Jodoh Yang Tertukar

Jodoh Yang Tertukar
Ending


__ADS_3

Pada malam harinya, Lisa masih saja menangis memikirkan anak-anaknya. Dadanya terasa nyeri karena jadwal menyusu anak-anaknya sudah lewat. Ia pun memompa asinya untuk disimpan jika anak-anaknya kembali.


Terdengar sebuah ketukan pintu. Amar pun segera membuka pintu diikuti dengan Lisa yang berkeyakinan bahwa itu adalah anak-anaknya.


Penjagaan yang kosong membuat siapa saja bisa masuk ke pekarangan rumah tersebut.


Dan benar saja, ketika pintu dibuka, mereka melihat dua bayi mereka tergeletak di depan pintu namun dalam keadaan sedang tidur.


"Ya Allah, anak-anak ku!" Lisa langsung menggendong kedua buah hatinya secara bergantian.


Setelah di cek oleh dokter, ternyata keadaan mereka baik-baik saja. Tidak terluka, atau dehidrasi.


Keesokan harinya.


"Alhamdulillah mereka sudah ditemukan, Mas." Lisa tersenyum saat melihat kedua box bayi yang Kembali berpenghuni.


"Mas menemukan ini di kain yang membalut Zein," ucap Amar seraya menyerahkan secarik kertas pada Lisa.


Lisa pun langsung membacanya.


Gue nggak kenal sama kalian. Tapi gue nggak tega ngebunuh bayi yang dijual ayahnya sendiri. Rafli nggak tau kalau gue balikin bayi ini ke kalian.


Hari ini gue sadar, bahwa perbuatan gue selama ini salah. Gue salut sama kalian yang mau merawat anak yang bukan anak kalian dan mengakuinya di depan publik sebagai anak kalian. Bisa gue tebak, kalian mau menjauhkan anak itu dari orang seburuk Rafli.


Gue udah nyerahin diri ke polisi. Jangan jenguk gue, bantu aja anak dan istri gue biar mereka bisa melangsungkan hidup. Karena kalau pakai uang gue yang haram ini, gue nggak akan sanggup, makasih.


Baron.


"Alhamdulillah, ternyata dia orang yang baik. Ini alamatnya, Mas, kita harus mengunjunginya dan membantu mereka," ucap Lisa.


"Nggak perlu. Aku sudah menyuruh orang kepercayaan ku untuk mendatangi mereka dan memberikan sejumlah uang dan juga usaha yang paling bagus di sana."


"Makasih, Mas, tapi, apa kita nggak temui mereka juga?" tanya Lisa.

__ADS_1


"Nanti kita akan ke sana setelah keadaan kamu lebih baik."


"Iya, Mas, terus gimana sama Rafli? Kalau dia berkeliaran dan bebas, aku takut dia akan datang kembali."


Amar terlihat ragu.


"Kenapa, Mas?" tanya Lisa heran.


"Polisi sudah memberitahu ku bahwa Rafli sudah ditangkap. Dia mencoba melawan sampai akhirnya polisi menembaknya."


"Jadi, Mas Rafli meninggal?" tanya Lisa terkejut.


"Sebenarnya dia tembak di bagian kaki dan masih hidup. Tapi, dia malah mengakhiri hidupnya dengan mengiris pergelangan tangannya."


"Innalilahi wa innalilahi Raji'un."


"Kita harus menjadikan ini sebagai rahasia. Nggak ada yang boleh tau khususnya Zein."


Sementara itu, Baron yang sedang berada dibalik jeruji terkejut mendengar kabar Rafli yang meninggal bunuh diri.


Ia pun menghela nafas pelan. "Lo orang paling jahat, Raf."


Ia masih ingat saat kemarin meneliti dua anak yang baru saja diberikan Rafli. Ia seperti tidak asing dengan wajah mereka. Ia pun mencari di internet bayi orang kaya. Dan akhirnya, bayi yang digendong Amar dan Lisa pun terlihat jelas di sana.


"Padahal bukan anak kandung, tapi mereka menganggapnya sebagai anak kandung. Mereka pasti orang baik, gue nggak bisa terusin ini. Gue harus kembalikan ini bayi ke orang tuanya.


Dan setelah itu, ia pun langsung menyerahkan diri ke polisi.


*****


Enam tahun kemudian.


"Zein, Zayn, ayo, Sayang, waktunya makan siang!" Panggil Lisa pada kedua anaknya yang sedang bermain bola di taman. Mereka mengadakan piknik keluarga di taman itu.

__ADS_1


"Iya, Bunda!!" sahut kedua anak itu secara serempak. Mereka pun berlari menghampiri Lisa dan Amar yang sudah menata makanan di atas tikar piknik.


"Wah, ada mie goreng!" Zein langsung menyambar mi goreng yang merupakan makanan kesukaannya. Sama seperti Mela, ia juga suka makan makanan itu.


"Aku makan bento!" Zayn mulai menikmati bento yang tersaji di dalam box kecil.


"Pelan-pelan makannya, Sayang." Lisa mengingatkan kedua anaknya yang makan dengan lahap.


"Ya mau gimana lagi, masakan Bunda memang paling enak!" seru Zein.


"Kalian bisa aja." Lisa mengusap kepala Zein dan Zayn secara bergantian.


"Buat Ayah mana, Bun?" tanya Amar seperti anak kecil yang tengah merajuk.


"Sebentar, Ayah, ini masih Bunda sajikan." Lisa terlihat tengah menyajikan makanan kesukaan Amar. Sayur daun singkong, sambal terasi, lengkap dengan ikan asinnya. Sejak menjadi orang sederhana, makanan itulah yang sangat Amar sukai bahkan sampai sekarang.


Mereka semua pun memakan dengan lahap. Selesai makan, mereka duduk sembari mengobrol ringan.


"Oh ya, kalian sebentar lagi ujian kenaikan kelas, kan? Nanti saat liburan gimana kalau kita keliling Eropa?" tanya Amar.


"Apa, Yah? Eropa? Mau!!!" Zein dan Zayn bersorak kegirangan.


Begitu juga dengan Lisa yang memang sejak dulu ingin berkeliling Eropa sekaligus honeymoon untuk program anak ketiga.


Setelah lama mengorbol, Amar pun mengajak anak-anaknya bermain bola bersama sementara Lisa menyaksikan sambil tersenyum serta mengabadikannya dengan kamera ponselnya.


Ia telah bahagia memiliki keluarga kecil. Suami yang penyayang, serta anak-anak yang menggemaskan.


Ia tidak salah saat dulu bertukar jodoh dengan Amar yang buktinya kini membuat dirinya sangat bahagia. Seorang yang dulunya miskin dan dihina orang, ternyata adalah seorang CEO yang sangat kaya dan juga baik hati.


"Aku mencintaimu, Mas Amar," ucapnya pelan sambil menatap suami dan anak-anaknya yang masih asyik bermain.


TAMAT

__ADS_1


__ADS_2