Jodoh Yang Tak Di Nantikan

Jodoh Yang Tak Di Nantikan
23. persiapan lamaran


__ADS_3

" cie ... yang mau melepas masa duda?" goda Bagas pada adiknya membuat Ikbal hanya berdecak." selamat yah... Abang cuma bisa berdoa semoga kamu bisa menemukan kebahagian lain bersama Aisyah.


ya....sudah 3 hari sejak kepulangan Mereka dari liburan, mereka sedang merencanakan persiapan untuk melamar Aisyah, dua hari lalu kedua orang tua mereka sudah saling menghubungi, Bahkan kedua ibu mereka sudah tampak akrab saat di telpon. rencananya besok sebelum tahun baru ikbal akan mendatangi rumah Aisyah untuk melamarnya. baik ibu Ikbal maupun kakak iparnya menyambut baik hari ini, mereka menyiapkan semua yang akan di bawa ke kampung Aisyah dengan baik.


" sudah lengkap semua kan Flo...???? tanya ibu pada flora kakak ipar ikbal.


" insyaallah sudah semua mah...." jawabnya.


" yasudah nanti suruh para lelaki yang memasukannya kedalam mobil, kamu siap-siaplah ! apalagi anak-anak juga belum kamu urus." ucap ibu bisa pad flora.


flora pun berlalu setelah mengecek semua barang-barang yang akan di bawa ke kampung halaman Aisyah, dia mempersiapkan anak-anak terlebih dahulu sebelum dirinya.


" ayok anak-anak kita siap-siap dulu, hari ini kita akan pergi jauh, jadi kalian gak boleh nakal ya di jalan. kita akan ke tempat calon bunda barunya iky, benar kan iky.?" iky yang ditanya pun hanya mengangguk saja.


" kamu mau punya bunda baru yah iky??? aku juga mau lah bunda baru, bunda yang gak suka nyuruh-nyuruh aku makan sayur terus." semua orang yang ada disana tertawa mendengar ucapan Farhan barusan, sedangkan sang ibu melotot tajam pada anaknya.


" bilang apa kamu Farhan.....kamu minta bunda baru? ah..... kamu buat mommy sedih tau gak ..? " flora pura-pura sedih pada putranya, dia tau ucapan putranya tidak bersungguh-sungguh, itu adalah sebuah ancaman Farhan agar tidak disuruh makan sayur terus oleh ibunya.


" no...mommy just kidding...please don't sad be anymore." ucap Farhan pada ibunya.


" oke, but... Farhan harus tetap rajin makan sayur!!! promise ???"

__ADS_1


" promise....." jawab Farhan.


" sudah sana kalian siap-siap, kalo kelamaan Daddy tinggal kalian." ucap Bagas pada istri dan anaknya.


#


#


#


#


sedangkan di kediaman Aisyah sedang sangat sibuk, mereka sedang gotong royong membersihkan rumah mereka, bahkan sejak kemarin ada tukang yang bertugas mengecat rumah Aisyah, disudut samping rumah Aisyah ada warung sembako kecil-kecilan milik ibu dan sebuah bengkel kecil milik bapak, itu adalah jerih payah Aisyah hampir dua tahun ini, uang THR serta lemburan selalu ia kirimkan ke kampung, dan ibu dan bapak menggunakan uang tersebut untuk membuat warung dan bengkel itu,walaupun Aisyah harus menambahinya lagi. sedikit demi sedikit bengkel dan warung milik mereka lumayan ramai hingga sekarang.


Aisyah bersyukur sekarang bapak tidak kerja panas-panasan lagi, dia bisa bekerja sambil santai di rumah, sedangkan ibu...dia jadi punya kerjaan lain selain menunggu pesanan kue dari para tetangganya, perekonomian keluarga Aisyah sekarang mulai membaik, tapi itu semua tidak membuat mereka jadi bersikap sombong, semua masih tetap sama, yang membedakan adalah rejeki mereka saja.


" Syah....apa keluarga ikbal sudah sampai disini?" tanya ibu pada Aisyah.


" belum Bu....masih di jalan katanya, tadi mereka berangkat agak sorean Bu." jawab Aisyah.


" owh....kirain mereka sudah sampai, kalo sudah ibu mau kirim mereka makanan, biar Arfa yang suruh mengirimkannya." ucap ibu.

__ADS_1


" mungkin mereka sampai tengah malam ke hotel Bu, jadi gak usah lah kita kirim makanan." ucap Aisyah yang dijawab anggukan oleh ibu.


" Syah.....kata pakde, keluarga calonmu itu semuanya keturunan polisi yah??? " tanya bude pada Aisyah.


" bener bude ..ayahnya mas ikbal itu malah sudah pensiun, tapi cuma mas ikbal yang mengikuti jejak ayahnya, sedangkan kakaknya itu dokter penyakit dalam sama istrinya juga seorang dokter, cuma Aisyah yang gak keren kerjaannya...hehehehe." ucap Aisyah dengan nada merendah.


" hush..... kamu itu juga bentar lagi jadi sarjana, punya gelar, kamu liat itu....!!!" tunjuk bude pada warung dan bengkel milik orangtunya, "dan ini !!!" tunjuk bude pada rumahnya yang sekarang sudah terlihat lebih rapi dibandingkan sebelum Aisyah kerja di Jakarta," ini semua membuktikan kalo kamu itu sudah berhasil Syah, kamu sudah bikin bangga orang tua kamu, jadi jangan pernah minder lagi sama orang-orang yang punya jabatan, apalagi dengerin omongan-omongan sumbang orang lain, yang ada nanti kamu bisa penyakitan tau gak." tukas bude membesarkan hati Aisyah.


" bude juga bangga punya keponakan seperti kamu, bisa membahagiakan orangtua kamu sampai seperti ini. jadi jangan anggap diri kamu rendah lagi, kamu gadis hebat bisa mandiri, bisa sukses tanpa nyusahin orang tua kamu." ucap bude lagi.


selama ini hanya bude, kakak dari ibu lah yang selalu membantu keluarga kami saat kami kesusahan, ibu bahkan sering meminjam uang padanya dulu saat aku masih sekolah. dia keluarga yang paling dekat dengan ibu, bahkan anak- anak bude juga baik pada kami. anak-anak bude sudah berkeluarga semua, sebagian anaknya hidup di luar kampung ini. ada juga yang masih tinggal dengan bude karena bude tidak mau di tinggal berdua dengan suaminya saja, dia tidak suka hidup sepi, makanya salah satu anaknya mengalah untuk tetap tinggal bersama bude.


Aisyah yang mendapat wejangan seperti itu dari bude pun hanya tersenyum saja, budenya tidak pernah berubah pikirnya. dia selalu berbicara apa adanya yang menurutnya benar, bahkan tak segan bude suka beradu mulut dengan orang lain yang menghina kami, menurutnya selama kita benar kita tidak usah takut.


" yasudah ....bude pulang dulu, ini sudah sore. sebentar lagi abangmu pulang, pak ..... ayo pulang udah selesai belum? takut nanti Hadi sudah pulang." pamit bude padanya.


" yah.....ini sudah selesai, ayok..!" ajak pakde pada istrinya.


kami semua memperhatikan sepasang paruh baya itu pergi dari kediaman kami sampai menghilang di balik pintu depan, setelah itu bapak dan ibu pun berlalu menuju dapur, sedangkan aku masih terpaku pada ruangan ini, ku edarkan pandanganku di setiap sudut rumahku, aku sangat bersyukur sudah sampai di titik ini, rumah yang dulunya ketika hujan datang banyak air yang akan turun dari atap...sekarang sudah rapi dan bersih, dinding yang dulu setiap setahun sekali menjelang lebaran dicat bahkan itupun belum pasti...sekarang sudah terlihat indah dengan warna hijau mint, lantai yang dulunya terbuat dari semen... sekarang bahkan bisa buat ngaca anaknya bang Hadi setiap dia main kesini.


..." alhamdulilah ya Allah nikmat mana lagi yang kau dustakan."...

__ADS_1


__ADS_2