
Setelah Bu Yati dimakamkan, Lisa sekeluarga pun pergi ke kantor lurah untuk membagikan sembako serta uang kepada penduduk sekitar. Mereka berbondong-bondong datang ke kantor lurah untuk mengambil sembako tersebut. Sembako itu hanya diberikan satu per kepala keluarga.
Namun, untuk keluarga tidak mampu dan anak yatim akan diberikan santunan yang lebih baik dari segi barang maupun uang. Karena Lisa pernah berada di posisi ketika dirinya tidak mempunyai apa-apa. Orang-orang hanya melihat saja tanpa mau membantu. Bahkan berhutang pun hanya akan mendapatkan cibiran.
"Eh, Lis, ini anak kembar kamu, ya," ucap Tisa, teman lama Lisa. Sekarang dia telah menjadi bos WO modern dengan biaya sewa yang cukup lumayan. Membuat hidupnya berubah tak seperti dulu.
"Iya, Tis. Yang abangnya namanya Zein, adeknya namanya Zayn. Mereka kembar non identik, makanya nggak mirip," ucap Lisa sambil menunjuk kedua anaknya satu persatu sesuai namanya.
"Tapi yang abangnya mirip Mela, ya. Aku masih ingat wajah Mela ketika masih kecil," ujar Tisa yang kini semakin memperhatikan wajah Zein.
Lisa terkejut saat mendengar penuturan dari Tisa. Mengapa sepertinya semua orang yang mengenal Mela seperti mengenali anaknya? Padahal susah payah dia menyembunyikan identitas Zein agar aman.
"Nggak, ah, perasaan kamu aja. Lagian aku sama Mela kan sepupu. Wajar aja kalau wajah anak aku mirip sama dia."
"Kasian ya Mela harus meninggal bersama anaknya."
"Iya, kasihan. Makanya sembako dan sumbangan kami hari ini mengatasnamakan almarhum dan almarhumah keluarga kami yang sudah meninggal termasuk Mela." Lisa menjelaskan.
__ADS_1
"Iya, Alhamdulillah sekarang kehidupanmu sangat baik. Kamu dinikahi oleh orang kaya yang sangat mencintaimu."
"Alhamdulillah, kita memang harus mensyukuri apa yang diberikan Allah. Kamu juga sekarang udah lebih baik. Lebih cantik malah." Lisa mencolek lengan Tisa.
"Hehehe, Alhamdulillah, uang hasil menjadi WO aku gunakan untuk membantu keuangan suamiku dan mempercantik diriku." Tisa terkekeh. Dia sekarang memang sangat cantik karena kerap melakukan perawatan. Membuat orang-orang yang dulu menghinanya tak bisa melakukan apapun.
"Eh, ngapain sih ngambil beginian? Ya ampun, memangnya kalian semua nggak mampu, ya?" Tiba-tiba saja Bu Nina datang dan mengolok-olok mereka. Dia berhenti di warung bakso tepat di depan kantor lurah. Memesan bakso untuk dibawa pulang. Namun, sembari menunggu, dia melihat pemandangan di depan matanya sambil mencari bahan untuk mencibir.
"Ya, kenapa, Bu? Lagian Lisa memang bawa sembako buat orang satu komplek, bukan buat orang susah doang? Niat dia ingin berbagi, kok." Salah seorang ibu menjawab pertanyaan Bu Nina.
Sementara Lisa dan keluarganya berusaha untuk tidak menanggapi.
"Biarin aja Ibu mau ngomong apa yang penting malam ini kami bisa makan enak. Dan soal sembakonya, ada beras, gula, minyak, telor sepapan, teh, tepung, kecap, mie instan, daging-dagingan, dan semuanya kualitas premium. Bukan barang kualitas murahan seperti yang ibu bilang. Belom lagi isi amplopnya." Ibu tadi memamerkan isi amplop yang ternyata berjumlah lumayan, yaitu senilai tiga ratus ribu.
Bu Nina tercengang melihat sembako serta uang yang didapatkan warga secara gratis. Dia pun langsung pulang ke rumah dan mengomel pada Dira yang sedang menyusui anak keempatnya.
"Kenapa, Buk?" tanya Dira heran.
__ADS_1
"Si Lisa sombong banget baru ngasih warga bantuan sedikit aja bangga." gerutu Bu Nisa sambil meletakkan bakso ke atas mangkoknya.
"Maksudnya sembako sama duit, Buk?"
"Hah? Kamu tau darimana?"
"Tadi ada tetangga yang nganterin. Dia sengaja minta dari Lisa karena kasian ngeliat aku nggak bisa kemana-mana."
"Apa? Jadi kamu terima?"
"Ya terima, lah, Buk. Lumayan ada duitnya. Jadi nanti anak-anak aku bisa makan enak. Kan udah lama nggak makan daging."
"Kenapa kamu terima sih?" gerutu Bu Nina.
"Terus gimana, Bu? Kita balikin? Ini duitnya masih ada di dalam amplop."
"Udahlah, nggak usah. Lagian dia ngasih, bukan kita yang minta."
__ADS_1
Bu Nina merampas amplop berisi uang dan memindahkannya ke dompet. Hal ini membuat Dira hanya bisa geleng-geleng kepala saja melihat tingkah sang ibu yang masih termakan gengsi.