Jodoh Yang Tertukar

Jodoh Yang Tertukar
Ekstra Part 4


__ADS_3

Lisa sekeluarga pun segera kembali ke rumah mereka yang lama. Sekarang, rumah itu sudah kosong sejak mereka tinggal pergi ke kota. Namun, setiap harinya ada orang yang membersihkan rumah itu agar tetap terawat.


Rumah itu juga sudah direnovasi tapi tidak meninggalkan desain lamanya. Hanya memperkokoh rumah dengan bahan yang lebih bagus.


"Wah, rumahnya nyaman sekali, Bunda," ucap Zayn sambil menatap kagum pada rumah kakek dan neneknya.


Semua orang tersenyum mendengarnya. Sama seperti Lisa, Zayn memang suka keasrian dan kenyamanan suatu tempat tinggal daripada melihat kemegahan dan besarnya.


"Bunda, kami boleh main nggak sama anak-anak di sana," ucap Zein sambil melihat beberapa anak yang sedang bermain bola.


"Boleh, Sayang, tapi jangan lama-lama ya. Habis main bola langsung pulang terus mandi," ucap Lisa sambil mengusap kepala kedua anaknya.


Zein dan Zayn pun bersorak-sorai karena mendapatkan izin bermain dengan anak-anak di daerah itu.


Mereka pun mulai berkenalan dengan para anak laki-laki yang sedang bermain bola di lapangan tak jauh dari rumah Lisa. Si kembar memang cepat akrab dengan teman-teman barunya. Terlebih lagi Zayn yang memiliki sifat ramah sama seperti ibunya.


Mereka pun mulai bermain bola bersama-sama. Terlihat raut wajah kegembiraan terpancar dari mereka.


Lelah bermain bola, mereka pun duduk sambil menikmati minuman dingin dari tukang es yang lewat. Namun, Zein dan Zayn tidak berani meminumnya karena belum meminta izin pada Bunda mereka. Mereka hanya melihat anak-anak itu meminum es dengan sangat cepat karena benar-benar haus.


"Lho, udah minum? Baru aja mau Tante kasih minuman dingin." Lisa datang sambil membawa plastik berisi minuman dingin yang baru saja dia beli dari warung terdekat.

__ADS_1


"Nggak apa-apa, Tante, kami juga masih haus, kok," celetuk salah seorang anak.


"Hahahaha, iya. Ini, minum, ya. Ini juga ada makanan buat kalian." Lisa meletakkan dua plastik masing-masing berisi makanan dan minuman.


Anak-anak itu langsung mengambil minuman yang ternyata adalah susu cokelat kemasan botol. Sedangkan makanannya adalah Snack ringan yang jarang mereka makan karena harganya yang lumayan menguras kantong bocah seperti mereka.


Zein dan Zayn juga ikut meminum susu cokelat pemberian Bunda mereka karena sejak tadi mereka menahan haus.


Setelah Lisa pergi, anak-anak itu pun mulai mengobrol satu sama lain.


"Kalian abang adik?"


"Iya, sebenarnya kami kembar. Ini Abang aku." Zayn memperjelas status mereka.


"Kami kembar beda wajah. Kata Bunda, namanya non identik." Zein menjelaskan.


"Oh, ternyata ada yang gitu, ya. Kalian enak dong tinggal di rumah gedongan. Pasti ada kolam berenangnya kayak di sinetron-sinetron."


"Iya, ada, tapi kami jarang berenang kalau nggak ada ayah. Soalnya Bunda nggak bisa berenang."


"Ayah kamu uangnya banyak, ya? Ada berapa juta?"

__ADS_1


"Entah, kayaknya lima juta," sahut Zayn. Mereka hanya anak kecil yang tidak mengetahui jumlah uang yang banyak dan sedikit.


"Wah, banyak, dong. Bisa beli es segunung."


"Iya, bisa beli es sekalian beruang kutubnya."


Sontak mereka pun tertawa mendengar kelakar salah seorang diantara mereka. Namun tiba-tiba, seseorang datang menghampiri mereka dengan raut wajah kesal dan sebatang kayu di tangannya.


"Heh, kalian bisa diem, nggak?" Terlihat seorang wanita muda yang mengenakan pakaian seksi. Dia adalah Ira, yang sudah keluar dari rumah sakit jiwa.


"Maaf, Bik, kami nggak tahu kalau Bibi ada di sini."


Zein dan Zayn terlihat mengernyitkan dahinya karena baru pertama kali melihat wanita itu.


"Aku tadi lagi tiduran di sana. Gara-gara kalian ribut aku jadi keganggu." Ira menunjuk sebuah bangunan yang merupakan balai pertemuan. Tadi dia sedang tertidur di teras balai pertemuan itu.


"Maaf, Bik, kami nggak tau."


"Ya udah, tapi jangan diulangi lagi, ya. Eh, ini siapa? Kok baru lihat?" Ira melirik Zein dan Zayn secara bergantian.


"Mereka teman baru kami, Bik. Yang ini Zein, yang ini Zayn. Mereka anaknya Tante Lisa."

__ADS_1


"Lisa?" Ira tampak berpikir. "Bukannya yang satu anaknya...."


__ADS_2