
Hari itu setelah aku menghubungi Mas Zaky, aku memberitahu orang tuaku tentang keputusanku saat makan malam. Terlihat jelas raut kelegaan di wajah ayahku. Beliau tampak sangat berusaha menyembunyikan rasa senangnya. Mungkin agar tetap terlihat berwibawa. Yang jelas itu membuatku merasa bahwa keputusan yang aku ambil sudah tepat. Keesokan harinya Mas Zaky dan keluarganya datang untuk membicarakan tentang acara pernikahan. Semua dibicarakan dan telah sepakat akan diatur oleh ibuk dan Tante Halimah. Meski aku merasa sikap Tante Halimah tak selembut dulu saat membicarakan perjodohan. Jujur, itu membuatku sedikit tertekan. Bagaimana kalau Tante Halimah tak mau menerimaku? Mungkin dia terpaksa karena pernikahan ini keinginan Mas Zaky.
Selain sikap Tante Halimah yang sedikit kaku, semua berjalan lancar. Ibuk dan Tante Halimah mempersiapkan semua dengan sangat sempurna. Kami memang sengaja tidak mengundang banyak tamu. Hanya kerarabat dekat dari kedua keluarga dan beberapa teman keluarga. Acara ijab qobul rencananya akan dilaksanakan di sebuah masjid dekat kompleks perumahanku. Dan dilanjutkan dengan pesta pernikahan dirumah Mas Zaky.
Dan tiba lah hari ini, hari pernikahanku. Tepat seminggu setelah aku memberi keputusan. Aku duduk menghadap cermin meja rias. Pasrah dengan apa yang dilakukan Lani pada wajahku. Dia bilang akan membuatku jadi pengantin yang sangat cantik, meski takkan secantik Raisa atau Syahrini sih. Huuuuft...aku masih tidak percaya bahwa kurang dari dua jam aku akan menikah. Rasanya seperti mimpi dan terjadi begitu cepat. Meski ini sudah jadi keputusanku dan aku tak ingin menyesalinya, tidak ku pungkiri bahwa rasa bersalah yang amat sangat besar pada Mas Damar melanda hatiku. Aku mengkhianatinya. Melepas semua rasa dan kenangan kami. Merelakan rasa cinta yang sudah bertahun-tahun.
Tidak mudah memang. Kuhabiskan setiap malam menangis di selimuti rasa bersalah. Aku tak tahu akan butuh waktu berapa lama. Tapi karena aku sudah bertekad, meski tanpa cinta aku akan menjalani pernikahan ini dengan sungguh-sungguh, maka ini adalah langkah pertama yang tepat. Melepas cintaku untuk Mas Damar pergi. Aku berharap jika suatu hari nanti bertemu Mas Damar, dia bersedia memaafkan ku.
Lani telah menyelesaikan riasanku. Waw..., aku mengerjap beberapa kali untuk memastikan memang benar pantulan diriku yang ada di cermin. Aku tak pernah merasa secantik ini. Riasan minimalis tanpa banyak kosmetik yang menempel di wajahku. Tatanan rambutku juga sempurna. Dengan kedua sisi rambutku dikepang ke belakang menyatu dalam sanggul kecil di bagian bawah berhiaskan ornamen mutiara-mutiara imatasi yang indah. Meski kebayaku sangat simpel tapi aku sangat puas. Aku berdiri dan mematut diriku di cermin. Berputar kesamping kiri, kanan dan ke belakang. Ini sangat sempurna. Tidak mewah tapi juga tidak murahan. Tapi elegan. Senyum merekah di bibirku. Ini adalah senyum pertama setelah aku sadar bahwa aku akan menikah dengan Mas Zaky, bukan Mas Damar. Entah karena apa? Aku tak tahu.
Setengah jam kemudian kami semua sudah berada di dalam masjid. Bersiap untuk acara ijab qobul. Aku yang duduk di tempatkan terpisah dan di sekat, belum bertemu dan melihat Mas Zaky. Tapi aku tahu dia sudah di sini karena aku mendengar suaranya. Penghulu sudah memulai khutbah pernikahannya. Semua yang hadir kidmat mendengarkan. Setelah selesai, dilanjutkan dengan proses ijab qobul. Aku mendengar suara ayah.
"Ankahtuka wazawwajtuka makhtubataka binti Tania Wibisono alal mahri 100 keping dinar dan Surat Al A'la hallan.", ijab ayah mantap dan berwibawa.
"Qabiltu nikahaha wa tazwijaha alal mahril madzkur wa radhiitu bihi, wallahu waliyu taufiq.", qobul Mas Zaky tegas tanpa keraguan.
__ADS_1
Setelah para saksi menyatakan ijab qobul ini sukses dan pernikahannya sah. Mas Zaky melanjutkan dengan melantunkan Surat Al A'la sebagai mahar yang telah disebutkan. Suaranya sangat merdu. Membuatku tertegun dan tanpa sadar membuat mataku berkaca-kaca. Ada perasaan aneh dalam hatiku saat mendengar lantunan ayat alquran ini. Mungkin karena suara merdu Mas Zaky membuatnya begitu menyentuh. Aku pernah mendengar teman-temanku mengaji saat masih SD dan SMP tapi jelas itu berbeda dengan ini. Aku tidak tahu apa makna dari surat yang dibaca Mas Zaky, tapi aku merasa ada yang menggerakkan hatiku. Sesuatu. Tapi aku tak tahu itu apa. Saat Mas Zaky selesai membaca, aku merasa kehilangan. Setelah serangkain sambutan, acara ijab qobul berakhir. Dan kami, aku dan Mas Zaky sudah boleh bertemu. Aku melihat Mas Zaky menghampiriku di area perempuan dimana aku harus menunggu saat proses tadi berlangsung. Untuk pertama kalinya aku berdebar melihat sosok Mas Zaky. Setiap satu langkah Mas Zaky mendekat debar jantungku semakin keras. Sosoknya yang tinggi dengan postur sempurna tampak begitu cocok menggunakan setelan jas berwarna hitam. Kenapa dia jadi terlihat lebih tampan dari biasanya? Duuuh apa sih yang ku pikirkan?.
"Assalamualaikum Tania.", salamnya dengan senyum lembut saat sampai di depanku."
"I..iya mas.", jawabku gugup. Kulihat ibuk dan saudari-saudari yang tadi menemaniku sudah tidak ada. Kapan mereka pergi?
"Kalo mas ngucapin salam, kamu jawab dengan waalaikumussalam.", katanya masih dengan senyum.
"Waalaikumussalam.", kataku canggung.
Mendengar jawaban salam dariku Mas Zaky mengulurkan tangannya dan aku menyambutnya untuk kucium punggung tangannya. Setelah aku melepasnya, Mas Zaky kembali mengulurkan tangannya. Tapi kali ini dia mengusap ubun-ubunku dan melafadzkan sesuatu, aku tak tahu apa itu.
"Itu opo mas?", tanyaku sambil mengernyit.
"Itu doa. Agar kita menjadi keluarga yang bahagia, sakinah, mawadah, warohmah dan kamu jadi istri yang sholeha.", senyum tak pernah pergi dari wajahnya. Senyum manis yang menampilkan lesung pipit yang membuatnya semakin tampan.
__ADS_1
Setelah mengatakan itu Mas Zaky merunduk dan mencium keningku. Rasanya seperti sejuta kupu-kupu menari di perutku. Perasaan ini seperti saat pertama kali orang yang kamu suka menyataksn cinta padamu. Saat pertama kali kamu dapat ciuman dari cinta pertamamu. Saat pertama kali kamu menemukan hal baru yang mendebarkan dan menegangkan. Aku tak menyangka akan merasakan perasaan ini pada Mas Zaky. Aku kira aku akan biasa saja karena aku tidak punya perasaan padanya.
"Kamu kok anteng banget hari ini?", katanya dengan nada jahil. Aku hanya mencebik sebagai jawaban dan itu malah membuatnya tertawa. Waaaah sial! Aku terpesona. Dia tertawa lepas seperti saat sedang bercanda dengan Mas Yayan. Gantengnyaaaaa. Duuuh ini benar-benar tidak lucu. Masak aku seperti ABG labil sih.
"Wes jam sebelas, kamu hapus make up kamu yo, terus ambil wudlu. Habis itu kita berjamaah sholat dua rakaat sebagai suami istri. Sekalian nunggu dhuhur.", suara Mas Zaky membangunkanku dari kegalau hati yang tak jelas.
Aku mengernyit, tapi tetap mengiyakan dan berlalu menuju toilet putri. Sayang banget riasannya. Cantik gini tapi cuma sebentar. Ibuk datang bersama Lani dan saudari sepupuku. Setelah bertanya apa yang akan aku lakukan mereka membantuku membersihkan make up dan menanggalkan kebayaku. Aku mengambil wudlu. Jangan salah, kalau hanya wudlu aku bisa, karena saat SD, SMP dan SMA selalu ada ujian praktek agama. Usai wudlu aku berganti dari kebaya ke blouse putih berbahan sifon dan brokat dengan panjang sedikit dibawah lutut. Panjang yang pas, karena akan membuatku terlihat lebih tinggi. Ini sangat cantik. Dengan garis leher yang sopan dan lengan sepanjang tangan yang melekat.
Aku menghampiri Mas Zaky dengan sudah mengenakan mukenah. Dia menuntunku bacaan niat sholat. Setelah itu sebagai makmum, aku mengikuti setiap gerakan sholat yang dia lakukan. Setelah salam dia berdoa dan aku mengaminkan dan diakhiri dengan aku mencium punggung tangannya.
Kami melanjutkan dengan sholat dhuhur berjamaah bersama beberapa orang yang tadi hadir di acara ijab qobul dan belum pulang, juga jamaah asli masjid ini.
Usai sholat dhuhur kami langsung menuju ke rumah Mas Zaky untuk acara resepsi pernikahan. Mobil Mas Zaky di kemudikan oleh temannya. Aku pernah melihatnya di gedung tempat organisasi Mas Zaky berkumpul. Ternyata rumah Mas Zaky tidak terlalu jauh. Ini adalah pertama kalinya aku ke rumah Mas Zaky, lucunya aku sudah berstatus sebagai istrinya. Sampai disana, aku langsung digiring Tante Halimah eh bukan, Ummi ke kamar tempat aku akan dirias. Aku memilih tetap mengenakan blouseku dan hanya merias wajahku serta menata ulang rambutku. Ummi sempat tidak setuju dengan pilihan gaunku. Tapi aku sedikit memohon dan beliau mengiyakan. Riasan wajahku tidak begitu berbeda dengan yang tadi. hanya mempertegas bagian mata dan bibir. Perias bilang untuk menyusaikan dengan gaunku, maka dia memilih mengepang rambutku dengan style kepangan besar menempel dan sedikit mengembang. Dihiasi ornamen bunga-bunga perak kecil dan mutisra imitasi seperti tadi. Ini juga cantik. Wah hari ini ternyata aku bisa terlihat canti seharian. Senyum lebarku sampai membuat pipiku kaku. Hhhhh...
Pukul dua acara resepsi dimulai dan berakhir pukul empat. Walaupun mereka bilang tak mengundang banyak orang, hanya kerabat dan beberapa rekan bisnis. Tapi bagiku ini sangat banyak tamu dan sangat ramai. Hhmm.. mungkin banyak yang mereka maksud dan yang aku maksud berbeda. Banyak para undangan yang terang-terangan memperhatikanku da akhirnya mengangkat alisnya. Waah, sepertinya aku tak sesuai ekspetasi yang mereka harapkan. Apa karena gaunku? Atau rambutku? Karena hampir semua yang bersikap begitu adalah kaum hawa yang mengenakan gamis dan berhijab. Tidak mungkin perutku kan? Karena perutku masih bisa dikatakan ukuran yang normal. Selama acara aku berkali-kali mendengar ada yang bilang "kok pengantin cewek'e gitu?" atau "oh! Zaky kok cari bini g' pake' hijab?" atau "duuuh g' cocok banget se sama Zaky, masak g' berhijab", yah kurang lebih seperti itu. Cukup mengganggu sih.
__ADS_1
Aku bisa melihat Mas Zaky sangat tak nyaman. Karena jika aku bisa mendengar apa yang mereka katakan itu artinya Mas Zaky juga mendengarnya. Karena kami selalu berjalan bersama sepanjang acara. Tapi sekarang aku merasa lega karena acara sudah usai, dan aku mulai membayangkan betapa nyamannya merebahkan diri di kasur. Aku istri orang? Sangat mengejutkan bahkan untuk diriku sendiri. Semoga ini memang benar-benar keputusan yang teoat.