
Setelah mendengarkan semuanya, kini semua warga menatap keluarga Mela dengan sinis.
"Nggak nyangka, ya, ada orang kayak mereka. Sama adik sendiri kok jahat banget sih, Pak Hasan. Harta yang bukan warisan aja dirampas. Kamu juga, Mel, sama sepupu sendiri kok dengki banget," ucap Bu Nina.
Merasa terpojok, Mela sekeluarga pun pulang dengan perasaan sangat kesal bercampur malu. Amar merasa puas telah mengungkapkan kebenarannya. Ia masih ingat saat dulu pernah memasang perekam suara di rumah Lisa sebelum ia dan Lisa pindah. Rekaman suara itu ia pasang di ruang tamu. Tujuannya agar ia bisa memantau keadaan mertuanya setiap saat.
"Mar, saya minta maaf, ya, maafin saya, Mar. Saya cuma disuruh, jangan bangun kontrakan di sini. Saya yakin Lisa pasti nggak setuju kalau kamu membuat saya bangkrut." Bu Jihan masih belum menyerah.
"Karena itulah makanya saya suruh dia duluan. Saya tidak ingin Lisa tahu saat saya menghancurkan orang-orang yang selama ini melukainya. Saya tidak mempermasalahkan hinaan kalian pada saya. Tapi saya tidak akan tinggal diam jika kalian mengina Lisa dan mertua saya. Siapapun yang melukai hati Lisa, akan berhadapan dengan saya!"
Ucapan Amar sontak membuat semuanya terdiam. Mereka mecoba mengingat apa yang dulu pernah mereka lakukan pada Lisa.
Bu Yati terlihat pucat karena kemarin ia habis bertengkar dengan Lisa. Terlebih lagi, selama ini ia selalu saja menghina Amar habis-habisan di depan orangnya langsung. Yang miskin, belagu, melarat, tidak punya masa depan. Semua hinaan itu membuatnya ingin pingsan saja.
__ADS_1
"Bos, udah siap semuanya," lapor seorang pengawal pada Amar bahwa semua barang sudah diangkut ke mobil yang besar itu.
"Ya sudah, ayo kita pergi."
Mereka pun segera memasuki mobil. Namun, sebelum Amar masuk, tiba-tiba saja Ira memeluknya dari belakang.
"Mas Amar, jangan tinggalkan Iraaa!" Gadis itu menangis dengan masih memeluk Amar dengan erat.
Semua yang ada di sana terkejut dengan tindakan Ira.
"Mas, Ira cinta sama Mas Amar. Kenapa Mas malah pilih Mbak Lisa? Jelas-jelas Ira juga menerima Mas apa adanya!"
"Ra, bukan hanya menerima apa adanya, sebenarnya, sebelum pindah ke sini, aku sudah bertemu dengan Lisa. Ceritanya panjang. Intinya, aku hanya mencintai dia saja. Sampai kapanpun, dia akan menjadi istriku satu-satunya."
__ADS_1
"Nggak bisa, Mas. Kamu harus jadi milikku!" Ira langsung memeluk Amar lagi. Setelah itu, ia memegang wajah Amar hendak mencium bibir Amar.
"Hentikan, Ra!" Amar langsung mendorong tubuh Ira sebelum ia mencium bibirnya.
"Asal kamu tahu, Ra, aku mencintai Lisa karena dia sopan dan bisa menjaga diri. Nggak seperti kamu yang agresif begini. Seperti wanita yang tidak punya harga diri!"
Amar pun masuk ke dalam mobilnya. Ketika mobil sudah pergi, Ira masih mengejarnya seperti orang gila.
"Mas, kamu milikku, Mas! Jangan pergi!!
Buggg, Ira terjatuh saat ia tersandung batu. Ia masih menangis histeris sambil memanggil-manggil Amar.
Semua warga menatap jijik ke arahnya. Tidak disangka, orang berpendidikan seperti Ira mampu melakukan hal murahan seperti tadi.
__ADS_1
"Dasar sinting! Mau kok sama suami orang! Dibanding Lisa kamu itu ya kalah jauh. Lisa cantik, rajin, sopan. Lah kamu, muka banyak dempulnya, males, nggak sopan, siapa yang mau jadiin kamu menantu. Ayo ibu-ibu, jaga suami dan anak lajang kalian, nanti digoda sama dia," ucap seorang ibu-ibu pada Ira.
Setelah itu, mereka pun membubarkan diri. Ira masih meraung di jalan sampai akhirnya, orang tuanya yang baru saja pulang langsung menariknya secara paksa ke dalam rumah dan memarahinya habis-habisan karena mereka sudah mendengar laporan dari warga kalau Ira melakukan hal memalukan.