Jodoh Yang Tertukar

Jodoh Yang Tertukar
Pindah Rumah


__ADS_3

Beberapa hari kemudian, Amar dan Lisa sudah pindah ke rumah Amar yang letaknya tidak terlalu jauh. Orang tua Lisa turut ikut mengantar mereka ke rumah yang sebenarnya masih mengontrak, namun sangat bagus dan nyaman.


"Kamu baik-baik, ya Nduk. Jangan menyusahkan Amar. Jadilah istri yang berbakti," ucap Marni sambil mengusap kepala Lisa.


"Iya, Bu, Insyaallah, aku akan menjadi istri yang berbakti."


"Mar, Bapak titip Lisa, ya. Tegur dia jika berbuat salah, tapi ingat, menyelesaikan masalah tidak boleh dengan kekerasan," ucap Hamid pada Amar.


"Iya, Pak, Insyaallah aku akan menjadi suami yang baik untuk Lisa. Aku akan menjaganya sebagaimana Bapak dan Ibu menjaga Lisa sejak kecil."


Amar mencium punggung tangan kedua mertuanya.


Setelah itu, kedua orang tua Lisa pun pulang dengan berboncengan sepeda motor yang baru saja mereka beli hasil dari pendapatan menggelar pesta pernikahan Lisa. Alhamdulillah, hasilnya sangat banyak sehingga mereka bisa membeli sepeda motor dan membeli sepetak tanah.


"Lis, ayo, kita ke kamar," ajak Amar.


"Mau ngapain, Mas? Inikan masih siang?" tanya Lisa malu-malu.


"Ngapain? Ya beresin baju-baju kamu dan juga kado-kado ini. Yang belum sempat kita buka." Menunjuk tumpukan kado yang mereka bawa dari rumah orang tua Lisa dengan mobil pickup. Sedangkan ranjang dan hantaran lainnya sudah berada di dalam kamar.

__ADS_1


"Oh beres-beres, kirain apa." Lisa menunduk malu.


"Kamu kapok ya, karena sejak nikah, aku sering minta. Ya mau gimana lagi, habisnya kamu nagih banget." Amar mendatangi Lisa, lalu memeluknya dari belakang.


"Aduh, geli, Mas, jangan." Lisa menggeliat saat bibir Amar mulai menyusuri punggung lehernya.


"Habisnya kamu mancing aku, sih." Tangan Amar pun muali bergerilya di balik kaus yang dipakai Lisa. Hal itu membuat Lisa semakin kegelian.


"Mas, udah, dong. Ini masih siang. Katanya mau beresin baju. Kado-kado ini juga belum kita buka," ucap Lisa.


"Ya udah, ya udah, aku ngalah deh. Gantinya nanti malem aja." Amar melepaskan pelukannya dari tubuh Lisa. Ia segera mengangkat tas yang berisi pakaian Lisa.


Kamar rumah itu ada dua. Yang satu biasanya dipakai Amar, dan yang satunya kosong namun sekarang sudah diisi ranjang, lemari pakaian, dan meja rias.


Lisa mulai menyusun semua pakaiannya ke dalam lemari. Setelah itu, ia pun membersihkan area lain seperti kamar lama Amar, dapur, kamar mandi, dan terkahir adalah halaman rumah.


Ia tak bekerja sendiri karena Amar turut membantunya.


Di halaman rumah, Amar sibuk mencangkul rumput liar dan menyapunya, sedangkan Lisa bertugas membersihkan kaca jendela dan juga teras.

__ADS_1


"Wah, pengantin baru lagi sibuk, ya," tegur salah satu tetangga mereka yang bernama Bu Yati. Jika Bu Nina adalah tukang nyinyir di daerah rumah ibunya, maka Bu Yati tukang nyinyir di daerah mereka.


"Eh, iya, Bu," ucap Lisa sambil tersenyum ramah.


"Ngapain sih rajin banget. Itu kan cuma rumah kontrakan. Makanya beli rumah sendiri, dong, kayak saya," ucap Bu Yati dengan senyuman bangga yang kini menghiasi wajahnya.


"Meskipun rumah kontrakan, tapi kami nggak mungkin membiarkannya kotor seperti tidak berpenghuni. Kalau masalah rumah sendiri, do'akan saja, Bu, semoga tabungan kami nantinya cukup," balas Lisa yang masih tersenyum ramah. Sedangkan Amar yang sudah tahu sifat Bu Yati hanya diam saja. Ia tidak suka berdebat dengan orang nyinyir seperti Bu Yati.


"Halah, kayak punya tabungan aja. Kayak suami saya, dong. Kerjanya PNS, hidup terjamin sampai hari tua nanti. Ini kami juga punya mobil."


"Alhamdulillah." Hanya itu yang bisa Lisa ucapkan menanggapi omongan Bu Yati.


"Oh ya, bilangin sama suami kamu, ya, kalau bakar sampah, asapnya jangan masuk ke rumah saya."


"Iya, Bu, nanti saya bilang. Nggak saya bilang pun Mas Amar juga udah dengar, iya kan, Mas." Lisa menoleh ke Amar.


"Iya. Nanti Mas kasih kipas angin biar anginnya nggak ke sana," ucap Amar tanpa menoleh.


"Eh, Lisa, udah pindahan?" tanya Bu Vita yang kebetulan melintas di depan rumah mereka.

__ADS_1


__ADS_2