Jodoh yang KAU kirim

Jodoh yang KAU kirim
Chapter 4 Mas Yayan


__ADS_3

Aku terbangun oleh kicau burung di luar cendela. Kulirik jam dinding kamar masih diangka setengah enam pagi. Kemarin aku mengajukan izin sakit ke kepala perawat. Mungkin besok aku baru masuk kerja lagi. Enggan rasanya untuk bangun dari ranjang, sekujur tubuhku seakan menjerit saat ku gerakkan. Sudah dua minggu sejak Mas Damar menghilang. Sudah terkuras seluruh air mata ku. Malam-malam meratap dalam tangisan pilu sudah kulalui sepuluh hari kebelakang. Lani selalu disisiku setiap dia ada kesempatan.


Kupaksa tubuh ini untuk bangun dan memulai rutinitas pagi, mandi, ganti baju, sarapan. Semua berjalan lancar semata-mata karena terbiasa. Tidak ada fokus dalam pandangan pantulanku dicermin. Bak mayat hidup dengan kulit dan bibir pucat serta mata yang menghitam. Aku harus bertahan. Aku harus kuat. Demi anak dalam perutku. Itu yang selalu aku katakan pada diriku sendiri. Hanya karena mengingat ada nyawa lain dalam tubuh ini, itu yang membuatku masih bisa menelan barang sesuap dua suap makanan.


Tok..tok..tok..


Terdengar ketukan di pintu kamar. Dan tak berselang lama pintu sedikit terbuka menampakan gadis cantik berambut coklat sepinggang.


"Tan..wes tangi? Ayas budal disek yo. Lek ono opo-opo langsung telepon. Ojok aneh-aneh. Ileng ono bayi neng wetengmu. Mengko aku telpon."(Tan..sudah bangun? Aku berangkat dulu ya. Kalau ada apa-apa langsung telepon. Jangan aneh-aneh. Ingat ada bayi dalam perutmu.), ucap Lani berdiri di pintu.


Kulirik dia sebentar, "Tenang wae, Aku sek waras kok."(tenang saja pikiranku masih sehat kok), jawabku datar. Dari sudut mataku terlihat Lani menghela napas dan berlalu pergi namun dia membiarkan pintu terbuka. Dasar menyebalkan. Itu artinya dia menyuruhku tetap bergerak walau hanya untuk menutup pintu kamarku. Paling tidak masih ada Lani di sampingku.


Belum sempat kakiku melangkah ke pintu. Terlihat ibu kos yang menuju kearah sini. Aku benar-benar ingin sendiri. Tapi sepertinya tidak bisa untuk beberapa waktu ke depan.

__ADS_1


"Sakit opo Tan? pucet banget mukamu.", Tanya ibu kos sambil duduk di sofa kamarku.


"Biasa bu', cuman capek sama kena flu." tapi sepertinya beliau tidak puas dengan jawaban-ku. Apa beliau curiga? Karena mulai beberapa hari yang lalu gejala morning sickness sudah mulai muncul padaku.


"Udah periksa kamu?, lek dorong mau tak anterin?", tawar beliau sambil terus menatapku.


"Ndak usah bu', klo sampek siang gak enakan, mangke kulo prikso.", sanggahku. Kepalaku mulai berputar. Perutku mulai bergejolak. Aku berharap ibu kos mulai berlalu. Aku tidak mau beliau melihat ku berlari ke kamar mandi. Dan syukurlah beliau beranjak dari sofa dan me-langkah ke arah pintu.


"Yowes kamu istirahat ja yo.", katanya sambil menutup pintu. Segera ku percepat langkahku ke kamar mandi, tidak perlu menunggu untuk mengeluarkan cairan pahit bening kekuni-ngan dari perutku. Tak ada lagi yang keluar karena aku belum mengisi perutku. Setelah kurasa sedikit membaik aku kembali ke kamar. Ku raih botol berisi air mineral dan meneguknya sampai tinggal setengah.


Di halaman depan baru saja tiba mobil sedan hitam mengkilap,, terlihat elegan dan mahal. Tak perlu ditanya siapa gerangan pengemudi di dalamnya, karena sang empunya mobil se-karang mulai jalan menghampiriku. Sosok tinggi berambut sebahu sedikit ikal berwarna hitam pekat, kulit putih bersih badan tegap dan sedikit berisi, bukan gendut tapi sedikit kekar. Dan yang selalu membuatku iri saat melihatnya adalah hidungnya lebih mancung dariku. Januar Wibisono, biasa dipanggil Yayan, kakakku, sedang mengayunkan langkah lebarnya ke arah ku. Kenapa mesti hari ini sih dia kemari. mukaku mulai tertekuk seiring bertambah lebarnya seringainya. "Arep nande kowe?"(mau kemana kamu?), katanya sesampainya depan ku sambil menoyor main-main kepalaku. Belum sempat ku menjawab dia kembali membuka mulutnya. "Jare gereng kok arep metu?"(katanya sakit kok mau kelu-ar).


"Bosen neng kamar, pean arep napo kok mrene?"( Bosan di kamar, kamu mau apa kesini?), jawabku sedikit sewot.

__ADS_1


Sambil mengayunkan tangannya ke pundakku dia berkata, "yaelaaah...mosok mbesuk adek'e dewe gak oleh, nang mas'e gak oleh sewot ngono lah."(yaelaaah...masak menjenguk adik sendiri tidak boleh, ke abang tidak boleh sewot gitu lah).


"Yowes lah, mumpung pean neng kene anterin aku gelem?"(ya sudahlah, mumpung kamu disini mau tidak mengantar ku?), ajakku. Lumayan irit ongkos transpot.


"Arep nandi toh?, aku free se dino iki. Tapi mampir neng floris'e ibu' disek yo. Kowe kan yo suwe ra nengok ibu'."(mau kemana sih?, aku bebas sih hari ini. Tapi mampir ke floristnya ibu dulu ya. Kamu kan juga sudah lama tidak mengunjungi ibu),


Memang sudah hampir sebulan aku tidak pulang kerumah atau sekedar mampir ke floris milik ibuku. Pasti kalian berpikir aku adalah anak rantau di kota ini maka dari itu aku kos. Tapi bukan. Aku asli AREMA(arek malang), kelahiran malang dua puluh tiga tahun yang lalu. Rumahku juga berada di Malang kota bahkan kalau lalu lintas cukup lancar tidak sampai tiga puluh menit jarak antara rumah dengan tempat kos. Terus kenapa aku kos? mungkin itu pertanyaan kalian. Karena aku sering ribut dengan ayah dan ibu di rumah, tentu saja pemicunya adalah tentang hubunganku dengan Mas Damar.


Mereka tidak suka aku berpacaran dengan Mas Damar. Mereka bilang aku sudah dijo-dohkan dengan anak dari teman kuliah ayah. Karena merasa lelah dengan keributan-keributan itu, aku memilih untuk kos saja. Lamunanku buyar saat Mas Yayan menggun-cang lembut bahuku. "Kok malah nglamun, yok ah selak awan. Arep nandi iki rencanae?" (kok malah melamun, yuk ah keburu siang. Mau kemana nih rencananya?).


Ku pegang tangannya sebelum dia menggi-ringku masuk ke mobil. "Mas, ke ibu'e meng-ko wae yo. Mengko molehe wae awak'e dewe langsung wangsul nang omah."(mas, ke ibu-nya nanti saja ya. Nanti pulangnya saja kita langsung pulang kerumah).


Dalam mobil aku memberi tahu kemana tuju-anku. Saat Mas Yayan menanyakan alasanku kenapa tiba-tiba ingin ke pantai dan kenapa aku tidak pergi dengan Mas Damar. Aku hanya menjawab dengan singkat dan samar. Belum saatnya aku bercerita pada Mas Yayan perihal Mas Damar. Mas Yayan sebenarnya adalah tipe pendengar yang baik, hanya saja hari ini aku ingin rehat sejenak dari segala macam tentang Mas Damar. Aku merasa lelah.

__ADS_1


"Mas, tak tinggal turu yo, pean lek nyeter seng ati-ati ae."(mas, aku tinggal tidur ya, kamu kalau mengemudi hati-hati ya), ku akhiri percakapan dengan mata tertutup.


__ADS_2