mendengarkan apa yang mereka bicarakan karena aku yakin ada kaitannya denganku.
"Piye iki? Tania kok g' kunjung kasih keputusan. Perute itu akan semakin gede. Mau di taruh ndek mana mukae ayah? Malu karo rekan-rekan bisnis ayah. Mareka pasti ngomongin keluarga kita.", suara ayah terdengar amat sangat putus asa.
"Sabar ya yah, kita yo g' bisa nekan Tania. Takute dia stres, terus berdampak ke bayie.", suara ibuk lebih tenang. Aku mengintip dari balik dinding. Rupanya ibuk sedang mengelus lembut punggung ayah. Terlihat jelas raut sedih dan putus asa dari wajah ayah.
"Kok bisa gini yo buk? Kita kurang apa ke Tania? Dari cilik sampe' gede cuma sekali kita g' nuruti dia, cuma perkara Damar. Dia balesnya kayak gini. Kok g' sekalian aja langsung bunuh ayah pake' pisau ato racun.", sambung ayah pilu. Mendengarnya membuatku sadar bahwa aku anak yang sangat amat jahat. Air mata tanpa terasa sudah mengalir dan meluncur mulus di pipiku.
"Huss yah, g' boleh ngomong gitu. Kalo ayah kayak gini sopo seng nguatno ibuk? Yang melindungi ibuk? Ayah harus kuat, harus sabar, demi anak kita, demi cucu kita. Bagaimanapun Tania anak kita, kudu kita dukung dan kawal molae sekarang."
"Tapi ayah malu buk, malu! Iki sama aja ayah wes gagal mendidik anak gadis. Kalo perute wes gede, orang-orang bakal tau dan menggunjing. Mencoreng nama keluarga kita. Kita turun-temurun itu keluarga baik-baik. G' pernah ono sedikitpun perbuatan memalukan. Yo baru Tania iki. Opo maneh lek kolega-kolega ayah sampek denger, ayah yakin akan berimbas ke usaha kita.", suara ayah kental sekali dengan kekecewaan.
Aku benar-benar sudah menyakiti mereka. Aku tahu ayah sangat marah padaku. Setelah dia tahu aku hamil, sebisa mungkin dia menghindari dan mengabaikanku. Tapi aku tahu dia masih peduli pada ku dan bayiku. Aku sering mendengar dia bertanya pada ibuk apa aku sudah makan? Apa kondisi ku dan bayiku sehat? dan masih banyak lagi. Tapi aku tidak tahu kalau ayah sedepresi ini menanggapi kehamilanku. Ya tuhan, apa yang harus aku lakukan? Aku benar-benar mencintai Mas Damar dan tak ingin menghianatinya. Di sisi lain jika pun aku menikah dengan Mas Zaky itu berarti sama saja aku melukainya karena tidak mencintainya.
"Sabar ya yah, kita hadapi ini bareng-bareng. Tania iku cuma punya kita, orang tuanya. Kalo kita juga berpaling darinya, terus dia mau kemana? Tak ada tempatnya bersandar selain kita, kalo Damar g' ngilang mungkin masih ada dia yang menjaganya. Tapi sekarang? Hanya ada kita yang dia punya yah. Kita harus saling menguatkan dan hadapi ini sama-sama.", suara ibuk sangat tenang dan tegas.
Aku sangat berterimakasih pada ibuk karena dia mau menerima keadaan ini dan mampu bersikap tenang. Ibuk juga yang selalu menyemangatiku ketika aku terpuruk oleh hilangnya Mas Damar. Dia yang memperhatikan makananku agar aku dan bayiku sehat. Jujur, mendengar pembicaraan mereka membuatku kembali ke titik awal dan mulai berpikir kembali atas keputusan yang akan aku ambil.
__ADS_1
Kulihat ibuk yang sedang memeluk ayah sambil membisikkan kata-kata yang menenangkan. Aku melangkah menjauh dalam diam. Rasa laparku menghilang digantikan rasa mual yang sangat parah. Aku segera berlari menuju kamar mandi. Semua yang kumakan sejak pagi keluar tak bersisa. Meninggalkan perasaan tak enak yang membuat kakiku lemas. Setelah kurasa ini sudah berakhir, mual itu kembali lagi. Kali ini tak ada lagi yang ku muntahkan selain lendir-lendir bening kekuningan yang pahit. Aku bersandar pada dinding sejenak dan melangkah ke arah kloset untuk duduk menenangkan perutku. Beberapa menit berlalu dan aku yakin ini benar-benar selesai. Aku mulai melangkah dan kembali ke kamar.
Sampai di kamar aku langsung merebahkan diri di ranjang. Menarik napas dalam dan hembuskan berkali-kali untuk menenangkan perutku yang masih sedikit mual. Perasaanku kacau balau. Keputusan apa yang harus aku ambil? Belum lama aku merenung, sebuah ketukan terdengar dari pintu kamar. Perlahan pintu terbuka dan menyusul sosok Lani yang melangkah masuk.
"Main yok. G' bosen opo diem di rumah teroozz.", katanya sambil ikut rebahan di sampingku.
"G' da minat Lan, mumet aku. Pikiranku semrawut.", jawabku enggan dengan mata terpejam.
"Napo maneh se? Soal Mas Damar maneh?"(apa lagi sih? soal Mas Damar lagi?).
Setelah mengambil napas dalam-dalam, akhirnya kuputuskan untuk berceritakan tentang obrolan ayah dan ibuk yang ku dengar tadi. Bagaimana dilemanya aku untuk mengambil keputusan yang tepat. Air mata mulai bercucuran membasahi wajahku. Aku merasa begitu tertekan. Aku benar-benar mencintai Mas Damar dan tidak ingin menghianatinya. Bagaimana jika aku menikah dengan Mas Zaky dan ternyata Mas Damar kembali? Aku tidak sanggup jika harus menyakitinya. Bahkan dia belum tahu kalau dia akan punya anak. Aku yakin itu akan membuatnya sangat sedih jika sampai anaknya memanggil orang lain ayah, bukan dia.
Tapi jika aku setuju dengan perjodohan ini, itu juga akan jadi pisau bermata dua bagi Mas Zaky. Mungkin akan banyak orang yang menghujuatnya karena menikahi gadis yang sedang hamil. Hamil anak dari pria lain pula. Aku juga belum tahu bagaimana perasaan Mas Zaky terhadapku. Apa alasan dia tetap mencoba menjalani perjodohan ini bahkan saat dia tahu aku sedang hamil anak pria lain.
Jujur, aku sudah lama memikirkan ini. Adakah motif yang dia sembunyikan di balik ini? Tapi dia terlihat tidak seperti itu. Tidak, memang tidak. Aku sangat yakin Mas Zaky dan keluarganya adalah orang-orang yang baik.
Kutumpahkan semua segala yang aku pikirkan yang membuat ku cemas, khawatir dilema dan tertekan. Ini sedikit membuatku lega. Mungkin ini yang aku butuhkan. Bicara dengan orang lain. Melihatnya mendengarkanku dengan seksama dan tidak menyela, membuatku merasa di perhatikan, dihargai. Aku tak ingat lagi kapan terakhir bercerita seperti ini kepada Lani. Kami terlalu larut dalam kesibukan kami masing-masing. Aku mengakhiri ceritaku dengan masih sesenggukan dan mata sembab. Kurasakan Lani melingkarkan tangannya disekeliling pundakku, memelukku lembut.
"Tenang yo Tan, yang sabar. Kamu kan ngerti lek kamu g' oleh tertekan kayak gini. Kasian bayimu lo.", katanya menenangkan.
__ADS_1
"Kamu mau denger pendapatku g'?", tanyanya lembut yang ku jawab dengan anggukkan.
"Gini lo Tan, masalah Mas Damar kita kan g' tahu opo seng terjadi. Mas Damar dimana? Masih idup opo wes mati? Bakal balik apa nggak? Iyo kalo Mas Damar emang kena musibah. Kalo dia emang sengojo lari dari kamu? Piye?", Lani mengangkat telapak tangannya menghentikan aku yang ingin menyela. Aku sedikit tidak terima dia punya pemikiran seperti itu tentang Mas Damar. Meski tidak menutup kemungkinan itu mungkin saja terjadi. Dia lantas melanjutkan opininya.
"Kita itu g' oleh hidup dengan mengandalkan yang tidak pasti. Kalo pilihanmu dengan nungguin Mas Damar ternyata salah piye? Aku yakin kamu bakal luwih depresi dari ini. Kamu bakal ngerasa menyesal banget sudah ngecewain ortumu, sudah menyakiti mereka. Belum lagi kamu bakal ngerasa menyesal karena nyia-nyian waktumu buat nungguin dia. Juga sudah nyia-nyian Mas Zaky yang baik banget ke kamu.", katanya dengan lembut namun tegas. Lani meraih tanganku dan menggenggamnya lembut.
"Ortumu iku bener Tan, perutmu g' bakal iso disembunyikan. Orang makin lama akan sadar. Mereka akan bergunjing tentang siapa ayahnya. Tentu ae ono sebagian orang yang akan ngomongno aibmu iki, bahkan sampek anakmu gede. Kamu bayangkan lah piye kalo nanti anakmu denger soal aibmu ini?."
"Terus Tan, kekhawatiran ayahmu soal bisnisnya juga wajar. Kalo bisnisnya tiba-tiba melemah piye? Mereka tentu khawatir g' iso tenang-tenang, santai-santai di masa tua'e.", Lani menghembuskan napas sangat dalam dan keras.
"Soal Mas Zaky aku g' tahu. Aku baru ketemu dia sekali. Seng jelas dia terlihat perhatian nang kamu. Dia juga baik dan ramah. Mana onok se Tan orang seng mau bantu nyari saingannya? Yang banyak iku bakal ngambil kesempatan dalam keadaan kamu kayak gini."
"Tan, kamu tahu kan aku bakal terus ndukung kamu. Opopun seng kamu putuskan, aku bakal ono ndek sampingmu. Tapi, kamu kudu pikir masak-masak, pikir bener-bener opo seng mau kamu putuskan. Jika kamu ambil keputusan A ono berapa yang bakal terluka, ono berapa yang bakal bahagia. Begitupun sebaliknya, jika kamu ambil keputusan B. Ingat Tan, kamu g' hidup sendiri, ono ortumu dan bakale ono anakmu juga.", kata Lani dengan kembali memelukku.
Ya tuhan, aku benar-benar bersukur punya sahabat seperti Lani. Dia selalu jadi pendengar yang baik. Dia tidak pernah menghakimi orang lain. Dia selalu bisa berpikir rasional di kala seperti ini. Setelah semua sesi curhat selesai. Kami turun untuk makan siang yang telat. Kami berbincang-bincang di teras samping sambil menikmati anggrek-anggrek ibuk yang sedang bermekaran sampai menjelang senja dan Lani berpamitan pulang.
Selama kami makan dan mengobrol tadi, aku sudah berpikir masak-masak apa keputusan yang akan aku ambil. Apapun yang akan terjadi nanti aku akan berusaha menjalanjnya dan aku janji tidak akan menyesalinya. Aku meraih gagang telepon dan mendial nomer yang belakangan ini sering kuhubungi. Tuuuts...tuuuts...tuuuts...panggilan tersambung di nada tunggu ketiga.
"Halo Mas Zaky, aku setuju menikah dengan mas.", kataku dengan mantap dan tanpa ragu.
__ADS_1