
"Eh, bukankah yang satunya..."
"Zein, Zayn! Ayo, pulang." Lisa tiba-tiba saja kembali dengan wajah pias. Dia terlihat terburu-buru dan langsung menarik kedua anaknya begitu saja tanpa menunggu persetujuan dari mereka.
"Bunda, kami masih ingin main dengan mereka," rengek Zayn.
"Iya, Bunda, tadi kan Bunda sendiri yang bilang kalau kami masih boleh main." Zein menambahkan. Dia menahan tubuhnya agar tidak ikut tertarik oleh tangan sang ibu.
Lisa pun berhenti karena kesulitan menarik tangan Zein. Dia menatap Zein dengan tajam. Bukan karena membencinya, melainkan ingin segera menjauh dari tempat itu sebelum Ira menyadari sesuatu.
Namun terlambat, saat ini Ira menghampiri mereka.
"Hai, Lis, lama nggak ketemu. Anak kamu udah besar, ya," ucap Ira sambil melihat kedua anak Lisa secara bergantian.
__ADS_1
"I-iya, sepertinya sekarang kamu udah baikan, ya."
"Iya, sekarang aku udah keluar dari rumah sakit. Aku udah nggak kayak dulu lagi, kok. Aku nggak akan nyakitin kamu atau anakmu. Aku nggak mau kembali ke rumah sakit itu lagi."
"Alhamdulillah kalau begitu, Ra. Aku seneng kamu udah sembuh."
"Kamu kok kayaknya masih takut, Lis. Aku tiduran di balai pertemuan bukan karena masih gila. Tadi aku baru saja selesai rapat di sana dan disuruh menunggu karena ada yang akan datang. Aku ngantuk, jadinya tidur di teras. Aku nggak mau tidur di dalam karena sepeda motor aku di luar. Ini bocah-bocah pernah ngempesin sepeda motor aku. Makanya aku agak kesel waktu denger suara berisik tadi."
Lisa pun lega mendengarnya karena ternyata Ira benar-benar sudah sembuh. Bahkan dia sudah bekerja.
"Benar, Ra? Kamu janji?" tanya Lisa dengan tatapan mata berbinar-binar.
"Iya, aku janji. Aku udah nggak mau menyakiti orang lain lagi. Apalagi saat ini aku sedang hamil." Ira mengusap perutnya yang masih rata.
__ADS_1
"Hamil? Kamu udah nikah?"
"Udah, beberapa bulan yang lalu. Aku nikah sama psikiater aku sendiri," ucap Ira cekikikan.
Lisa mengangguk mengerti. Pantas saja Ira sekarang sudah sembuh. Ternyata suaminya ada psikiaternya sendiri. Tentu orang-orang pun tidak perlu mengkhawatirkan keadaan Ira karena pawangnya ada bersamanya.
"Oh, jadi kamu tidur di sana karena bawaan bayi, ya. Selama, ya, maaf aku baru tau kalau kamu udah nikah." Lisa menjabat tangan Ira sambil tersenyum.
Lisa pun membiarkan anak-anaknya kembali bermain sementara dia mengobrol dengan Ira di depan balai pertemuan sampai barang yang Ira tunggu sudah datang.
Mereka pun berpisah dan kembali ke rumah masing-masing. Lisa membawa kedua anaknya yang telah puas bermain.
Dia menyuruh mereka mandi dan ikut salat magrib di mushola bersama kakek dan ayahnya.
__ADS_1
Lisa yang sedang menyusun pakaian di lemari, tertegun saat melihat foto kecil Mela dan dirinya yang ada di sana. Dia baru ingat jika dia sering menyimpan foto masa kecil mereka di rumahnya. Masa kecil yang belum ada persaingan sehingga mereka terlihat sangat akrab.
Namun ada satu yang Lisa khawatirkan. Wajah Mela saat kecil sangat mirip dengan Zein. Jangan sampai Zein melihat foto ini atau dia akan menyadari bahwa dia adalah anak kandung Mela, bukan Lisa.