Jodoh Yang Tertukar

Jodoh Yang Tertukar
Bertengkar


__ADS_3

Pagi menjelang. Amar baru saja berangkat bekerja. Lisa yang baru selesai mengerjakan pekerjaan rumah langsung mendatangi tukang sayur yang kebetulan lewat.


"Mau beli apa, Mbak?" tanya si tukang sayur.


"Ikan sekilo, Bang. Terus sama kangkung, dan,,,," Melihat lebih detail isi gerobak. "Wah ada bengkoang, timun, semangka, sama jambu air. Saya mau, bang!" seru Lisa bersemangat.


"Lisa, banyak banget buahnya, kamu mau bikin rujak?" tanya Bu Ana yang tiba-tiba datang menghampiri tukang sayur.


"Eh, iya, Bu. Lihat buah yang seger-seger kok jadi pengin aja, hehehe." Lisa hanya cengengesan.


"Jangan-jangan kamu hamil, Lis," ucap Bu Ana.


"Hah? Hamil?" Lisa mencoba mengingat kapan terakhir kali ia menstruasi. Ternyata ia memang sudah telat dua Minggu.


"Coba kamu cek, Lis."


"Tapi kalau hamil masa nggak ada ngidam atau mual dan pusing, sih, Bu."


"Nggak semua ibu hamil mengalami hal itu. Ada juga yang reaksi tubuhnya biasa saja. Dulu saya waktu hamil nggak ngerasain yang aneh-aneh. Sehat-sehat aja, coba nanti kalau Amar pulang suruh anterin ke bidan," ujar Bu Ana.


"Iya, Bu." Lisa mengangguk.


"Lis, saya duluan, ya, udah selesai," ucap Bu Ana sambil mengambil ayam yang diberikan tukang sayur. Sepertinya ia sudah memesannya kemarin sehingga sudah dipotong dan dibungkus rapi.


Lisa mengangguk menatap kepergian Bu Ana.


"Wah, ada tukang sayur." Bu Yati datang sambil melihat-lihat isi gerobak tukang sayur.


Lisa hanya diam sambil memilih bahan-bahan yang akan ia gunakan untuk membuat rujak.


Tak berselang lama, Ira datang.


"Eh, Mbak Lisa, Bu Yati, lagi belanja," ucap Ira.


"Iya, Ra, mana ibu kamu, biasanya dia yang belanja." Bu Yati melihat rumah Ira yang tampak sepi.

__ADS_1


"Ibu dan Bapak lagi pergi ke tempat saudara selama beberapa hari, Bu, jadi Ira yang belanja dan masak," sahut Ira.


"Wah, hebatnya, sudah berpendidikan tinggi, pintar masak pula. Gitu dong jadi perempuan. Pendidikan harus tinggi, jadi nggak nyusahi suami apalagi sampai bawa orang tua ke rumah suami dan menambah beban hidup."


Deg, Lisa terkejut dengan apa yang diucapkan Bu Yati. Jelas sekali bahwa Bu Yati sedang menyindir dirinya. Namun begitu, ia tetap memilih diam saja.


"Bang, asem jawanya mana, ya?" tanya Lisa mencoba mengalihkan pendengarannya.


Tukang sayur langsung memberikan asam jawa yang diminta Lisa.


"Ya udah, hitungin, Bang." Lisa menyodorkan semua belanjaannya pada tukang sayur.


"Bentar, ya, Mbak, saya tanya temen dulu. Tadi dia nggak nyantumin harga buah yang dititip sama saya," ujar tukang sayur.


Lisa mengangguk mengerti.


"Eh, Ra, nanti kamu kalau menikah, cari suami yang mapan, ya. Yang udah punya rumah, mobil, jangan sampai ngontrak. Dan usahakan orang tua kamu tetap tinggal di rumahnya. Jangan sampai digadaikan demi menutupi biaya pesta pernikahan kamu," tambah Bu Yati.


Lisa paham. Pasti Bu Yati sudah termakan omongan orang-orang soal orang tuanya. 'Ya Allah, berilah balasan untuk Pakde Hasan, beliau terlalu jahat, ya Allah,' batin Lisa.


"Oh ya, Bu? Wah nggak tau malu banget, ya. Anaknya juga nggak tau diri, ya. Bisa-bisanya minta pernikahan mewah." Ira menanggapi.


"Emang Bapak nggak tau? Ini berita hot loh. Orangnya udah pindah di sini," ucap Bu Yati.


"Siapa namanya?" tanya si tukang sayur lagi.


"Adalah, pokoknya nggak jauh dari sini."


"Ibu lagi ngomongin orang tua saya?" tanya Lisa.


"Ih, pede banget kamu." Bu Yati menatap sinis.


"Jadi siapa, Bu? Sebutin dong namanya," ucap Lisa lagi.


"Kamu kok maksa, sih?"

__ADS_1


"Ya kalau emang Ibu ngomongin orang tua saya, jadi nanti di kelurahan, waktu persidangan, Ibu akan jadi salah satu tersangka pencemaran nama baik."


"Halah, sok mau sidang. Kayak banyak duit aja."


"Nggak banyak, sih, tapi untuk menuntut orang-orang bermulut tajam seperti ibu saya rasa bisa."


"Heh Lisa, yang saya bilang itukan beneran fakta." Bu Yati tak mau kalah.


"Emang Ibu tau darimana kalau orang tua saya diusir karena hutang? Ada surat hutangnya? Ada surat gadainya?" Lisa mempertajam tatapannya.


"Ya, kalau bukan karena itu, lantas karena apa?"


"Begitu banyak kemungkinan yang terjadi, tapi Ibu malah membenarkan satu berita yang merugikan keluarga saya. Berharap ya, Bu? Suka lihat orang lain susah?"


"Heh, kamu itu nggak ada sopannya sama orang tua." Bu Yati membanting sayuran yang sedang ia pegang.


"Saya bukan bermaksud seperti itu, Bu. Saya hanya nggak suka ada orang yang menjelekkan keluarga saya."


"Aduh, udah, dong, Bu, Mbak, jangan berantem. Kayak nggak punya pendidikan aja berantem di tempat umum," ucap Ira.


"Nah, kalau ini baru namanya nggak sopan. Bilangin orang yang lebih tua nggak berpendidikan hanya karena dia calon sarjana." Lisa menunjuk Ira.


"Ira kan bener, dia berpendidikan, sama seperti anak saya," ucap Bu Yati dengan bangga.


"Anak ibu yang mana? Yang kerjanya tiduran terus main game, ngabisin harta orang tua padahal sudah sarjana?"


"Jangan asal ngomong kamu! Anak saya nggak kayak gitu. Dia cuma lagi nunggu panggilan kerja aja. Dia sarjana, mana mungkin mau kerja kasar kayak suami kamu yang miskin itu."


"Biarpun suami saya ibu anggap miskin, seenggaknya kendaraan, barang-barang di dalam rumah kami nggak ada yang hutang. Jangan Ibu kira saya nggak tau kemarin ada debt kolektor datang menagih uang angsuran mobil, Bu. Juga pihak Bank tempat suami ibu menggadaikan SK. Bu, selagi masih punya hutang, jangan menghakimi orang lain."


"Dasar kamu, udah miskin, belagu! Saya sumpahin kalian sengsara seumur hidup!" Bu Yati pun pergi ke rumahnya dengan hentakan kaki yang cukup kuat.


"Bu, nggak beli sayur?" teriak tukang sayur.


"Nggak!" sahut Bu Yati tanpa menoleh.

__ADS_1


"Terus hutangnya yang dua ratus ribu gimana, Bu?"


Seketika itu juga, Bu Yati langsung menghentikan langkahnya. Ia kembali ke tukang sayur, lalu memberikan uang dua ratus ribu. "Nih, hutang segitu aja ditagih, takut banget jadi miskin!"


__ADS_2