Jodoh yang KAU kirim

Jodoh yang KAU kirim
Chapter 13 Mimpi


__ADS_3

Jam sudah menunjukkan pukul dua belas malam, dan aku baru masuk ke rumah. Hari ini aku sangat amat lelah. Bukan hanya karena pagi ini aku jalan dengan Mas Zaky hingga sift sore ku di mulai. Tapi juga karena pasien anak bertambah pesat dengan menyebarnya virus demam berdarah. Banyak yang harus dikerjakan saat pasien sedang banyak seperti ini. Para perawat dibuat kerja dua kali lebih cekatan. Untung saja dedek bayiku tidak pernah rewel selain pada pagi hari.


Setelah selasai membersihkan diri, ku rebahkan tubuhku di ranjang. Haaah, terasa sangat nyaman setelah seharian hanya bisa berdiri dan duduk. Ku tatap langi-langit kamar dan terlintas ingatan tentang pergi jalan dengan Mas Zaky tadi siang. Yah bisa dibilang ta'aruf tahap pertama hari ini cukup lancar. Obrolan kami juga sangat nyambung meskipun hanya bertukar informasi yang umum tentang diri kami. meski aku sempat terganggu saat dia memanggil namaku dengan panggilan yang selalu digunakan Mas Damar. Selebihnya, aku menikmatinya.


Sebelum berniat untuk tidur, ku sempatkan mengecek akun medsosku. Mungkin saja ada kabar baru tentang Mas Damar. Namun harapan itu segera pupus saat tak ada satu notifikasi satupun yang masuk dari kedua akunku. Ku letakkan ponselku dengan kecewa. Dan berharap akan ada kabar besok pagi. Aku berencana pergi mengunjungi mama Sekar besok. Ku dengar beliau sedang kurang sehat. Mungkin karena mencemaskan Mas Damar. Segera kantuk mendera sesaat setelah ponsel ku letakkan.


*****


Aku mengerjapkan mataku saat sinar mentari memaksaku bangun dari tidur lelapku. Semilir angin lembut menyapu wajahku. Dan aroma pantai menyambut manja hidungku. Saat mataku sudah benar-benar terbuka, terlihat sosok tampan yang selama ini ku rindukan sedang berdiri menatapku tak begitu jauh dari tempat ku berbaring. Aku segera bangun untuk menghampirinya. Tapi saat aku hendak melangkah, aku sadar fokusnya tak pernah ke arahku. Aku menoleh untuk memastikan apa yang dia lihat tapi tak ada apa-apa di belakangku. Pandangannya hanya lurus ke depan, tak teralihkan sedikit pun. Aku mencoba mendekatinya tapi semakin aku mendekat jarak kami tak pernah memendek. Dan begitu seterusnya. Hingga sampai aku mulai lelah, suara yang aku rindukan terdengar menyapa gendang telingaku.


"Kamu kan wes janji Nia.", suaranya terdengar lemah. Kulihat raut wajahnya yang sendu. Saat aku hanya diam menatapnya. Dia kembali bicara. "Kamu kan wes janji ke aku, Nia.", katanya lagi. Semakin memandangnya wajahnya semakin terlihat sendu. Mataku mulai berkaca-kaca. Aku ingin berlari memeluknya. Melampiaskan rinduku yang tak tertahan. Aku ingin menciumnya. Menyampaikan semua yang kurasakan saat dia pergi. Saat aku ingin memanggilnya tak ada kata-kata yang keluar dari mulutku. Aku mencoba dan terus mencoba, tapi tetap tak ada satu suarapun yang berhasil lolos dari bibirku. Air mata mulai menetes di pipiku.

__ADS_1


"Kenapa ingkar, Nia?", setiap dia bicara suaranya semakin lemah. Raut wajahnya semakin sedih.


Tidak mas, tidak. Aku tidak pernah ingkar. Aku masih milik kamu. Aku selalu setia sama kamu. Bagaimana mungkin kamu berpikir aku berpaling darimu. Aku ingin mengatakan itu namun yang ada hanya isakan yang mulai keluar dari bibirku.


"Kenapa Nia, kenapa?, Mana janji kamu?", dan suara itu adalah sebuah bisikan. Bayangnya pun semakin memudar.


Aku mencoba berlari untuk menangkapnya tapi sosoknya semakin hilang. Semakin ku mencoba memanggilnya saat itu pula isakkanku semakin keras. Wajahku benar-benar sudah basah oleh air mata. Saat ku lihat bayangan menghilang, disitu ku berhasil meneriakkan namanya.


Oh tuhan!, ternyata itu cuma mimpi. Semoga bukan pertanda buruk dari Mas Damar.


Ku ambil gelas berisi air putih yang ku letakkan di atas nakas. Meminumnya hingga tinggal setengah. Kembali mengatur napasku perlahan. Ku sandarkan kepalaku di kepala ranjang. Saat ku pejamkan mata, sosok Mas Damar yang sendu dan sedih terbayang jelas. Seperti direkatkan pada kelopak mataku. Ekspresi wajahnya setiap kali dia berbicara, pandangan matanya. Air mata kembali lolos meluncur mulus di pipiku. Kata-kata yang dia ucapkan bagai jautaan jarum menancap dalam hatiku. Bagaimana mungkin aku berpaling darinya? Dia adalah dunia yang aku pijak, dia adalah tiang yang menyanggaku, dia adalah pohon yang menaungiku. Dia, dia, dia, duniaku hanya ada dia. Rindu ini sudah tak terbendung. Aku ingin meringkuk di pangkunya. Benar kata Dilan, "Jangan rindu, berat, kamu g' akan kuat", karena itu yang kurasakan. Ku pikir aku tidak serapuh ini, tapi saat melihat sosoknya dalam mimpi tadi, ternyata aku hanya pura-pura kuat. Kulihat baru pukul satu lewat sepuluh, itu berarti baru satu jam aku tertidur. Air mata tak pernah kering dari wajahku. Dan kepalaku semakin berat. Ku rebahkan kembali tubuhku di ranjang. Dan kembali berharap semoga esok ada kabar baik perihal Mas Damar.

__ADS_1


Terdengar samar suara langkah kaki. Tap. Tap. Tap. Semakin lama semakin jelas. Terdengar semakin dekat. Kuedarkan pandangan, namun tak terlihat siapapun disekeliling. Yang ada hanya ruangan yang gelap. Amat sangat gelap. Suara langkah itu semakin keras terdengar. Seperti ada di belakangku. Aku segera berbalik saat kurasa ada hembusan napas di puncak kepalaku. Mas Damar. Itu Mas Damar. Senyuman lembut terlihat di wajahnya yang tersorot cahaya entah dari mana. Takut kalau dia akan menjauh, aku segera meraihnya. Kali ini dia tidak pergi. Dia tidak hilang. Dia membalas pelukanku sama eratnya seperti aku memeluknya. Aku mendongak untuk melihat wajahnya. Dia masih tersenyum, senyuman manis yang selama ini ku rindukan.


Aku tidak menyadari kalau aku sedang menangis, jika bukan karena tangan Mas Damar yang menghapus air mataku. Aku bersandar pada sentuhannya. Sepertinya tuhan mengabulkan doaku. Mas Damar disini. Dia kembali. Memelukku dengan erat. Saat pandangan kami bertemu, waktu seakan berhenti untuk kami. Tak ada yang bicara diantara kami. Hanya saling menikmati keberadaan masing-masing. Senyumnya tak pernah hilang, masih mengembang sejak awal dia datang. Ku rasakan belaian lembut di pipiku. Pelukan hangat ditubuhku. Sebisa mungkin aku tidak ingin ini berakhir.


Yang ku tahu selanjutnya adalah wajah kami yang sudah saling mendekat. Dia mengusap bibirku lembut. Tatapan lembutnya yang selalu membuatku terlena. Aku mulai menutup mata. Menikmati kedekatan kami. Akhirnya bibir kami menyatu dalam pagutan yang ringan dan lembut. Kami tidak terburu-buru. Perlahan, menikmati setiap sentuhan. Meluapkan semua emosi yang tertahan selama dia pergi.


Setelah sekian lama kami berciuman, ada sesuatu yang basah di wajah ku. Ciuman kami berakhir. Namun masih menempelkan dahi masing-masing. Perlahan ku buka mataku, dan memandang wajahnya. Sontak membuatku mengernyit. Sesuatu yang basah tadi berasal dari dirinya. Dia menangis. Terlihat jelas air mata sedang menetes menuruni pipinya. Kuangkat tanganku untuk menghapus air mata itu. Namun dia menjauhkan wajahnya. Perlahan senyumnya mulai pudar. Tergantikan kesedihan yang semakin jelas.


Dia mulai melangkah mundur perlahan. Semakin jauh jarak diantara kami, kesedihan semakin terlihat jelas di wajahnya. Aku mulai berteriak-teriak memanggilnya. Namun dia malah berbalik pergi dengan langkah yang mantab. Saat ku coba mengejarnya yang kudapati hanyalah ruang kosong yang gelap dan pengap.


"Hosh..hosh..hosh", suara napas ku menggema di seluruh penjuru kamar. Kepalaku terasa sangat pening. Aku terbangun dengan posisi terduduk. Kutarik lututku ke dada dan memeluknya. Haaah... Mimpi yang lain. Aku masih berusaha menstabilkan napasku. Jantungku masih berdegub sangat kencang. Bayangan kesedihan di wajah Mas Damar menusuk jantungku. Menyakiti diriku lebih dalam. Sepertinya aku telah mengawali hari ini dengan air mata. Seperti apapun ku mencoba, bayangan dirinya berbalut kesedihan dan air mata tetap enggan berlalu. Memacu air mataku mengalir lebih deras.

__ADS_1


Aku terbangun pukul tiga pagi dari mimpiku yang kedua. Dan sekarang sudah pukul enam, selama itu aku masih duduk di posisi yang sama dengan air mata yang mulai mengering. Kurasakan tubuhku mulai protes ingin di renggangkan. Panggilan alam juga mengambil bagiannya. Akhirnya ku menyerah dan bangkit menuju kamar mandi. Pandangan ku terkunci pada bak mandi. Hemm, mungkin berendam bisa membantu ku membangun mood yang sudah hancur berkat mimpi-mimpi ini. Aku mulai mengisi air pada bak mandi. Setelah buang air kecil dan bak sudah terisi penuh, aku mulai menanggalkan pakaian dan siap untuk berendam. Air hangat memang sangat nyaman. Saat aku mulai merasa rileks, kesadaran perlahan meninggalkanku.


__ADS_2