
Sudah pukul sebelas malam, itu artinya sudah tiga jam Mas Zaky pergi. Aku sangat khawatir karena dia pergi dalam keadaan marah. Kemana dia pergi? Apa yang dia lakukan? Apa dia baik-baik saja? Semua pertanyaan itu terus berputar di otakku. Aku bingung. Mau keluar mencarinya, tapi aku merasa was-was kalau keluar sendiri. Tapi diam seperti ini hanya membuatku terus gelisah. Badan rasanya remuk redam. Memar-memar itu terasa berdenyut meski tak terpegang. Ribuan kali aku menoleh ke arah pintu, berharap lekas terbuka menampilkan sosok Mas Zaky yang melangkah masuk. 'Ndek mana kamu mas?' batinku bertanya untuk kesejuta kalinya. Tak ada yang bisa aku lakukan. Untuk menghubungi seseorang pun aku tidak bisa. Aku tak tahu dimana ponsel dan dompetku berada. Mungkin Lani, Amara atau Mas Zaky yang menyimpannya saat aku pingsan tadi.
Kupandangi sisa-sisa makanan yang berserakan di meja. Dia masih sempat memesan makanan untukku tapi apakah dia sendiri sudah makan? Aku benar-benar tidak tenang. Lebih baik aku pergi mencarinya, mungkin saja dia hanya menenangkan diri di lobi hotel. Ku raih jaket milik Mas Zaky yang tergeletak di sandaran kursi dan mengenakannya. Sambil merapikan kuncir kudaku aku melangkah keluar dari kamar hotel.
Pertama kali yang kulakukan adalah memeriksa lobi hotel. Saat tak tampak satupun orang yang mirip Mas Zaky aku mencoba mencari di luar hotel. Udara terasa dingin ditambah gerimis dan deru angin, suasana sangat mencekam. Hanya terlihat beberapa orang di luar dan satu, dua kendaran yang lewat di jalan depan hotel. Jujur nyaliku untuk mencari Mas Zaky menciut setelah berada di luar saat ini. Aku merasa waspada dan gelisah. Apalagi saat kurasakan orang-orang itu sedang memerhatikanku. Kata-kata Mas Zaky tentang cerobohnya sikapku langsung terngiang di kepala. Saat ku dengar ada langkah lain selain langkah kakiku, aku memilih berputar balik. Kembali ke dalam. 'Pengecut kamu Tan, terus piye sama Mas Zaky?' teriak batinku. Aku memang pengecut tapi insting pertahananku mengatakan aku harus kembali kedalam hotel. Jam besar di lobi menunjukkan hampir pukul dua belas. 'Ya Allah mas', kamu ndek mana?' Sudah selarut ini tapi dia masih belum terlihat.
Suara dering telepon di meja resepsionis terdengar sangat nyaring di dalam sunyinya malam. Membuatku terkejut untuk sesaat namun segera memberiku ide. 'Kenopo g' kepikiran dari tadi sih?' sinis batinku. Aku melangkah mendekati meja resepsionis, menunggu sang empunya meja menyelesaikan sambungan teleponnya. Segera setelah dia memutuskan panggilan, aku langsung mengajukan permintaan padanya.
"Mbak, tolong teleponkan suamiku, kayaknya kunci kamarku jatuh. Soalnya reservasi hotel atas nama dia.", kataku buru-buru.
"Tentu ibu, atas nama bapak siapa?", tanyanya ramah khas resepsionis.
"Atas nama Zaky Ahmed Behzad."
"....... Iya ibu costumer dari kamar 47 ya. Dengan ibu siapa?"
"Aku Tania Wibisono.", jawabku tak sabar.
"Baik ibu, akan saya hubungi beliau."
Kulihat si resepsionist menekan tuts telepon dengan nomor yang dia lihat dari layar komputer. Setelah menunggu beberapa saat sepertinya sambungan terjawab.
"Halo selamat malam, dengan Bpk. Zaky Ahmed Behzad?"
"........."
"Iya Pak, saya Indah dari Hotel Hemolele. Begini pak, Ibu Tania istri bapak kehilangan kunci kamar. Beliau tidak bisa masuk. Saya tidak bisa memberikan kunci lain sebelum konfirmasi dulu dengan bapak karena reservasi atas nama bapak."
"........."
"Ibu sedang disini sekarang. Bapak ingin bicara dengannya?"
"........"
"Iya pak, baik. Akan saya sampaikan. Terima kasih dan selamat malam bapak.", tutup si resepsionis.
"Gimana mbak?", tanyaku langsung tanpa menunggunya.
"Iya ibu, bapak sedang dalam perjalanan kembali ke hotel. Ibu diharap menunggu disini.", jawab si resepsionis tanpa memudarkan senyumnya.
__ADS_1
"Ok mbak, terima kasih.", kataku sebelum menjauh menuju kursi paling dekat dengan resepsionis.
Setelah menunggu lebih dari lima belas menit kulihat Mas Zaky melangkah masuk dan berjalan mendekati meja resepsionis. Mereka terlihat terlibat percakapan sebelum si resepsionis menunjuk ke arah ku diikuti tatapan Mas Zaky. Si resepsionis menyerahkan sebuah kunci dengan bandul logo hotel ini, kunci yang sama yang ada pada saku jump suit yang aku kenakan. Saat Mas Zaky melangkah ke arahku bisa ku rasakan aura dingin dari dirinya. Tanpa melihat wajahnya pun aku langsung tahu kalau dia masih marah, atau lebih marah lagi dari sebelum dia pergi tadi?
"Ayo balik ke kamar.", ajaknya sambil meraih tanganku dan sedikit menariknya agar aku berdiri dan mengikutinya.
Anehnya genggaman tangannya tidak kasar, bahkan tidak terlalu kuat. Lembut namun mantap. Selama berjalan kami hanya diam, sama seperti tadi saat kami dari rumah sakit. Setelah di dalam kamar, baru Mas Zaky mulai berbicara.
"Kamu ngapain di luar? Dah larut, bahayakan. Mosok kejadian tadi siang g' kamu bikin pelajaran. Kalo tadi Damar masih iso nahan diri, kamu pikir orang-orang ndek luar sana seng g' kenal kamu bakal iso nahan diri? Kalo kamu g' iso jaga diri gimana kamu iso jaga amanah suami? Gegabah banget kamu iki.", cercanya panjang lebar.
Kata-katanya kali ini menyakitiku. Bagaimana bisa dia marah-marah tanpa kasih waktu aku untuk menjelaskan. Meski aku memang gegabah tapi cara bicaranya kasar sekali. Aku kan pergi untuk mencarinya yang keluar tanpa pamit meninggalkan aku sendiri.
"Kamu jahat banget se! Iso yo kamu ngomong gitu! Aku keluar buat nyariin kamu! Kamu seng pergi ninggalin aku sendiri ndek sini. Kamu pikir kalo aku ndek dalam kamar mesti aman? Kemungkinan terburuk pun iso kejadian. Kamu seng lepas tanggung jawab dengan ninggalin aku ndek sini! Aku bahkan g' pegang hp. Terus kalo ada opo-opo aku kudu piye? Kalo kamu ndek luar ada opo-opo piye? Mulai isya sampek sekarang kamu baru balik, iku pun karena aku seng minta resepsionis hubungi kamu. Kamu pikir aku g' khawatir sama kamu? Iyo aku emang gegabah!, tapi aku g' iso diem ae nunggu kamu balik tanpa ono kabar. Nih kunci kamar masih ndek aku. Aku cuma wes kehabisan akal mau cari kamu kemana.", balasku meluapkan emosi, dan ku ambil kunci dari dalam saku lalu ku lempar ke ranjang.
Untuk beberapa saat dia hanya menatapku. Butiran basah mulai mengancam akan jatuh, tapi aku tak mau jadi cengeng tiap kali beradu argumen dengannya. Jujur aku sangat lelah, badanku terasa remuk dah hatiku juga mulai retak. Setelah keheningan beberapa saat aku kembali bicara.
"Kamu pikir aku g' takut keluar larut gini sendirian? Diluar sepi dan gerimis. Beberapa pria mengawasiku bahkan mulai berjalan mendekat. Tapi aku g' iso diem ndek kamar, aku g' tenang. Aku khawatir sama kamu. Opo kamu baik-baik ae? Opo kamu wes makan? Opo kamu g' kedinginan? Kamu ninggalin jaket kamu ndek sini. Dengan nyariin kamu iso sedikit ngalihin kegelisahanku. Aku susah payah cariin kamu dengan kondisi badan kayak gini, tapi dari semua itu seng kamu liat cuma kegegabahanku.", kataku pelan dan lelah.
"Astaghfirullah Tan, aku g' maksud koyok gitu. Aku cuman khawatir.", katanya sambil meraihku ke dalam pelukannya tapi aku menepisnya.
"Aku capek mas, kepalaku sakit dan badanku pegel-pegel.", kataku sambil menghindar darinya dan berjalan menjauh menuju ranjang.
"Aku tahu kamu belom tidur. Maaf yo Tan, aku emang keterlaluan. Bagaimanapun keadaane haruse aku g' boleh ninggalin kamu sendirian. Apalagi kondisi kamu lagi g' sehat.", katanya sambil mencium rambutku.
"......", aku enggan menjawabnya.
Tapi aku harus menyelesaikan ini sekarang juga. Aku lelah jika terus seperti ini. Batinku lelah.
"Aku capek mas, lelah. Kamu tau kan meski awale aku g' ono perasaan ke kamu tapi aku sungguh-sungguh dengan pernikahan iki. Tapi kita sepertie sulit banget buat seneng, buat bahagia bersama. Setiap kita mulai deket pasti kejadian seperti ini. Kita ribut, kita berdebat! Sekarang, sama kayak pas kita ribut sebelum aku pendarahan, g' ono komunikasi dua arah. Tindakan kita hanya terlarut dengan asumsi kita masing-masing. Pada akhir'e kita malah saling meneriaki dan saling nyakitin. Jujur mas, hari ini aku paling ngerasa lelah, terutama hati aku. Rasanya seperti badai basar sedang melanda hatiku. Dari kejadian sama Mas Damar sampai sekarang ribut sama kamu. Maaf mas kalo asumsiku salah, tapi yang aku perhatiin kamu selalu lari tiap kali kita ono ndek situasi seperti ini. Kayak dulu pas kamu datang kerumah terus aku ribut sama ayah lan ibuk soal kehamilanku, kamu yo tiba-tiba pergi. Terus pas kemaren Mas Damar ke rumah kamu yo tiba-tiba ninggalin aku cuma sama dia ditengah pembicaraan, tadi yo gitu. Itu bukan cara orang dewasa nyelesein masalah mas. Aku, selalu aku yang nyari kamu duluan. Aku bener-bener butuh istirahat. Bukan seperti saat ini yang ingin aku dapat saat aku mutusin pergi kesini.", kataku panjang lebar tanpa berbalik menghadapnya.
"Tania, mungkin kamu bosen denger kata maaf dariku. Tapi aku bener-bener tulus minta maaf Tan. Kamu bener, kita memang harus lebih saling mendengarkan. Saling bicara. Aku pergi bukan karena lari dari masalah Tan, tapi aku butuh sendiri untuk ngeredam emosi aku. Sama koyok pas aku datang buat nglamar kamu. Waktu iku aku pergi untuk ambil wudlu terus sholat dua rakaat karena aku terlalu emosi, aku harus ngeredam emosi aku biar bisa ngambil keputusan seng tepat. Begitupun saat Damar datang. Aku yo wudlu terus sholat dua rakaat buat ngeredam emosi aku. Dan malam tadi aku butuh dari cuma sholat dua rakaat. Aku tadi bener-bener kaget dan khawatir sama keadaanmu, terus aku marah karena kamu ngajak ngomong Damar tanpa berpikir tentang keselamatanmu, dan jadi makin marah sama opo seng Damar lakuin ke kamu. Aku bener-bener mau meledak. Aku takut kalo terus berdebat ndek sini sama kamu, aku bakal kelewatan dan nyakitin kamu. Makane aku pergi.", jelasnya lembut.
Setelah berhenti sejenak dan menghela napas panjang Mas Zaky melanjutkan kata-katanya.
"Aku tadi pergi ke masjid dekat sini. Aku wudlu dan sholat dua rakaat, tapi emosiku masih meluap-luap. Jadi aku pake buat ngaji biar hati aku adem dan tenang. Cukup lama, mungkin sekitar satu jam aku baru merasa tenang dan iso berpikir jernih. Terus aku pergi ngurus urusanku disini biar cepet kelar dan kita iso cepet pulang.", katanya lagi.
Perlahan dia membalik tubuhku agar menghadap padanya. Kali ini aku tak menolak. Aku merasa tak punya cukup tenaga untuk melawan. Saat tatapan kami bertemu, tampak jelas raut lelah dari wajahnya. Semua amarah hilang, yang terlihat hanya kesedihan dan penyesalan. Aku tak mau hubungan kami yang seperti ini. Saling marah, saling berteriak, saling tersakiti. Aku ingin kami menjadi keluarga yang bahagia.
"Maafin aku yo? Aku bakal terus perbaiki sikap-sikap buruk aku ke kamu. Semoga iki terakhir kali kita ribut koyok gini. Dan bukan cuma kamu seng berjuang ndek sini, aku juga berjuang. Aku sampek nyusul kamu kesini karena aku yo lagi berjuang. Jadi molae sekarang kita berjuange barengan, g' usah sendiri-sendiri. Kita bangun keluarga kita dari awal menjadi keluarga seng sakinah, mawadah, wa rohmah. Keluarga seng bahagia. Ok?", katanya lembut dan tulus.
__ADS_1
Aku benar-benar berharap akan semudah yang dia katakan. Aku ingin percaya bahwa kami bisa bahagia. Tatapan mata hitamnya yang tajam sekaligus lembut menghipnotisku, membuatku meyakini semua kata-katanya. Ku hela napas panjang sebelum akhirnya aku mengangguk mengiyakan.
"Kamu janji yo kalo kita sampek ribut lagi, kamu g' boleh pergi. Kamu mesti ngomong dan nyelesein masalahnya sama aku. Janji?", tuntutku.
"Insha Allah. Aku g' bakal pergi tanpa pamit dulu ke kamu.", janjinya.
Kupandang dia sejenak sebelum merangsek ke pelukannya. Menghirup arama tubuhnya yang kurasa seperti rumah bagiku. Hanya dalam beberapa bulan dan perasaanku berkembang tak terbendung padanya. Tahukah dia bahwa kini aku terjatuh pada pesonanya? pada sikapnya? pada sifatnya? Inikah waktu yang tepat untuk aku mengatakan perasaanku padanya? Aku yang terlarut dalam pikiranku tersentak oleh pertanyaannya.
"Kamu wes tidur? Cepet banget? Perasaan bare nempel kok wes tidur?", tanyanya.
"Ng..ngak kok. Kenapa mas?"
"Sekarang piye kepala kamu? Badan kamu pasti pegel-pegel yo?", tanyanya lembut.
"Agak cenut-cenut se tapi isek iso ditahan. Tapi badanku sakit semua, koyok'e bakal sulit tidur deh.", jawabku setengah manja.
"Hahaha..haruse kamu iku manja-manja gini ke suami, g' malah ngambek terus.", katanya riang sambil mencubit hidungku.
"Aaaww sakit tau mas! Lagian kalo aku lagi mau manja-manja kamu'e malah ngejauh. Bukan salahku kalo ngambek."
"Iyo-iyo, aku g' bakal ngejauhin lagi istri cantik, imut, baik, sempurna kayak kamu.", responnya, kali ini dengan mencium ujung hidungku yang tadi dicubitnya.
Aku selalau menikmati saat dia bersikap manis sepergi ini padaku.
"Yowes, tidur yuk mas. Aku capek pake' banget.", ajakku.
"Nanggung Tan, bentar lagi subuh. Kita nunggu subuh dulu sekalian sholat. Abis iku baru kita tidur. Ok?"
Aku mengangguk sebagai jawaban. Sekarang aku sedang menimang-nimang apa sebaiknya aku ungkapkan perasaanku sekarang atau tidak. Sejenak aku yakin ingin melakukannya, tapi kemudian aku ragu karena aku tak tahu bagaimana sebenarnya perasaannya padaku. Dari semua perhatian dan perlakuannya padaku, tentu saja membuatku berarap. Huuff. Lebih cepat lebih baik. Yap, akan aku katakan!
"Mas, aku...mau ngomong sesuatu. Em...aku..."
"Kenapa? Kok ragu gitu? Ono seng salah? Ayo ngomong wae.", potongnya yang melihatku tergagap.
"Em...aku...mulai suka sama kamu. Aku jadi kangen kamu terus kalo g' liat kamu. Aku...mulai cinta sama kamu.", akhirnya kukatakan juga meski dengan degup jantung yang seakan akan pecah dan wajah yang panas memerah.
"Aku tahu kok.", jawabnya dengan senyum manis mematikannya. "Tuh, wes adzan. Yok sholat disek.", lanjutnya menarikku lembut bangun dari ranjang.
Aku mengikutinya sambil terus menatapnya. Berharap reaksi dan tanggapan lebih dari itu. Tapi sampai selesai sholat dan kami mulai berbaring lagi, dia tak mengatakan apapun yang menyangkut pernyataan cintaku. Itu membuatku bingung dan kecewa. Dan pada pukul enam pagi mataku baru menutup menjemput mimpi."
__ADS_1