Jodoh Yang Tertukar

Jodoh Yang Tertukar
Kado


__ADS_3

Melihat istri Pak Lurah, Bu Yati langsung tersenyum sok akrab.


"Alhamdulillah baru aja, Bu," sahut Lisa sambil menghampiri Bu Vita dan mencium punggung tangannya.


"Kalian kan udah nikah, nanti kalau mau urus pergantian KTP atau pembuatan KK baru, bilang langsung aja sama ibu, ya."


"Iya, Bu, makasih ya." Lisa tersenyum sambil mengangguk.


"Oh ya, Amar, kalau kamu mau berubah pikiran tentang tawaran Ibu, datang saja, ya," ucap Bu Vita.


"Iya, Bu," sahut Amar.


Setelah itu, Bu Vita pun pergi. Lisa menghampiri Amar.


"Emang Bu Vita nawarin apa, Mas?" tanya Lisa.


"Jadi salah satu karyawan pabrik milik temannya. Tapi aku nggak mau, soalnya kan kamu tau sendiri aku cuma tamatan SMA. Nanti yang ada warga sini pada protes karena pendidikan terakhir aku. Mending jadi kuli bangunan aja deh, lagian aku udah terbiasa sama kerjaan aku."


"Oh, ya udah terserah kamu aja. Aku dukung apapun keputusan kamu."


"Halah, sok banget nolak kerjaan, udah miskin, belagu," cibir Bu Yati yang sejak tadi mendengarkan.


"Memangnya kalau Mas Amar jadi karyawan pabrik, Ibu nggak masalah?" tanya Lisa yang memang agak jengah dengan ucapan Bu Yati yang selama ini hanya ia dengar kelakuannya saja, baru hari ini ia berinteraksi langsung.

__ADS_1


"Ya masalah lah. Anak saya yang sarjana aja nggak diterima, malah dia yang tamatan SMA ditawarin."


"Gimana mau diterima, anaknya males, kerjanya nge-game, nongkrong nggak jelas, ngabisin duit bapaknya," gumam Amar yang hanya didengar oleh Lisa.


"Iya, Bu." Lisa mengangguk, lalu pergi ke dalam rumah. Ia tak ingin berlama-lama berdebat dengan Bu Yati.


Bu Yati yang sudah tidak ada lawan bicara lagi memilih pergi ke dalam rumahnya.


Setelah pekerjaan Amar selesai, ia pun kembali masuk ke dalam rumah menemui Lisa yang sedang memasak.


"Kamu jangan terlalu menanggapi omongan Bu Yati, ya Lis. Anggap aja dia kembaran Bu Nina, omongannya nggak perlu di denger," ucap Amar sambil mendaratkan bokongnya di atas salah satu kursi makan.


"Iya, Mas, aku ngerti. Oh ya, kalau bisa secepatnya kita urus pergantian KTP dan kartu keluarga, ya, Mas."


"Oh ya, besok kamu kan masuk kerja, mau aku buatin bekal atau nggak?"


"Ya buatin dong. Masa masakan istri nggak aku bawa."


"Bukannya di sana dapat makan siang, Mas?"


"Iya, sih, tapi ada temen kerja aku nggak dapet makan siang karena dia punya kasbon, kasihan, tiap jam makan siang cuma beli gorengan aja."


"Kasihan ya, Mas. Ya udah kamu bawa bekal aja. Makan siang kamu kasih ke dia aja," ujar Lisa.

__ADS_1


Amar mengangguk. Hari yang sudah semakin sore pun ia gunakan untuk membersihkan dirinya setelah berpanas-panasan mencangkul halaman rumah.


Pada malam harinya, mereka pun membuka amplop yang selama berada di rumah orang tua Lisa belum mereka buka.


Setelah menulis dan menghitung, ternyata mereka mendapatkan sepuluh juta.


"Aneh, ya, Mas, perasaan temen kita dikit, tapi kok dapetnya banyak banget. Dan ada beberapa yang nggak nulis namanya, mana ngasihnya banyak banget." Lisa keheranan.


"Ya anggap aja itu rezeki untuk kita," ucap Amar yang sebenarnya tahu apa yang terjadi. Ialah yang memasukkan amplop tanpa nama dengan uang yang lumayan banyak untuk mengelabuhi Lisa.


Setelah puas dengan amplop, mereka pun membuka satu persatu kado yang bentuknya kebanyakan besar-besar dan berat. Dan ketika dibuka betapa terkejutnya Lisa melihat semua isi kado yang berukuran besar.


"Beneran ini, Mas? Mesin cuci, televisi, dispenser, rak piring besar, kipas angin, dan set memasak?" Mata Lisa seakan tak percaya melihatnya.


"Dari siapa, Lis?" tanya Amar.


"Televisi dan mesin cuci nggak ada namanya, Mas. Gimana sih, ngasih segini mahal kok nggak dikasih nama."


"Coba kamu lihat lagi, siapa tahu ada tulisannya."


Lisa mencoba melihat televisi dan juga mesin cuci. "Eh, ada nih, Mas. Kalau yang televisi ada tulisan 'semoga bermanfaat untuk kalian, ini hadiah karena Lisa anak baik, dipakai, ya'. Terus yang mesin cuci ada tulisan 'gunakan ya, Lisa, dari orang yang mengagumimu. Bukan pria, tapi wanita yang selalu menjadikan mu panutan' begitu, Mas."


"Ya udah, ini rezeki buat kamu berarti." Amar mengusap kepala Lisa. "Aku bangga punya istri seperti kamu." Mencium keningnya dengan lembut.

__ADS_1


Lisa mengangguk dan tersenyum. Ia hanya tidak tahu, bahwa kado televisi berasal dari teman ayah dan ibunya. Sedangkan kado besar lainnya berasal dari Amar sendiri yang ingin mempermudah hidup Lisa.


__ADS_2