
"Kamuuu?", kataku lirih saat melihat pria tersebut. Bersamaan dengan itu, pria itu menyapaku.
"Assalammualaikum", sapanya ramah dengan senyum lebar.
Suara pria yang seumuran dengan ayah mengalihkan perhatianku. "Oh, kamu isek ileng karo anak'e om tibak'e, padahal wes suwe gak ketemu Zaky kan."(oh, kamu masih ingat dengan anaknya om ternyata, padahal sudah lama tidak bertemu dengan Zaky kan), kata teman ayah tersebut dengan sumingrah.
Aku mengernyit bingung. Siapa Zaky? Memang pernah ketemu dimana sebelum kejadian tadi siang?
"Ehmm, ngapunten om, kulo mboten semerep sinten Zaky."(ehmm, maaf om, saya tidak tahu siapa Zaky.), jawabku sambil duduk di kursi dekat ibuk dan berhadapan dengan pria yang tadi siang ku tabrak di lobi rumah sakit. "Kalau mas-mas niku, kami bertemu di lobi rumah sakit tadi siang.", imbuhku sambil menunjuk menggunakan ibu jari ke arah pria di hadapanku.
"Oh dadi kowe ra ileng karo Zaky lan om karo tante toh nduk. Wah tante kecewa iki."(oh jadi kamu tidak ingat sama Zaky dan om dengan tante toh nak. Wah tante kecewa nih.), sekarang ibu-ibu cantik itu yang bicara. Dengan suara lembut dan senyum simpul.
Kami melanjutkan obrolan sambil menyantap makan malam. Dari obrolan tersebut aku tahu kalau mereka adalah satu keluarga. Pria yang sebaya dengan ayah adalah Om Abdullah temen kuliah ayah. Dan ibu-ibu cantik di sebelahnya adalah Tante Halimah, istrinya. Sedangkan pria yang ku tabrak tadi siang dan kini duduk di seberangku adalah Mas Zaky, anak mereka. Obrolan terus berlanjut dengan berbagai topik silih berganti. Tidak ketinggalan juga mengalirnya cerita tentang insiden tabrakan di lobi tadi siang dari mulut Mas Zaky.
Aku tidak terlalu aktif berbicara, hanya mendengarkan dengan tenang dan sesekali menimpali. Itu sudah watakku, sedikit bicara kalau belum merasa akrab.
Banyak informasi yang aku dapat dari obrolan mereka. Salah satunya adalah ini sebenarnya pertemuan kedua ku dengan Mas Zaky secara formal. Dulu, dulu sekali sekitar tujuh tahun yang lalu kami pernah bertemu. Juga di acara makan malam di rumah kami seperti saat ini. Sebelum dia pergi ke Kairo untuk menempuh pendidikan di Al-Azhar. Pantas saja aku merasa sedikit familiar. Tapi hanya sebatas itu. Aku benar-benar tidak ada ingatan sama sekali tentang orang-orang ini.
Setelah makan malam selesai, kami berpindah ke ruang santai yang menghadap teras samping. Sambil menikmati indahnya bunga-bunga anggrek ibuk yang sedang bermekaran mulai dari phalaenopsis, dendrobium, vanda bahkan oncydium. Hampir semua berbunga. Tersaji beberapa cangkir teh hangat dan juga beberapa kue, termasuk kue yang kubeli untuk ayah tadi siang di meja marmer di depan kami. Obrolan-obrolan ringan masih mengalir sampai akhirnya ayah meminta perhatian kami semua. "Ekhem.., amergo waktue wes tambah bengi aku arep ngumumno perkoro seng wes disepakati kedua keluarga."(Ekhem.., karena waktu sudah semakin malam saya mau mengumumkan sesuatu yang sudah disepakati oleh kedua keluarga.), kata ayah berwibawa membuat kami semua diam memperhatikan. Tapi kalimat ayah berikutnya adalah sebuah kejutan yang benar-benar tak terpikirkan olehku. "Tania, ayah arep nikahno kowe karo Zaky. Kalian berdua wes ayah jodohno pas Zaky mrene pitong tahun kepungkur sak doronge dek'e budal nang Mesir."(Tania, ayah akan menikahkan kamu dengan Zaky. Kalian berdua sudah ayah jodohkan tujuh tahun yang lalu sebelum dia berangkat ke Mesir), lanjut ayah dengan senyum mengembang.
__ADS_1
Tapi bagiku petir sedang menyambar bersautan padaku. Mendadak telingaku berdengung dan tidak lagi mendengar perkataan ayah selanjutnya. Seperti tuli, aku hanya merasa hening tiba-tiba dan kepalaku mulai berputar. Terlambat menyadari bahwa tangan hangat ibuk sudah memelukku lembut. Aku mendengarnya berkata, "Tania mek kaget. Gak po-po. Maklum memang dorong ono omongan karo Tania perkoro iki sak doronge."(Tania cuma kaget. Tidak apa-apa. Maklum memang belum ada pembicaraan dengan Tania tentang ini sebelumnya.)
"Sampeyan beneran gak po-po ndok?, wajahmu pucet banget iku."(kamu benar tidak apa-apa nak?, itu wajah kamu pucat sekali.), kata tante Halimah terdengar khawatir.
Aku mengedarkan pandangan, dan memang semua orang terlihat khawatir. Terutama Mas Yayan yang sedari tadi tidak banyak bicara, tidak seperti biasanya. Mungkin dia sudah tahu arah pertemuan ini dan merasa khawatir tentang situasiku sekarang.
"Kamu gak usah khawatir Tan, Zaky iki anak'e baik kok. Om jamin. Zaky yo wes setuju karo perjodohan iki."(kamu tidak usah khawatir Tan, Zaky ini anaknya baik kok. Om jamin. Zaky juga sudah setuju dengan perjodohan ini.", kali ini om Abdullah yang bicara.
Batinku sedang berkecamuk. Mas Damar kamu dimana sih. Harusnya kamu yang sekarang meminta restu orang tuaku. Aku harus ngomong apa ke orang tuaku kalau kamu menghilang begini. Bagaimana dengan anak kita mas?. Cepat balik dong mas. Tanganku mulai gemetar. Keringat mulai membasahi dahiku. Aku bingung bagaimana bicara untuk menolak perjodohan ini. Apa yang harus ku katakan?
"Ojo meneng wae toh Tan, ayo ngomong. Kamu terimo kan. Ayah gak pingin kamu nolak loh."(jangan diam aja toh Tan, ayo bicara. Kamu terima perjodohan ini kan. Ayah tidak mau kamu menolaknya.), suara ayah terdengar sangat tegas tidak ingin dibantah.
Belum lama aku menutup mulut, ayah meraung murka ke arahku. "DAMAR MANEH..DAMAR MANEH!! KOWE YO WEROH LEK AYAH KARO IBUK GAK SETUJU KOWE PACARAN KARO DAMAR. AYAH GAK PINGIN WEROH, POKOK'E KOWE KUDU NIKAH KARO ZAKY. TITIK!!"(Damar lagi..Damar lagi!! Kamu juga tahu kalao ayah dan ibuk tidak setuju kamu pacaran sama Damar. Ayah tidak mau tahu, pokoknya kamu harus menikah dengan Zaky). Teriakan ayah membuatku beringsut mundur. Aku tetaplah anak perempuan yang punya rasa takut pada ayahnya.
"Wes lah Gun, lek Tania gak gelem yo ojo dipekso toh.", kata om Abdullah menengahi. Om Abdullah terlihat tenang, begitu juga tante Halimah tapi tidak dengan Mas Zaky. Dia terlihat terkejut dan kecewa.
"Gak Dul, keputusanku wes bulat. Tania bakal nikah karo Zaky!!.", ayah tetap berkeras.
Air mata perlahan menetes di pipiku. Aku terus mengulangi perkataanku bahwa aku tidak menerima perjodohan ini. Itu membuat ayah bertambah murka.
__ADS_1
"KOWE DADI ANAK RA KENEK DI ATUR WONG TUO. ENDI DAMAR?, RA KETOK IRUNGE!! KOWE MENENG OMAH PIRANG-PIRANG DINO, DAMAR YO RA KETOK NJEBOL."(kamu jadi anak tidak bisa di atur orang tua. Mana Damar?, tidak terlihat batang hidungnya!! Kamu di rumah beberapa hari, Damar juga tidak terlihat datang.), setelah mengambil napas panjang ayah menyambung kalimatnya dengan nada lebih tenang namun masih tegas, "Wes ngene ae, lek Damar pancen serius karo kowe, saiki teleponen kongkon mrene. Bakal ayah temoni bareng karo Zaky."(sekarang begini saja, kalau Damar memang serius sama kamu, sekarang telepon dia suruh kesini. Bakal ayah temui bersama dengan Zaky.)
"Kalau sekarang Mas Damar mboten saget yah.", jawabku lirih sambil menunduk.
"NAPO KOK GAK ISO?!, JARE SERIUS KARO KOWE!, aku molae awal gak percoyo nang bocah iku. Aku yakin dek'e gak pernah serius nang kowe. Mek kerjaane tok seng dipikirno!" (kenapa kok tidak bisa?!, katanya serius sama kamu!, saya mulai awal tidak percaya sama anak itu, Saya yakin dia tidak pernah serius sama kamu. Cuma pekerjaannya saja yang dipikirkan!), ayah terus memojokkan Mas Damar. Aku mulai merasa tidak terima, terutama karena ada keluarga Mas Zaky disini.
"Gak yah, Mas Damar serius sama aku. Pokok'e aku mau nikahe karo Mas Damar.", ujarku tersulut amarah tidak lagi memggunakan bahasa jawa krama alus.
"Wes lah Tan, opo seng arep mbok enteni toh Damar yo gak onok kabar seprene. Orep opo mati awak'e dewe yo gak weroh."(Sudahlah Tan, apa yang mau kamu tunggu toh Damar juga tidak ada kabar sampai sekarang. Hidup atau mati kita juga tidak tahu.), Mas Yayan yang sedari tadi diam, kini malah memperburuk situasi ku.
"Opo maksudmu Yan?", tanya ayah dan ibuk bersamaan.
"Gak, Mas Yayan cuman asal ngomong yah.", sahut ku panik. Tapi dari tatapan Mas Yatan ke arahku, menunjukkan bahwa Mas Yayan akan membeberkan situasi Mas Damar.
"Damar ngilang yah, Dek'e ganok kabar wes arep telong mingguan. Keluargae karo konco-koncoe wes podo golek'i tapi dorong ketemu." (Damar menghilang yah, dia tidak ada kabar sudah hampir tiga minggu ini. Keluarganya dan teman-temannya sudah mencarinya tapi belum ketemu.), terang Mas Yayan.
Mendengar itu ayah seperti mendapat pembenaran atas penilaiannya tentang Mas Damar selama ini. "Benerkan opo jare ayah,Damar iku ra nduwe tanggung jawab. Saiki ninggal keluargae, karyawane, ninggal kowe!!. Dorong nikah ae wes kabur-kaburan, terus piye mben lek wes nikah? Bakal sengsoro kowe ditinggali teros!"(benarkan apa kata ayah, Damar itu tidak punya tanggung jawab. Sekarang pergi meninggalkan keluarganya, karyawannya, meninggalkan kamu!!. Belum menikah saja sudah kabur-kaburan, terus bagaimana nanti kalau sudah menikah? Bakal sengsara kamu ditinggal terus).
"Sabar Gun..sabar, wes ngene ae, aku sekeluarga tak wangsul disek. Kowe marekno masalah karo anakmu disek. Mben iki diomongno maneh."(Sabar Gun..sabar. begini saja, aku sekeluarga pulang dulu. Kamu selesaikan masalah dengan anakmu dulu. Nanti ini kita bicaran lagi), Masih dengan tenang om Abdullah bicara. Mungkin beliau sekeluarga merasa tidak nyaman dengan pertengkaranku dengan ayah.
__ADS_1
"Wes lah Dul, ganok seng kudu diomongno maneh, Tania tetep bakal nikah karo Zaky."(Sudahlah Dul, tidak ada yang perlu dibicarakan lagi, Tania tetap akan menikah dengan Zaky), tak ada bantahan. Bagaimana pun aku menolak, aku yakin pernikahan ini akan tetap berlangsung. Ultimatum kesekian kalinya yang ayah berikan padaku.