
Lisa memandangi foto dirinya dan Mela waktu kecil. Tanpa terasa air matanya pun jatuh berlinang. Dia pun segera menghapusnya karena tidak ingin ada pertanyaan dari kedua anaknya.
"Kamu kangen sama Mela, ya?" tanya Marni sambil mengusap tangan Lisa.
"Iya, Buk, aku kangen banget sama dia. Untungnya ada Zein sekarang sehingga aku bisa menuntaskan rinduku hanya dengan melihat anak itu."
"Iya, dia memang mirip sama Mela. Mau bagaimana pun juga, Mela itu kan ibunya Zein. Wajar mereka mirip."
"Iya, Buk, mereka memang mirip. Semoga aja Mela tenang di sana. Dia nggak perlu khawatir karena sekarang anaknya sudah aman bersama kita."
****
Amar bersama Zein dan Zayn pun pulang sehabis salat magrib. Mereka pun makam makan malam bersama. Karena kelelahan, Zein dan Zein pun pun cepat tertidur. Mereka tidur di dalam satu kamar yang sama, yaitu kamar lamanya Lisa.
Sedangkan dirinya dan Amar tidur di kamar lain. Sementara orang tuanya ada di kamar lama mereka.
__ADS_1
Semua baik-baik saja sampai pada saat tengah malam, Lisa yang baru saja selesai dari kamar mandi terkejut mendengar sebuah tangisan kecil yang berasal dari dalam ruangan kecil di rumah itu. Itu adalah ruangan mana Lisa menaruh semua barang-barang miliknya yang telah lama.
Cepat-cepat dia pergi ke ruangan itu untuk memastikan bahwa yang didengarnya bukanlah tangisan hantu. Semakin dia mendekat, langkahnya semakin pelan karena kakinya mulai melemas. Dia tahu suara ini. Dia sangat mengenalinya.
Zein, ini adalah suara tangisan Zein. Tapi, untuk apa dia berada di ruangan itu? Lisa mencoba berpikir barang-barang apa saja yang ada di sana. Hingga akhirnya, dia pun tersadar bahwa di sana ada foto masa kecilnya dengan Mela. Apakah Zein menyadarinya?
"Zein!" Lisa langsung menghampiri sang anak yang tengah menangis sambil memeluk sebuah foto. Dia meraih Zein ke dalam pelukannya dan ikut menangis. Menyesali mengapa dia bisa saja seceroboh itu hingga membuat Zein mengetahui rahasia yang selama ini dipendamnya?
"Bunda, apa benar aku anaknya Bude Mela?" tanya Zein yang masih menangis dalam pelukan sang Bunda.
"Sayang, kamu itu anak Bunda." Lisa mencoba menyangkal apa yang sang anak tanyakan. Dia belum siap kehilangan tatapan penuh cinta dari anak yang sebenarnya adalah keponakannya.
"Nggak, Sayang, kamu itu anak Bunda." Lisa masih berusaha meyakinkan Zein bahwa dia adalah anak kandungnya. Memang sulit rasanya berbohong seperti ini.
"Nggak, Bunda, aku anak Bude Mela, kan? Tadi, sehabis salat Maghrib, aku nggak ikut doa baru inget kalau ada mainan Zayn yang belum aku masukin. Tapi, aku nggak sengaja mendengar percakapan Bunda dan nenek. Aku anak Bude Mela, kan, Bun?"
__ADS_1
Lisa tak mampu berkata apapun lagi. Dia sudah tidak bisa mengelak karena Zein jelas-jelas telah mendengar percakapan mereka.
"Maafin Bunda, Nak. Bunda nggak bermaksud membuatmu melupakan ibumu. Tapi, Bunda hanya ingin memberikan yang terbaik untukmu."
"Bunda, aku ngerti kok. Aku tahu kalau Bunda sayang banget sama aku. Makasih, Bunda, makasih karena selama ini Bunda telah merawat aku dengan baik dan menganggapku seperti anak kandung Bunda. Aku bahagia memiliki orang tua seperti Bunda."
Tidak disangka jawaban Zein berbeda dari ekspektasi Lisa sebelumnya. Dia berpikir bahwa Zein akan marah padanya karena telah membohonginya selama bertahun-tahun. Namun, anak itu menunjukkan sisi baiknya di mana dia malah berterima kasih kepada Lisa yang telah memberikan limpahan kasih sayang padanya.
Mereka pun berpelukan satu sama lain sambil menangis tersedu-sedu. Hal itu pun saksikan oleh anggota keluarga yang lain. Mereka terbangun setelah mendengar tangisan dari Lisa.
Sama halnya seperti Lisa, mereka juga tidak menyangka bahwa Zein akan menerima semua ini dengan baik.
Dan keesokan harinya, mereka pun kembali pulang ke rumah. Namun sebelumnya, mereka pergi ke pemakaman tempat di mana Mela dan ayahnya dikuburkan.
Zein menabur bunga di atas makam ibunya. Dia mengusap air matanya berulang kali karena ingin menjadi anak yang kuat di depan sang ibu. Dia berjanji dalam hati akan menjadi anak yang baik agar sang Ibu bangga padanya.
__ADS_1
"Mela, tenanglah di sana. Zein akan selalu bahagia dengan limpahan kasih sayang yang kami berikan." Lisa mengusap batu Nisan Mela sambil tersenyum di tengah air matanya yang menetes. Dia merasa sangat lega karena pada akhirnya rahasia yang selama ini dia jaga tidak akan menjadi beban hidupnya lagi. Zein telah mengetahui siapa dirinya dan menerimanya dengan lapang dada. Semoga saja Zein menjadi anak yang berbakti bagi kedua ibunya.
TAMAT