
"Ya Allah, Bu Yati meninggal, Buk," ucap Lisa sambil menutup mulutnya tak percaya.
Mereka pun buru-buru turun untuk melihat ke dalam. Terlihat banyak tetangga yang datang melayat dan bantu-bantu di sana.
"Amar, Lisa, Bu Marni, Pak Hamid?" Bu Vita yang melihat mereka langsung berdiri dan menghampiri.
"Bu Vita, apa kabar?" tanya Marni sambil memeluknya.
"Baik, Bu, Alhamdulillah."
"Kok, nggak bilang kalau Bu Yati meninggal, Bu?" tanya Lisa. Harusnya mereka diberitahu terlebih dahulu sebelum datang ke kampung itu.
"Maaf, saya tadi sibuk karena Bu Yati meninggal dua jam yang lalu."
"Hah? Berarti waktu kami lagi di jalan dong. Memang Bu Yati sakit apa, Bu?" tanya Lisa penasaran. Karena selama berkomunikasi dengan orang-orang di kampung ini dia belum pernah mendengar bahwa bu Yati sedang sakit parah.
"Mendadak, Lis. Tadi Bu Yati lagi ngumpul sama ibu-ibu sambil beli sayur. Terus, tiba-tiba dia dapat telepon dari seseorang yang mengabarkan bahwa mereka tertipu investasi bodong. Padahal, Bu Yati udah memberikan seluruh tabungannya dan juga menggadaikan seluruh asetnya seperti rumah, sawah, bahkan BPKB mobil. Karena nggak kuat mendengar berita ini, beliau terkena serangan jantung dan meninggal di tempat."
"Innalilahi wa inna ilaihi raji'un," ucap mereka berbarengan.
__ADS_1
"Kasian banget, Bu Yati. Mana anaknya lagi kena masalah."
"Sinta, Bu? Memangnya dia kenapa?"
"Dia mengalami KDRT oleh suaminya. Waktu itu sudah dilaporkan oleh Bu Yati, tapi Sinta malah cabut laporan. Bu Yati jadi kepikiran anaknya terus karena takut menantunya melakukan KDRT lagi. Dan suaminya Bu Yati juga baru-baru aja ketauan selingkuh."
"Astaghfirullah, sekarang suami Bu Yati dimana, Bu? Kok kami hanya mendengar tangisan Sinta saja?"
"Suami Bu Yati tadi syok begitu tau mereka kena tipu. Sekarang sedang ada di rumah sakit karena mengalami stroke."
"Ya Allah, kasihan sekali mereka," ucap Lisa sambil mengusap air matanya yang jatuh.
"Amin, ya udah, Lis, kita layat dulu, ya. Nanti kalau sudah dikebumikan, baru kita bagi-bagi," ujar Marni.
Mereka semua mengangguk lalu masuk ke dalam untuk melayat. Banyak orang yang menyaksikan kehadiran mereka langsung terpana.
Penampilan Lisa dan kedua orang tuanya terlihat masih sangat cantik dengan balutan pakaian yang bagus. Bu Nina yang melihat mereka dari dapur terlihat berbisik pada para ibu lainnya.
"Lihat tuh, orang kaya datang," bibir Bu Nina.
__ADS_1
"Wah, Lisa makin cantik aja, ya. Pastilah, kan suaminya kaya." Orang di sampingnya malah berdecak kagum.
"Ngapain sih mereka ke sini, pasti mau pamer kalau udah jadi orang sukses."
"Bu Nina kenapa, sih? Mereka mau melayat kok Bu Nina yang sewot. Entar menantu Ibu dipecat dari pabrik Amar, gimana?"
"Heh, kamu nyumpahin? Kasian anak saya, dong. Mana sekarang cucu saya ada empat gara-gara Dira kebobolan terus!" gerutu Bu Nina.
"Ya makanya hati-hati sama mulut. Dulu kan Ibu yang ngatain anak Bu Evi kayak kucing, ngelahirin terus. Jadi kena juga, kan. Anak Bu Evi mending suaminya manajer. Lah menantu Ibu?"
"Kamu kok malah ngatain menantu saya, sih!"
"Salah sendiri kenapa suka ngatain orang. Saya itu penggemar Lisa dan Amar. Mereka itu bagi saya sweet couple tau."
"Halah, ngapain sih kamu suka sama mereka. Dapet apa emangnya?"
"Dapat jabatan, dong. Menantu saya kan sekarang diangkat jadi kepala keamanan di pabrik milik Amar. Itu karena saya menanamkan nilai-nilai kesopanan sama dia. Saya bilang kalau Amar itu adalah orang yang baik. Berkat mendengarkan nasehat saya, sekarang anak saya hidup sejahtera karena suaminya memiliki gaji yang lumayan."
Merasa kalah, Bu Nina pun memilih pergi dari sana. Karena nyatanya, rasa iri membuatnya kesal dan jengkel.
__ADS_1