Jodoh Yang Tertukar

Jodoh Yang Tertukar
Pamer


__ADS_3

Dua bulan telah berlalu. Sesuai dengan kesepakatan, kini Rafli telah memiliki perusahaan sendiri setelah mertuanya menggadaikan sertifikat rumah dan sawah serta menjual tanah yang merupakan hak Hamid.


Mobil sudah terparkir di depan rumah Mela. Membuat setiap orang yang lewat memerhatikan mobil tersebut.


Setiap hari, Rafli akan pergi bekerja dengan menggunakan mobil itu.


"Wah, Mel, beli gelang lagi, ya," ucap Bu Nina saat mereka tak sengaja bertemu di warung bakso. Mela sedang menunggu Rafli untuk janjian makan bakso di tempat itu. Sedangkan Rafli masih dalam perjalanan pulang dari kantor.


Terlihat gelang emas milik Mela yang berderet rapi di kedua pergelangan tangannya.


"Iya, Bu, Mas Rafli yang beliin semalem. Banyak banget. Ada gelang, kalung, anting, emas, batangan juga ada." Mela mulai memamerkan hartanya.


"Wah, enak, dong. Oh ya, denger-denger Rafli udah bangun perusahaan sendiri, ya? Boleh dong si Hilman ikut kerja sama suami kamu. Syukur-syukur jadi manager."


"Aduh, maaf, ya, Bu. Kalau urusan begitu sama Mas Rafli aja, dia kan yang mengerti bisnis. Lagipula, kata Mas Rafli, orang-orang yang kerja di perusahaannya pendidikan terendah S1. Jadi kayaknya Hilman nggak bisa deh, Bu."


"Yah, gagal deh, punya mantu manager." Bu Nina menghela nafas berat.

__ADS_1


"Maaf, ya, Bu. Tapi nanti, saya usahakan deh ngomong ke Mas Rafli, mungkin dia mau nerima yang lulusan SMK kayak Hilman. Emang gaji di pabrik Hilman nggak cukup, Bu?" tanya Mela.


"Cukup, sih, tapi kan Ibu pengen kayak ibu kamu. Punya menantu yang kaya. Eh, ngomong-ngomong yang di rumah kamu itu mobil Rafli yang dulu masuk bengkel, ya?"


"Iya, Bu, Minggu lalu baru selesai diperbaiki."


"Katanya mobil mewah, tapi kok kayak mobil biasa, ya, Mel."


"Kelihatannya aja kayak mobil biasa, Bu. Tapi sebenarnya itu mobil mewah. Servicenya aja sampai belasan juta."


"Wah, hebat banget. Jadi tiap bulan kamu Nerima uang berapa, Mel?" Bu Nina semakin penasaran saja.


"Wah, enak banget ibu kamu." Bu Nina berdecak kagum.


Padahal kenyataannya, dua puluh juta digunakan untuk membayar hutang di bank. Sisanya untuk kebutuhan makan dan juga untuk simpanan.


"Iya, Bu. Ya beginilah enaknya jadi istri pengusaha sukses." Mela berdecak bangga.

__ADS_1


"Semoga rumah tangga kalian adem ayem, ya. Oh ya, katanya kamu sudah hamil, ya? Berapa bulan?"


"Dua bulan, Bu, do'akan saja semoga lancar sampai lahiran." Mela mengusap perutnya sambil tersenyum.


Tak berselang lama, bakso yang dipesan Bu Nina pun selesai. Ia segera pulang setelah berpamitan dengan Mela.


Tepat beberapa menit setelahnya, mobil Rafli pun sampai di warung bakso itu. Mereka segera memesan dua mangkuk bakso serta minuman dingin.


Baru saja mereka selesai memesan, tiba-tiba Amar dan Lisa datang.


Lisa tertegun melihat keberadaan Rafli dan Mela di tempat itu. Semula ia ingin mengurungkan niatnya, namun Amar tetap menarik tangannya masuk ke dalam.


"Bang, bakso dua ya," ucap Amar pada tukang bakso yang kemudian mendapat anggukan.


Melihat meja yang lain masih kotor bekas makanan pengunjung lain, mau tidak mau Lisa dan Amar duduk bersebelahan dengan meja Rafli dan Mela.


"Mas, gelang emas yang kamu kasih ini bagus, banget." Mela mulai bertingkah lagi.

__ADS_1


"Iya, dong, kan mahal. Namanya juga suami kamu ini pengusaha sukses, bukan kuli bangunan." Rafli menanggapi.


__ADS_2