
Setelah itu, mereka langsung membersihkan diri mereka, lalu bersantai di lantai dasar. Sementara si kembar di jaga oleh baby sitter.
Hingga sebuah ketukan pintu terdengar. Seorang ART membuka pintu rumah itu.
"Maaf, Mbak, kata Tuan Mbak nggak boleh,,,"
Belum selesai sang asisten rumah tangga berbicara, wanita itu langsung menerobos masuk ke dalam rumah.
"Eh, Mbak, jangan masuk sembarangan!" ART yang bernama Mila itu mengejar langkah wanita yang tak lain adalah Ira.
"Ira! Kamu ngapain ke sini! Mana penjaga! Usir dia!" teriak Amar yang terkejut dengan kedatangan Ira.
Para penjaga yang berjaga di belakang pun masuk ke dalam rumah demi untuk mengusir Ira.
"Mas, aku mencintaimu, Mas. Terima aku jadi istrimu, Mas!" Ira berteriak. Ia sudah ditangkap oleh para penjaga dan akan dibawa keluar.
"Jangan! Aku ingin bersama Mas Amar!" Ira mencoba berontak. Saat salah satu tangannya berhasil lepas, ia pun mengambil sesuatu dari sakunya.
"Aaaarrrrghhhh!" Seorang penjaga berteriak saat pisau yang dipegang Ira berhasil melukai tangannya cukup parah. Darah berceceran di lantai, membuat Lisa sangat syok.
__ADS_1
"Ya Allah, antar dia ke rumah sakit. Yang lain, usir Ira!" teriak Amar.
Penjaga yang terluka langsung dibawa oleh temannya ke rumah sakit.
"Mana penjaga yang lain!"
"Aku sudah melumpuhkan penjaga dan satpam rumah ini, Mas, sekarang nikahi aku, atau aku bunuh dia!" Dengan secepat kilat, Lisa sudah berada di dalam cengkraman Ira dengan sebilah pisau akan menggores lehernya.
"Ya Allah! Jangan! Jangan sakiti istriku!" Amar mencoba berbicara baik-baik dengan Ira. Ia pun memikirkan ide gila supaya Ira tidak melukai Lisa.
"Baik, Ira, jangan begini. Baik, aku akan menuruti keinginan mu. Ayo, lepaskan, Lisa, Sayang."
Ira menangis di pelukan Amar. Amar mengusap kepalanya perlahan. Ia masih memeluk Ira, namum matanya menyorot Lisa.
"Aku sangat mencintai mu. Sampai kapanpun, aku nggak akan meninggalkan kamu. Selamanya kamu akan menjadi pendamping hidupku." Masih menatap Lisa dengan serius. Karena kata-kata itu memang dia tujukan pada Lisa, bukan Ira
Tangannya mulai menyentuh bagian tangan Ira yang memegang pisau.
"Aku takut pisau, bisakah kamu melepas pisau itu?" tanya Amar.
__ADS_1
"Iya, Sayang, aku lepaskan. Jangan takut." Ira langsung mencampakkan pisau itu ke lantai.
Amar langsung menggunakan kesempatan itu untuk melepaskan Ira dari pelukannya dan mendorongnya. Penjaga langsung menangkapnya.
"Dasar wanita gila! Seharusnya kamu ada di rumah sakit jiwa! Bawa dia ke kantor polisi, aku yakin setelah ini dia akan dimasukkan ke rumah sakit jiwa."
Para penjaga mengangguk dan pergi. Tak lupa mereka juga mengambil pisau yang masih ada bercak darah untuk menjadi bukti. Bahkan, memori CCTV rumah pun juga mereka bawa.
"Mas, aku mau lihat si kembar," ucap Lisa
Amar mengangguk. Ia harus membantu sisa penjaga untuk mengangkut satpam dan penjaga lain yang terkena bius Ira.
Ia meneliti bius yang berupa jarum suntik.
"Tidak mungkin Ira melakukannya sendiri. Mereka berjumlah banyak. Anak-anak!" Amar langsung menyadari hal itu.
Ia pun berlari ke dalam rumah. Namun, belum sampai ia ke kamar, ia mendengar jeritan Lisa.
"Anak-anakku!!!"
__ADS_1