
Hari semakin senja. Terdengar suara sepeda motor milik Amar berhenti di depan rumah.
Lisa hendak membukakan pintu, namun terdengar suara Ira menyapa Amar. Ia pun mengurungkan niatnya dan hanya mendengarkan saja dari balik pintu rumah.
"Mas, baru pulanh?" tanya Ira yang sedang mengangkat jemuran di samping rumahnya. Pembatas rumah mereka hanyalah daun teh-tehan yang setinggi pinggang orang dewasa.
Amar yang baru akan masuk menghentikan langkahnya. Ia menoleh ke arah Ira. "Iya, Ra," sahutnya.
"Mas, tadi aku bawain brownies buat Mas dan Mbak Lisa. Aku buat sendiri lho," ucap Ira dengan senyum centilnya.
"Makasih, ya, Ra."
"Iya, Mas, kita kan sejak dulu emang deket, jadi wajar kalau aku melakukan hal itu."
Amar hanya mengangguk dan tersenyum.
"Mas, coba deh Mas nasehatin Mbak Lisa, masa tadi aku main dia malah santai-santai sementara rumah nggak diberesin."
Amar memerhatikan sekeliling rumah dan juga teras rumahnya yang sudah bersih. "Kayaknya udah dibersihkan sama Lisa."
"Ya dibersihkan, Mas, tapi kan sorenya, sebelum Mas pulang kerja. Kalau pagi Mbak Lisa cuma duduk santai aja di dalam rumah. Enak banget, bukannya bantuin suami cari duit malah enak-enakan di rumah."
"Iya, Ra, buruan masuk, udah mau gelap," ujar Amar.
"Mas Amar perhatian banget sih sama aku. Sama kayak dulu, nggak berubah." Dengan senyumnya yang centil, ia pun memasuki rumah.
Amar hanya tersenyum sambil geleng-geleng kepalanya. Ia pun berjalan masuk ke dalam rumah. Lisa yang sedari tadi mendengar percakapan antara Amar dan Ira, terlihat duduk di atas sofa.
"Lis, kamu ngapain di sini?" tanya Amar sambil mendaratkan bokongnya di atas sofa tepat di samping Lisa.
Lisa tidak menjawab, ia hanya diam sambil melihat ke arah lain.
"Hei, kamu kenapa, Sayang?" Amar mencoba memegang tanga Lisa, namun langsung ia tepis.
"Lho, kamu marah, Sayang? Kenapa?" Amar heran dengan sikap Lisa.
"Mas, bisa nggak sih jaga jarak sama Ira? Dan bisa nggak kalau Mas nggak usah percaya sama ucapannya." Lisa langsung to the point. Menunggu Amar mengerti sepertinya akan memakan waktu yang lama.
__ADS_1
"Ira? Oh yang tadi? Kamu denger?" Amar mulai terkekeh.
"Kok Mas ketawa, sih? Apa yang lucu?" Lisa semakin kesal.
Amar mengusap kepala Lisa dengan gemas. "Dengar, ya, Sayang, aku itu nggak pernah menanggapi omongan Ira. Ya, dia emang suka sama aku udah lama. Pernah nembak juga tapi aku nggak suka sama dia. Aku tersenyum karena masih menghargai dia sebagai tetangga. Dan aku iya-iyain aja karena nggak mau lama-lama ngobrol sama dia. Ya biarin ajalah, lagian semua orang tau kamu kayak gimana."
"Beneran?" tanya Lisa dengan mimik wajah yang sangat menggemaskan bagi Amar. Ingin sekali ia membawa Lisa ke kamar, tapi tubuhnya masih kotor dan berkeringat.
"Beneran. Aku cuma cinta sama kamu. Lagian kalau dilihat cantikan kamu. Dia cantik make up doang, udah gitu pakaiannya seksi banget, aku nggak suka perempuan yang memperlihatkan tubuhnya ke orang lain, beda sama kamu yang pakaiannya sopan tapi tetap menggoda bagi aku." Amar mengusap pipi Lisa.
"Kamu gombal, deh." Lisa tersenyum malu.
"Kamu ngegemesin banget kalau cemburu gini." Kini Amar mencubit gemas pipi Lisa.
"Aduh, udah ah, kamu mandi deh sana, bau." Lisa mengibas-ngibaskan tangannya di depan hidung pertanda sedang mencium aroma yang bau.
"Bau kamu bilang? Sini kamu!" Amar menggelitik Lisa hingga membuatnya tertawa cekikikan.
Hal itu terdengar jelas oleh Ira yang kamarnya bersebelahan dengan ruang tamu Amar.
"Ih, ngapain sih mereka pake ketawa segala. Harusnya kan berantem karena Mas Amar marahin Mbak Lisa." Ira berdecak kesal.
"Gimana di kerjaan, Mas?" tanya Lisa.
"Alhamdulillah lancar. Teman aku bilang makasih sama kamu karena kamu bawain aku bekal, dia sekarang jadi punya makan siang."
"Alhamdulillah, Mas."
"Lis, kok kalung emas sama gelang nggak kamu pake? Cuma cincin sama anting aja?" tanya Amar yang kini memerhatikan penampilan Lisa.
"Oh, aku nggak biasa pakai kalung sama gelang, Mas. Pakai cincin aja rasanya risih banget."
"Pakai, dong, biar kelihatan makin cantik."
"Nggak ah, Mas. Aku juga nggak mau dibilang pamer. Tau sendiri kan gimana cibiran para warga di sini. Pasti dinyinyirin dan dibilang pamer."
"Kamu itu aneh, ya. Disaat orang-orang lebih suka memarekan hartanya, kamu malah menyembunyikan milik kamu." Amar terkekeh.
__ADS_1
"Hihihi, karena aku nggak begitu tertarik dengan pujian, Mas. Mending terlihat sederhana daripada terlihat kaya tapi ujung-ujungnya hutang demi mendengar lebih banyak pujian lagi."
Amar mengusap kepala Lisa. "Aku bangga sama kamu, Lis. Meski aku cuma kuli bangunan, tapi kamu mau menerima bahkan sekarang kita udah saling cinta." Tersenyum lembut.
"Aku lebih suka laki-laki pekerja keras daripada yang mengandalkan harta orang tua. Karena kalau mengandalkan harta orang tua aja, itu nggak menjamin hidup akan bahagia ketika harta udah nggak ada lagi."
"Alhamdulillah, aku bersyukur punya istri kayak kamu."
"Aku juga bersyukur punya suami seperti kamu."
"Oh ya, makan malam besok buatin aku ayam geprek dong, Lis. Kayaknya enak banget. Soalnya tadi masakan kamu enak banget. Temen aku juga sampai muji kamu waktu nyicip, ucap Amar.
"Ya udah, besok pagi aku belanja ayam ke tukang sayur." Lisa mengangguk.
"Uang kamu masih ada?"
"Ya ada, dong, Mas. Kan Mas kasih satu juta untuk seminggu. Itu kebanyakan malah, jadi aku tabung aja."
"Kalau urusan tabungan biar aku aja yang nyisihin dari hasil lembur. Pokoknya jatah belanja sama listrik dan air sejuta perminggu. Kontrakan juga jadi urusan aku. Kamu beli baju atau apa gitu, Lis."
"Emang gaji kamu di sana berapa, Mas?" tanya Lisa yang penasaran.
"Dua ratus ribuan, soalnya pembangunan proyek besar. Kalau sebulan jadi sekitar enam jutaan. Satu juta kontrakan, satu juta lagi ditabung, sisanya buat bensin," jelas Amar.
"Oh, pantes tabungan kamu banyak banget. Terus buat jajan sama nongkrong gitu, nggak ada?"
"Aku nggak suka jajan. Di tempat kerja disediakan juga kalau mau minum kopi. Lagian ngapain aku nongkrong, kan ada kamu sekarang." Amar mencubit hidung Lisa dengan gemas.
Mereka pun segera menyelesaikan makan malam. Saat adzan berkumandang, mereka melaksanakan sholat Isya. Setelahnya, mereka hanya menonton televisi sambil sesekali mengobrol ringan.
"Lis, kalo kita langsung punya anak, kamu siap, kan?" tanya Amar yang seketika membuat pipi Lisa merona merah.
"I-iya, aku siap, Mas. Emang kamu mau punya anak berapa?"
"Dua aja, mengikuti anjuran pemerintah."
"Iya, Mas, kita berdoa aja semoga Allah segera memberikan kita momongan."
__ADS_1
"Berdoa aja nggak cukup kalau nggak dibarengi dengan usaha. Makanya, sekarang kita ke kamar aja."
Tanpa aba-aba, Amar langsung menggendong Lisa menuju kamar, lalu mereka pun melakukan ritual suami istri.