
Amar cepat-cepat menemui Lisa yang tampak histeris di kamarnya.
Ia melihat pengasuh bayi yang terkapar di atas lantai sepertinya terkena bius, dan juga dua box bayi yang kosong.
"Mas, anak-anak kita, Mas!"
"Kamu tenang, Sayang, Mas akan panggil polisi!" Amar langsung menelepon polisi terkait hilangnya anak-anaknya.
Setelah polisi datang, mereka pun memberi kesaksian. Bisa disimpulkan bahwa Ira adalah umpan yang didatangkan untuk mengalihkan semua orang.
Saat mengecek CCTV bagian belakang dan samping pun ternyata sudah dirusak oleh pelaku.
Polisi pun langsung mendatangi perumahan di komplek itu untuk mengecek CCTV. Amar juga ikut bersama mereka untuk mengenali pelaku yang mungkin saja tertangkap kamera.
Saat melihat rekaman CCTV rumah yang ada di depan rumah Amar, mereka melihat seorang laki-laki yang mengenakan topeng masuk setelah Ira berhasil membiusnya. Pria itu menuju belakang rumah. Terlihat juga saat pria itu menggendong dua bayi dengan sembarang sambil berlari tak lama setelahnya.
"Apakah Anda mengenalinya?" tanya polisi pada Amar.
"Saya tidak yakin, tapi sepertinya dia adalah suami dari almarhum sepupu istri saya, Pak. Namanya Rafli." Amar menjelaskan.
__ADS_1
"Baiklah, kami akan melakukan pencarian saudara Rafli," ujar pak polisi.
"Baik, Pak, saya mohon, temukanlah anak-anak kami."
Setelah itu, Amar pun pulang ke rumah. Di sana terlihat Lisa masih menangis di sudut ranjang ditemani nenek, Hamid, dan Marni.
Melihat kedatangan Amar, Lisa pun segera menghampirinya dengan penuh harap. "Gimana, Mas? Dimana mereka?" tanyanya.
"Masih belum ditemukan. Tapi polisi akan melakukan pengejaran terhadap Rafli, aku tadi lihat rekaman CCTV punya tetangga. Orang yang menculik si kembar mirip banget sama Rafli."
"Apa sih mau dia? Apa dia nggak cukup udah menghancurkan keluarga Mela!" Lisa mengepalkan tangannya sembari menatap kesal.
*****
Rafli yang sedang mengendarai mobil terganggu dengan kebisingan suara anak-anak yang baru saya ia culik. Mereka diletakkan di bangku belakang dengan tempat khusus agar tidak jatuh.
"Aduh, berisik banget, sih. Kalau bukan karena mereka perlu organ tubuh kalian, udah aku bius kalian sampai mampus!"
Rafli terus menggerutu sepanjang jalan sampai ia pun tiba di lokasi yang terletak di sudut kota. Sebuah markas yang merupakan gedung tua adalah tempat biasa ia dan si pembeli melakukan transaksi.
__ADS_1
"Pakaiannya bagus, anak orang kaya?" tanya pria yang bernama Baron.
"Berisik Lo, sini duit gue." Rafli meminta uang pada Baron dengan menadahkan tangannya.
"Kok yang ini mirip Lo? Anak Lo?" tanyanya Lagi.
"Halah, berisik, Lo! Buruan, mana duit gue!"
"Wah, Lo bener-benar psycho deh. Gue walaupun begini, nggak mungkin gue ngorbanin darah daging gue sendiri."
"Lo berisik banget sih. Mau apa enggak? Kalau nggak, biar gue jual sama yang lain!"
Baron menatap Rafli sejenak. Ia merasa heran dengan Rafli yang bahkan rela mengorbankan nyawa anaknya sendiri demi uang.
Baron mengambil satu tas berisi uang. Ia memperlihatkan uang tersebut pada Rafli. "Ini duitnya."
Rafli tersenyum melihat uang yang sangat banyak itu.
"Gue bisa kasih Lo waktu buat ucapin selamat tinggal sama anak Lo."
__ADS_1
"Gue nggak peduli sama dia. Ibunya aja gue telantarkan sampai meninggal kok. Gue nggak ada urusan sama dia. Lo abisin sekarang juga gue nggak peduli." Rafli pun segera pergi dengan sejumlah uang di tas yang ia genggam.