
Amar dan Lisa hanya cuek mendengar obrolan mereka yang sebenarnya sudah jelas menyinggung.
"Mas, besok kita jalan-jalan pakai mobil, ya. Kan hari libur. Aku mau ke mall, pantai, nanti makannya di restoran."
"Iya, dong, Sayang, suami kamu ini kan banyak duit. Apa aja yang kamu mau pasti aku kabulkan. Demi calon anak kita." Rafli mengusap perut Mela. Sesekali matanya melirik Amar dan Lisa yang masih terlihat cuek.
"Oh, ya, Mar, di perusahaan aku lagi butuh celaning service tuh, kamu mau nggak? Kan lumayan gajinya daripada kerja jadi kuli yang nggak seberapa. Palingan cuma dua juta sebulan kan?" tanya Rafli yang sebenarnya hanya berpura-pura menawarkan. Mana mungkin ia mempekerjakan orang, sedangkan perusahaan yang ia ceritakan hanyalah sebuah kebohongan. Mobil dan motor yang ia beli pun hasil dari menggadaikan rumah serta sawah untuk meyakinkan orang tua Mela bahwa ia memang membangun perusahaan baru.
"Nggak, Raf, makasih." Amar menolak dengan senyuman. Sedangkan Lisa hanya diam sambil memainkan ponsel baru miliknya berkat menjadi pelanggan ke sejuta sebuah counter hp saat membetulkan ponselnya yang rusak. Padahal kenyataannya, ponsel keluaran terbaru itu dibelikan Amar.
"Halah, nggak usah sok belagu, deh. Kalo miskin jangan sok jual mahal. Semua orang juga tau kalian itu miskin."
"Nggak, Raf, makasih, gue udah nyaman kerja di tempat gue sekarang."
"Yaelah, Mar, ditawarin kok begitu, sih. Kalau ekonomi kalian naik, kalian bisa makan di cafe mewah, bukan di sini." Mela menambahkan.
"Kalian juga makan di sini. Kok nggak ke cafe mewah?" tanya Amar balik.
"Aku lagi ngidam, jadi terpaksa makan di sini," sahut Mela sekenanya.
"Oh, kirain cari yang murah. Kalau kami memang sanggupnya makan di sini. Kalau ke cafe kayaknya kurang sanggup, deh meski kerja di perusahaan Lo, Raf. Biar sederhana yang penting nggak ngutang. Kan malu sih, makan di tempat mewah padahal aslinya ngutang."
Ucapan Amar membuat Rafli dan Mela terkejut. Apa mungkin Amar tahu kalau mereka berhutang? Oh, tentu saja Amar tahu. Ia adalah pemilik bank tempat orang tua Mela mengajukan pinjaman sebesar itu.
"Ya nggak mungkinlah kami ngutang. Mana pantes. Yang pantes ngutang itu kalian." Mela mencibir. Ia masih menunggu ekspresi Lisa yang hanya diam saja.
"Iya, kalau kalian sampai ngutang, bakalan malu banget pasti, ya. Bakalan diketawain satu komplek," ucap Amar dengan santai.
"Ya iyalah, yang pantasnya ngutang itu kan kalian." Rafli menambahkan.
"Iya, sih, tapi sayangnya kami nggak ada hutang. Jadi hidup kami tenteram, aman, dan damai. Berbeda kalau punya hutang, apalagi besar. Pasti setiap bulan pusing mikirin bayar hutang."
__ADS_1
"Hah? Nggak ngutang? Yakin? Itu Lisa pakai hp baru." Mela menunjuk Lisa yang masih bermain dengan ponselnya.
"Oh, ini rezeki Lisa. Dia jadi pelanggan ke sejuta di counter hp," jelas Amar.
"Oh, iya sih, rezeki orang miskin, ya kan, Lis." Mela menatap Lisa yang masih diam.
"Eh, Lis, kok diem aja? Budek, ya?" Mela kembali bertanya.
Amar menyentuh punggung tangan Lisa sembari berkata, "Sayang, buka headsetnya sebentar, Mela mau ngomong."
Lisa langsung melepas headset tanpa kabel yang sedari tadi membuatnya tidak mendengar apapun. Itu adalah anjuran dari Amar agar ia tidak mendengarkan celotehan dua makhluk menyebalkan itu.
"Oh, jadi dari tadi kamu dengerin, headset?" Mela menatap kesal. Percuma saja ia sedari tadi pamer, tapi Lisa tidak mendengarkan. Mana mungkin ia mengulangi aksi pamernya lagi.
"Ada apa, Mel? Maaf, habisnya aku lagi dengerin suara mengaji, itu loh, kamu tau kan yang,,,,,"
"Halah, nggak penting. Udah dateng tuh baksonya, buruan makan." Mela mendengkus kesal. Ia pun mulai mencampur saus, sambal, dan kecap ke dalam mangkuk baksonya.
*****
"Mas, pokoknya beliin aku hp yang lebih mahal dari Lisa, titik!" Mela merengek pada Rafli yang kini sedang fokus menyetir.
"Sabar, dong. Kalau yang lebih mahal harganya puluhan juta, Lo. Aku jadi heran, counter hp mana yang ngasih hp harga tiga puluh juta ke Lisa."
"Udah itu nggak penting. Pokoknya beliin aku, Mas." Mela masih merengek.
"Kamu jangan boros dong, Sayang. Aku kan baru merintis. Nanti aja, ya, setelah perusahaan aku berkembang, aku pasti akan beliin kamu hp yang mahal."
"Perusahaan kamu apa namanya, sih, Mas. Aku mau dong sesekali main ke sana."
"Udah, kamu nggak perlu tau. Nanti aja, ketika perusahaan itu udah semakin besar, baru kamu aku aja ke sana."
__ADS_1
Mela menghela nafas panjang. "Ya udah, deh. Oh ya, Mas, aku masih kesel dengan Amar dan Lisa. Kok setelah berumah tangga, mereka nggak sengsara, sih, malah semakin bahagia. Aku nggak suka kalau mereka bahagia kayak gitu, Mas."
"Jadi kamu maunya gimana?" tanya Rafli.
"Buat Amar dipecat, dong, Mas. Kamu kan bos besar, masa nggak kenal sama bos proyek itu?"
"Ya nggak bisa gitu, dong. Emang kamu mau suamimu ini di cap sebagai pembisnis yang curang?" Rafli meyakinkan Mela. Mana mungkin ia menemui bos besar proyek itu. Sedangkan dirinya bukanlah bos perusahaan.
"Ya udah, gimana kalau kita buat aja mereka diusir dari kontrakan."
"Nah, kalau itu ide bagus. Nanti kita bayar pemilik kontrakan agar mengusir mereka."
"Nah, bener, tuh, aku setuju." Mela pun kembali bersemangat.
Sesampainya di rumah, mereka pun memberikan dua bungkus bakso kepada orang tua Mela. Namun, ada yang aneh pada wajah Hasan.
"Kenapa, Pak?" tanya Mela dengan tatapan heran saat melihat Hasan berwajah masam.
"Kamu tau, Mel, masa Paklek Hamid beli tanah dan nggak mau berbagi sama Bapak." Ayu menjelaskan.
"Hah? Kok gitu, Bu?" tanya Mela.
"Katanya tanah itu dibeli dari hasil resepsi pernikahan Lisa. Tapi kan ada hak Bapak juga di sana, karena Bapak kan Abang kandung Paklek." Ayu kembali menerangkan.
"Iya, bener, nggak bisa dibiarin ini, Pak. Bapak harus meminta hak tanah itu. Atau kalau nggak, Bapak ambil aja rumah Paklek Hamid. Kan rumah itu peninggalan almarhum kakek dan nenek. Masa karena Paklek Hamid anak terakhir, rumah itu jadi dia yang tempati. Mentang-mentang waktu kakek dan nenek sakit mereka yang urus," ujar Mela.
"Iya, kamu bener, Mel. Lihat aja, Bapak akan merebut rumah itu dari Hamid kalau dia nggak mau kasih tanahnya ke Bapak. Enak aja dia dapat uang banyak, sedangkan tamu yang datang pun pasti karena memandang Bapak sebagai orang yang terpandang. Dalam uang resepsi pernikahan Lisa, ada hak Bapak juga." Hasan menatap penuh keyakinan.
"Ya udah, nanti aku Carikan anak buah untuk Bapak agar lebih gampang usir mereka. Pak RT dan RW juga kita suap biar tetap diam." Rafli mengusulkan.
Mereka semua pun mengangguk setuju. Kini misi kedua pasangan itu sama. Yaitu, mengusir orang tua dan anak dari rumah yang mereka tempati.
__ADS_1