Jodoh Yang Tertukar

Jodoh Yang Tertukar
Pertemuan Tak Terduga


__ADS_3

Beberapa bulan kemudian.


Lisa dan Amar baru saja pulang dari dokter kandungan. Kehamilan yang sudah memasuki usia delapan bulan membuatnya semakin rutin cek up ke dokter.


"Alhamdulillah hasil USG nya, ya, Mas," ucap Lisa sambil melangkah bergandengan tangan dengan Amar.


"Iya, sebenarnya, apapun hasilnya, Mas nggak keberatan. Anak ini adalah anak kita yang harus kita syukuri."


"Ya, tapi aku seneng banget karena anak kita laki-laki."


"Iya, iya." Amar mengusap kepala Lisa dengan gemas.


Saat mereka sudah sampai di parkiran rumah sakit, tiba-tiba seseorang memanggil nama Amar.


Keduanya kompak menoleh.


"Velia," ucap Amar. Velia ini adalah mantan pacarnya yang dulu hampir menikah dengannya.


"Apa kabar, Mar?" tanyanya mencoba ramah.


"Alhamdulillah baik," sahut Amar.


"Selamat atas pernikahan kamu. Maaf waktu kamu nikah aku nggak dateng. Padahal, pasti kamu berharap banget aku dateng."


Mata Lisa menyorot Velia dengan tatapan sinis. Kenapa ia merasa bahwa Velia sama saja seperti Ira? Gadis tidak tahu malu yang beranggapan bahwa Amar menyukai mereka?


"Oh, nggak apa-apa, lagian aku nggak ngundang kamu, kok. Kalaupun datang, pasti diusir keamanan, kan malu."


Pffff, Lisa langsung menutup mulutnya yang kini sedang menahan tawa. Amar memang paling bisa membuat seseorang bungkam hanya dengan kalimat sederhananya.


"Udahlah, Mar, jujur aja. Kamu belum bisa move on kan dari aku. Lihat aku sekarang, jauh lebih cantik dan seksi, nggak seperti dia yang biasa aja." Velia menatap Lisa dengan ramah.

__ADS_1


"Masa sih? Kayaknya biasa aja. Malah sekarang kelihatan makin jelek, ketebelan make up. Sepertinya kamu harus belajar banyak dari istriku. Tanpa make up pun dia tetap cantik. Bicara soal move on, maaf, aku nggak pernah menganggap kamu mantan." Amar tersenyum kecut.


"Halah, Mar, kamu ngomong gini karena lagi sama istri kamu, kan? Dulu kamu sayang banget, loh, sama aku."


"Itu dulu, kan, bukan sekarang. Maaf, Velia, sepertinya kamu bicara di situasi yang salah. Kalau kamu ingin memamerkan diri kamu yang bisa hidup bahagia sekarang, aku sama sekali nggak peduli. Aku sedang sibuk menanti kelahiran anak pertama ku."


Amar pun mengajak Lisa pergi ke mobil mereka.


Velia terlihat kesal, 'Lihat aja, aku akan buat istri kamu cemburu dan pisah sama kamu,' batin Velia.


"Mas, sebentar." Lisa pergi menghampiri Velia yang masih berdiri di tempatnya.


"Ada apa?" tanya Velia dengan sinis.


"Maaf, Mbak, kalau Mbak mau berniat merebut suami saya, sebaiknya Mbak urungkan aja. Sama seperti Mas Amar, saya juga nggak peduli sama Mbak. Berhenti aja, ya, Mbak, nanti Mbak yang sakit hati." Lisa berkata setengah berbisik.


"Pede banget kamu ngomong gitu. Kita ini beda kasta. Ngerebut Amar dari kamu adalah hal yang mudah." Velia menatap remeh pada Lisa.


"Eh, udah cukup! Oke aku nggak akan gangguin Amar. Tapi lihat aja kalau sampai video itu tersebar, kamu yang tanggung akibatnya." Velia yang sedikit ketakutan pun segera pergi.


Lisa tersenyum puas. "Maaf, ya, Mbak, terpaksa aku bohong. Sebenarnya rekaman itu nggak ada. Cuma, Ridwan pernah ngintip Mbak sama kakek-kakek di semak-semak. Katanya sih dia keasyikan lihat sampai lupa videoin. Tapi dengan omonganku ini, aku yakin Mbak nggak akan mengganggu keluarga ku."


"Sayang, kamu habis ngomong apa sama dia?" tanya Amar ketika Lisa sudah kembali.


"Nggak ada, Mas, aku cuma bilang, kalau dia itu cantik. Pasti banyak laki-laki yang mau sama dia."


"Ngapain kamu bilang gitu, nanti dia besar kepala."


"Nggak apa-apa, Mas, nanti kita kecilin.".


"Kamu ini kalau diajak ngomong selalu aja becanda." Amar mengusap kepala Lisa dengan gemas.

__ADS_1


Mereka pun segera masuk ke dalam mobil, lalu pulang ke rumah.


Setibanya di lampu merah, Lisa melihat seorang pengemis wanita yang sedang hamil besar dan seorang pria tua yang duduk di kursi roda sedang duduk sambil menadahkan tangan. Lisa tak sampai hati melihatnya.


"Mas, tepiin!" seru Lisa.


Amar langsung menepikan mobilnya. "Kenapa, Sayang? Untung nggak sampai kena lampu merah."


"Bentar, Mas, kasihan pengemis itu. Aku mau kasih uang dulu," ucap Lisa.


"Ya udah, aku temenin." Amar pun turun dari mobil, berjalan memutar, lalu membuka pintu mobil di sisi lain agar Lisa bisa keluar.


Mereka pun berjalan menghampiri pengemis wanita yang mengenakan topi itu. Pakaiannya lusuh dan sobek, tubuhnya juga kotor, dan mereka tidak memakai alas kaki.


Lisa mengeluarkan beberapa lembar uang ratusan ribu pada pengemis wanita itu.


Pengemis wanita itu terkejut dan langsung mendongakkan kepalanya. "Terima kas,,,,,"


"Mela!"


Hai gaes, aku ada rekomendasi novel bagus nih buat kalian.


Judul: I Love My Sugar Daddy


By Dianning


Duda tampan dan kaya menjadi incaran para wanita lajang, tetapi sama sekali tidak tertarik menikah lagi karena masih mencintai mantan istri yang telah direbut oleh pria lain.


Saat berencana untuk hidup melajang dengan gelar 'Duren', tetapi gagal karena sang ibu sibuk mencarikan wanita untuk dijodohkan dengannya.


Sampai ia memiliki jalan keluar untuk mencari seorang wanita untuk dijadikan istri kontrak demi mengelabuhi sang ibu.

__ADS_1


Akankah Duren ini menemukan seorang wanita yang sesuai dengan kriterianya?


__ADS_2