Jodoh Yang Tertukar

Jodoh Yang Tertukar
Nyonya Adijaya


__ADS_3

Mata Lisa, kedua orang tuanya, dan Bu Ana terbelalak saat melihat kemegahan rumah yang ada di depan mereka.


"Pak, beneran ini rumah neneknya Mas Amar?" tanya Lisa pada Bagas.


"Beneran, Non, ini rumah nenek Bos Amar," ucap Bagas membenarkan.


"Wah, nggak nyangka, ya, Lis, ternyata suami kamu sultan." Bu Ana ikut berdecak kagum.


"Aku masih bingung dengan apa yang terjadi, Bu. Pantesan aja dia royal banget sama aku. Kayak nggak takut uangnya habis."


"Sebenarnya, uang Bos Amar itu memang hasil jerih payahnya, Non. Hasil keringatnya jadi kuli bangunan. Dia rajin nabung buat,,,,,,"


"Buat apa, Pak?" tanya Lisa saat Bagas menggantung kalimatnya.


Amar baru saja sampai sebelum Lisa mendengar jawaban dari Bagas.


"Kok masih di sini, ayo, masuk," ajak Amar.


"Mas, ini bukan mimpi kan? Maksud aku kamu nggak lagi halu, kan?" tanya Lisa ingin meyakinkan. "Bagaimana kalau ketika mereka masuk, mereka malah di usir."


Amar terkekeh mendengar jawaban Lisa. "Udah, jangan bawel, ayo masuk." Merangkul bahu Lisa menuju dalam rumah bersama Hamid dan Marni.


Sedangkan Bagas disuruh mengajak Ana jalan-jalan dengan uang yang diberikan Amar. Hari ini ia dibebaskan dari tugasnya.


Sesampainya di dalam, seorang wanita tua yang kelihatan cantik dan modis mendatangi mereka dengan senyuman.

__ADS_1


"Nenek." Amar memeluk neneknya dengan erat.


"Akhirnya kamu kembali, Nak." Mengusap punggung Amar, lalu melepaskan pelukan saat melihat Lisa yang masih berdiri di belakang Amar.


"Oh, jadi dia orangnya?" tanya nenek sambil mendatangi Lisa.


"Apa kabar, Nek? Aku Lisa." Lisa mencium punggung tangan nenek.


"Cantik sekali. Apa Amar memperlakukan mu dengan baik?"


"Dia adalah suami yang paling bertanggung jawab, Nek." Lisa tersenyum sambil sesekali melihat ke arah Amar.


"Dan, apakah mereka orang tua mu?" Nenek berjalan mendekati orang tua Lisa.


"Salam kenal, Nyonya, saya Hamid, dan ini Marni istri saya," sahut Hamid sambil membungkukkan tubuhnya.


"Iya, Bu," sahut Hamid diikuti Marni.


"Kalau begitu, mulai sekarang, kalian akan tinggal di sini. Kita akan berkumpul menjadi satu keluarga," ucap nenek.


"Maaf, Bu, sebaiknya jangan. Saya dan istri saya akan tinggal di rumah kontrakan saja, kami tidak mungkin menumpang pada Ibu," sahut Hamid.


"Jangan sungkan, lagipula kalian hanya sementara saja sampai rumah yang dibangun Amar untuk kalian sudah selesai," ucap nenek di tengah senyumannya.


"Apa? Rumah?" Hamid dan Marni terkejut dengan ucapan nenek, begitu juga dengan Lisa.

__ADS_1


"Ya, apa kalian tidak lihat rumah yang ada di samping rumah ini? Itu adalah rumah yang sengaja dibangun Amar untuk kalian tinggali."


"Tapi, Bu, kami tidak pantas menerimanya. Kami tidak ingin terkesan memanfaatkan kekayaan Amar."


"Ini adalah hadiah untuk kalian karena telah membesarkan Lisa dengan baik. Kalian juga sangat menyayangi Amar dan tidak memandangnya sebelah mata meski dia hanya kuli bangunan."


"Iya, Pak, Bu. Terimalah hadiah dariku. Aku ingin sekali berbakti pada orang tua ku. Kalian lah orang tuaku sekarang. Kalian sama pentingnya seperti nenek," ucap Amar.


Mendengar niat baik Amar, mereka berdua pun mengangguk sembari tersenyum.


"Lisa dan Amar akan tinggal di sini bersama saya. Saya sudah tua, tidak ingin sendiri di masa tua saya," ucap nenek sendu.


"Ya, Nek, saya harap Lisa tidak akan merepotkan kalian." Marni mengangguk.


"Tentu tidak, dia akan menjadi Nyonya Adijaya, dan anak mereka akan menjadi penerus keluarga Adijaya yang selalu kami harapkan. Dia juga adalah gadis yang sangat baik, kalau bukan karenanya, entah bagaimana nasib Amar saat itu."


"Apa maksud perkataan nenek?" tanya Lisa yang heran mendengar ucapan sang nenek.


"Jadi kau belum menceritakannya, Amar?" tanya nenek.


"Belum, Nek, saat aku sedang menyamar, mana mungkin aku mengatakan hal itu," sahut Amar.


Lisa semakin heran dengan ucapan Amar dan neneknya, begitu pun juga orang tuanya yang juga keheranan.


"Lis, apa kamu ingat, lima tahun yang lalu, kamu yang masih berseragam SMA pernah menolong seorang pemuda yang habis dipalak dan dipukuli preman hingga dibenamkan ke lumpur?" tanya Amar.

__ADS_1


Lisa mencoba mengingat-ingat. "Eh iya, aku ingat Mas. Waktu itu aku nggak sengaja lewat gang tempat orang yang habis dihajar preman. Kalau nggak salah dia pakai kemeja putih dan wajahnya tertutupi lumpur."


"Sebenernya akulah pemuda itu, Lis. Dulu, aku yang baru saja kabur dari rumah untuk menghindari pernikahan dengan mantan pacarku, tiba-tiba saja dipalak dan dikeroyok preman yang entah darimana datangnya, padahal tempat itu bukanlah markas atau tempat mangkal mereka. Sewaktu kamu tolongin, aku hanya sekilas melihat wajahmu, lalu pingsan. Aku sadar di sebuah ruangan di klinik. Saat aku tanya kamu kemana? Mereka bilang kamu sudah pulang setelah membayar biaya pengobatan ku. Kamu mencantumkan nama lengkap mu, Alisa Amalia. Aku mencarimu kemana-mana. Hingga akhirnya aku menemukan kamu saat tanpa sengaja berada satu angkot denganku. Aku melihat atribut nama lengkap mu. Aku pun memutuskan untuk tinggal di kontrakan yang berada satu komplek denganmu. Aku berusaha mendekati dirimu, bahkan sampai berpacaran dengan Mela agar bisa selalu dekat dengan kamu. Mela yang selalu menyuruh kamu membantu membersihkan rumahnya, membuat aku semakin yakin kalau kamu harus menjadi nyonya Adijaya." Amar mengakhiri ceritanya.


__ADS_2