Jodoh yang KAU kirim

Jodoh yang KAU kirim
Chapter 24 Berpisah


__ADS_3

Aku telah usai menata pakaianku dalam koper. Beberapa barang kecil seperti charge ponsel, ear phone, power bank dan lainnya aku taruh di tas ransel. Setelah mengecek sekali lagi semua barang yang akan aku bawa, aku siap untuk berangkat. Aku keluar dari kamar dan mendapati Mas Zaky sedang membuat sarapan.


"Bau'e wangi mas, jadi laper.", kataku saat sudah berada di sampingnya.


"Kamu duduk gih, bentar lagi siap.", katanya sambil tersenyum.


Suatu pemandangan indah melihatnya memasak di pagi hari. Tubuh gagah tegapnya sama sekali tak terlihat menggelikan mengenakan apron dan memegang spatula. Dia terlihat sangat panas dan menggoda. 'Haha apasih seng tak pikirno pagi-pagi gini' aku tertawa dalam hati. Tapi aku tidak berlebihan, dia memang terlihat seksi mengenakan apron dan berdiri di dapur. Hhmm sayang, kedepannya aku tak lagi bisa melihat sosoknya yang sedang memasak.


"Kamu ngapain lihatin aku kayak gitu? Aku sampek takut, udah kayak mau nyerang gitu lihatin'e.", kata Mas Zaky sambil meletakan dua piring nasi goreng di atas meja yang hanya ku jawab dengan cengiran.


"Enak mas, buatanku mah kalah enak sama iki.", kataku disela-sela menyantap sarapan.


"Beneran enak? Kamu suka? Aku bisa lo masakin kamu tiap hari. Kamu beneran harus pergi?", tanyanya yang ku jawab dengan anggukan di setiap pertanyaannya.


"Kita kan wes ngomongin iki berulang kali mas, aku beneran kudu pergi. Iki seng terbaik untuk kita semua." Kataku dengan menyudahi sarapan yang tinggal piring dan sendoknya saja, nasi gorengnya?, sudah ku lahap tanpa sisa.


"Iyo, tapi kenapa mesti pergi se? Kamu bilang kamu mulai sayang ke aku. Haruse kamu tetep disini sama aku.", suaranya terdengar sendu. Tapi aku tak bisa merubah keputusanku. Tekadku sudah bulat.


"Tin..tin..", suara klakson mobil terdengar dari luar rumah. Mobil yang akan membawaku sudah tiba. Aku bergegas membuka pintu. Dan terlihat mobil Elf warna silver sudah terparkir di luar gerbang. Sesosok tubuh mungil hanya sedikit lebih tinggi dariku turun dari dalam mobil. Amara, teman sesama perawat yang ku kenal saat kami masih di akademi perawat dulu berjalan mendekat dengan senyum lebarnya.


"Assalamualaikum ukhti, piye wes siap?", tanyanya saat memberiku pelukan singkat.


"Alhamdulillah wes siap, yuk masuk dulu. Aku ambil koper sama tasku disek.", kataku mempersilahkannya masuk.


Mas Zaky membantu membawakan koperku dan menaruhnya di bagasi mobil. Dia terlihat enggan melakukannya. wajahnya tertekuk. Aku tidak tega melihatnya. Tapi aku butuh pergi hari ini. Karena apa yang terlalu dekat dengan kita, akan sulit untuk kita lihat. Makanya aku harus sedikit menjauh agar aku bisa melihat Mas Zaky dengan jelas. Aku sedang ingin menata hatiku dan yakin akan perasaanku. Dan meminta Mas Zaky juga memikirkan kembali apa yang dia rasakan terhadapku. Aku meminta waktu sebentar kepada Amara untuk bicara dengan Mas Zaky. Amara meninggalkan aku dan masuk ke mobil lebih dahulu. Meraih tangan Mas Zaky aku menyeretnya masuk ke dalam rumah.


"Kamu tahu kan iki g' lama. Hanya sampek kita tahu perasaan kita masing-masing. Kenapa muka mas seperti g' bakal ketemu aku lagi? Kamu senyum dong biar aku perginya tenang. Aku suka lihat lesung pipi kamu." kataku dengan tersenyum dan lalu berjinjit mencium pipi dimana letak lesung pipi itu sering terlihat.


Aku bisa melihat mata Mas Zaky membulat, terkejut akan tindakanku. Pipinya bersemu merah. Sangat lucu melihatnya merona malu di balik sosoknya yang cool. Aku memeluknya erat, menyembunyikan wajahku di dada bidangnya. Dapat kurasakan tangannya yang perlahan membalas pelukanku.


"Selama ini kamu wes sabar nungguin aku, jadi aku mohon sabarlah sedikit lebih lama lagi. Kamu harus setia nungguin aku seperti kemaren-kemaren.", kataku dalam pelukannya.


Kurasakan pelukannya mengerat. Dia mencium puncak kepalaku berkali-kali sebelum akhirnya melepas pelukan kami. "Kamu g' boleh nakal selama ndek sana. Kamu kudu sering-sering telepon. Aku bakal nungguin kamu. Aku janji.", kata Mas Zaky sambil menangkup wajahku dengan kedua tangannya. Dan selanjutnya yang dia lakukan adalah mecondongkan dirinya padaku dan menyatukan bibir kami lembut. Ciuman ini ringan dan tak menuntut tapi lembut dan menghargai. Mataku tertutup menikmati buaian lembut bibirnya. Saat ciuman kami terpisah aku merasa kehilangan. Aku berusaha keras agar air mata yang sudah menggenang tak jatuh di hadapannya. Aku ingin dia mengantar kepergianku dengan senyum bukan dengan kekhawatiran.


"Wah g' nyangka ternyata kamu jago juga soal kissing.", ledekku mencoba membangun suasana.


"Haha, beneran? Padahal kamu seng pertama.", katanya malu-malu.


Deg. Aku yang pertama? Aku meledeknya berniat bercanda agar suasana tak menjadi sendu, malah jawabannya membuatku baper. 'Apaan sih Mas Zaky, pinter banget bikin orang baper' kataku dalam hati.


"Yowes aku pamit, kamu ati-ati ndek rumah. Lukamu belom sembuh bener, ojo lupa buat periksa ke dokter.", kataku sambil meraih tangannya dan mencium punggung tangannya.


"Iyo, kamu yo ati-ati yo Tan, ojo terlalu capek dan jaga kesehatan. Ojo lupa sering-sering ngabari.", katanya sambil mengelus kepalaku dan di akhiri dengan sedikit mengacak poniku.

__ADS_1


"Apaan sih, kan jadi berantakan", sewotku menjauhkan tangannya dari rambutku.


"Haha, gemes. Yowes ayo, temenmu wes nungguin.", kata Mas Zaky dan menggandengku hingga kami tiba di samping mobil.


Aku mencium punggung tangannya sekali lagi sebelum masuk ke dalam mobil. Bismilahirrohmanirrohim, semoga semua berjalan lancar. Hari ini aku berangkat ke luar kota, ke daerah pengungsian bencana alam sebagai perawat relawan bersama tujuh perawat lainnya dan dua dokter. Sudah lama aku ingin melakukan ini namun belum ada kesempatan. Kali ini aku tak ingin menunda lagi. Selain karena panggilan hati sebagai petugas medis yang dibutuhkan, aku pergi karena ingin menata hati dan meyakinkan perasaanku. Di malam Mas Damar datang memintaku kembali, menyadarkanku bahwa hatiku masih goyah oleh kehadiran Mas Damar. Aku tak mau membani Mas Zaky dengan hati yang tak sepenuhnya padanya. Aku harap dengan pergi dari sisinya sekarang aku bisa mengetahui kemana hatiku akan melangkah. Masih teringat jelas raut sedih dan terluka Mas Damar saat aku menolak permintaannya untuk kembali bersama.


"Mas, aku tahu g' mudah buat ngelupain kenangan-kenangan saat kita bersama. G' mudah ngelepas orang seng kita cintai bertahun-tahun, opo lagi mengubur rasa suka, cinta, sayang ke orang yang sama selama lima tahun lebih. Aku g' memungkiri kalo aku yo susah buat nglupain kamu. Tapi maaf mas, aku g' iso. Aku g' mau balik sama kamu. Aku wes jadi istri orang, aku punya Mas Zaky ndek sisiku.", kataku lembut agar dia bisa mengerti posisi kita masing-masing.


"Omong kosong! Kamu kan g' ono perasaan sama si Zaky. Kamu iku cintae cuma ke aku.", sanggahnya marah.


"Bukan g' ono perasaan mas, tapi belom. Sekarang aku lagi berusaha. Dari awal nikah aku sungguh-sungguh buat jalani pernikahan iki. Meski belom ada perasaan tapi Mas Zaky tetep suami sah aku seng aku hormati lan hargai. Yo Mas Zaky tempatku bersandar saiki. Aku harap kamu terima keputusanku iki mas.", kali ini nadaku lebih tegas dan sedikit keras. Aku harap dia bisa menghargai keputusanku.


"Aku tahu saiki kamu sek marah ke aku, makane kamu ngomong kayak gini. Aku yakin kamu g' bakal bisa ngelupain aku. Aku bakal kasih kamu waktu. Kamu pikir aja pelan-pelan, aku bakal tungguin kamu.", katanya kemudian.


"Maaf mas, sebaik'e kamu pulang. Aku capek mau istirahat.", kataku sambil berdiri.


Mas Damar mengikutiku berdiri dengan wajah tertekuk. Dia memandangiku lama sebelum akhirnya berbalik menuju pintu. Begitu Mas Damar melewati pintu aku langsung menutupnya tanpa menunggu dia masuk ke mobilnya. Aku segera mencari keberadaan Mas Zaky, apa yang sedang dia lakukan? Setelah menemukan kamar dalam keadaan kosong, aku melihat Mas Zaky sedang berzikir di ruang sholat. Ku putuskan ambil wudlu dan menyusulnya ke ruang sholat.


"Mas, wes sholat isya'?", tanyaku saat mengenakan mukenah.


"Belum, aku nungguin kamu. Ayo.", katanya lalu berdiri dan memulai sholat.


Seusai sholat dan berzikir aku memulai pembicaraan dengan kami masih duduk meleseh di ruang sholat.


"Maaf Tan, aku g' bisa nahan emosi aku lihat tingkah dan omongan Damar. Jadi aku sholat sunnah dua rokaat buat ngeredam emosi aku.", jawabnya sambil berputar menghadap ke arahku.


"Haruse kamu g' ninggalin istrimu sama pria lain, opo lagi cuma berdua.", kataku sendu.


"Astaghfirullah..., maaf Tan. Aku khilaf.", kata Mas Zaky kemudian.


"Mas tadi dengerkan omongane Mas Damar? Aku g' mungkiri mas, kalo belom iso ngelupain Mas Damar. Aku...", kataku namun dipotong dengan kata-kata Mas Zaky.


"Aku denger. Aku g' bakal mekso kamu buat suka sama aku. Tapi aku g' mau ngelepas kamu tonpo ono perjuangan dariku." katanya.


"Emang mas tahu opo keputusanku?", tanyaku jengkel karena sekali lagi dia tak mau mendengarkanku sampai akhir.


"Ehm...kamu...mau balik ke Damar?", katanya ragu.


"Ck.", aku hanya berdecak sebal.


Ku lepas mukenahku dan pergi meninggalkannya di ruang sholat. Jarum jam di dinding menunjukkan pukul setengah sepuluh. 'Hemm belom terlalu larut, duduk neng teras dulu lah. Sumpek di dalam, sebel aku karo Mas Zaky' kataku dalam hati. Rasanya sejuk berada di teras, di dalam sangat panas dan gerah. Belum lama aku di teras, Mas Zaky datang dengan membawa segelas air putih dan menaruhnya di meja samping tempatku duduk.


"Mas salah yo? Ojo ngambek gitu dong. Mosok baru tadi sore baikan wes marah lagi sekarang. Mas janji kali iki bakal dengerin sampek selesai.", katanya duduk berjongkok di depanku dan kedua tangannya di letakkan pada pegangan kursi yang ku duduki, mengurungku.

__ADS_1


"Males.", jawabku lemah sambil menutup mata, aku merasa lelah. Tubuh dan hatiku sama-sama lelah.


p


"Taaan, maaf. Aku tahu aku pasti bikin salah. Kita omongin yo, abis iku kita pergi tidur. Yo?", katanya lagi, kali ini lebih lembut.


"Haaaah.", aku menghela napas sebelum akhirnya menuruti perkataannya.


"Kamu kudu buang iku kebiasaan motong omongan orang. Sebel aku.", kataku ketus. Dan sebelum dia menjawab, aku kembali bicara. "Aku nolak Mas Damar.", kata kemudian. Bisa kulihat raut kaget dan perlahan berubah menjadi ketenangan dan senang. Saat dia akan bicara aku mengangkat tanganku menghentikannya.


"Aku g' mungkiri kalo isek ono roso sama Mas Damar, tapi...aku yo mulai ngerasa nyaman ada di deket kamu. Aku merasa mulai sayang ke kamu mas. Apalagi kamu suami aku. Aku g' mau menukarnya karo orang seng belum jelas iso jadi suami seng baik kayak kamu.", kataku malu-malu. Bukan karena ini pertama kalinya aku menyatakan perasaanku kepada Mas Zaky tapi karena aku tidak tahu seperti apa perasaannya padaku sebenarnya.


Mas Zaky mendekatkan diri padaku masih dalam posisi berjongkok. "Makasih kamu wes percoyo ke aku, makasih juga kamu mau milih tetep ndek sisiku. Aku janji bakal terus berjuang buat kebahagiaan keluarga kecil kita. Insha Allah, Allah terus ngelindungi kita. Aku bakal buktiin ke kamu kalo pilihanmu iki g' salah, Insha Allah.", kata Mas Zaky lembut dengan senyum manis yang tak mau pudar dari wajahnya.


Saat Mas Zaky bangkit dan mencodongkan tubuhnya untuk mencium keningku, aku menahannya. "Tapi, aku mau kita pisah.", kataku kemudian yang membuatnya membeku.


Masih dalam posisi condong ke arahku dengan tangan masih msngurungku dia menunduk. Wajahnya begitu dekat, ini membuatku salah tingkah. Melihat wajah tampannya sedekat ini membuat hasratku mulai bergelora. Tapi aku harus menahannya sampai semua jelas bagiku, terutama tentang perasaannya padaku.


"Kenapa Tan? Kamu bilang kamu wes sayang ke aku, terus kenapa minta pisah?", katanya lembut, tenang namun terdengar ada rasa sakit disana.


'Duuuuh, suara berat'e kok seksi banget siiiih, bikin gemesss' suara batinku mengkhianati niat di pikiranku. Tidak, aku sudah bertekad. Aku tak mau kalah berperang dengan nafsuku. Aku harus bisa bertahan.


"Aku butuh ruang lan waktu buat ngeyakinin opo seng tak rasakno ke kamu. Aku yo mau kamu perjelas ke beradaanku ndek hatimu. Pikirin sebesar opo perasaanmu ke aku. Opo aku cukup berharga buat kamu pertahanin.", kataku sendu.


Mungkin kalo sekarang dia mau mengutarakan perasaannya aku akan pertimbangkan kembali keputusan untuk pergi. Tapi sampai lima belas menit kami hanya terdiam. Dia yang sekarang duduk di kursi seberang meja hanya menatap kosong ke deretan bunga anggrek cattleya yang sedang bermekaran sambil bertopang dagu. Aku sudah tidak tahan. Sepertinya memang kita harus berpisah.


"Tiga hari seng lalu Amara temenku pas kuliah telepon. Dia bilang lagi butuh perawat seng mau dadi relawan di lokasi bencana alam. Tempatnya di luar kota. Dari dulu aku emang pingin buat terjun dadi relawan. Aku mau pergi mas. Aku pingin kamu kasih ijin ke aku. Aku mau selama aku pergi kita iso saling introspeksi diri masing-masing. Aku pingin kita saling menelaah perasaan kita masing-masing. Agar pas kita ketemu lagi kita iso tau jalan opo seng mau kita pilih.", kataku panjang lebar, akhirnya memecah keheningan.


"Lho? Opo? Maksud kamu kita g' cerai? Kamu cuma mau pergi sebentar?", tanyanya bertubi-tubi sambil setengah melompat dan berdiri di hadapanku.


"Emang sopo seng bilang cerai? Aku dari tadi g' bilang mau cerai kok.", kataku santai.


Senyum merekah di bibirnya. Dengan cepat dia memelukku. Sangat erat, hingga membuatku sulit bernapas.


"Mas..mas.., ukh...napasku.", kataku sambil memukul-mukul punggungnya.


"Ekh iyo, maaf. Kamu iku ojo ngagetin gitu kek. Aku pikir kamu mau minta cerai. Aku wes jantungngan. Ya Allah Tan, aku g' mau kita pisah. Bener deh.", kata Mas Zaky sambil melepas pelukannya.


"Tan..Tan..Tania!", panggilan Amara menyadarkanku dari lamunan. Aku terhanyut dalam ingatan malam itu. Senyumku mengembang mengingat ekspresi Mas Zaky kala itu.


"Eh, iyo Mar maaf, ono opo?", kataku.


"Yuk sholat maghrib disek.", katanya.

__ADS_1


Ternyata mobil kami sudah terparkir di halaman masjid yang cukup besar. Tak terasa sudah hampir enam jam perjalanan. Dan aku mulai rindu pada Mas Zaky.


__ADS_2