
Point of View Zaky
Aku tak mengira hari ini akan datang. Hari dimana aku akan bertemu dengannya lagi setelah hampir enam tahun. Saking tidak sabarnya aku harus berwudlu dan sholat sunah dua rakaat beberapa kali untuk meredam emosiku yang terlalu senang dan tidak sabar. Masih belasan jam lagi waktu berkunjung ke rumahnya tapi aku sudah tidak sabar. Jantungku terus berdetak kencang. Masih teringat jelas saat Om Gunawan tiba-tiba saja menghubungiku empat bulan yang lalu. Hari itu beliau menanyakan perihal perjodohanku dan Tania yang pernah abah dan Om Gunawan bicarakan dulu sebelum aku ke Kairo. Tentu saja hal itu sontak membuatku terkejut namun ada rasa senang yang merambat keluar dari dasar hatiku. Aku ingin tahu seperti apa dia sekarang? Apa gaya rambutnya masih sama seperti dulu? Apa senyumannya masih manis seperti dulu? Apa tawanya masih indah seperti dulu? Bagaimana dengan rupanya, masihkah sama atau lebih cantik dari yang dulu?
Astaghfirullah, apa yang sedang aku pikirkan. Lebih baik aku keluar, jalan-jalan atau sekadar mengalihkan perhatian. Ah, aku ingat ada seorang teman yang baru-baru ini menyuruhku mengunjunginya, lebih baik aku kesana saja sambil menghabiskan waktu. Kuraih ponsel di atas nakas dan mulai mendial nomor sang teman.
"Halo assalammualaikum ikhwan. Gimana sekarang ono waktu? Aku mau main kesitu.", kataku begitu panggilan tersambung.
"........"
"Ah, iyo..iyo..,siiiip. Siap jam makan siang aku kesitu. Yowes ya. Wasalamualaikum", tutupku.
Aku melihat arloji di tanganku, masih tiga jam sebelum jam makan siang tiba. Sebaiknya aku ke konveksi saja, memantau kinerja para pegawai dan memeriksa bahan baku yang datang pagi ini. Aku sedikit khawatir dengan bahan yang baru datang karena ini kali pertama aku mengambil bahan dari pabrik yang berbeda dari sebelumnya. Karena setiap pabrik memiliki standart yang berbeda. Yah meski tidak ramai pelanggan tapi aku bersyukur karena konveksi kami tidak pernah berhenti beroperasi sehari pun kecuali hari minggu, sejak kubuka tiga bulan yang lalu. Ada saja pesanan meski hanya skala kecil. Dan belakangan konveksi kami sedikit lebih sibuk dari dua bulan sebelumnya. Sepertinya pelanggan mulai mengenal konveksi kami. Alhamdulillah, Allah telah melancarkan dan memudahkan usaha yang mulai kurintis ini.
Aku melangkah ke teras belakang dimana ummi dan Hafizah sedang bercengkrama untuk berpamitan kepada mereka. Saat sudah dekat aku bisa mendengar apa yang sedang mereka bicarakan.
"Kamu yakin iso tinggal jauh dari ummi? Jajan ndek luar ae kamu sakit perut, opo maneh kamu g' iso masak. Terus piye kalo kamu jauh dari ummi?", suara ummi terdengar cemas.
"Lagi ngomongno opo toh?", tanyaku saat sampai di depan mereka.
"Iki si Hafizah bilang mau ngambil S2 ndek luar. Anak manja kayak gini emang iso?", jawab ummi.
"Yeee, ummi. Aku kan wes pernah mondok enam tahun ndek pesantren. Ummi juga g' nunggguin ndek pondokkan. Berarti aku iso hidup mandiri.", rajuk Hafizah.
"Heh bocah. Lha ndek pondok kamu makan ikut pondok, wes disiapin. Kalo kamu studi ndek luar kamu harus lakuin semua sendiri. Mana iso kamu telpon minta dianter ini dikirim itu koyok ndek pondok. Bukane kita g' dukung tapi kamu pikir dulu baik-baik. Segala macam pertimbangan. Ntar kita omongin lagi lebih serius sama abah juga, yo?", kataku sambil mengusap kepalanya.
"Iyo..iyo.", jawabnya dengan cemberut.
"Dasar bocah, isoe cuman ngambek.", godaku dengan menarik-narik hijab yang dikenakannya.
"Kamu mau kemana kok wes rapi gini?", tanya ummi padaku.
"Mau ke konveksi ummi, mau cek barang baru seng datang pagi iki. Sekalian ntar makan siang mau ketemu temen. Wes lama g' ketemu soale."
"Yowes kamu ati-ati. Ojo pulang sore-sore biar kamu iso istirahat sebelum kita bertamu ke rumah Tania nanti malam.", kata ummi mengingatkan.
"Nggeh ummi. Kalo gitu Zaky pergi disek nggeh.", pamitku sambil mencium punggung tangannya.
"Aku ikut ke konveksi mas. Bosen ndek rumah terus. Fizah ikut Mas Zaky nggeh mi?"
"Yowes sono ikut, tapi ojo ganggu masmu lo yo.", ijin ummi.
"Siaaaap mam.", jawab Hafizah sambil memberi hormat dengan tangannya.
Ummi hanya menggeleng melihat tingkahnya.
"Assalammualaikum ummi, kita pergi dulu. Kalo perlu opo-opo segera hubungi Zaky nggeh mi.", kataku sebelum pergi ke arah pintu depan.
Banyak yang kami bahas saat dalam perjalanan. Terutama tentang keinginannya untuk mengambil studi S2 di luar negeri. Apa yang membuatnya ingin pergi, jurusan apa yang ingin dia ambil, negeri mana dia ingin menempuh studi, dan masih banyak lagi. Kami terus bicara tentang itu sampai akhirnya Hafizah tiba-tiba bertanya tentang hal yang tidak ada hubungan dengan rencana studinya.
__ADS_1
"Mas Zaky yakin mau nikah sama si Tania iki?", tanyanya tiba-tiba.
"Kalo soal nikah belom tau lah, kan belom ketemu.", jawabku santai.
"Tapi kan abah ma ummi mau jodohin mas karo si Tania iki.", katanya lagi.
"Ya kan belom tentu dia'e mau nikah ma mas."
"Mas mau nikah sama dia? Mau nerimo perjodohan iki?", kali ini nada Hafizah sedikit menaik.
"Mas se g' ono masalah. Lagian emang mas wes tertarik sama dia dari dudu se.", aku masih menjawab dengan santai.
"Tapi kan dia iso ae g' sama kayak dulu. Emang mas wes liat fotoe?"
"Belom. Om Gunawan wes nawari mau kirim foto Tania se, tapi aku g' mau. Takut jadi maksiat ndek hati. Lagian ntar malem yo wes ketemu."
"Maaaas, dia kan g' cocok karo mas.", rengeknya.
"Kamu iki kenapa se? Lagian belom tau juga, kok kamu wes iso bilang kalo kami g' cocok.", tanggapanku akan sikapnya.
"G' perlu liat yo wes tau kalo g' cocok. Jelas banget kalian g' sama. Mas kan pinter, religius, masak sama orang seng penampilane kayak gitu. G' pake' hijab. Bajue pendek-pendek. G' nutup aurat! Jelas banget kalo dia g' ngerti agama! Aku g' mau Mas Zaky nikah sama cewek kayak gitu!", ujar Hafizah menggebu-gebu.
"Astagfirullahaladzim. Istighfar kamu Zah! Sekarang kamu seng keliatan g' ngerti agama. Kamu cuma manusia, g' punya hak buat menilai manusia lain. Hak itu cuma milik Allah! Istighfar kamu! Opo selama iki abah dan ummi ngajarin kita gampang nilai orang koyok gitu? Iku seng selama iki kamu pelajari ndek pondok? Agama kamu buat alasan buat ngejelek-jelekin orang lain seng bahkan kamu g' kenal. G' malu kamu sama Allah?!", aku jengah dengan kata-katanya yang mudah menilai orang hanya karena penampilannya.
"Astaghfirullahalazdim, aku g' ono maksud koyok gitu ya Allah. Maaf mas."
Setelah argumen itu kami melanjutkan perjalanan dalam diam. Begitupun saat di tempat konveksi, hanya berbicara saat ada yang harus kami diskusikan. Karena memang dari awal aku mengajak Hafizah untuk membantuku membuka usaha ini. Hampir jam makan siang kami berpisah. Hafizah masih ada yang perlu diurus di tempat konveksi dan aku harus bertemu teman yang tadi pagi kuhubungi. Namun saat dalam perjalanan ada klien yang menghubungi dan minta bertemu sambil makan siang. Aku menghubungi temanku dan kami sepakat untuk mengundur pertemuan menjadi jam dua ditempat kerjanya.
"Kamu g' po-po kan?", tanyaku dengan senyum manis padanya.
Aku penasaran, apa dia juga mengingatku? Dia hanya diam menatapku, seperti menembus langsung ke dalam diriku. beberapa detik berikutnya dia seperti tersadar dan tergagap menjawab pertanyaanku.
"Ah...iya, gak po-po kok.", jawabnya dengan tertunduk malu.
Entah apa yang tadi dia pikirkan, tapi jelas dia malu karena itu. Sangat menggemaskan. Saat aku ingin menyapanya dia kembali bicara.
"Oh, wah maaf aku buru-buru soale. Piye iki, parsel kamu jadi rusak gini. Aku ganti ya.", katanya menyesal.
Semua ekspresi yang dia tampilkan selalu membuatku terpana. Tak terkecuali raut cemasnya, itu sangat manis.
"Ekhem", dehamannya membangunkanku dari keterpanaan akan dirinya.
"Oh iya..iya, gak po-po gak usah ganti, lain kali wae aku minta ganti rugie.", kataku spontan masih dengan tersenyum.
Aku melihatnya mengernyitkan dahi. Raut wajahnya terlihat cemas. Sepertinya dia tidak mengenaliku. Mungkin karena memang sudah sangat lama kami idak bertemu, apa karena banyak perubahan padaku? Atau yang lebih pasti karena dia tidak punya alasan untuk mengingat tentangku?
"Oh matur suwun kalau gitu, dan maaf nggeh mas, aku permisi udah ada yang nunggu soalnya.", ujarnya kemudian dan langsung beranjak pergi sebelum aku sempat menjawabnya.
Aku terus menatap punggungnya sampai dia tak terlihat lagi dari pandanganku. Astaghfirullahaladzim. Aku benar-benar lalai dalam menjaga mata, tangan dan hati kali ini. Tapi jika tangan ini tak memeluknya tadi, dia sudah pasti akan jatuh terjerembab. Aku sedikit kecewa mengetahui dia tidak mengingatku. Namun aku tidak menyalahkannya, karena memang kami bertemu cuma sekali sebelum aku pergi ke Kairo enam tahun lalu. Aku memunguti buah-buah yang berserakan di kakiku dan menaruhnya di keranjang rotan yang sudah penyok di salah satu sisinya. Tidak mungkin lagi buah ini kubawa sebagai buah tangan untuk Adam. Maka aku berjalan ke meja resepsionis dan memberikan buah ini untuk mereka. Toh buahnya tidak rusak, hanya keranjangnya saja yang penyok dan plastik pembungkusnya yang koyak. Aku melanjutkan berjalan ke ruangan Adam. Kami hanya beretemu tak lebih dari lima belas menit karena dia masih dalam jam tugas sebagai dokter. Aku langsung kembali ke rumah sepulangnya dari rumah sakit.
__ADS_1
Setelah sholat maghrib aku, abah dan ummi berangkat menuju kediaman Wibisono. Kami ada janji makan malam sekaligus membicarakan perjodohanku dengan Tania. Jantungku berdetak semakin lama semakin cepat seiring memendeknya jarak yang kami tempuh. Tepat saat roda mobil kami berhenti napasku ikut tersendat. 'Dia mau g' yo dijodohin sama aku?' batinku terus mengulang pertanyaan itu sepanjang perjalan kesini. Langkahku terasa berat untuk berjalan menuju pintu rumah ini. Aku berhenti sejenak dan mengambil napas panjang sebelum akhirnya mengucap basmalah dalam hati. 'Bismillahirrohmanirrohiim' dan kami mengucap salam kepada sang pemilik rumah.
"Assalamualaikum."
"Waalaikumussalam.", terdengar jawaban dari dalam yang diikuti hadirnya sosok Om Gunawan juga Yayan. "Wah monggo-monggo silahkan masuk.", sambut Om Gunawan dengan sumringah.
Setelah berbasa-basi kami masuk mengikuti Om Gunawan yang berjalan disisi abah, dan Yayan berjalan disampingku dengan senyum jahilnya.
"Halah...., kemaren-kemaren sok jual mahal tiap kali aku bahas Tania di telpon, WA, massenger. Saiki kesini karo tampang gugup gitu.", godanya.
"Aku g' jual mahal Yan, cuma jaga pikiran ae biar tetep jernih. G' kayak pikiranmu seng buthek. Haha...", timpalku.
"Sialan.", sewotnya.
Kami melanjutkan perbincangan ringan di teras samping rumah ini. Tempatnya nyaman dan elok di pandang. Bangak bunga-bunga anggrek yang bermekaran. Aku tak mengerti tentang bunga ini tapi aku tahu bunga-bunga ini berbeda jenis. Sekitar lima belas menit kami bercengkrama, Om Gunawan mempersilahkan kami untuk pindah ke ruang tengah dimana meja makan berada dan bebagai makanan tersaji diatasnya. Kursi meja makan masih kosong saat kami tiba. Aku belum melihat sosok Tania sejak masuk ke rumah ini. Akankah dia bergabung bersama kami untuk makan malam ini? Sesaat setelah pikiran itu terlintas, masuklah sosok Tania didampingi sang ibu. Kulihat dia mengedarkan pandangannya. Saat tatapan kami bertemu dia terlihat terkejut. Aku menyunggingkan senyum menyapanya.
"Hai.", sapaku.
"Kamu?", katanya bersamaan dengan sapaanku.
"Assalamualaikum.", salamku.
Dia akhirnya duduk disatu-satunya kursi yang masih kosong, yaitu tepat diseberangku. Kami makan sambil bercengkrama. Makanannya sangat enak, aku penasaran adakah salah satu dari makanan ini yang dibuat oleh Tania? Setelah hampir semua makanan tandas dan kami mengakhiri makan malamnya dan berpindah kembali ke teras samping. Tania dan ibunya menyajikan kue-kue dan teh hangat untuk kami semua. Obrolan mengalir dengan lancarnya, Sampai akhirnya Om Gunawan meminta perhatian kami.
"Ekhem... Karena waktu wes tambah malam, aku mau ngumumno sesuatu seng wes disepakati oleh kedua keluarga.", kata beliau penuh wibawa. "Tania, ayah akan nikahin kamu dengan Zaky. Kalian berdua sudah ayah jodohkan tujuh tahun yang lalu sebelum dia berangkat ke Mesir.", sambung beliau.
Reaksi yang ditunjukkan Tania membuatku khawatir. Tidak hanya aku, namun semua orang diruangan ini terlihat khawatir. Dia hanya diam dan terlihat pucat. Bahkan dia sampai berkeringat, terlihat basah di wajah dan tangannya. Setelah sekian lama akhirnya dalam pelukan sang ibu dia berucap.
"em..em..maaf om, tante, Mas Zaky. Tania wes ono yang menginginkan. Mas Damar pacar Tania, wes lima tahun. Juga akan meminta restu ke ayah dan ibuk. Tania g' iso menerima Mas Zaky.", meski wajahnya pucat dan tangannya bergetar tapi suaranya sangat tegas.
Jawabannya sontak menyulut amarah Om Gunawan. Beliau terlihat amat marah dan kecewa. Begitupun diriku. Aku kecewa, ternyata tak ada harapan untukku bersanding dengannya. Belum reda rasa terkejutku oleh penolakannya, aku kembali dikejutkan oleh raungan Om Gunawan.
"DAMAR LAGI..DAMAR LAGI!! KAMU YO TAU LEK AYAH KARO IBUK GAK SETUJU KAMU PACARAN KARO DAMAR. AYAH GAK PINGIN TAU, POKOK'E KAMU KUDU NIKAH KARO ZAKY. TITIK!!", murka beliau.
Suasana menjadi tak nyaman, keteganan membuatnya terasa mencekam. Aku melihat Tania meneteskan air mata. Ini pertama kalinya aku melihatnya menangis. Meski aku kecewa dia menolakku tapi melihat air matanya menetes membuat hatiku terasa sakit.
"Wes lah Gun, lek Tania gak mau yo ojo dipaksa toh.", abah mencoba menangkan Om Gunawan.
Tapi itu tidak berhasil. Om Gunawan terus terlarut dalam amarah. Beliau semakin bertambah marah dengan Tania yang kekeh menolak perjodohan ini. Tania mengatakan kalau dirinya hanya ingin menikah dengan kekasihnya Damar. Yayan pun masuk dalam adu argumen antara Tania dan Om Gunawan, dari situ aku tahu kalau sekarang Damar sedang tidak diketahui keberadaannya. Hampir tiga minggu dia menghilang. Tapi Tania bersikeras untuk tetap disisi Damar. Itu semakin memperkeruh keadaan. Situasi semakin memanas sampai akhirnya Tania mengatakan bahwa dia sedang mengandung anak Damar. Sontak itu membuat orang yang berada di teras ini terkejut. Beragam ekspresi terekam dalam penglihatanku.
"Kamu g' iso mbuat lebih malu ayah dan ibukmu lagi. Wes berperilaku g' sopan pada orang tuamu di depan tamu, sekarang malah membuat keributan mengaku-ngaku hamil. G' gini cara menyelesaikan masalah Tan!", kali ini suara penuh emosi Tante Asri, ibu Tania yang terdengar.
"Aku gak ngaku-ngaku buk aku emang ha...", sebelum Tania menyelesaikan kalimatnya, kulihat Yayan menyentak tangannya kuat.
"Wes Tan, ojo diterusno. Cukup. Kamu nyakitin perasaane ayah dan ibuk.", kata Yayan tegas.
Beberapa saat setelah perkataan Yayan, Tania berlari pergi dari ruangan ini. Tak berselang lama dia kembali dan meletakkan sebuah benda pipih panjang dan terlihat dua garis merah pada sebuah monitor kecil. Aku yakin semua orang disini tahu apa maksud benda itu. Om Gunawan kembali meradang, terlihat jelas rasa kecewa yang amat besar terpancar dalam tatapannya. Pasti perasaannya sangat terluka. Aku juga merasa sangat kecewa. Bukan karena dia menolakku tapi karena apa yang telah diperbuatnya. Mungkin karena aku begitu menyukainya jadi aku berpandangan sangat buruk tentang perbuatannya. Aku benar-benar ingin meledak. Ini pertama kali dalam hidupku aku hampir tak bisa mengontrol emosiku. Reaksi tubuhku sudah cukup membuat orang lain tahu kalau aku sedang sangat marah. Aku hanya diam membeku dengan rahang yang mengeras dan tangan terkepal sampai akhirnya pandangan kami bertemu. Menatap tepat di matanya hanya semakin mengiris hatiku. Aku tak sanggup lagi, dengan alasan ke kamar mandi aku meninggalkan ruangan itu dengan emosi membara.
Hatiku terasa amat sakit. Inikah yang dinamakan patah hati? Tak hanya menolakku tapi dia juga memberitahu akibat dari perbuatan buruknya. Tidak tahukah perbuatannya itu dosa yang sangat besar. Aku tak menyangka sosok yang selama kubayangkan bisa berbuat sejauh itu. Sedetik semua pikiran buruk tentangnya menari di kepalaku dan sedetik kemudian aku sadar ini karena aku sedang sangat marah, malu dan kecewa. Astaghfirullah...Astaghfirullah...aku berulang kali beristighfar sambil bernapas panjang-panjang. Saat kurasa tak ada ketenangan di hati aku putuskan untuk segera mengambil wudlu dan sholat sunnah dua rakaat untuk menenangkan hatiku. Bertanya pada yang membantu disini dimana tempat yangg bisa ku gunakan sholat, aku segera menunaikannya. Setelah beberapa saat berzdikir aku mulai memikirkan ulang apa yang baru saja terjadi dan bagaimana aku harus menyikapinya. Hatiku mulai tenang dan sebuah pertimbangan muncul dipikiranku. Mungkin saja aku bisa membawa Tania kejalan yang lebih baik, meninggalkan perbuatan maksiat yang selama ini ia lakukan bersama kekasihnya. Mungkin ini kesempatannya untuk bertaubat. Jujur aku juga ingin berjuang mendapatkannya meski hanya sekali. Dengan tekad itu aku berjalan kembali ke teras samping rumah ini, dimana semua orang sekarang berada.
__ADS_1
Saat aku kembali semua orang mengalihkan pandangannya padaku, tak terkecuali Tania. Abah menyambutku dengan ajakan pulangnya yang kurang bersahabat. Beliau merasa dipermalukan. Tapi aku ingin menyuarakan pendapatku setidaknya sekali, karena sedari perdebatan ini dimulai aku hanya diam tak bicara sepatah katapun. Aku kembali duduk yang membuat semua orang terkejut.
"Saya mau mencoba meneruskan perjodohan ini. Saya minta waktu dua minggu untuk ta'aruf sama Tania. Juga memberi Tania waktu untuk menemukan Damar. Jika dalam waktu dua minggu Damar ketemu dan mau menikahi Tania, saya akan mundur. Tapi jika tidak ketemu atau tidak mau menikahi Tania, saya siap untuk menikah dengan Tania.", aku mengatakannya dengan tegas dan lantang dengan menatap tepat pupil mata Tania yang langsung melebar begitu mendengarnya.