Jodoh Yang Tertukar

Jodoh Yang Tertukar
Belanja


__ADS_3

Keesokan paginya, setelah Amar pergi bekerja, Lisa pun pergi ke tukang sayur yang kebetulan sedang mangkal di depan rumahnya karena Bu Ana memanggil.


"Eh, Lisa, belanja, Lis," sapa Bu Ana.


"Iya, Bu," sahut Lisa.


"Bang, ayam setengah kilo, ya," ucap Lisa pada tukang sayur.


"Belanja ayam. Awas, jangan keseringan belanja yang enak-enak, nanti hari ini makan, besoknya enggak deh. Mending makan tempe tahu aja, sesuai kantong. Jangan sok bergaya kayak orang kaya, deh, suami cuma kuli bangunan, kan?" Bu Yati yang baru saja datang langsung berceloteh ria.


Lisa yang mendengarnya hanya bisa beristighfar dalam hati.


"Bu Yati, jangan begitu, dong. Kita nggak boleh mengukur kemampuan seseorang dari pekerjaannya. Emangnya Ibu tau berapa gaji Amar?" tanya Bu Ana.


"Ya taulah, kalau kuli di sini biasanya kan lima puluh ribu atau tujuh puluh ribu sehari."


"Itu kan kuli bangunan biasa, Bu. Setau saya, Amar bekerja di sebuah proyek pembangunan yang besar, lho, saya rasa nggak mungkin gajinya segitu. Buktinya dia aja bisa beli motor cash setelah beberapa bulan kerja." Bu Ana menambahkan.

__ADS_1


"Halah, motor seken aja bangga."


"Walaupun seken tapi nggak kredit, Bu, bayarnya cash." Bu Ana meyakinkan.


"Kok Bu Ana jadi belain Amar sih. Pasti karena dulu Bu Ana pernah ditolong Amar kan, waktu hampir diperkosa Pak Budi?"


Lisa terkejut mendengar ucapan Bu Yati. Setahu dia, Pak Budi adalah teman dekat Hasan yang sudah setahun ini tidak terlihat. Dan ternyata, dia sedang dipenjara.


"Bu Ana, kenapa mengungkit masa lalu? Ya, kalau karena itu memangnya kenapa, Bu? Kalau bukan karena Amar, entah bagaimana saya waktu itu. Inget, Bu, ketika kita susah atau sakit , tetangga lah orang terdekat kita yang akan menolong kita."


"Halah, Ibu hanya terlalu memuji aja karena pernah ditolong."


"Bu Ana, Bu Yati, saya duluan, ya." Lisa sedikit membungkukkan tubuhnya, lalu pergi setelah melihat Bu Ana mengangguk dan tersenyum padanya.


"Dia baik, sopan, dan rajin, masa tega sih nyinyirin dia, Bu." Bu Ana menatap Bu Yati.


"Halah, nggak usah dibelain, awalnya aja keliatan baik, tapi lama-lama bakalan keliatan tuh tabiat buruknya."

__ADS_1


"Eh, Ibu-ibu, lagi ngapain, sih? Kayaknya seru nih." Bu Ratna, ibunya Ira datang menghampiri. Ibu yang satu ini sangat senang ghibah apalagi jika ada acara hajatan.


"Ini, Bu, lagi beli sayur," sahut Bu Ana.


"Tadi kayaknya ada Lisa, kok cepet banget, sih. Belum diajakin ghibah," bisik Bu Ratna.


"Dia nggak asyik, Bu," bisik Bu Yati.


"Masa, sih? Ah, nggak seru dong kalau nggak bisa diajak ghibah. Lagian kan, masa kata Ira, dia itu males, sih. Waktu Ira dateng, rumahnya masih berantakan. Dia malah enak-enakan santai sambil baca novel."


"Hah? Beneran. Nggak malu, baru nikah malah males-malesan." Bu Yati menatap rumah Amar dan Lisa dengan tatapan sinis.


"Kayaknya enggak, deh, Bu. Lisa kan terkenal rajin di sini. Ngomongin soal males, Ira mana, Bu? Ini udah jam delapan, lho, masih tidur, ya?" tanya Bu Ana.


"Eh, anu, itu, dia tadi malem belajar sampai larut banget, jadi masih tidur. Maklum, anak saya kan calon sarjana." Bu Ratna tersenyum bangga.


"Oh, belajar, tapi saya lihat dia nonton drakor pakai laptopnya di teras rumah Ibu. Mending kita urusin aja hidup kita, Bu, daripada ngurusin orang lain. Dan yang Ibu dengar, belum tentu benar. Jangan mudah percaya dengan cerita jelek tentang orang lain yang pada akhirnya menjadikannya bahan ghibah."

__ADS_1


Setelah mengatakan hal itu, Bu Ana pun kembali ke rumahnya. Meninggalkan Bu Yati dan Bu Ratna yang kini saling berbisik menceritakan Bu Ana yang sok bersih.


__ADS_2