Jodoh Yang Tertukar

Jodoh Yang Tertukar
Identitas Asli


__ADS_3

Bu Jihan terkejut karena perselingkuhannya dengan suami Bu Asri diketahui Bu Ana.


"Diem kamu!" Bu Jihan menunjuk wajah Bu Ana dengan geram.


"Mar, angkut semua barang-barang kamu ke rumah saya. Sementara ini, kalian tinggal di rumah saya," ucap Bu Ana.


"Nggak bisa! Mereka nggak boleh tinggal di rumah kamu. Itu kan kontrakan milik sepupu saya!"


"Ya terus kenapa? Bukan kontrakan kamu, kan?"


"Kalau kalian tinggal di rumah Bu Ana, akan saya buat dia seperti kalian yang juga diusir dari kontrakan hari ini juga!" Bu Jihan mengancam Amar sekeluarga.


"Bu, nggak usah, saya nggak mau repotin Ibu terus. Makasih selama ini Ibu yang paling baik sama kami," ucap Lisa sambil berlinang air mata. Baru saja ia bersuka cita malam tadi karena setelah mengecek ke bidan, ternyata ia tengah hamil enam minggu.


"Man, usir dia!" titah Bu Jihan pada salah satu anak buahnya.


Bu Ana pun ditarik paksa oleh pria itu menjauh.


Tetangga semakin banyak yang berkumpul menyaksikan pengusiran keluarga Lisa dan Amar. Bahkan, yang dari gang lain pun ikut datang setelah mendengar dari mulut ke mulut. Tak terkecuali Mela sekeluarga. Mereka datang menyaksikan penderitaan Lisa dan keluarganya yang sebenernya adalah ulah mereka. Rafli membayar Bu Jihan sebesar lima juta jika Bu Jihan mau mengusir mereka pagi ini juga.


Sayang Pak Lurah dan istrinya sedang pergi ke rumah orang tua Pak Lurah karena sedang sakit. Jika ia ada di sana, pastinya ia dapat menolong mereka.


"Wah, kayaknya seru nih." Bu Nina datang bersama tim ghibahnya. Tak terkecuali Dira, ia juga ikut menyaksikan kehancuran keluarga Lisa yang dulu pernah ia prediksi akan sengsara.


"Iya, Bu. Lihat mereka, diusir, kasian ya, makin sengsara, dong."


"Iya, kan saya udah bilang, hidup mereka pasti akan sengsara. Lihat itu, lagi nangis, lucu, ya." Bu Nina tersenyum puas.

__ADS_1


"Akhirnya rencana kita berhasil." Mela berbisik pada Rafli.


Rafli hanya diam saja. Ia sangat kasihan melihat Lisa. Karena sebenarnya, ia masih sangat mencintai Lisa. Namun, harta yang telah membuatnya berubah haluan ke Mela.


Setelah semua barang-barang di keluarkan, Bu Jihan langsung mengunci rumah itu.


"Dengar, ya, jangan biarkan barang-barang kalian menyampah di sini!" ucapnya dengan keras.


Tiba-tiba...


Tiiiiiiiiinnnnnnnn, suara klakson mobil mewah mengagetkan orang-orang yang berkerumun di badan jalan.


Mobil itu masuk ke pekarangan rumah kontrakan Amar. Semua orang terpana melihat mobil yang hanya bisa mereka lihat di televisi.


Seseorang berpakaian jas segera turun dari mobil itu. Perhalan ia mendekati Amar.


"Mungkin aja, kok pas banget sih, makin seru kayaknya."


Mereka terus bebisik dan berargumen sampai pada akhirnya mereka dibuat terkejut saat pria tersebut membungkukkan badannya di depan Amar.


"Tuan, silakan masuk ke dalam mobil, Nyonya besar sudah menunggu. Beliau sudah menyiapkan pesta kecil penyambutan Tuan dan juga Nona Lisa serta Tuan Hamid dan Nyonya Marni," ucap Pria itu.


Seketika mereka semua yang ada di sana terkejut. Tuan? Nyonya besar? Itu adalah sebutan untuk orang-orang kaya. Tapi, kenapa ia menyebut Amar seperti itu.


"Heh, siapa kamu?" tanya Bu Jihan dengan tatapan tajamnya.


"Masa Ibu lupa? Saya ini Bagas, suami Ana," ucap pria itu.

__ADS_1


"Hah? Bagas? Ah, nggak mungkin! Setahu saya Bahas itu jelek, bewokan, badannya sekarung, tapi kok kamu,,,,,"


"Dulu emang saya kayak gitu, tapi setelah saya bekerja sebagai supir keluarga Tuan Amar, seperti inilah saya." Bagas tersenyum ramah.


"Kamu jangan bohong! Amar ini kan cuma kuli bangunan." Bu Jihan menanggapi.


Warga yang penasaran, kini semakin mendekat, berkerumun di sekeliling mereka.


"Mas Bagas!" Bu Ana menghampiri suaminya dan mencium punggung tangannya. "Jadi ini yang Mas bilang mau jemput majikan Mas," ucapnya tak percaya.


"Iya, Dek, Ini Tuan Amar, bos tempat Mas kerja. Hari ini Mas mau jemput mereka kembali ke rumah Tuan Amar," ucap Bagas.


"Jadi, Bu Ana ini istri Pak Bagas?" tanya Amar yang baru mengetahuinya.


"Iya, Tuan. Saya nggak pernah cerita karena saya nggak tau Tuan dan istri saya saling kenal," sahut Bagas.


"Pak Bagas nggak salah pilih, istri Pak Bagas adalah orang yang paling baik sama kami. Setelah ini, saya akan naikkan gaji Pak Bagas, dan saya akan berikan kalian rumah di sana. Bu Ana nggak perlu tinggal di sini, Lurahnya aja yang baik, warganya kebanyakan suka melihat orang sengsara, hanya sedikit orang yang seperti Bu Ana," jelas Amar.


"Eh, tunggu dulu! Maksud kamu apa, Mar? Ini semua bohong, kan? Kamu bukan bos kan? Kamu dibayar sama dia, kan?" tanya Mela yang tidak terima dengan hal ini.


"Maaf, Mbak, tapi yang saya katakan ini benar. Saya punya bukti. Sekarang kalian buka internet, kalian cari nama Amar Adijaya," ujar Bagas.


Mereka pun kompak membuka ponsel dan mencari nama Amar Adijaya.


Amar menatap Bagas dengan penuh tanya.


"Nyonya besar yang suruh saya, Tuan, maaf, ya."

__ADS_1


Amar menghela nafas pelan. Neneknya itu memang benar-benar marah pada warga yang ada di sini karena perlakuan mereka pada Amar selama ini. Bahkan sebelum Amar pergi, ia ingin membuat mereka semua ketakutan dan memohon maaf pada Amar. Karena sesungguhnya, pimpinan dari pabrik-pabrik, perusahaan kecil, dan proyek pembangunan yang ada di daerah itu adalah Amar sendiri.


__ADS_2