
"Mas, maaas. Tolong liat Akmal disek, aku lagi ganti popok'e Aish iki."
"Aku lagi nidurin Bizar nih Tan. Bizar baru ae merem.", jawab Mas Zaky.
"Aaaahh....huaaaa...huuuaaa.", tangis Akmal semakin keras.
"Iyo, iyo sayang ummi datang nak. Mas jagain Aish juga, Aku mau liat Akmal.", kataku sambil berlari keluar kamar.
Sekarang Akmal sudah berumur dua puluh enam bulan atau dua tahun lebih dua bulan. Dia sudah lancar berjalan dan mulai berlari. Belajar bicara meski masih beberapa kata yang jelas. Dia tumbuh menjadi balita tampan yang menggemaskan. Kami bersyukur dia tumbuh dengan sehat dan baik.
"Huuuuaaaaa...aaaa..huuuaaaa."
"Oh sayange ummi kenapa nak? Akmal jatuh?.", kataku sambil mengangkatnya dari lantai dan menggendongnya.
"Pattah ummi..ombil..pattah..huuu..huu", jawabnya cadel.
"Iya nanti abi benerin nggeh?, Akmal kan anak pinter g' boleh nangis, adek lagi pada bobo.", rayuku.
"Oooeeeeek..ooeeeek..ooeeek."
"Sayang Bizar minta ***** nih, buruan keburu Aish kebangun.", panggil Mas Zaky dari kamar.
Aku bergegas menuju kamar dengan Akmal masih digendonganku. Kuserahkan Akmal pada Mas Zaky dan aku mulai menyusui Bizar.
Tak lama setelah Akmal tinggal bersama kami, aku mengandung bayi kembar. Tiga bulan yang lalu aku melahirkan mereka. Abizar dan Aisyah, mereka adalah putra putri yang lucu dan menggemas kan. Aku harus melahirkan mereka di usia kandungan baru menginjak tiga puluh delapan minggu karena kontraksi dini dan pecah ketuban lebih awal. Melalui operasi secar karena hingga ketuban hampir kering, pembukaan tidak bertambah. Aku masih ingat benar bagaimana raut khawatir Mas Zaky saat dokter memutuskan aku harus menjalani operasi secar kala itu. Bohong kalau aku bilang aku tidak takut, tapi melihat kekhawatiran Mas Zaky aku putuskan untuk menekan rasa takutku. Alhasil akulah yang menenangkannya dan menghiburnya, padahal seharusnya dia yang harus menenangkanku. Sampai sekarang aku masih tertawa sendiri jika mengingatnya. Dia bahkan sampai berkeringat dingin dengan wahah dan bibir yang pucat. Dan tawaku berubah menjadi senyum bahagia tatkala aku mengingat bagaimana tangis haru dan senyumannya yang lebar menyambutku saat aku keluar dari kamar operasi. Dia menciumi setiap sudut wajahku dengan air mata berlinang. Untungnya biusku hanya berpengaruh sampai dada jadi aku bisa merasakan setiap ciuman yang dia berikan. Rasanya seperti dihujani berjuta cinta dan kasih sayang.
"Abizar sayang, bobo'e seng tenang dong nak. Biar ummi beres-berese cepet kelar sayang." kataku sambil menyusuinya.
Saat dia melepaskan bibirnya dan sudah terlihat pulas, aku menaruhnya di box bayi dan memulai kembali aktivitas yang kutinggalkan sebelumnya. Mau bilang tidak capek, itu bohong. Mau bilang bisa handle sendiri, itu juga bohong. Jelas situasi ini sempat membuatku sangat kaget. Harus bangun tengah malam karena si kembar minta ***** atau harus ganti popok. Baru tidur tapi sudah harus bangun untuk membuat sarapan Akmal dan Mas Zaky. Untungnya Akmal tak rewel. Dia mau-mau saja Mas Zaky yang menyuapinya makan, yang memandikannya, yang menemaninya main, bahkan yang menidurkannya juga Mas Zaky. Aku juga dapat bantuan dari anggota keluarga yang lain. Dua minggu awal kelahiran ibuk dan ummi bergantian menginap disini untuk menemani dan membantuku mengurus si kembar. Sebenarnya aku cukup terbiasa menangani bayi mengingat profesiku adalah perawat anak, tapi karena kondisi pasca operasi dan pemulihan pergerakanku jadi terbatas.
"Mas, Akmal mandiin dulu deh. Baru abis iku kamu. Bajue wes aku siapin semua. Moga ae si kembar anteng sampe' kita semua siap.", kataku saat menghampiri Mas Zaky dan Akmal yang sedang bermain lego di teras.
"Siiiiaaap ummi, yuk Akmal kita mandi berdua. Biar ummi iri g' iso mandi sama abi.", canda Mas Zaky dan mendapat pelototan dariku.
"Yeeee,, Ammall main gembung ya abi. Tigal..i ummi ya abi.", timpal Akmal dengan ceria.
"Iyo kita tinggal ummi yo. Tos dulu dong."
Mereka berlalu menuju kamar mandi dengan ceria. Aku hanya bisa menggelengkan kepala melihat tingkah mereka saat bersama. Senyumku tak pernah pudar melihat interaksi Akmal dan Mas Zaky. Saat Akmal hadir dihidup kami, saat itulah aku tahu sisi lain dari Mas Zaky yang selama ini aku tak pernah sangka ada. Dia tak pernah berhenti mengejutkanku dengan segala macam sifatnya yang terus menambah daftar kesempurnaan atas dirinya. Tapi dia tetaplah manusia. Manusia tak ada yang sempurna. Dibalik semua sifat baiknya dia seperti anak kecil yang suka pilih-pilih makanan. Dia tak suka wortel, dia akan menyisihkannya meski sudah kupotong sangaaaat kecil. Tak bisa minum obat berbentuk pil atau tablet. Tak mau minum susu yang rasanya plain. Lihat? Dia seperti anak kecil. Haha. Aku sering menggodanya saat sifat rewelnya muncul. Aku bahkan pernah memaksanya minum jus wortel dengan dalih aku lagi ngidam. Hssstt ini rahasiaku. Hehe.
Kami bertiga sudah siap pergi tinggal membawa si kembar ke mobil saat terdengar suara salam di pintu depan.
"Assalamualaikum. Fizah masuk yo, pintue wes mbuka gini.", suara Hafizah terdengar lantang.
"Waalaikumussalam, ndek tengah sini Zah.", jawabku.
"Oh, beneran banget kamu kesini. Iso bantu gendong salah satu si kembar.", ujar Mas Zaky saat sosok Hafizah menghampiri kami di ruang tengah.
"Emang Fizah kesini buat iku. Si kembar masih dikamar?"
"Iyo, yowes mas kamu bawa Akmal sama tas'e ke mobil disek. Aku sama Hafizah ngambil si kembar.", kataku lalu berlalu ke dalam kamar diikuti Hafizah.
Setelah semua, hubunganku dengan Hafizah perlahan membaik. Begitupun dengan Mbak Zizah. Mereka juga sering membantuku mengurus Akmal dan si kembar. Memang sih waktu awal-awal aku masih merasa canggung tapi mereka tak putus asa terus mendekatiku hingga aku mulai terbiasa. Kini kami sudah seperti saudara kandung. Tak ada rasa sungkan diantara kami bahkan untuk hal menegur siapapun yang salah, dan membenarkan siapapun yang benar. Tentunya itu membuat ummi dan Mas Zaky sangat senang melihat tak ada lagi masalah diantara kami.
Si kembar berhasil kami pindahkan ke mobil tanpa terbangun. Mobil segera melaju bergabung dengan kepadatan lalulintas siang ini. Setelah hampir satu jam dalam keruwetan lalulintas akhirnya kami sampai pada tempat yang kami tuju.
"Ummi sama abah jadi kesini bareng Mas Khaidar sama Mbak zizah?", tanyaku pada Hafizah saat kami bersiap untuk turun dari mobil.
"Iyo mbak. Tadi sebelum aku kerumahe mbak, mereka wes ndek rumah buat jemput abah ma ummi.", jawabnya sambil menyiapkan kereta bayi si kembar.
__ADS_1
Ada banyak orang di luar gedung ini, mungkin di dalam juga sudah banyak undangan yang datang. Aku mendorong kereta si kembar memasuki gedung diikuti Hafizah dan Mas Zaky yang menggendong Akmal. Benar saja di dalam sudah banyak tamu undangan yang tiba. Dan di ujung ruangan terlihat sang mempelai sudah bersiap untuk prosesi ijab qobul. Mereka sudah duduk manis berleseh di sebuah gazebo dengan nuansa emas dan merah yang elegan. Berpadu serasi dengan seluruh dekorasi hall ini, serba emas dan merah. Mulai dari alas kursi, taplak meja, balon, bunga, pita, dll. Benar-benar khas Mas Yayan. Dia terpatri oleh warna dari salah satu asrama dalam cerita sebuah film kesukaannya. Dan film itu adalah satu-satunya hal yang membuat Mas Yayan dan sang calon istri merasa cocok dan nyambung. Di lain itu? Tidak ada. Mereka bagaikan Tom dan Jerry, air dan minyak, anjing dan kucing yang berakhir menjadi Ron Weasley dan Hermione Granger. Bagaimana mereka bisa memutuskan menikah hanya karena sebuah film fiksi seperti itu? Akupun tidak tahu. Haha. Tapi Mas Yayan dan Lani memang sama-sama gila, jadi aku tak begitu heran dengan keputusan mereka ini.
Kami bergabung dengan anggota keluarga yang lain di barisan kursi paling dekat dengan gazebo. Ibuk terlihat senang namun cemas setiap kali memandang ke arah Mas Yayan. Tak berselang lama acara ijab qobul pun dimulai. Setelah penghulu melakukan khotbah nikah dan doa, ayah Lani yang membaca kalimat ijab dengan tegas dan mantap.
"Saudara Januar Wibisono bin Gunawan Wibisono!", mulai ayah Lani.
"Saya.", jawab Mas Yayan.
"Aku nikahkan kamu dengan putriku Lani Sandrina binti Rudy Harmawan dengan mas kawin sembilan belas gram emas dua puluh empat karat beserta uang dua belas juta dua ratus sembilan belas ribu rupiah dibayar tunai.", ijab ayah Lani.
"Saya terima nikahnya Lani Sandrina binti Rudy Harmawan putri bapak untuk saya sendiri dengan mas kawin tersebut di bayar tunai.", qobul Mas Yayan yang terdengar gugup namun cukup jelas.
"Bagaimana saksi? Sah?", tanya penghulu.
"SAH.", jawab saksi dan beberapa undangan.
Prosesi ijab qobul diakhiri dengan tukar cincin dan Mas Yayan yang mencium kening Lani. Aku bisa melihat kebahagian yang terpancar pada wajah ibuk. Sambil perlahan menyeka air matanya ibu mengulas senyum pada kedua mempelai. Dan acara di lanjutkan dengan mereka sungkem kepada kedua orangtua masing-masing mempelai. Setelah itu mereka mulai menyambut para tamu. Aku turut bahagia atas mereka. Semoga mereka menjadi keluarga yang sakinah, mawadah wa rohmah.
"Tan?.", terdengar sapaan suara pria dari arah belakangku.
Suara pria yang sudah lama sekali tak terdengar. Aku berbalik untuk memastikan siapa gerangan yang memanggilku. Dan benar saja, itu memang dia.
"Oh? Mas Damar? Wah lama g' ketemu, piye kabare?", basa-basiku.
Jujur aku cukup terkejut melihatnya disini. Sangat jelas kalau dia tamu dari Lani karena tak mungkin Mas Yayan yang mengundangnya. Mas Zaky yang mendengar aku menyebut nama Mas Damar langsung bergabung bersama kami. Kami berbincang sejenak sekedar berbasa-basi sebelum akhirnya seorang gadis mendekat ke arah kami. Mas Damar menyambutnya dan memperkenalkan sang gadis kepadaku dan Mas Zaky.
"Kenalin iki Grace dia seng lagi deket sama aku.", katanya dengan senyum malu.
Gadis cantik itu juga tampak malu-malu, menjabat tanganku dan anggukan Mas Zaky. Dia cukup ramah dan mudah bergaul. Mas Damar bercerita selama ini dia menetap di Singapore untuk menjalankan cabang perusahaan keluarganya. Dia bertemu dengan Grace disana. Terlihat mereka sangat serasi dalam setiap interaksi yang meteka tampilkan. Mas Damar juga banyak tersenyum. Aku senang melihatnya bangkit dan memulai hubungan yang baru. Dia layak untuk bahagia.
"Mereka anak-anakmu? Kok cepet banget wes tiga.", katanya sambil mengangkat Akmal ke gendongannya.
"Dia Akmal, kamu inget? Bayi di kamp pengungsian. Kami mengadopsinya. Dan yang dua ini, adik'e Akmal. Si kembar Abizar ma Aisyah.", jawab Mas Zaky.
Tak lama perbincangan itu, dan kami akhirnya putuskan berpisah untuk menikmati waktu masing-masing di pesta ini. Aku, Mas Zaky dan Hafizah bersama anak-anak mendekati mempelai. Lani sangat cantik, sikapnya jadi anggun tak seperti biasa yang tak bisa diam, pecicilan. Saat matanya menangkap sosokku dia langsung merengkuhku dalam peluknya.
"Jahat banget, baru nongol!", rengeknya.
"Haha, langsung ilang jaim'e. Aku wes dari tadi kok. Cuma tadi pas mau nyamperin kamu kami ketemu Mas Damar terus kita ngobrol bentar.", jawabku.
"Oh, kalian ketemu Mas Damar? Maaf ya, aku seng ngundang dia. Kita temanan di fb sama ig soalnya.", katanya sambil menatap padaku dan Mas Zaky bergantian.
"Santai kali Lan, kami g' ono masalah kok.", timpal Mas Zaky.
"Bro....aku ganteng g'? Tadi pas ijab qobul aku keren doooong.", Ujar Mas Yayan tiba-tiba yang hanya dibalas kekehan oleh Mas Zaky.
"Uuuwweeekk, ganteng banget kalo diliat pake' teleskop. Punya mas kok narsis'e g' ketulungan yooo. Tapi cocok sih kalian berdua. Haha.", candaku.
"Nih yo adekku sayang, mas sih g' heran kalo kamu g' iso liat kegantenganku. Emang matamu kan g' beres, g' iso bedakan mana seng ganteng sama mana seng buruk rupa.", katanya dengan tangan merangkulku dan melirik ke arah Mas Damar yang sedang bercengkrama dengan tamu lain yang cukup jauh dari tempat kami berdiri.
"Ih, nyebelin.", sewotku yang hanya membuat yang lain tertawa.
Kami memasuki sesi berfoto bersama keluarga besar, dan foto-foto lainnya dengan teman-temanku dan Lani dan kolega-kolega serta sahabat-sahabat Mas Yayan. Kebahagian terpancar dari sorot mata Mas Yayan dan Lani. Dari dulu aku selalu merasa bahwa di balik sikap jahil dan usil setiap kali mereka bertemu, mereka sebenarnya punya perasaan saling suka. Memang jodoh rahasia Allah, siapa yang mengira Mas Yayan bakal menikah dengan Lani jika melihat deretan pacar yang selalu mengelilinginya sampai
akhir.
Untungnya si kembar cukup tenang di tengah kebisingan ini. Meski begitu aku masih menyusui mereka beberapa kali. Sebelum acara usai kami berpamitan untuk pulang lebih dulu dengan pertimbangan si kembar yang masih kecil dan harus segera istirahat. Kami menyuruh Hafizah untuk bergabung bersama keluarga yang lain dan tak perlu ikut kami pulang untuk membantuku menjaga si kembar.
Sampai di rumah rupanya Akmal juga sangat lelah, tanpa menunggu lama dia bergabung dengan si kembar di alam mimpi. Setelah berganti pakaian yang lebih santai aku memilih bersantai di temani teh melati di ruang tengah. Tak lama kemudian Mas Zaky bergabung bersamaku di sofa dan menyandarkan kepalanya di bahuku.
__ADS_1
"Tehku mana? Pelit ih, aku yo g' dibikinin.", katanya dengan mata tertutup.
"Yowes, sini tak bikinin dulu.", kataku.
Tapi saat aku akan beranjak dari sofa, Mas Zaky malah merebahkan kepalanya di pangkuanku.
"Haha. Apaan se mas?, katae mau teh kok malah rebahan.", kataku.
"Aku capek, pingin rebahan. Kamu manjaain anak-anak terus, aku kan yo mau dimanjaain.", katanya dengan nada manja.
"Hahaha, masa iya kamu iri ma anak-anak. Duuuh, gemes deh.", kataku sambil mencubit hidungnya.
"Ya kan kamu harus tetep punya waktu dong buat aku."
"Aku punya waktu kok buat kamu. Punya banyak waktu.", jawabku sambil tersenyum.
Aku menunduk dan mencium keningnya. Lalu aku mulai memijat lembut kepalanya, ini yang sering kulakukan padanya dulu. Mas Zaky menutup matanya menikmati. Dasar. Bagaimana bisa pria gagah yang selalu melindungiku dan ayah yang selalu mengurus anak-anak jadi semanja ini? Apa aku akhir-akhir ini memang kurang perhatian kepadanya? Melihatnya merajuk seperti tadi membuatku merasa bersalah. Saat matanya terpejam seperti ini dia terlihat sangat manis, tampan tapi manis. Tanganku yang memijat kepalanya mulai beralih menulusuri setiap sudut wajahnya. Tampak guratan-guratan lelah dan kantung mata yang menghitam. Dia pasti sangat lelah, setelah seharian bekerja di konveksi masih harus membantuku mengurus Akmal dan si kembar.
"Kamu pasti capek banget yo mas. Udah capek seharian ngurusin konveksi, pas di rumah mesti bantuin aku ngurusin Akmal dan si kembar. Maaf yo mas, aku jadi bikin kamu tambah capek.", kataku masih dengan menelusuri wajahnya.
Mas Zaky menggenggam tanganku, menghentikan tanganku menelusuri wajahnya. Dan kemudian menciuminya.
"Iku wes jadi kewajiban ku sebagai suami, orangtua mereka kan bukan cuman kamu. Kamu g' perlu minta maaf gitu." katanya lembut.
Sorot matanya yang tajam tapi lembut menatapku lama sebelum akhir tangannya merengkuh kepalaku agar menunduk dan menyatukan bibir kami. Rasanya sudah sangat lama kami tidak bermesraan, apa sebelum si kembar lahir ya? Aku bahkan sudah lupa. Mataku tertutup menikmati setiap sensasi dari ciuman ini. Semakin lama semakin dalam. Kami larut dalam buaian hasrat. Bahkan saat Mas Zaky merubah posisinya menjadi duduk pun pagutan kami tak terlepas. Rasanya seluruh tubuhku memanas dan aku tahu Mas Zaky pun begitu. Dengan napas yang memburu kami melepas ciuman kami. Tanpa menunggu lagi Mas Zaky menarikku menuju kamar tamu. Setelah pintu tertutup kami kembali saling menyentuh, ciuman, elusan, belaian dan sampailah kami pada inti dari semua ini tepat saat tangan Mas Zaky sudah melepas kaitan terakhir dari kancing dasterku tangis si kembar bersautan dari dalam kamar kami.
"Huuuuuffff....", terdengar helaan napas panjang dari Mas Zaky.
Dengan wajah kusut dan pasrah seperti kalah perang dia beranjak dari atasku dan mempersilahkan ku pergi mendatangi si kembar.
"Maaf ya mas.", ujarku dengan cengiran sebelum berlalu meninggalkannya.
Saat sampai di kamar, aku melihat kaki Aisyah ada diatas paha Abhizar. Mereka sama-sama menangis. Untungnya Akmal tak terbangun oleh tangisan adik-adiknya, mungkin dia terlalu lelah jadi tidurnya sangat lelap. Aku mengangkat Aisyah terlebih dulu dan akan menaruhnya di kereta saat Mas Zaky datang dan menggendong Abizar.
"Kamu nenenin dulu ae si Aish, Abizar biar aku diemin di teras.", katanya sambil tersenyum.
Aku jadi semakin tak enak pada Mas Zaky. Tapi aku bangga dan bahagia memilikinya sebagai suami. Dia sanggup mengalah demi kepentingan anak-anaknya, keluarganya selalu nomer satu dalam hidupnya setelah agamanya. Menatap punggungnya yang menjauh, aku mendapat sebuah ide di kepalaku. Setelah memastikan si kembar tidur tenang, aku mulai melaksanakan sebuah rencana. Secara diam-diam aku sudah menghubungi ibuk untuk minta tolong menjaga Akmal, memesan makan malam, menyesuaikan waktu dengan jam tidur si kembar. Semua sudah kupersiapkan tinggal menunggu Akmal terbangun. Sekitar ba'da ashar Akmal akhirnya bangun. Setelah memandikannya dan merapikan baju ganti untuknya, aku menyuruh Mas Zaky mengantarnya ke rumah ibuk dengan alasan ayah dan ibuk kangen dengan Akmal. Sebelum maghrib Mas Zaky sudah di rumah. Makanan yang ku pesan juga sudah kutata rapi di meja makan. Biarlah hari ini kami makan malam lebih cepat dari biasanya. Seusai sholat maghrib aku mengajak Mas Zaky untuk mulai makan malam.
"Kok awal banget wes mau makan malem?", tanyanya heran.
"Iya g' po-pi. Mumpung Akmal di rumah ibuk dan si kembar jam anteng-antenge tidur. Aku mau ngajak kamu kencan. Kita punya waktu empat jam sebelum si kembar bangun. Jadi kita kencane di rumah wae.", kataku sambil nyengir.
"Hahaha, bisa ae kamu. Emang agendae mau ngapain ae kalo kencan di rumah?"
"Kejutan, sekarang kita maem ae dulu.", jawabku asal.
Setelah makan kami bercengkrama sambil menunggu waktu isya' tiba. Setelah sholat isya' aku baru mengajaknya berkencan ala rumahan. Aku mengajaknya nonton film di dvd, bermain tebak kata, bercengkrama sambil minum teh dan yang terakhir aku mengajaknya ke kamar tamu. Aku sudah mendekor kamar tamu ini semirip mungkin dengan kamar pengantin kami dulu. Pita, balon dan bunga-bunga yang bertebaran di seluruh permukaan ranjang. Dari tampangnya sekarang aku bisa tahu kalau kejutanku berhasil.
"Kejutan.", bisikku di telinganya.
"Masyaallah Tan, kapan kamu ngerjain iki? Kok aku g' tau.", katanya dengan suara kagum.
"Tadi pas kamu ketiduran di ruang kerja. G' sama se sama kamar pengantin kita dulu tapi cukup mirip kan?", kataku dengan senyum ceria.
"Bagus kok, aku suka. Terus mau ngapain kok sampe' bikin koyok gini?", tanyanya dengan senyum jahil.
"Iiiih, pura-pura g' tau. Yo mau nglanjutin seng tadi siang g' jadi lah.", kataku sambil menahan malu.
"Hahaha, udah koyok gini kok kamu masih malu -malu. Ayok.", katanya dan langsung menarikku ke arah ranjang.
__ADS_1
Tak butuh waktu lama untuk kami saling bergelut melepas semua hasrat dan kerinduan.
Kami tak tahu apa yang akan kami hadapi di kemudian hari. Tapi untuk saat ini kami cukup memiliki satu sama lain di kehidupan kami. Saling mendukung. Saling menopang. Saling bergantung. Menghadapi setiap masalah bersama. Itulah cinta kami. Inilah pernikahan kami. Keluaga kami. Semoga akan terus menjadi sakinah, mawadah warohmah. Aaaamiin.