
Semenjak panggilan video call malam itu, aku dan Mas Zaky jadi lebih sering melakukannya lagi. Paling tidak dua hari sekali kami melakukan panggilan vc. Tak jarang pula panggilan vc tersebut saat aku sedang bersama Akmal. Sepertinya dia juga mulai terbiasa dengan kehadiran Akmal di setiap pembicaraan kami. Bahkan sekarang dia lebih sering menanyakan keadaan dan perkembangan Akmal lebih dulu dari pada keadaanku. Beberapa kali kami menyinggung kemungkinan mengangkat Akmal menjadi anak asuh kami. Ide mengadopsi Akmal bahkan tak datang dariku tapi dari Mas Zaky. Gagasan itu tentu saja membuatku senang. Aku bahkan membicarakan kemungkinan itu pada Amara dan dokter disini. Sepertinya kemungkinan itu bisa terwujud cukup besar. Aku juga sudah membicarakan rencanaku untuk mengakhiri menjadi relawan pada petugas medis lainnya. Mereka memintaku menunggu sampai ada kabar dari relawan lain yang akan datang. Jadi belum bisa di pastikan kapan aku bisa pulang.
Aku belum membicarakan rencana kepulanganku pada Mas Zaky, juga rencana aku akan mengenakan hijab. Itu karena aku ingin membuatnya sebegai kejutan. Sampai sekarang aku memang belum mengenakan hijab-hijab yang ku beli bersama Amara. Tapi aku sudah merubah cara berpakaianku menjadi lebih tertutup. Blouse-blouse dan rok-rok terusan selutut yang kubawa kesini sudah ku bagi-bagikan kepada pengungsi yang mau mengenakannya. Sekarang aku memakai pakaian yang ku beli bersama Amara. Entah Mas Zaky menyadari perubahan berpakaianku saat kami melakukan panggilan vc atau tidak, karena dia bersikap biasa saja.
Sudah seminggu ini Mas Zaky menghubungiku dari luar kota. Katanya dia sedang ada urusan dengan pabrik kain yang memasok bahan untuk konveksinya. Dari pembicaraan kami semalam sepertinya belum ada tanda-tanda urusannya selesai. Dia juga tidak tahu kapan harus kembali ke Malang. Ternyata saat kami berjauhan seperti ini malah membuat kami jadi dekat. Dulu aku menghubunginya jika hanya ada urusan yang kuanggap ada sangkut pautnya dengannya. Tapi sekarang aku malah ingin meneleponnya setiap detik. Dua bulan sudah aku disini dan cukup bagiku untuk tahu betapa beratnya menahan rindu. Semoga cepat ada kabar dari para relawan yang akan menggantikanku.
Jarum jam di tanganku sudah menunjukkan setengah satu siang. Aku sedang menunggu perawat lain yang akan menggantikanku menjaga Akmal. Tak terasa sudah satu bulan usianya. Aku jadi tak sabar untuk segera pulang dan mengurus surat-surat untuk pengadopsiannya. Begitu Ika, perawat yang akan menggantikanku menjaga Akmal tiba aku segera bergegas pergi menunaikan sholat dzuhur dan santap siang. Usai makan siang pk.Hakim, kepala penanggung jawab disini dan dr.Taufan penanggung jawab di tim medis menunggu untuk menyampaikan bahwa dua relawan telah datang untuk menggantikanku. Berita ini sedikit membuatku terkejut karena tidak adanya kabar sebelumnya. Pk.Hakim dan dr.Taufan mengajakku menemui mereka di tenda tempat kami biasanya rapat. Begitu aku tiba di tenda, aku tersentak kaget saat kedua relawan tersebut berbalik menhadap pintu masuk.
"Kok, kalian?", tanyaku mengernyit bingung.
"Hai Tan, piye kabare?", sapa ramah yang terdengar jelas dibut-buat oleh pria di sisi seberang tenda.
"Lan?", aku menuntut penjelasan pada Lani yang berdiri tegang di samping Mas Damar.
"Oh kalian sudah saling kenal?, bagus-bagus. Itu mempermudah kerja kalian. Tan, sebelum kamu pergi kamu harus jelaskan semua tugas mu yang akan di gantikan oleh saudari Lani. Dan untuk saudara Damar akan membantu bersama saya dibidang logistik",kata pk.Hakim sebelum Lani sempat menjawab pertanyaanku.
"Baik, pak.", jawabku sebelum aku berlalu pergi meninggalkan tenda itu.
Aku tahu Lani mengekor di belakangku. Tapi aku tidak menoleh sekalipun sampai aku berada di tenda bayi Akmal. Saat Lani tiba di belakangku dan akan mengatakan sesuatu Ika telah mendahauluinya.
"Tan, tadi ada bidan dari puskesmas terdekat datang. Dia memeriksa Akmal. Terus juga ada pegawai dari balai desa dan kecamatan terdekat, kayaknya mereka lagi ngebuat data ato apalah tentang Akmal", terang Ika panjang lebar.
Aku merasa aneh dengan kedatangan bidan dan pegawai dari desa dan kecamatan yang tiba-tiba dan berbarengan. 'Hhmmm mungkin mereka cuma mendata kelahiran pebduduk baru di desa ini' pikirku lebih untuk menenangkan hatiku yang gelisah. Aku sampai lupa kalau Lani masih berdiri di belakangku. Sampai saat Ika menanyakan siapa dia.
"Siapa Tan?", tanya Ika sambil menggedikan dagu ke arah belakangku.
Saat itulah aku baru ingat kalau ada Lani di belakangku.
"Oh ya Ka, kenalin ini Lani. Dia yang bakal gantiin aku disini."
"Oh, halo. Aku Ika.", sapanya sambil mengulurkan tangannya ke Lani.
"Hai, aku Lani.", sambut Lani dengan tersenyum.
"Ehm Ik, aku tinggal bentar ya. Ada yang perlu aku tunjukin ma jelasin ke Lani." kataku kemudian.
"Siiip, lagian Akmal baik kok. G' rewel."
Setelah mendengar jawaban Ika, aku langsung berbalik meninggalkan tenda dan diikuti Lani dibelakangku. Aku terus berjalan sampai menemukan tempat yang jarang orang lalu lalang di sini.
"Kamu iso jelasin g' kok sampek Mas Damar iso ndek sini?", tanyaku langsung begitu kaki kami berhenti melangkah.
"Maaf Tan. Aku g' iso nolak. Dia mohon-mohon buat kasih tahu kamu ndek mana. Seminggu lebih dia gangguin aku, aku wes capek. Dia bilang mau minta maaf ke kamu terus janji g' bakal ganggu kamu lagi.", terangnya.
"Terus kok bisa kamu sama dia dadi relawan ndek sini?"
__ADS_1
"Aku telepon Amara, terus denger kalo kamu mau balik dan lagi cari relawan pengganti. Aku g' berani telepon kamu langsung, aku tahu kamu bakal ngamok.", jawabnya lagi.
"Duh Laaaan. Kamu iku bikin situasi tambah rumit, tahu g'? Aku iku baru deket sama Mas Zaky belakangan iki. Kamu pikir wes, kiro-kiro opo seng bakal Mas Zaky pikir kalo lihat Mas Damar ndek sini. Istrie jauh dari rumah satu tempat sama mantan pacare lagi. Mantan pacare seng masih bilang sayang, cinta ke istrie. Piye?", kataku frustasi.
"Maaf, Tan. Maaf.", katanya pelan.
Huuuuh, percuma aku marah-marah. Toh sudah terjadi. Sekarang aku harus bisa menjelaskan situasi ini ke Mas Zaky tanpa menimbulkan salah paham.
"Yowes, lah. Ayo balik ke tenda, aku jelasin tugas-tugas kamu.", kataku lelah dan berjalan mendahuluinya.
Baru beberapa langkah aku berjalan, Lani memelukku dari belakang. Aku bisa merasakan tubuhnya bergetar. Apa dia menangis? Haaah...Dia biasanya tipe orang yang periang dan tentunya dia jarang menangis.
"Maaf, Tan. Ojo marah ke aku. Aku g' ono maksud buat ganggu kamu sama Mas Zaky.", katanya dalam tangis.
"Iyo, iyo. Wes ojo nangis. Ayo balik ke tenda.", jawabku sambil melepas pelukan tangannya.
Aku kembali berjalan, kali ini aku berjalan di samping Lani. Kami menuju ke tenda yang diperuntukkan untuk istirahat. Setelah menjelaskan sejenak tentang peraturan tempat tidur aku menyuruh Lani untuk istirahat karena dia baru saja menempuh perjalanan yang jauh untuk tiba disini. Saat aku kembali ke tenda medis Mas Damar sudah disana menunggu.
"Kamu ojo marah ke Lani, aku seng paksa dia buat kesini nemenin aku temuin kamu.", katanya saat aku tiba di depannya.
Mau tak mau aku harus menghadapinya. Sudah tak ada tempat dan waktu buat menghindarinya lagi.
"Sekarang wes ketemu! Terus kamu mau apa?", tanyaku dingin.
'Huuufff...sabar, sabar. Aku harus sabar ngadepin orang ngeyel koyok Mas Damar' batinku dalim hati.
"Yowes, ikut aku sini.", kataku dengan berjalan mendahuluinya.
Aku membawanya ke salah satu tenda medis yang sedang tidak digunakan. Ada beberapa alat medis di atas meja, ada satu kursi di baliknya. Disisi tenda ada drakbar lipat, aku memilih duduk di situ. Aku tak mau duduk di kursi yang posisinya di pojok dan terhalang meja juga drakbar. Itu membautku tersudut jika aku duduk disitu. Entah karena capek berdiri atau dia mengerti maksudku, Mas Damar melangkah dan duduk di kursi. Aku merogoh saku rompiku untuk meraih ponsel dan mengetik pesan pada Amara dan dr.Taufan yang isinya aku sedang menggunakan tenda ini untuk pembicaraan pribadi.
"Mau kamu opo se Mas, sampek kayak gini?"
"Aku kangen. Kamu ngilang tanpa kabar.", katanya santai.
"G' usah aneh-aneh wes mas, aku kan wes bilang kalo aku pilih Mas Zaky.", jawabku judes.
"Kamu iku cuma lagi ngambek ke aku. Mana mungkin kamu milih si Zaky. Kamu ae baru kenal dia yo pas nikah iki kan?", dengan santai dia menanggapi perkataanku.
"Iku penyangkalan seng ono ndek otakmu. Kenyataane aku emang luweh milih Mas Zaky. Wes lah mas, kamu g' usah ganggu-ganggu aku lagi. Karena wes terlanjur ndek sini, yo kamu lakuin tugas relawanmu segenap hati. G' usah gangguin aku." kataku dan bersiap untuk pergi.
Tapi pergerakan Mas Damar lebih gesit dari yang ku sangka. Meski dia duduk di kursi balik meja dan jalannya terhalang oleh drakbar dia dengan cepat dapat menghadang jalanku.
"Aku dorong selesai ngomong, Nia. Kamu g' oleh ninggalin lawan bicaramu gitu ae.", katanya dingin sambil mencekal pergelangan tanganku.
Dulu saat kami masih pacaran Mas Damar sangat jarang mengeluarkan aura dingin seperti ini, sekalinya dia seperti ini itu pasti karena aku membuat kesalahan yang fatal menurutnya. Tatapan mata yang seperti ini dulu akan membuatku takut tapi sekarang tatapan ini malah menyulut keberanianku untuk melawannya.
__ADS_1
"Lepasin mas! Kita bukan mahram seng boleh berdekataan opo lagi bersentuhan.", kataku dingin sambil berusaha melepas cekalannya.
"Hahahaha...omong kosong! Haruse kamu pikir-pikir disek sebelum ngajak aku ngomong berdua gini, baru ngomong koyok gitu. Lagian kenapa baru ngomong koyok gitu sekarang kalo kamu ae sampek iso hamil anakku.", tawa kosong Mas Damar diteruskan dengan kata-kata bernada dingin dan kalimat yang terakhir dia katakan dengan berbisik di telingaku.
Hembusan napasnya di telingaku mengelitikku sampai ke tulang belakang. Aku begidik. Tidak, tidak boleh. Terlalu dekat, ini tidak benar. Aku mendorongnya sekuat tenaga dengan satu tanganku yang bebas tapi tak bisa menggesernya walau hanya sesenti. Tangan bebasku kembali terangkat untuk mendorong lagi saat dia mencekalnya. Sial! Sempurna. Sekarang aku benar-benar tak bisa lepas darinya.
"Mas, lepasin. G' lucu tau!", kataku akhirnya.
"Opo keliatan aku lagi nglucu bagi kamu? Aku, jauh-jauh dari malang kesini cuma buat ketemu kamu. Kamu g' iso lihat usaha aku? G' iso liat perasaan aku? Aku kangen sama kamu. Kamu tahu kan kalo aku iku cinta sama kamu!!", katanya dingin dan di akhiri dengan teriakan.
Jujur nyaliku mulai menciut. Seperti apapun aku melawannya itu akan sia-sia. Bagaimanapun dia adalah lelaki dewasa sehat yang tenaganya berlipat lebih kuat dari tubuh mungilku. Dengan posisiku sekarang, aku benar-benar terpojok. Apa yang harus kulakukan. Bayangan Mas Zaky langsung terbesit di kepalaku. Aku ingin bersembunyi di balik punggungnya. 'G' oleh begini. Berpikir Tania, berpikir.' teriak batinku.
"Lapasin, mas. Atau aku bakal teriak! Kamu nyakitin aku tahu g'? Tanganku sakit." kataku lagi, kali ini ku akhiri dengan wajah kesakitan.
Mungkin dia mau melepaskan tanganku saat melihatku kesakitan. Tapi yang dia lakukan justru membuatku tambah takut. Dia menarik kedua tanganku agar aku lebih dekat padanya. Dadaku jadi menempel pada bagian bawah dadanya. Bisa ku rasakan aura mengancam datang dari dirinya. Dengan menundukkan kepala Mas Damar berbisik padaku.
"Kamu tinggal santai ae, pasti g' bakal sakit. Kalo kamu terus ngeronta tentu ae bakal nyakitin kamu.", bisiknya lamat-lamat. Dia mengatakannya sangat perlahan dengan suara beratnya, berhasil menggiring gelenyar ke tulang belakangku.
Aku menegang. Sekarang aku benar-benar takut. Tak adakah seseorang yang jalan di sekitar tenda ini? Kemana semua orang? Kenapa Lani atau Amara tak mencariku? aku sudah pergi terlalu lama kan. Aku hanya bisa menunduk 'Ya Allah tolong kirim seseorang buat nylametin aku' doaku dalam hati. Hanya itu yang bisa aku lakukan. Aku mengulangnya terus menerus. 'Bodoh Tania, bodoh. Bener kata Mas Damar kenapa aku gegabah ngajak dia ngomong cuma berdua gini' batinku meruntuk. Saat aku sibuk dengan pikiranku Mas Damar mengangkat daguku dengan tangannya agar aku bisa menatap wajahnya. Baru aku sadar kalau sekarang Mas Damar hanya mencekal kedua tanganku dengan satu tangan. Mungkin ini kesempatanku, jika aku mengerahkan semua kekuatanku mungkin aku bisa lepas darinya. 'Bismilah' dengan kata iku aku mencoba meronta, berpikir bahwa aku bisa lepas dari cekalannya. Tapi meski telah mencoba sekuat tenaga tubuhnya tak bergeming sama sekali. Malah usaha ini menyakiti pergelangan tanganku lebih parah. Rasa sakitnya menusuk hingga ke tulang. Aku tak bisa menahan ringisan merasakan kesakitan seperti ini.
"Bodoh! Kamu ngapain se?! Wes tak bilang g' usah ngeronta! Nyakitin kamu dewe kan! Segitu pingine kamu lepas dariku? Brengsek!", teriak Mas Damar saat melihatku meringis.
Dia bahkan sampai mengumpat. Terus kenapa tak dia lepaskan saja tanganku. Aku bisa melihat pertarungan di kepalanya. Raut wajahnya percampuran antara sedih, kecewa, marah, malu dan....hasrat? Entahlah, aku tak tahu apa yang sedang dia coba lakukan. Mungkin aku harus mencoba bicara pelan-pelan padanya.
"Kamu ngapain se mas kayak gini? Ini bukan kamu. Kamu seng aku tahu g' bakal nyakitin aku kayak gini, iki nakutin aku tahu g'? Pliss mas, lepasin aku yo?", kataku lembut berusaha meruntuhkan pertahanannya.
"G' usah coba-coba Nia. Aku tahu iki siasat kamu biar aku ngelepas kamu kan? Kebaca Nia, kebaca.", sinisnya. "Kamu diem ae g' usah banyak ngelawan. Nikmatin ae setiap sentuhan seperti biasae tiap kali aku nyentuh kamu." lanjutnya dengan seringaian yang tak pernah kulihat sebelumnya dari dirinya.
Aku benar-benar menegang ketakutan saat bibirnya turun ke telingaku menghembuskan gelitik nyeri pada setiap sendi tulangku. Perlahan menuruni pipi hingga berakhir di leher. Tidak, tentu saja reaksi tubuhku tidak seperti dulu saat dia menyentuhku. Mataku terpejam erat. Aku membeku, pikiranku kosong di selimuti ketakutan yang amat sangat. 'Ya Allah tolong lindungi aku, aku tahu ini buah dari kecerobohanku. Tapi aku mohon Ya Allah, tolong lindungi aku.' doa itu terus berputar di hatiku.
"Hiks...", sebuah isakan lolos dari bibirku bahkan sebelum aku sadar kalau aku sudah menangis.
Perlahan kubuka mataku saat ku rasakan Mas Damar diam tak bergerak. Bibirnya yang masih di cekung leherku perlahan menjauh. Dia menegakkan dirinya dan akhirnya tatapan kami bertemu. Untuk berapa lama kami hanya berdiri saling menatap. Tangisku masih belum berhenti, entah mengapa aku tak bisa menghentikannya. Tiba-tiba saja tanganku lolos dari cekalannya. Aku menunduk melihat ke arah pergelangan tanganku. Bisa ku pastikan bahwa tanda merah disana akan menjadi memar kebiruan esok hari.
"Pergi.", suara dingin Mas Damar mengejutkanku.
Aku menatapnya. Terlihat di wajahnya dia sangat terluka. Hilang sudah sosok ramah dengan senyum manis yang ku kenal selama ini. Di gantikan sosok dingin terluka yang sekarang berdiri di hadapanku.
"Pergi kataku!!", teriaknya saat aku masih berdiam ditempat.
Aku berjingkat mendengar teriakannya. Hatiku pilu melihatnya seperti ini. Aku kah yang membuatnya jadi seperti ini? Ya Allah berilah jalan yang terbaik untuk masing-masing dari kami.
"Sedetik ae kamu g' buru-buru pergi, aku bakal beneran lakuin iku ke kamu. Pergi Nia, PERGI!!"
Kali ini aku langsung bergerak ke arah pintu tenda menjauh darinya. Aku menoleh sebentar sebelum benar-benar jauh dari pintu. Dapat ku lihat Mas Damar yang berdiri kaku sambil menunduk dengan bahu bergetar dan telepak tangan yang mengepal. 'Maaf mas jika aku bikin kamu terluka, tapi sekarang hatiku milik Mas Zaky' batinku saat aku semakin menjauh dari tenda itu.
__ADS_1