Jodoh Yang Tertukar

Jodoh Yang Tertukar
Kepergian Mela


__ADS_3

Seminggu kemudian.


"Ahhh, sakit, Lis!" Mela berteriak kesakitan sambil memegangi tangan Lisa.


Kedua wanita hamil ini sedang berada di dalam mobil karena Mela akan melahirkan.


"Mas, cepat, Mas, kasihan Mela."


"Iya, sabar, Lis. Aduh, mana jalanan rame lagi." Amar menggerutu.


"Lis, sakit banget!" Mela semakin memekik kesakitan.


Mobil yang membawa mereka terus melaju hingga sampai lah ke sebuah rumah sakit.


Mela pun langsung ditangani olah dokter di ruang persalinan. Lisa dan Amar menunggu di luar dengan harap-harap cemas.


"Ya Allah, selamatkan Mela."


"Kamu yang tenang, ya. Mela pasti bisa." Amar mencoba menguatkan Lisa.


"Lis, gimana?" Tampak Hamid dan Marni baru datang. Tadi mereka tidak berada di rumah sehingga tidak tahu kalau Mela akan melahirkan.


"Masih ditangani, Buk," sahut Lisa dengan cemas.


"Kamu tenang aja, dia dan anaknya pasti selamat" Marni juga ikut menenangkan Lisa.


"Perasaan Lisa terus nggak enak, Buk." Kini Lisa tampak menangis sesenggukan.


"Tenang, Nduk, kita harus yakin bahwa Mela akan baik-baik aja." Hamid juga ikut menenangkan Lisa.


Hingga akhirnya dokter pun keluar dengan raut wajah berbeda.

__ADS_1


"Dok, bagaimana keadaan sepupu saya?" tanya Lisa.


"Bayinya laki-laki. Sehat dan sempurna," ucap sang dokter.


Orang tua Lisa dan Amar tersenyum senang mendengarnya. Namun tidak dengan Lisa. Ia merasa ada yang janggal. Dokter tersebut tidak menyebut nama Mela.


"Lalu, bagaimana dengan Mela, Dok?" tanya Lisa.


Dokter terdiam. Sepertinya ada rasa berat dalam hatinya untuk menyampaikan berita ini.


Lisa sudah berlinang air mata. Ia seperti paham maksud si Dokter, namun ia masih berusaha menepisnya.


"Dia selamat, kan, Dok?"


"Maaf, Bu Mela meninggal setelah melahirkan anaknya."


"Mela! Melaaaaaa!" Lisa menangis histeris di depan ruang bersalin Mela. Begitu juga dengan kedua orang tuanya. Mereka tidak menyangka ayah dan anak akan meninggal dalam waktu yang berdekatan.


Setelah menyelesaikan admistrasi, mereka pun membawa jenazah Mela pulang. Namun bayi Mela tetap di rumah sakit karena kondisi yang belum siap dibawa pulang.


"Ya Allah, Mel, kenapa kamu bernasib kayak gini!" Lisa menangis sambil memeluk nisan Mela.


"Sabar, Nduk, semua ini sudah takdir." Marni mencoba menenangkan Lisa.


"Kasihan Mela, Buk, dia bahkan belum sempat melihat anaknya."


"Sayang, jangan terlalu meratapi, kasihan Mela." Amar mencoba mengingatkan.


"Kasihan Mela, Mas. Selama ini dia hidup menderita di jalanan. Kenapa nasibnya bisa setragis ini? Melaa!"


"Sayang, ingat kandungan kamu. Jangan sampai dia kenapa-kenapa."

__ADS_1


Dengan segala bujukan, akhirnya Lisa pun mau ikut pulang.


Sesampainya di rumah, Lisa langsung merenung di dalam kamarnya. Sepertinya ia masih meratapi kepergian Mela.


"Sayang, sebenarnya Mela menitipkan sebuah surat untuk kamu beberapa hari yang lalu. Dia seperti udah berfirasat buruk. Dia ingin aku memberikan ini ke kamu jika terjadi sesuatu padanya." Amar memberikan secarik kertas pada Lisa.


Lisa langsung membuka kertas tersebut dan membacanya.


Assalamualaikum, Lisa. Sepupuku yang sangat baik dan paling aku sayangi. Aku mau minta maaf sama kamu, Lis. Soal yang dulu, aku sering banget berbuat jahat sama kamu. Tapi nggak pernah sekalipun kamu membalas aku.


Malah, ketika aku hidup dalam kesengsaraan karena ulahku sendiri, kamu masih mau menolong ku dan juga Bapak.


Lis, aku ingin meminta sesuatu padamu. Jika anakku lahir dan terjadi apa-apa denganku, ku mohon, jagalah anakku. Jadikan dia anakmu juga. Jangan biarkan dia tahu tentang asal usulnya. Jangan biarkan dia tahu bahwa ayahnya seorang baj*ngan yang telah membuat hidup ibu dan kakek neneknya menderita.


Buatlah dia hanya mengetahui bahwa dia adalah anak dari Amar dan Lisa. Cucu dari Hamid dan Marni. Aku mohon, Lis. Aku nggak mau kalau sampai dia menjadi sedih karena mengetahui siapa dirinya. Tutup rapat rahasia ini sampai kapanpun.


Dan yang terpenting, jangan sampai ayahnya menemuinya dan itu akan menghancurkan hidupnya.


Rafli masih berkeliaran, Lis. Dulu aku pernah bertemu dengannya yang sedang menggandeng wanita lain. Bahkan saat melihat perut ku yang membesar pun dia tidak memiliki belas kasih padaku. Dia malah meneriaki ku sebagai pengemis gila saat aku memintanya mempertanggung jawabkan perbuatannya.


Aku takut dia akan mengambil anakku, Lis. Jika anakku berada di bawah asuhannya, aku takut anakku akan menjadi penipu seperti dirinya. Sebaliknya, jika dia berada di bawah asuhan kalian, dia akan menjadi anak yang baik, sama seperti kalian. Berikan dia nama ZEIN.


Terima kasih, ya, Lis atas kebaikanmu selama ini. Kamu berhati malaikat, aku akan selalu menyayangi mu.


Salam sayang, Mela.


Setelah membaca surat dari Mela, Lisa pun menangis tersedu-sedu. Sambil memeluk surat itu, ia pun bergumam, "aku janji, Mel, aku akan menjaganya seumur hidupku. Aku akan menutup rapat rahasia tentang siapa dirinya."


Amar mencium kening Lisa, lalu memeluknya. Sama halnya dengan Lisa, ia juga tidak keberatan mengadopsi anak Mela dan menganggapnya sebagai anaknya sendiri.


****

__ADS_1


Hai, Gaes, aku ada novel baru lagi nih. Jangan lupa mampir ya.



__ADS_2