Jodoh Yang Tertukar

Jodoh Yang Tertukar
Karma


__ADS_3

Lisa terkejut setengah mati saat melihat wajah pengemis itu yang tak lain adalah sepupunya sendiri.


"Kalau itu Mela, maka yang di kursi roda,,,," Amar membungkukkan tubuhnya untuk melihat pria tua yang sepertinya terkena stroke itu.


"Astaghfirullahalazim, Pak Hasan!"


"Ya Allah, Pak De!" Lisa menghampiri Hasan lalu menangis sambil memeluknya. "Pak De kenapa bisa seperti ini! Mel, kalian kenapa?"


"Sayang, tenangkan dirimu. Sekarang kita bawa saja mereka ke rumah," ujar Amar.


"Jangan! Jangan bawa aku! Aku nggak pantas ditolong. Aku lebih pantas seperti ini. Aku sudah jahat sama kalian, Lis!" Mela menangis menatap Lisa.


"Mel, mau sejahat apapun kamu dan Pak De, kalian tetap keluarga ku!" Lisa menatap Mela penuh haru.


Mereka pun segera membawa kedua tunawisma itu ke rumah Hamid. Tak lupa Amar memanggil dokter untuk Hasan yang ternyata sudah sangat parah.


Kini Mela sedang berada di ruang keluarga rumah Hamid. Hamid, Marni, Lisa dan Amar menatapnya serius karena ia akan bercerita apa yang sebenarnya terjadi.


"Beberapa hari setelah kalian pergi, ibu meninggal setelah tahu Mas Rafli ternyata adalah seorang penipu. Dia syok dan terkena serangan jantung."

__ADS_1


"Apa? Menipu? Menipu bagaimana, Mel?" tanya Lisa.


"Sebenarnya dia bukan manager, dia cuma montir di bengkel kecil. Dia berhasil memperdaya kami sehingga Bapak dan Ibu mau menggadaikan surat rumah dan sawah serta tanah warisan milik Paklek Hamid. Nggak sampai di situ, dia juga berhasil membujuk kami menjual rumah dan tanah milik Paklek Hamid dengan iming-iming investasi. Ternyata semua itu hanya tipuan. Dia kabur dengan semua uang yang dia dapat."


Lisa dan keluarganya pun terlihat syok mendengar penuturan Mela.


"Bapak yang mendengarnya pun akhirnya syok dan stroke sampai seperti ini. Rumah dan sawah disita Bank, kami nggak diterima lagi di komplek, semua warga membenci kami sehingga kami terpaksa menggelandang di jalanan selama berbulan-bulan. Tidur di emperan toko dengan alas kardus. Ya, kami memang pantas mendapatkan semua ini karena kami sudah terlalu jahat pada kalian." Mela mengakhiri ceritanya dengan air mata yang berlinang.


"Ya Allah, kenapa kalian nggak menemui kami?" tanya Hamid dengan mata berkaca-kaca.


"Kami malu, Paklek. Kami sudah jahat pada Paklek. Hati kami sudah ditutupi rasa iri dan dengki padahal kalianlah satu-satunya keluarga kami."


Hamid yang mendengarnya pun ikut menangis tersedu-sedu.


"Mas, jangan menangis, Mas. Kami sudah memaafkan, Mas." Hamid memeluk Hasan sambil menangis.


"Meaafkan, Moas, Med." Dengan bibir yang miring, Hasan pun meminta maaf.


"Iya, Mas, aku sudah ikhlas dengan semuanya. Tetaplah kuat, ya, Mas." Hamid memegang tangan Hasan.

__ADS_1


Mereka semua tersenyum menatap Abang beradik yang akhirnya saling memaafkan meski ketika mereka sudah semakin menua.


"Mel, kamu dan Pak De bisa tinggal di sini, ya. Biar ada yang jagain Pak De, kalau kami tinggal di sebelah," ujar Lisa.


"Kalian memang pantas mendapatkan kebahagiaan ini. Kalian orang baik." Mela tersenyum menatap Lisa.


"Sudah berapa bulan, Mel?" tanya Lisa sambil memegang perutnya yang semakin membesar.


"Sembilan bulan," sahut Mela.


Lisa tersenyum mendengarnya. Sebentar lagi anak Mela akan lahir, lalu setelahnya anaknya yang lahir. Dua tangisan bayi akan segera terdengar dalam waktu dekat.


Setelah puas bercerita. Mereka pun bubar, kembali ke rumah dan kamar masing-masing.


Namun keesokan harinya, terdengar kabar duka dimana Hasan menghembuskan nafas terakhirnya setelah menunaikan sholat subuh dengan Hamid.


Isak tangis terdengar dari rumah itu. Terlebih lagi Mela yang kini telah kehilangan kedua orang tuanya.


Bahkan di sisa umur ayahnya, ia malah memberikan kehidupan yang sangat menderita. Kedinginan, kelaparan, dipandang orang dengan tatapan jijik, itulah yang dirasakan Hasan selama mereka menggelandang.

__ADS_1


Jika saja kemarin ia tidak bertemu Mela, mungkin hari ini ia meninggal dalam keadaaan yang menjijikkan. Tidak dipedulikan orang, bahkan ia pun tak akan mendapatkan maaf dari Hamid.


__ADS_2