
Saat tengah asyik membaca, tiba-tiba saja pintu diketuk oleh seseorang.
"Assalamualaikum."
"Waalaikumsalam."
Lisa membuka pintu untuk melihat siapa yang datang.
"Lho, kamu Ira, kan? Anaknya Bu Ratna?" tanya Lisa ingin meyakinkan. Bu Ratna adalah tetangga Amar. Bu Yati tetangga sebelah kanan, sedangkan Ira tetangga sebelah kiri.
"Iya, Mbak, saya Ira."
"Masuk, Ra," ujar Lisa.
Ira pun mengangguk sembari tersenyum. Mereka duduk di sofa kecil di ruang tamu rumah itu.
"Ini, Mbak, aku bawain brownies," ucap Ira sambil menyerahkan sekotak brownies.
"Wah, makasih, ya, Ra, kamu udah repot-repot. Aku potongin, ya, kita makan sama-sama."
"Nggak usah, Mbak, aku masih kenyang. Lagian brownies itu sengaja aku buat untuk Mbak dan Mas Amar. Anggap aja sebagai hadiah tetangga baru."
__ADS_1
"Oh, ya udah, makasih ya, Ra. Kamu mau minum apa?"
"Nggak usah, Mbak, aku udah minum juga. Lagian cuma sebentar kok." Ira kembali menolak.
"Gimana kuliah kamu? Sebentar lagi selesai, kan?" tanya Lisa mencoba basa-basi.
"Iya, Mbak, aku lagi nyusun skripsi. Tapi pasti Mbak nggak ngerti, ya. Nggak apa-apa, Mbak, nanti cari aja di internet."
"Oh, i-iya." Lisa tersenyum sambil meringis. Ini kali pertamanya ia bertegur sapa dengan Ira, tapi gadis itu sudah menunjukkan kesombongannya. Apakah ia harus dikelilingi tetangga yang aneh-aneh?
"Denger-denger Mbak nggak kerja, ya. Di rumah aku lagi butuh tukang cuci gosok, Mbak. Mbak mau? Kan lumayan buat bantu-bantu Mas Amar."
'Hah? Barusan dia bilang apa? Dia nawarin aku jadi tukang cuci di rumahnya? Memangnya salah kalau aku hanya ada di rumah?' batin Lisa.
"Oh gitu, ya, Mbak. Kan nggak selamanya Mas Amar kerja. Harusnya Mbak udah pikirin dari sekarang. Kalau istrinya itu calon sarjana kayak aku, baru deh bisa tenang. Pendidikan aku tinggi, mudah cari kerjaan kantoran, jadi hidup lebih terjamin. Zaman sekarang kalau yang kerja cuma suami aja, nggak akan bisa memenuhi kebutuhan hidup, Mbak, percaya deh." Ira kembali menyombongkan dirinya.
'Apa katanya? Barusan dia memamerkan pendidikannya? Terus kenapa aku mencium bau-bau naksir suami orang, ya. Aku tes ah,' batin Lisa lagi.
"Iya, Mbak ngerti, makasih untuk nasihatnya, ya. Tapi insyaallah, kalau istri nggak menuntut hal diluar kemampuan suami, pasti nggak akan ada yang kurang. Lagian Mas Amar memang melarang keras Mbak kerja. Katanya dia nggak mau lihat istri yang dia cintai capek. Mas Amar sayang banget sama Mbak, jadi dia nggak mau lihat Mbak sampai kelelahan."
Tepat setelah Lisa menyelesaikan kalimatnya, wajah Ira berubah masam. Ada ekspresi tidak suka di wajahnya yang penuh make up itu.
__ADS_1
"Jangan terlalu memuji, Mbak. Memang setiap suami yang baru nikah pasti bucin banget. Tapi lama-lama, cinta bisa luntur juga, apalagi seiring bertambahnya usia. Sebagai istri Mbak jangan terlalu percaya suami."
'Hah? Nasihat apa, itu? Dia berkata seolah-olah udah nikah puluhan tahun. Hasutan sih iya, memang ada yang nggak beres nih sama Ira, pasti dia pernah punya hubungan dengan Mas Amar,' batin Lisa.
"Doakan aja semoga rumah tangga kami langgeng, ya, Ra." Lisa masih tetap tersenyum meskipun hatinya mulai mendongkol.
"Ya udah, Mbak, aku permisi dulu, mau beresin skripsi pakai laptop baru aku. Oh ya, laptop itu Mas Amar lho yang nyariin buat aku."
"Iya, Ra, semoga lancar, ya." Lisa berusaha untuk tidak menanggapi ucapan Ira tentang Amar.
"Mbak, aku boleh kan sering-sering main ke sini. Mas Amar pasti seneng kalau lihat aku di sini. Dari dulu dia emang perhatian banget sama aku, jadi kayaknya kalau nggak lihat aku, takutnya kecarian." Ira tersenyum malu-malu.
'Eh, buseeeet, pede bener nih orang. Wah, mesti kebal kuping nih aku,' batin Lisa sambil tersenyum mengangguk menatap Ira.
"Ya udah, Mbak, aku pergi dulu. Salam buat Mas Amar, ya." Ira pun pergi, menghilang dari pandangan Lisa yang masih berdiri di depan teras.
"Kenapa tetangga ku aneh semua sih? Yang satu tukang nyinyir, yang satunya sombong dan pedenya setinggi langit." Lisa memegangi kepalanya karena merasa pusing memikirkan hidupnya yang dikelilingi tetangga yang aneh.
Hingga tak berselang lama, Rafli pun lewat dengan gaya sok kerennya. Ia sempat melirik Lisa dan tersenyum genit. Bahkan, ia sampai memelankan laju motornya untuk bisa melihat Lisa.
Lisa yang merasa risih, langsung masuk ke dalam rumah dan mengunci pintu.
__ADS_1
"Ih, amit-amit deh. Mas Amar, cepat dong pulang, banyak banget orang aneh hari ini." Lisa menatap langit rumah itu. Ia berharap waktu berlalu lebih cepat. Ia tak sabar ingin menceritakan yang terjadi hari ini pada Amar. Namun tentang Rafli, ia hanya akan membuang jauh-jauh peristiwa baruan. Rasanya akan sangat membuang waktu jika Rafli ikut ke dalam ceritanya.