Jodoh Yang Tertukar

Jodoh Yang Tertukar
Syok


__ADS_3

Pertama Mela melihat nomor tersebut. Memang cocok, itu nomor Rafli. Ia pun langsung membaca chattingan mereka.


[Eh, Raf, mana janji lu, katanya mau ngasih gue duit kalo gue minjemin motor lu]


[Sabar, Bro, gue lagi usaha nih, dikit lagi. Gue lagi nunggu duit dari mertua gue. Entar lu juga kebagian. Abis ini motor lu gue balikin, nggak perlu lagi gue, mau beli mobil]


[Udah kaya, lu. Cewe mana lagi yang lu porotin. Si Titin kemarin dateng nanyain lu. Katanya dia minta duit orang tuanya yang lu pinjem waktu pacaran]


[Halah, nggak usah diladenin. Biarin aja, gue lagi ada misi penting nih. Pokoknya nanti gue ceritain. Lu doain aja supaya rencana gue berhasil. Istri gue bego, jadi dia nggak akan tau kalau gue lagi nipu keluarganya]


[Parah, lu. Tobat dong, kasian tau]


[Udah, diem, jangan panggil gue Rafli kalau urusan tipu menipu nggak bisa gue jalanin]


Setelah membacanya, lutut Mela terasa lemas. Pendangannya mulai kabur. Ia memegangi kepalanya yang terasa sangat pusing.


"Buk, harta kita habis, Buk. Rumah, sawah, tanah, semua habis, Buk." Mela menatap ibunya yang masih diam mematung.


"Maaf, Mbak, saya kira Rafli main-main, ternyata beneran. Biasanya dia nipu dalam jumlah kecil, saya nggak nyangka dia senekat ini." Zainal menatap iba pada Mela.


"Loh, Mel, Tante Ayu!" Tiba-tiba saja, teman lama Mela yang bernama Doni datang membawa sepeda motornya yang hendak diservis.


Melihat mereka yang pucat, Doni langsung menghampiri mereka.


"Kalian kenapa?" tanya Doni dengan panik.


"Don, Lo tau nggak montir lama gue yang sering lu panggil Lilik?" tanya Zainal yang langsung dibalas anggukan dari Doni.

__ADS_1


"Gue sih kurang inget mukanya, lu tau kan gue pelupa."


"Ternyata temen lu ini korban dia. Dia nipu keluarga temen lu terus kabur."


"Hah? Jadi Rafli itu penipu, Mel. Ah, pantesan aja waktu aku ketemu dia di mall, kayak nggak asing gitu." Doni mengusap wajahnya kasar.


Namun, tak berselang lama, tiba-tiba saja Ayu memegangi dadanya dan ambruk sambil meringis kesakitan.


"Buk, Ibu kenapa?" Mela meraih kepala ibunya lalu memangkunya.


Ayu masih saja memegangi dadanya.


"Ayo, Mel, kita bawa ke rumah sakit." Doni mengusulkan. Mereka pun segera menggunakan mobil Zainal menuju rumah sakit.


Sesampainya di sana, Ayu langsung dimasukkan ke ruang UGD. Sementara Mela menunggu dengan cemas. Ia sudah mengabari ayahnya agar segera datang.


"Ya Allah, Buk, kenapa jadi kayak gini! Kenapa kita bisa ditipu sama Mas Rafli." Mela duduk sambil menangis tersedu-sedu.


Ia masih mengingat dengan jelas seperti apa dirinya saat diperdaya Rafli. Dan bodohnya, ia sama sekali tidak curiga meski Rafli tidak pernah memberikan dirinya uang. Ia terus termakan rayuan Rafli hingga menghabiskan seluruh harta orang tuanya.


Lama kemudian, Hasan datang dengan tergopoh-gopoh.


"Mel, ibu kenapa?" tanyanya dengan raut wajah cemas.


"Ibu tadi kena serangan jantung, Pak."


"Kok bisa? Apa yang terjadi? Mana Rafli? Kalian tadi pamit mau ketemu dia, kan?"

__ADS_1


Mela tak sampai hati memberitahu Bapaknya tentang kejahatan Rafli.


"Mel, kok diem aja." Hasan menyadarkan lamunan Mela.


"Anu, Pak,,,,,"


"Keluarga ibu Ayu," ucap salah seorang dokter yang keluar dari ruang UGD.


"Saya suaminya, Dok. Bagaimana keadaan istri saya?" tanya Hasan dengan panik.


"Maaf harus menyampaikan ini, tapi, istri Bapak sudah meninggal dalam perjalanan ke sini karena serangan jantung."


"Apa? Nggak mungkin! Ibuuuuu!!!!" Mela berteriak histeris setelah mendengar ucapan sang dokter.


"Ya Allah, Ibuuuu! Hasan tak kalah histeris. Ia sampai jatuh terduduk di atas lantai karena istri tercintanya meninggal dunia secara mendadak seperti ini.


Hingga berita duka ini pun tersebar di komplek perumahan mereka. Para pelayat berdatangan ke rumah duka. Mempersiapkan semua kebutuhan di rumah Mela.


Suara sirine ambulans pun terdengar di malam itu. Menyambangi rumah kediaman mereka yang sebentar lagi akan disita bank.


Tangis pilu terdengar dari Hasan maupun Mela. Para warga yang melihat turut prihatin meski mereka belum tau penyebabnya apa.


Namun tak sedikit yang bercerita bahwa siang tadi mereka didatangi dua orang yang berpakaian rapi. Mereka menduga mereka sedang mengalami masalah.


Obrolan mereka pun tak hanya itu. Ketidakhadiran Rafli pun serta merta menambah bahan cerita mereka yang berada di pekarangan rumah besar itu.


Kemana Rafli? Kenapa disaat orang tuanya meninggal ia tidak ada? Apakah ada masalah dalam rumah tangga Mela dan Rafli? Apakah mereka bertengkar? Apakah ada kaitannya dengan meninggalnya Ayu? Begitulah isi pikiran mereka saat ini. Dengan masih bertanya-tanya dalam hati, apakah keluarga itu sedang baik-baik saja?

__ADS_1


__ADS_2