Jodoh Yang Tertukar

Jodoh Yang Tertukar
Rutinitas Baru


__ADS_3

"Aku pergi dulu, ya, kamu baik-baik di rumah." Amar mencium kening Lisa setelah memberikan punggung tangannya untuk dicium.


"Iya, Mas, kamu hati-hati, ya kerjanya."


"Kalau mau pergi, jangan lupa kabari aku dulu." Amar mengusap kepala Lisa.


"Iya, Mas, ya udah, buruan pergi, nanti terlambat," ujar Lisa.


Amar tersenyum lalu mengangguk. Ia pun segera pergi dengan sepeda motornya. Tak lupa pula ia menggunakan helm dan juga jaket.


Lisa melambaikan tangannya ketika Amar berangkat.


"Halah, mentang-mentang pengantin baru sok romantis, paling kalau beras habis juga berantem," celetuk Bu Yati yang sejak tadi memerhatikan mereka.

__ADS_1


Lisa hanya tersenyum menanggapi ucapan Bu Yati. Segera ia masuk ke dalam rumah daripada mendengar umpatan dari Bu Yati.


"Emang kenapa sih, Bu, mau mereka romantisan atau berantem, itu urusan mereka," ucap Bu Ana yang sedang menjemur pakaian di depan rumahnya. Rumahnya terletak di depan rumah Lisa dan Amar.


"Ya sakit mata saya lihatnya, Bu. Sok sok romantis padahal orang miskin," sahut Bu Yati dengan suara yang agak dibesarkan agar Lisa mendengarnya.


Bu Ana yang sudah selesai menjemur mendatangi Bu Yati agar Bu Yati tidak perlu berteriak saat berbicara dengannya. Berbeda dengan Bu Yati, Bu Ana adalah tetangga yang baik dan tidak suka mengurusi hidup orang lain seperti yang dilakukan Bu Yati.


"Pelan-pelan aja suaranya, Bu, nggak enak kalau kedengeran Lisa," ucap Bu Ana.


"Kenapa, Bu? Apa Ibu masih mengingat kejadian dua tahun yang lalu, saat Amar memergoki Sinta anak Ibu yang kedapatan memasukkan laki-laki ke dalam kamarnya?" tanya Bu Ana.


"Ya iyalah, kenapa dia pakai memergoki segala, kan jadinya saya malu sama orang-orang sini."

__ADS_1


"Ya gimana ya, Bu, saya nggak bisa nyalahin si Amar. Posisi dia itu kan tetangga Ibu. Pada saat dia baru pulang, dia melihat seseorang sedang berusaha memasuki jendela kamar Sinta, dia hanya mengira kalau itu maling, makanya dia teriak ke warga kalau ada maling. Tapi ternyata anak Bu Yati yang sengaja ingin memasukkan laki-laki ke dalam kamarnya. Bersyukur Amar memergokinya, Bu, jadi si Toni langsung menikahi Sinta yang ternyata sudah hamil. Kalau nggak ada peristiwa itu, mungkin si Toni udah pergi ninggalin Sinta. Karena waktu itu, beberapa warga melihat tiket pesawat yang jatuh dari kantongnya." Bu Ana mencoba membuka pikiran Bu Yati.


"Ya tetap aja saya nggak terima. Saya masih malu sama peristiwa itu meski sekarang Sinta udah nikah sama Toni."


"Ya ampun, Bu, udah dong, jangan begitu. Sudahi dendam Ibu, nggak baik. Apalagi, setahu saya, Lisa itu anak yang baik. Emang Ibu nggak perhatikan, meski tadi Ibu mencibirnya, tapi dia tetap tersenyum."


"Halah, palingan cuma sebentar aja. Lihat aja nanti, pasti bakalan ceritain saya ke orang-orang di sini."


Mendengar ucapan Bu Yati, Bu Ana hanya geleng-geleng kepala. Memang, kalau sikap nyinyir yang sudah melekat, pasti susah hilang.


Lisa yang sedari tadi mendengar percakapan mereka akhirnya mengerti kenapa Bu Yati begitu tidak menyukai Amar. "Oh ternyata dendam masa lalu. Tapi kenapa mesti marah sih, kan Mas Amar bermaksud baik."


Merasa yang ia pikirkan tidak ada gunanya, Lisa pun pergi ke dapur untuk melanjutkan beres-beres.

__ADS_1


Pakaian sudah dicuci berkat mesin cucinya. Piring juga sudah dicuci. Rumah sudah di sapu dan di pel, sekarang waktunya Lisa mandi.


Setelah mandi, ia bermaksud bersantai sambil membaca novel dalam bentuk buku cetak. Ia memang gemar membeli novel setiap bulan dari hasil menyisihkan uang yang terkadang diberikan oleh orang-orang yang menyayanginya.


__ADS_2