Jodoh Yang Tertukar

Jodoh Yang Tertukar
Terkejut


__ADS_3

Tokk tokk tokk


Suara ketukan pintu pun terdengar. Mela yang sedang melamun memikirkan Rafli yang tak kunjung pulang sejak dua hari lalu segera tersadar. Buru-buru ia membuka pintu dengan senyuman riang. Ia mengira Rafli yang datang.


Namun, saat sudah membuka pintu, senyumannya langsung hilang. Ternyata yang datang adalah dua orang pegawai bank.


"Buuuuk!" Mela memanggil ibunya.


Tak berselang lama, Ayu pun keluar.


"Eh, Bapak. Maaf, ya, Pak, kami belum bisa membayar, soalnya menantu saya belum pulang, beri kami waktu, ya, Pak," ucap Ayu dengan wajah memelas.


"Baik, Bu. Kami berikan waktu satu minggu. Jika Ibu telat membayar, maka rumah serta tanah Ibu akan kami sita," ucap salah seorang dari mereka.


"I-iya, Pak, kami akan bayar nggak sampai seminggu lagi," ucap Ayu.


"Kalau begitu kami permisi, dan kalau saya menelepon, tolong diangkat, jadi saya tidak perlu datang kemari."


Ayu mengangguk. Setelah mereka pergi, ia segera menghampiri Mela yang sedang duduk di sofa.


"Mel, gimana? Apa Rafli ada kabar?" tanya Ayu sambil menghampiri Mela.


"Nggak tau, Buk. Hpnya nggak aktif sampai sekarang. Apa dia lupa nge-charge, ya?" gumam Mela.


"Aduh, Mel, Ibu udah pusing mikirin ini. Sekarang kita bertiga datengin aja kantor si Rafli. Barangkali dia sibuk makanya nggak sempat pulang," ujar Ayu.

__ADS_1


"Tapi aku nggak tau alamat kantornya, Buk," sahut Mela.


"Kamu gimana, sih? Masa alamat kantor suami sendiri nggak tau," gerutu Ayu.


"Kalau gitu bentar, deh, Buk, biar Mela coba cek kamar dulu." Mela segera pergi ke kamar. Ia mulai membongkar laci-laci tempat berkas-berkas Rafli bersemayam.


Tak lama kemudian, ia kembali.


"Buk, ini ada alamat, kayaknya ini alamat kantornya deh," ucap Mela.


"Ya udah, ayo kita ke sana," ajak Ayu.


"Bapak gimana, Buk?" tanya Mela.


"Bapak jangan diganggu. Katanya dia lagi pusing banget gara-gara Rafli nggak pulang-pulang."


Namun, saat sudah sampai, ternyata itu adalah sebuah bengkel sepeda motor kecil.


"Loh, Mel, kok bengkel? Apa bener ini alamatnya?" tanya Ayu lagi ingin meyakinkan.


"Bener, Bu, ini alamat yang ditulis di sini, kok." Mela melihat kertas yang ia pegang dan mencocokkan alamatnya.


"Permisi, Mbak, mau benerin motor, ya?" tanya seorang pria pada Mela dan Ayu.


"Enggak, Mas, cuma nyasar aja," ucap Mela. Namun, matanya langsung menangkap sebuah sepeda motor yang sangat ia kenali.

__ADS_1


Ia pun berjalan mendekati sepeda motor itu dan mengecek nomor platnya. Benar-benar cocok, sepeda motor itulah yang digunakan Rafli waktu itu.


"Mas, inikan sepeda motor suami saya. Katanya sih udah dijual, Mas yang beli, ya? Berarti Mas kenal sama suami saya?" tanya Mela pada pria yang bernama Zainal itu.


"Maaf, Mbak, ini sepeda motor saya. Saya belinya di showroom langsung kok," sahut Zainal.


"Hah? Saya yakin kok ini bekas motor suami saya." Mela tetap bersikeras.


"Emang suami Mbak namanya siapa?" tanya Zainal.


"Namanya Rafli, Mas," sahut Mela.


"Oh, si Rafli. Dia sih mantan montir saya, Mbak, beberapa kali sering pinjam motor saya. Yang satu lagi itu." Zainal menunjuk satu motor lagi di depan bengkelnya.


Mela terkejut. Itu juga motor yang dulu sering Rafli gunakan saat mereka masih berpacaran.


"Kamu jangan ngawur, dong. Mana mungkin Rafli itu montir. Dia kan manager, pendidikannya tinggi," ucap Ayu.


"Hah? Manager? Pendidikan tinggi? Pendidikan terakhir dia aja SMA, Bu. Dan dia kerja sama saya itu udah hampir lima tahun."


"Apa? Nggak mungkin! Mas Rafli bukan montir. Dia bahkan sekarang bangun perusahaan sendiri." Mela masih menolak ucapan Zainal.


"Ya terserah Mbak sama Ibu, sih. Cuma ya, beberapa minggu yang lalu, dia sempat cerita ke saya. Katanya dia mau pindah ke luar kota karena udah dapet duit banyak. Saya aja dikasih dua puluh juta." Zainal menjelaskan.


Mela menutup mulutnya. "Nggak mungkin, kamu pasti bohong."

__ADS_1


"Oh ya, saya punya foto dia waktu jadi montir saya, nih." Zianal membuka ponselnya, lalu menunjukkan foto Rafli saat membetulkan salah satu sepeda motor.


"Dan saya juga punya chat dia sama saya. Kayaknya ini bisa memperjelas prasangka Mbak." Zainal beralih ke aplikasi chatting berwarna hijau. Ia pun menunjukkan chat dari Rafli.


__ADS_2