Jodoh Yang Tertukar

Jodoh Yang Tertukar
Siapa Amar


__ADS_3

Setelah mencari, mereka semua pun terkejut karena dari nama itu. Mereka tahu wajah hingga kekayaan Amar.


"Ini nggak mungkin! Kamu bohong, kan, Mar. Kamu pasti mau buat kami terkejut, kan?" Mela semakin kalut.


"Memangnya siapa yang berani menipu publik dengan artikel, Mbak. Itu memang benar, seluruh mata pencaharian penduduk di sini di bawah pimpinan Tuan Amar."


"Nggak! Aku nggak percaya! Kenapa dia harus menyamar jadi orang miskin padahal nyatanya dia kaya? Hayo! Mau jawab apa!" Mela seperti orang yang mengalami kecemasan berlebihan. Terlebih saat ini ia tengah hamil.


"Dulu, Tuan Amar pernah berpacaran dengan seseorang, tapi, setelah beliau tahu bahwa pacarnya cuma ingin harta saja, beliau pun memutuskannya. Namun, karena sang nenek ingin Tuan menikah, Tuan Amar pun memutuskan untuk pergi dari rumah. Selain berkelana tanpa embel-embel Adijaya dan juga mencari wanita yang menikahinya bukan karena harta. Dan Nona Lisa lah orangnya." Pak Bagas menatap Lisa yang ekspresinya sama seperti yang lain. Ia juga syok mengetahui hal ini.


"Bohong! Semua ini bohong! Kalian jangan percaya!" Mela berteriak meyakinkan semua orang.


"Mau menganggap kami bohong atau nggak, aku nggak peduli," jawab Amar datar.


"Bapak, Ibu, Lisa, ayo masuk ke dalam mobil. Barang-barang selain televisi itu sebenarnya dari aku. Jadi, yang televisi dan barang-barang pemberian aja yang diambil, yang lain nggak usah, nanti juga bakalan diambil sama mereka," ucap Amar.


"Mas, kamu masih berhutang penjelasan padaku." Lisa menatap serius.


"Iya, Sayang. Aku akan jelaskan di rumah. Sekarang masuk dulu ke mobil. Kasihan calon anak kita kalau ibunya capek berdiri terus." Amar mengantarkan Lisa sampai ke dalam mobil.


Tak berselang lama, satu lagi mobil mewah yang lebih besar datang. Mobil itu berisikan dua orang berbadan kekar. Jauh lebih kekar dari anak buah Bu Jihan.

__ADS_1


"Pak Bagas, bawa istri, mertua saya, dan Bu Ana ke rumah nenek. Kalau barang-barang di rumau Bu Ana biar diurus sama pengawal rumah nenek," ujar Amar.


"Baik, Tuan." Bagas mengangguk. Ia pun mengajak istrinya masuk ke dalam mobil, lalu mereka melaju meninggalkan tempat itu.


"Carikan televisi, blender, set memasak, dan kado-kado yang masih dibungkus. Angkut ke dalam mobil," ujar Amar pada pengawalnya. Ia terlihat mengambil beberapa map yang berisikan surat-surat penting.


Bu Jihan kini terlihat gemetaran dan pucat pasi. Begitu juga dengan orang-orang yang selama ini suka menghina Amar. Termasuk Bu Nina yang takut menantunya dipecat karena sering menghina Amar meski tidak secara langsung.


"Mar, maafkan saya, sebenarnya saya disuruh," ucap Bu Jihan dengan bibir gemetaran.


Amar menoleh ke arah Bu Jihan. "Ibu tenang saja, paling nanti saya cuma bikin Ibu kehilangan penghuni kontrakan saat saya bikin kontrakan dengan harga paling murah di sini." Amar tersenyum.


Mendengar ucapan Amar, kaki Bu Jihan terasa sangat lemas. Jika tidak dari kontrakan, darimana lagi ia dapat uang?


Seketika semua warga melihat ke arah Mela dan keluarganya.


"Habisnya saya kesal dengan Hamid yang selalu menyusahkan orang lain. Lihat saja, dia sudah menyusahkan saya!" Hasan menanggapi.


Amar tersenyum miring. "Apa Bapak yakin kalau hal itu benar?" tanyanya. "Sedangkan biaya pernikahan saja dari saya. Mana mungkin beliau hutang pada Bapak."


"Kamu nggak punya bukti, Mar." Hasan masih bersikeras.

__ADS_1


Amar tersenyum sinis. Ia pun memutar sebuah rekaman suara dari ponselnya yang terdengar jelas di sana.


"Mas Hasan? Mbak Ayu, silakan masuk."


"Begini, Mid. Mas minta maaf karena selama ini telah berlaku nggak adil sama kamu. Tujuan kami ke sini adalah untuk menyerahkan harta warisan almarhum orang tua kita. Mas nggak mau durhaka sama orang tua, apalagi bersikap nggak adil sama kamu."


"Mas beneran?"


"Beneran. Ini surat-suratnya udah Mas bawa. Sekarang kalian tanda tangan aja di sini dan setelah itu, warisan tanah dan separuh sawah akan menjadi milik kalian."


"Bu ambilkan kacamata Bapak, ya, biar Bapak baca dulu."


"Halah nanti lama, Mid, Mas juga mau pergi lagi, buru-buru nih, langsung tanda tangan aja."


Rekaman pertama selesai. Kini Amar memutar rekaman suara kedua.


"Sekarang rumah serta tanah kamu sudah jadi milikku, kalian nggak punya hak lagi. Sekarang pergi!"


"Apa? Sejak kapan rumah dan tanah kami jadi milik Mas Hasan, kami tidak pernah memberikannya!"


"Mas, apa-apaan ini. Kenapa kamu tega sama aku? Aku adikmu, Mas!"

__ADS_1


"Suruh siapa kamu bersenang senang. Dengar, ya, sejak dulu kamu selalu disayang sama orang tua kita. Kamu selalu jadi kebanggaan mereka dan selalu jadi teladan di sekolah maupun lingkungan rumah. Sedangkan aku dicap sebagai anak nakal dan menyusahkan. Dan inilah balasan yang cocok untuk kamu! Sekarang kamu pergi atau aku akan menyuruh mereka yang usir kalian."


__ADS_2